(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Ujian semester ganjil akan di laksanakan pada akhir bulan November. Hal tersebut membuat semua siswa mengambil jam pelajaran ekstra dan mengesampingkan semua kegiatan ekskul mereka. Ada yang mengambil jadwal les tambahan dan ada juga yang memilih untuk membentuk kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari beberapa siswa.


Setiap sudut sekolah di gunakan untuk berkumpul membahas materi-materi pelajaran yang belum mereka pahami. Bahkan juga materi yang telah mereka kuasai hanya untuk sekedar mengulang kembali materi tersebut.


Ruang kelas, taman sekolah, perpustakaan, ruang ekskul dan bahkan kantin menjadi tempat para siswa mendiskusikan semua materi pembelajaran.


Bagi siswa di sekolah Internasional tersebut, ujian semester adalah sebuah ajang pembuktian diri menjadi yang terbaik di antara siswa kalangan elit tersebut. Karena mereka bukan hanya mempertaruhkan nama pribadi, akan tetapi mereka juga mempertaruhkan nama baik keluarga mereka.


“Rhea mana?” tanya Niko ketika melihat Bella memasuki ruangan broadcast seorang diri. Dimana pada hari itu Niko dan teman-temannya telah membuat janji untuk belajar kelompok di tempat tersebut.


Bella hanya mengedikkan bahunya, enggan untuk menjawab. Meskipun dirinya tahu dimana keberadaan Rhea, akan tetapi Bella tidak ingin repot-repot menjawabnya. Seperti biasanya ketika dirinya mengatakan dimana Rhea berada, maka Niko ataupun Gian akan datang untuk menghampiri sahabatnya itu. Namun lagi-lagi Rhea pasti


menolak untuk ikut bergabung bersama mereka.


Sejak kejadan di kantin sekolah beberapa waktu yang lalu, dimana Rhea mempermalukan Haura hingga membuat Nevan begitu marah padanya, Rhea seakan menutup dirinya. Gadis remaja cantik itu sangat jelas membuat jarak antara dirinya dan sahabat-sahabat baiknya. Bukan hanya pada Nevan tapi pada semuanya. Rhea bahkan juga menjauh dari Bella.


Jika biasanya dimana Bella berada pasti disitu juga Rhea berada begitu juga sebaliknya. Namun akhir-akhir ini Rhea lebih memilih menyendiri dan juga tidak banyak berbicara. Remaja cantik itu telah banyak berubah. Tidak ada lagi perkataan sombong dan pedas keluar dari penuturannya.


Sikap Rhea yang jauh berubah tentu saja menarik perhatian semua sahabatnya. Mereka semua begitu penasaran apa yang membuat Rhea bersikap dingin seperti sekarang ini.


“Bel, Sebenarnya Rhea kenapa?” Bella kembali mendapat pertanyaan dari Gian seputaran sikap Rhea akhir-akhir ini.


“Perasaan gue udah jawab puluhan bahkan ratusan kali kalau gue gak tahu menahu kenapa Rhea berubah seperti sekarang. Kenapa kalian masih tanya ke gue.”


Bella terlihat begitu kesal pada Niko dan Gian yang setiap hari tidak pernah absen menanyakan tentang Rhea kepadanya. Bukan karena dia tidak menyukai itu, akan tetapi dirinya hanya merasa kesal dan sedih karena sampai sekarang tidak mengetahui penyebab sahabat baiknya itu mendiamkan mereka semua dan juga dirinya. Kalau ditanya siapa orang yang merasa kehilangan sosok Rhea tentu saja orang itu adalah Bella.


“Gue gak tahu kenapa Rhea berubah,” ucap Bella dengan suara bergetar menahan tangis. Dia tidak dapat menutupi lagi kesedihannya karena merasa kehilangan sosok Rhea yang selalu bersamanya kemanapun dan dimanapun.


“Jadi kalian berhenti tanyain soal Rhea ke gue. Semakin kalian bertanya, gue semakin merasa gagal menjadi sahabat Rhea karena gue sama sekali gak tahu masalah apa yang sedang Rhea alami hingga membuat Rhea berubah seperti sekarang.”


Niko, Gian dan juga Nevan terdiam seribu bahasa. Niko dan Gian merasa bersalah pada Bella dan juga Rhea. Meski telah bersahabat sejak belasan tahun yang lalu, akan tetapi mereka berdua bahkan sangat tidak perka pada persaan Bella dan Rhea.


