
Malam itu hujan mengguyur Ibukota dengan sangat derasnya. Seakan menumpahkan semua beban berat yang telah di simpan dengan baik oleh awan. Suara petir juga ikut menemani sang hujan menyapa penduduk bumi dengan suaranya yang menggelegar memekakkan telinga.
Di sebuah rumah terlihat seorang wanita paruh baya mondar-mandir dengan sangat gusar. Sesekali mata senjanya melirik penunjuk waktu yang menempel di dinding rumahnya. Terlihat pula wanita paruh baya itu mengusap ujung matanya yang berair. Mulutnya terus saja menyebutkan sebuah nama yang sedari tadi di tunggu olehnya.
“Haura, kamu kemana nak? Kenapa belum pulang juga?” Ya, wanita paruh baya itu adalah Bu Lastri, Ibu dari Haura.
Bu Lastri berdiri dengan gelisah di depan pintu rumahnya. Lalu kemudian kembali masuk untuk melihat jam dinding yang telah menunjukkan tepat pukul sembilan malam.
“Ya Allah, jangan sampai terjadi apa-apa pada putriku Haura.” Bu Lastri tidak hentinya berdoa agar Haura baik-baik saja. Pasalnya sudah jam sembilan malam tapi Haura belum juga pulang.
“Haura, Apakah terjadi sesuatu padamu dan nak Nevan? Kalian dimana?” Bu Lastri berfikir bahwa saat ini putrinya Haura sedang bersama Nevan. Karena memang setiap harinya wanita paruh baya itu melihat Haura pergi dan
pulang sekolah bersama Nevan. Itulah yang menjadi keyakinan beliau bahwa saat ini Haura pasti bersama Nevan.
Sejak tadi Bu Lastri mencoba menghubungi Haura, akan tetapi nomor putrinya itu tidak aktif. Berbagai fikiran buruk terus berdatangan dalam fikiran wanita paruh baya tersebut. Bu Lastri takut sesuatu yang buruk terjadi pada Haura dan Nevan. Seperti kecelakaan misalnya. Apalagi sekarang hujan turun dengan derasnya. Kemungkinan kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi.
Dari paviliun belakang tempat Bu Lastri berada sekarang, indra pendengaran Ibu Haura itu menangkap suara kendaraan yang memasuki garasi rumah keluarga Sander. Itu suara mobil Zayn. Bu Lastri bergegas menuju rumah utama untuk menanyakan kepada Zayn tentang keberadaan Nevan dan juga Haura. Mungkin saja Nevan menghubungi kakaknya itu untuk memberitahu keberadaan mereka sekarang.
“Nak Zayn.” Bu Lastri memanggil nama anak sulung keluarga Sander itu dengan berteriak agar Zayn dapat mendengarnya mengingat saat ini hujan sangat deras. Rona khawatir tercetak jelas pada raut wajah Bu Lastri.
Zayn yang hendak masuk ke dalam rumah utama sangat terkejut karena Bu Lastri memanggil namanya dengan berteriak. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Iya Bu Lastri. Ada apa?” tanya Zayn. Laki-laki dua puluh tiga tahun itu dapat menangkap gurat khawatir pada wajah wanita paruh baya yang saat ini telah berdiri tepat di depannya. Pasti terjadi sesuatu, batin Zayn.
“Nak Zayn tahu dimana Nevan dan Haura?”
Zayn menautkan alisnya mendengar pertanyaan Bu Lastri. “Nevan… Haura… Maksudnya gimana? Zayn gak ngerti? Bukannya seharusnya Nevan dan Haura sudah di rumah jam segini, Bu?”
Baik Zayn maupun Nevan tidak memanggil Bu Lastri dengan sebutan BIbi atau lainnya yang biasanya digunakan untuk memanggil seorang ART. Justru kedua kakak beradik itu telah terbiasa memanggil Bu Lastri dengan sebutan “Bu atau Bu Lastri.” Itulah panggilan mereka untuk Ibu dari Haura sejak mereka kecil.
Bu Lastri semakin gusar mendengar ucapan Zayn. Itu artinya Zayn tidak tahu dimana keberadaan Nevan dan Haura.
“Nevan dan Haura belum pulang. Saya sudah menghubungi Haura, tapi sepertinya hape Haura mati. Bagaimana ini? Apa mungkin sesuatu terjadi pada mereka?”
