
Tolong dukung Author dengan cara LIke, Komen, dan tambahkan ke favorit kalian.
Selamat membaca
*
*
*
*
“Aku selalu bilang jangan pernah dekat sama Farrel,” seru Nevan.
“Aku gak suka kamu dekat sama Farrel. Apa selama ini kurang jelas apa yang aku katakan,” sambung Nevan lagi.
“Gak bisa, Van. Kamu gak berhak untuk terus menerus malarang aku dekat sama siapa.” Tak seperti biasanya Haura selalu mengalah pada ucapan Nevan. Untuk kali ini Haura tidak terima jika Nevan meminta dirinya menjauhi Farrel.
Bagi Haura Farrel sama pentingnya seperti Nevan. Farrel adalah penyelamatnya. Farrel adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.
“Tapi aku gak suka Haura,” Nevan menatap lurus pada manik hitam milik Haura.
“Apa semua hal yang tidak kamu sukai harus aku turuti?” ucap Haura begitu saja.
“Apa semua yang kamu katakana harus aku ikuti?” sambung gadis itu lagi.
“Aku punya kehidupanku sendiri, Nevan. Dan aku ingin menjalaninya dengan caraku.” Entah keberanian darimana yang Haura dapatkan hingga dirinya berani menyela Nevan dengan kata-kata demikian.
Namun Haura merasa benar pada sikapnya sekarang. Gadis remaja itu tidak ingin Nevan membatasi hubungan dirinya dengan Farrel.
Nevan seakan kehabisan kata-kata mendengar jawaban Haura. Tetapi Nevan sadari bahwa jawaban Haura adalah sebuah kebenaran. Tidak semua maunya harus Haura turuti. Tapi entah mengap terselip rasa sedih di lubuk hati Nevan. Rasa tidak terima karena Haura bersikap dingin kepadanya.
“Apa menurut kamu selama ini aku sangat menyiksa kamu, Haura?” tanya Nevan lirih. Tatapannya sendu pada gadis yang sejak tadi berdiri tepat dihadapannya. Bahkan saat ini Haura berada dalam kungkungannya. Jarak mereka berdua begitu dekat, sampai mereka bisa saling merasakan deru nafas satu sama lain.
__ADS_1
Beberapa waktu yang lalu Nevan menarik paksa Haura yang sedang berada di ruang kelas. Memaksa gadis itu untuk ikut dengannya. Nevan membawa Haura ke rooftop. Hanya ada mereka berdua disana. Seperti biasanya aksi Nevan menjadi bahan tontonan untuk siswa lainnya. Meskipun hal tersebut sering terjadi berulang-ulang, akan tetapi masih saja banyak siswa yang merasa iri kepada Haura.
Lidah Haura kelu tak mampu menjawab perkataan Nevan. Dari sorot mata Nevan ada gurat kesedihan yang dapat Haura lihat. Semua karena ucapannya.
“Apa Farrel begitu penting untuk kamu?” tanya Nevan lagi.
“Kak Farrel penting dan…” Haura enggan meneruskan kata-katanya.
“Apa aku salah hadir di antara kalian?”
Haura hanya menggeleng. Tidak ada yang salah dengan kehadiran Nevan. Haura justru merasa sangat bahagia dengan adanya Nevan. Bagi Haura Nevan dan Farrel adalah dua orang yang sama berartiuntuknya namun dengan perasaan yang berbeda.
“Hanya saja….” Haura menjeda ucapannya.
“Hanya saja kenapa, Ra?” Nevan mengusap rambut panjang milik Haura yang dibiarkan tergerai tanpa aksesoris
apapun disana.
“Aku kehilangan kamu, Haura” sambung Nevan lagi.
“Kamu yang membuat semuanya gak lagi sama.” Setitik cairan bening lolos begitu saja dari netra hitam milik Haura. Tak dapat dipungkiri semua terasa begitu menyakitkan untuknya.
Haura menatap Nevan dengan air mata yang bersiap keluar dari kedua pelupuk mata gadis remaja itu.
“Jarak yang kamu ciptakan melukai aku, Nevan,” jujur Haura disambut dengan tumpahan air mata pada kedua pipinya.
Jarak yang Nevan ciptakan seakan menjelaskan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang penting dalam kehidupan Nevan. Jarak itu pula menjadikan Haura sadar tentang statusnya selama ini.
Bagaimana tidak, bukan mau Haura untuk berjauhan dengan laki-laki yang berada di hadapannya saat ini. Akan tetapi Nevan yang menjauhi dirinya tanpa alasan yang pasti.
Untuk beberapa waktu Haura merasa sangat beruntung bertemu kembali dengan Nevan setelah beberapa tahun lamanya. Haura sangat bahagia karena Nevan memperlakukannya sebagai seorang teman meskipun Haura adalah anak dari seorang pembantu di rumahnya. Jarak itu begitu menyiksa perasaannya.