“Kita minta maaf, Bel. Maaf karena tidak peka sama perasaan kamu dan juga Rhea,” ucap Niko tulus.


Gian menepuk-nepuk pundak Bella, mencoba menenangkan sahabatnya itu yang masih menangis karena dirinya dan juga Niko.


Sementara Nevan masih memilih bungkam. Menatap pada Bella yang sedang menyeka air mata yang mulai jatuh di kedua pipinya. Nevan sangat paham bahwa kehilangan seseorang yang selalu berbagi cerita bersama kita setiap harinya adalah hal yang paling menyedihkan.


“Lo mau kemana?” tanya Niko kepada Nevan yang baru saja beranjak dari duduknya.


“Gue ada urusan penting.” Nevan segera meninggalkan tempat tersebut tanpa memberitahukan urusan penting apa yang dimaksudnya.


Setelah meninggalkan ruangan tersebut, Nevan berjalan entah kemana. Langkahnya terus saja berayun mengelilingi seluruh sekolah. Juga indra penglihatannya berpendar ke setiap sudut memindai setiap tempat yang di lewatinya. Tidak ada satu tempat pun yang luput dari penglihatannya.


Kini langkah kaki Nevan memasuki sebuah ruangan yang paling di hindari oleh banyak siswa. Hanya beberapa siswa tertentu yang dengan senang hati memasuki tempat tersebut. Bagi siswa lainnya yang notabenenya malas belajar pasti sangat menghindari tempat tersebut. Ruangan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah perpustakaan sekolah.


Sepi. Itulah kesan pertama yang Nevan rasakan ketika pertama kali menginjakkan kakinya di ruangan itu. Hanya


ada beberapa siswa duduk dengan tenang di temani sebuah buku di hadapan mereka. Mereka membaca dalam diam. Benar-benar tidak ada suara sama sekali.

__ADS_1


Nevan terus menyusuri setiap lorong-lorong perpustakaan dimana terdapat banyak buku dengan berbagai judul tersusun rapi pada rak-rak yang menjulang cukup tinggi. Nevan bahkan berfikir bagaimana caranya mengambil buku yang berada di rak paling atas, pasti akan sulit. Ah, tapi apa pedulinya. Tujuannya ke perpustakaan bukanlah untuk mencari tahu hal tersebut, akan tetapi untuk mencari seseorang.


Setelah menelusuri beberapa lorong yang berisi barisan buku, netra Nevan menangkap seseorang yang sejak tadi di carinya sedang berdiri menyandarkan tubuhnya pada salah satu rak buku dengan mata terpejam, tangannya memegang sebuah buku dan sepasang earphone terpasang di telinga orang tersebut. Dalam sekali lihat, siapapun tahu bahwa orang tersebut datang ke perpustakaan bukan untuk membaca akan tetapi untuk menjauh dari keramaian.


“Rhea,” panggil Nevan. Ya, sejak tadi Nevan mencari keberadaan Rhea di setiap sudut sekolah.


Merasa namanya di panggil oleh sebuah suara yang sangat tidak asing baginya membuat Rhea langsung membuka kedua matanya dan mencari sumber suara tersebut. Segera netra gadis remaja cantik itu menemukan sosok orang yang memanggil namanya. Nevan, sedang berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya.


Melihat Nevan menghampirinya, segera Rhea beranjak untuk meninggalkan tempat tersebut. Menghindari Nevan, itulah tujuannya.


Namun sayang, baru saja Rhea hendak melangkah, tangannya lebih dulu di cekal oleh Nevan.


“Gue mau bicara sama lo,” ucap Nevan penuh intimidasi pertanda tidak ingin mendapat penolakan.


Bukan Rhea namanya jika mau mengikuti kemauan orang lain, meskipun orang tersebut adalah Nevan. Rhea berusaha melepaskan cekalan tangan Nevan pada tangannya tanpa menatap langsung pada Nevan.


“Rhe, lo kenapa? Kita harus bicara. Jangan teruas menghindar seperti ini.” ucap Nevan lagi setelah perkataan pertamanya tidak mendapatkan respon dari Rhea.


“Lepasin tangan gue,” titah Rhea tidak kalah dingin dari pada Nevan.


Kini netra kedua remaja itu saling adu tatapan dan masih dengan ego masing-masing. Namun ada sesuatu yang Nevan tangkap dari tatapan mata Rhea, ada gurat kesedihan disana.


“Rhe, please. Gue....”