Lagi-lagi air mata wanita paruh baya itu luruh. Rasa khawatir semakin menjadi-jadi. Takut sesuatu yang buruk benar-benar menimpa Haura dan juga Nevan.
“Bu Lastri tenang dulu, Zayn akan coba hubungi Nevan. Mungkin saja saat ini mereka terjebak hujan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dan mungkin kebetulan nya lagi hape mereka berdua kehabisan daya makanya tidak bisa dihubungi.” Zayn mencoba menenangkan Bu Lastri, meskipun sebenarnya dirinya juga mulai khawatir pada Nevan dan Haura. Tapi Zayn tidak mungkin menunjukkan rasa khawatirnya demi menenangkan Bu Lastri.
“Sekarang Bu Lastri tunggu aja di paviliun belakang dengan tenang. Biar Zayn yang akan mencari Nevan dan Haura,” ucap Zayn lagi. Sebenarnya dia tidak ingin menghubungi Nevan di depan Bu Lastri. Zayn takut jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada Nevan dan Haura, maka Bu Lastri tidak akan bisa mengendalikan diri beliau. Naluri seorang Ibu. Begitulah.
“Bu Lastri tunggu aja di paviliun sambil berdoa semoga mereka berdua baik-baik aja.” Zayn berkata dengan sangat lembut. Agar Bu Lastri segera beranjak menuju paviliun belakang.
Mendengar perkataan Zayn Bu Lastri hanya mengangguk menyetujui saran dari Zayn. Dengan langkah lesu wanita paruh baya itu kembali menuju paviliun belakang.
Memastikan Bu Lastri telah menghilang dengan sempurna, Zayn segera merogoh saku celananya dan mengambil handphone miliknya untuk segera menghubungi Nevan.
*******
Di tempat lain, Nevan sedang berbaring di sebuah ranjang empuk bersama sepupunya Niko. Benar, saat ini Nevan berada di rumah Niko.
Ketika pulang sekolah, Nevan memilih untuk mengunjungi rumah sepupu sekaligus sahabatnya itu. Dengan alasan ingin mengunjungi grand nya yang masih berada di rumah tante Vania. Entah kenapa tapi rasanya dia tidak ingin segera pulang. Dia butuh teman. Bukan untuk bercerita tentang apa yang terjadi padanya belakangan ini, tapi hanya teman untuk membicarakan hal-hal ringan. Pilihan yang tepat adalah Niko.
Nevan menghabiskan waktu beberapa jam bermain PlayStation bersama Niko. Setelah selesai makan malam, akhirnya kedua remaja tampan tersebut memilih untuk meluruskan tubuh mereka di kamar Niko. Nevan sebenarnya ingin pulang, tetapi karena sedang hujan maka Nevan memilih untuk menunggu hujan reda. Dia akan tetap pulang meskipun hujan reda hampir tengah malam. Nevan tetap akan pulang.
Tante Vania meminta Nevan untuk menginap di rumah mereka. Tentu saja Nevan tidak mau. Dengan dalih dia tidak bisa tidur selain di kamarnya. Niko hanya tersenyum penuh makna mendengar alasan Nevan. Karena Niko tahu dengan betul mengapa sepupunya itu menolak untuk menginap.
__ADS_1
Nyatanya memang Nevan menolak tawaran untuk menginap bukan karena dia tidak bisa tidur selain di kamarnya. Akan tetapi karena Nevan tidak mau besok pagi Haura berangkat ke sekolah bersama mas ojol.
Nevan memandang langit-langit kamar Niko yang bercat putih. Pikirannya menerawang kepada Haura. Sahabat masa kecilnya yang telah berhasil membuat perasaannya sering tidak karuan belakangan ini.
Sesekali terdengar Nevan menghirup oksigen dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Di raihnya handphone miliknya. Hanya untuk mengutak-atik benda pipih tersebut. Tidak ada niatan untuk bermain game atau menghubungi seseorang. Akhirnya remaja tampan itu membuka aplikasi pengirim pesan. Nama Haura ada di daftar pertaman dalam aplikasi tersebut.
“Kenapa kamu gak hubungi aku?” Nevan bergumam pelan sambil matanya membaca percakapan pada aplikasi tersebut antara dirinya dan Haura.