Ya... Haura sadar sekarang bahwa Nevan telah merebut hatinya. Nevan pemilik hatinya. Namun semua itu hanya bisa Haura kubur di tempat terdalam di dasar hatinya. Rasa itu bernama cinta. Namun cinta itu seharusnya tak bertuan pada seorang Nevan.
__ADS_1
Tanpa Haura sadari hal itu juga sangat menyakitkan untuk Nevan. Sungguh remaja laki-laki itu tidak dapat memahami apa yang dia rasakan saat ini. Hatinya begitu merindukan Haura. Namun perasaan itu selalu di tepis oleh Nevan.
Tidak mungkin rasanya bagi Nevan jatuh cinta kepada Haura. Meskipun berjauhan dari Haura adalah hal yang paling sulit untuknya, namun laki-laki tampan itu masih tidak mau mengakui itu sebagai cinta.
Haura annisa, gadis sederhana dengan penampilan biasa saja mampu mengggoyahkan perasaan Nevan menjadi tidak karuan. Nevan menjadi serba salah dengan sikapnya sendiri. Dirinya yang membuat keputusan untuk menjauhi Haura. Akan tetapi Nevan pula yang merasa tersakiti dengan keputusannya itu.
Nevan benar-benar merasa sedih ketika pertandingan basket beberapa hari yang lalu Haura sama sekali tidak mengucapkan selamat padanya karena telah memenangkan pertandingan. Padahal Nevan telah berusaha bermain sangat maksimal hanya demi untuk mendengar Haura bangga pada pencapaiannya. Justru Haura tersenyum riang menyambut Farrel.
Terlebih lagi Haura semakin dekat dengan Farrel. Nevan sungguh tidak terima melihat hal tersebut. Ingin rasanya dia membawa Haura pergi jauh dari jangkauan Farrel. Namun untuk apa? Itu yang selalu Nevan pertanyakan.
Cemburu? Mungkinkah dirinya cemburu pada kedekatan Haura dan Farrel?
Berulang kali Nevan meyakini dirinya bahwa itu bukan cinta. Tidak mungkin dirinya bisa semudah itu jatuh cinta kepada Haura dalam waktu yang relatif singkat. Dirinya baru bertemu Haura kurang dari enam bulan setelah berpisah saat mereka kecil dulu.
Nevan tidak memahami bahwa cinta bukanlah persoalan waktu dan jarak. Bukan waktu yang mengikat dua orang dalam perasaan cinta. Bukan jarak pula yang bisa membatasi perasaan cinta. Tapi hati yang terpaut tanpa sebab yang pasti dan tanpa penjelasan yang terperinci. Cinta hadir tanpa diminta dan tak terikat pada satu diksi yang menjadikan sebab kenapa cinta itu bisa hadir.
Penyangkalan demi penyangkalan terus Nevan hadirkan dalam fikirannya untuk membenarkan teori hatinya bahwa perasaannya pada Haura bukannlah cinta.
“Haura… kenapa kamu nangis?” ucap Nevan lirih melihat air mata Haura. Bukan ini yang ingin Nevan lihat. Bukan sebuah air mata tapi senyum Haura. Senyum gadis berlesung pipi yang akhir-akhir ini hilang karena dirinya.
Nevan mengusap air mata Haura. Menatap sendu pada gadis yang begitu di rindukannya. Meskipun sebenarnya Nevan selalu memperhatikan Haura setiap harinya, namun semunya tersa berbeda karena senyuman Haura tidak pernah lagi untuknya.
Senyuman itu bukan untuknya, karena keputusannya. Nevan sadari itu.
“Aku gak mau liat kamu nangis, Ra,” dengan penuh kasih sayang Nevan mengusap perlahan setiap bulir air mata di pipi Haura.
“Aku takut,” Nevan membawa Haura ke dalam pelukannya. Hal yang paling Nevan rindukan. Mendekap Haura erat dalm pelukannya.
Jarak itu benar-benar menyakiti mereka berdua. Nevan fikir jarak antara dirinya dan Haura dalah cara terbaik untuk memahami perasaannya sendiri. Namun Nevan salah, jarak malah semakin menyakiti perasaan keduanya. Ada rasa luka karena sebuah rindu berbagi cerita. Juga kerinduan pada senyuman yang meneduhkan.
Tangis Haura semakin pecah dalam dekapan Nevan. Haura tahu ini cinta yang akan melukainya suatu saat nanti.
"Aku takut melukai kamu, Haura," Ucap Nevan denga pelukan yang semakin erat pada tubuh Haura. Seakan laki-laki tampan itu ingin menebus semua jarak yang telah memisahkan mereka untuk beberapa waktu.
__ADS_1
Tangis Haura bagai nyanyian yang begitu Nevan rindukan. Inilah gadisnya Haura Annisa.