“Gak ada yang perlu kita bicarakan.” Belum selesai Nevan berbicara, Rhea segera menginterupsi ucapan Nevan.


“Lepasin tangan gue. Dan jangan bersikap seolah lo peduli sama gue,” sambung Rhea lagi.


Tak ingin menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Nevan, Rhea segera berpaling dan mengusap kasar air matanya.


“Gue gak mau terlibat dalam hal apapun lagi sama lo. Sekarang juga lo lepasin tangan gue,” pinta Rhea tanpa mau menatap Nevan.


Netra Nevan masih menatap lekat Rhea yang enggan beradu tatap dengannya. "Gue tahu semua ini salah gue. Karena itu kita perlu bicara. Gue gak mau kita salah paham seperti ini. Dan gue juga gak mau lo menghindar dari gue dan yang lainnya."


"Bukannya lo sendiri yang minta gue untuk menjauh dari hidup lo." Rhea kembali menatap Nevan dengan air mata yang menggenang di kedua netra indahnya. "Bukannya lo gak peduli lagi sama gue semenjak lo punya Haura?" Perkataan terakhir Rhea dibarengi dengan air mata yang kembali membasahi wajah cantiknya.


Sepersekian detik kemudian tanpa di duga-duga Nevan membawa tubuh Rhea ke dalam pelukannya. Dan tanpa permisi pula tangis Rhea pecah dalam pelukan Nevan. Rhea bahkan tidak peduli bahwa saat ini mereka sedang berada di perpustakaan.


Sementara itu Nevan semakin mempererat pelukannya pada Rhea. “Maaf.” Gumam Nevan. Remaja tampan itu tahu bahwa penyebab Rhea menghindar dari dirinya dan juga sahabat-sahabatnya yang lain adalah karena dirinya.


“Kamu jahat, Van,” ucap Rhea di sela-sela tangisnya.


Untuk beberapa saat Nevan terdiam dan membiarkan Rhea menangis dalam pelukannya. Membiarkan gadis cantik itu melepaskan semua kesedihan yang dia pendam selama ini.


“Gue sayang sama lo dan gue juga sayang sama Haura. Gue cuma gak mau lo nyakitin Haura. Kalian berdua sahabat gue." Nevan mengusap lembut puncak kepala Rhea. Memberi ketenangan pada sahabatnya itu.


"Rhea yang gue kenal bukan gadis jahat." Nevan menjeda ucapannya. Melerai pelukannya pada tubuh Rhea karena merasa sahabat cantiknya sudah sedikit tenang. Meskipun masih terdengan sesenggukan sesekali.


Nevan memegang kedua pundak Rhea dan menatap lekat wajah gadis tersebut yang terlihat sembab karena baru saja menangis. "Rhea yang gue kenal memang sedikit arogan tapi dia bukan gadis jahat. Apalagi sampai menyakiti orang lain."

__ADS_1


"Tapi kenapa lo bersikap dingin sama gue? Sementara lo sangat perhatian sama Haura. Sikap lo sangat berbeda ketika lo sama gue dibanding saat lo sama Haura." Sosok Rhea yang sebenarnya memanglah seperti itu. Selalu ingin di perhatikan dan di manja.


Nevan hanya tersenyum mendengar ucapan Rhea. Sahabat cantiknya itu selalu saja ingin menjadi yang pertama dalam hal apapun. Nevan tahu itu.


"Lo tau kan Van, gue cinta sama lo," sambung Rhea lagi. Gadis remaja cantik itu menatap sendu pada Nevan yang saat itu berdiri berhadapan dengannya.


Sejenak Nevan terdiam karena ucapan Rhea. Ini adalah pernyataan cinta Rhea kesekian kalinya untuk dirinya.


Terdengar Nevan menghela nafas panjang. "Lo tau Rhe, kenapa gue memperlakukan lo dan Haura berbeda?" ada jeda disana. Sementara Rhea terlihat memberikan atensi lebih pada setiap perkataan Nevan.


"Kenapa gue gak bersikap dingin ke Haura, karena Haura gak pernah cinta sama gue. Haura cuma anggap gue sahabatnya. Itu yang membuat gue bisa bersikap apa adanya ke Haura. Sementara lo...." Nevan tidak melanjutkan ucapannya. Menelisik wajah Rhea yang terlihat semakin sendu.


"Rhea, gue gak bisa balas rasa cinta lo. Maaf."


Ucapan Nevan kembali menghadirkan genangan air mata di pelupuk mata Rhea.