“Masak iya kamu marah?” Manik coklat milik Nevan membaca dengan perlahan percakapannya dan Haura. Sesekali Sudut bibirnya melengkung sedikit ketika menemukan percakapan yang penuh dengan perdebatan antara mereka.
Niko sejak tadi memandang aneh pada Nevan yang terlihat seperti orang yang sedang galau akut. Mata Niko menangkap ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada sepupunya itu.
“Lo kenapa? Dari tadi gue perhatikan lo kayak galau gitu.” Akhirnya Niko bertanya karena dia cukup risih melihat kelakuan Nevan seperti orang yang cintanya di tolak mentah-mentah.
“Galau apaan. Mana ada galau-galau-an dalam hidup gue.” Nevan menampik dengan cepat perkataan Niko.
“Terus lo ngapain dari tadi terus baca chat lo sama Haura.” Tanya Niko yang selalu to the point.
Seperti tertangkap basah, Nevan segera meletakkan handphone yang sedari tadi di pegang olehnya.
“Ehemmmm….. Gue lagi nunggu Haura chat gue.”
“Untuk?” Lagi-lagi Niko bingung dengan kelakuan aneh Nevan.
“Ya untuk nanyain kenapa gue belum pulang. Apalagi?”
“Hahahahha….” Tidak dapat di hindari, Niko tergelak mendengar perkataan Nevan.
“Lo kayak orang yang haus perhatian. Lagian untuk apa Haura nanyain keberadaan lo?” Benar pertanyaan Niko, untuk apa Haura menanyakan keberadaan Nevan.
Meskipun perkataan Niko sangat masuk akal, akan tetapi Nevan tidak pernah kehabisan kata untuk membalas perkataan Niko yang meledeknya secara terang-terangan.
“Gue sahabat lo juga. Tapi lo gak pernah nanya gue dimana kalau lo gak ngeliat gue.” Sebuah perkataan penuh jebakan. Niko ingin menguji seberapa bisa Nevan berkilah dengan jawaban-jawaban konyolnya.
“Ngapain gue nanyain lo. Lagian lo sama Haura itu beda. Lo bisa melindungi diri lo sendiri kalau hal buruk terjadi sama lo. Beda dengan Haura, dia itu cewek. Gue cuma gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama Haura. Karena itu gue sering nanyain keberadaan dia saat gue gak ngeliat dia. Gue cuma mau melindungi Haura.” Nevan terus mendikte jawabannya tanpa jeda. Seolah menegaskan pada lawan bicaranya bahwa semua yang dia lakukan adalah sebuah bentuk kepedulian kepada seorang sahabat. Tidak lebih.
“Lo gak cinta kan sama Haura?” tanya Niko sambil menaikkan ujung alisnya.
“Hahahaha…..” kini giliran Nevan yang tertawa nyaring mendengar pertanyaan Niko. “Cinta apaan. Gak ada namanya cinta-cintaan antara gue sama Haura. Semua yang gue lakukan ke Haura karena gue sayang sama Haura sebagai sahabat gue dari kecil. Lo kan tau gimana masa kecil gue kalau gak ada Haura.”
“Gimana dengan Haura? Maksud gue gimana kalau Haura cinta sama lo?”
Pertanyaan Niko mampu membungkam Nevan dengan sempurna.
“Gimana kalau nantinya Haura menganggap lo lebih dari sahabat? Lo bakal ngelakuin apa?” Tanpa menunggu jawaban dari Nevan, Niko kembali melanjutkan pertanyaannya.
“Gue yakin Haura gak akan cinta sama gue. Gak akan ada cinta.” Nevan mengalihkan lagi pandangannya menatap langit-langit kamar Niko.
“Perasaan cewek dan cowok itu beda. Gue cuma berharap lo gak akan nyakitin Haura. Lo paham kan maksud gue?”
“Hmmmm…”
Tidak ada pembicaraan lanjutan. Niko kembali memainkan handphonenya. Sementara Nevan memikirkan apa yang baru saja di katakana Niko.
Gak mungkin Haura bakal cinta sama aku. Selama ini aja dia selalu marah kalau aku gangguin dia. Darimana bisa cinta? Nevan terus bermonolog dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
Tanpa Nevan sadari bahwa sebenarnya sahabat kecilnya itu sudah mulai mencintainya. Namun Haura memilih untuk menekan perasaannya agar Nevan tidak menyadari hal itu.
Dan satu hal lagi yang tidak Nevan sadari yaitu perhatiannya selama ini kepada Haura adalah bentuk lain dari rasa cinta. Cinta yang berkamuflase dalam kata persahabatan. Cinta yang akan membawa kedua remaja tersebut pada hubungan yang rumit.
Pada hubungan yang akan menguras air mata. Layaknya hujan yang jatuh pada malam itu.
Drrtttt…. Drrttt…. Handphone Nevan berdering membuyarkan lamunannya. Ada sebuah panggilan masuk untuknya.
Dengan malas Nevan meraih kembali benda pipih itu.
Kak Zayn, nama pemanggil yang tertera disana.
“Halo kak.”
“Van, kamu dimana? Kenapa kalian belum pulang?”
“Nevan di rumah tante Vania.” Jawab Nevan. Remaja laki-laki itu dapat menangkap dengan jelas bahwa ada nada panik dalam ucapan kakaknya itu.
“Kalian? Kalian gimana maksudnya?” tanya Nevan lagi.
“Kamu sama Haura kan, Van?” Bukan sebuah jawaban, Zayn memberikan pertanyaan lainnya kepada Nevan.
Haura? Kenapa kak Zayn menanyakan keberadaan Haura padanya. Nevan benar-benar bingung karena pertanyaan kak Zayn. Jika kakaknya itu menanyakan keberadaan Haura, itu artinya Haura belum pulang.
“Nevan gak sama Haura. Kenapa kak Zayn nanya Haura?” Perkataan Nevan menarik perhatian Niko yang sedang berbaring di ranjang empuknya sambil memainkan handphone.
“Haura belum pulang.” Ucapan Zayn sukses membuat raut wajah Nevan terlihat panik dalam sekejap.
“Haura belum pulang. Bu Lastri sangat khawatir karena sejak tadi handphone Haura tidak bisa di hubungi. Sekarang sudah jam sembilan malam dan hujan sangat deras. Entah dimana Haura sekarang.”
Zayn terdengar sangat khawatir karena keberadaan Haura entah dimana. Di tambah lagi Bu Lastri terus menangis sejak tadi. FIkiran wanita paruh baya itu melayang pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi pada Haura.
“Kalau gitu sekarang juga Nevan cari Haura. Katakan pada Bu Lastri agar jangan khawatir. Haura pasti baik-baik saja.” Nevan mencoba berbicara setenang mungkin meskipun sebenarnya dirinya juga merasa sangat gelisah mendengar kabar bahwa Haura belum pulang.
“Kamu mau cari Haura kemana?”
“Kemana aja kak. Di sepanjang jalan dan juga di sekolah. Tapi Nevan akan cari Haura ke sekolah lebih dulu.”
“Kalau gitu kamu langsung ke sekolah. Biar kak Zayn cari Haura di jalan. Mungkin saja Haura berteduh di suatu tempat karena hujan deras.”
Tanpa menjawab apapun lagi Nevan segera mematikan sambungannya dan bergegas untuk pergi mencari keberadaan Haura.
“Kenapa Van?” Lebih kurang Niko telah tahu apa yang terjadi. Akan tetapi dia kembali bertanya untuk lebih memastikan apa yang di dengarnya adalah benar bahwa Haura belum juga pulang.
“Haura belum pulang dan gue harus segera cari dia.”
“Kemana?”
“Sekolah.” Jawab Nevan cepat. Dengan terburu-buru Nevan meraih kunci motornya.
“Kalau gitu gue coba hubungi Luna, temannya Haura. Mungkin aja Haura di tempat Luna atau pun Adel.” Niko mencoba membantu untuk mencari tahu keberadaan Haura.
“Oke… Gue pergi.”
“Lo bisa naik….” Perkataan Niko menggantung di tenggorokannya karena Nevan telah pergi tanpa mendengar apa yang akan dikatakannya.
__ADS_1
“Seharusnya lo kan bisa pakek mobil gue, Van.” Ucap Niko lagi meskipun lawan bicaranya telah pergi meninggalkannya sendiri. “Gini lo bilang gak cinta. Dasar lo nya aja yang gak peka sama perasaan lo sendiri.”
Akhirnya Niko memilih menghubungi Luna untuk menanyakan keberadaan Haura.