"Gue sayang sama lo cuma bisa sebatas sahabat. Sama seperti gue sayang sama Haura. Gue gak bisa cinta sama lo. Dan gue harap lo bisa melupakan rasa cinta lo untuk gue. Lo berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada gue."


Nevan sadar bahwa ucapannya membuat Rhea semakin terluka. Akan tetapi Nevan harus melakukan itu agar tidak melukai Rhea semakin jauh. Karena sampai kapan pun Nevan tidak akan pernah bisa mencintai Rhea. Bukan karena Rhea bukan gadis yang baik, tetapi ada seseorang yang Nevan cintai sampai sekarang. Seorang gadis yang masih menguasai hatinya secara sempurna.


"Tetaplah jadi sahabat gue. Sahabat gue yang paling cantik," pinta Nevan tulus lalu kembali membawa tubuh Rhea ke dalam pelukannya.


Untuk beberapa saat, Rhea seakan hanyut dalam pelukan Nevan. Pelukan dari laki-laki yang sangat di cintainya untuk waktu yang lama. "Maaf, gue gak bermaksud untuk menyakiti Haura. Gue cuma cemburu. Apa itu salah?" ucap Rhea dengan jujur.


"Lo gak salah. Haura juga gak salah. Semua ini salah gue."


Nevan kembali menatap wajah Rhea. "Gue harap lo balik lagi jadi Rhea yang dulu. Rhea yang cantik dan menyebalkan. Bukan Rhea yang jahat dan menyakiti orang lain. Hmmm.."


Rhea pun mengangguk pelan. Tersenyum dengan wajahnya yang masih sembab.


"Kalau Haura cinta sama lo?" sebuah pertanyaan tak terduga meluncur dari lisan Rhea. Gadis remaja cantik itu melepaskan pelukan Nevan dari dirinya. Menatap kedua mata lawan bicaranya itu, "Kalau Haura cinta sama lo, apa yang akan lo lakukan? Apa lo juga akan membuat Haura menangis seperti gue?" tanya Rhea lagi.


Hening untuk sesaat. Pertanyaan tak terduga dari Rhea membekukan lisan remaja tampan itu. Tatapan mata Nevan menerawang ke depan. Hanya sebuah tatapan kosong pada barisan buku yang tersusun rapi pada rak-rak buku yang ada di sana.


"Haura gak akan mungkin cinta sama gue." Hanya kata itu yang mampu Nevan berikan sebagai jawabab atas pertanyaan Rhea.


"Apa nama Alesha masih ada di sini?" tanya Rhea lagi dan jari telunjuk gadis tersebut mengarah tepat ke dada Nevan.


"Hmmmm...." sebuah gumaman yang menjawab segalanya. Nevan masih mencintai seorang gadis yang saat ini entah berada dimana. Alesha. Cinta pertama Nevan.


Rhea tersenyum pias. Dirinya sadar bahwa tidak ada kesempatan sama sekali untuk mendapatkan cinta Nevan. Dua orang gadis yang hadir dalam hidup Nevan, Alesha dan Haura membuatnya harus cukup puas hanya bisa menjadi sahabat dari cinta pertamanya itu.


Alesha gadis yang sangat di cintai Nevan sejak beberapa tahun yang lalu. Dan Haura, gadis sederhana yang entah sejak kapan mampu mengalihkan dunia Nevan. Meskipun Nevan tidak menyadari bahwa Haura telah menguasai hatinya. Bagi Rhea, Haura mempunyai tempat istimewa di hati Nevan. Tempat yang melebihi dari sekedar sahabat.


Tanpa Nevan dan Rhea di dua tempat yang berbeda sejak tadi ada dua pasang telinga yang mendengar pembicaraan mereka. Haura dan Gian.


Haura yang berada di balik rak buku yang bersebelahan dengan Nevan dan Rhea dapat mendengar semua pembicaraan dua remaja tersebut. Ada rasa sedih dan juga bersalah yang Haura rasakan di saat bersamaan.


Sedih karena semua perhatian Nevan padanya hanyalah perhatian sebatas sahabat saja. Meskipun Haura sadar bahwa mengharapkan Nevan juga mencintainya bagaikan sebuah pribahasa Bagai Pungguk Merindukan Bulan. Sesuatu yang tidak mungkin. Kini Haura sadar bahwa Cinderella itu hanya ada di dunia dongeng. Tidak akan pernah menjadi nyata. Sepertinya Haura cukup menyimpan cintanya sebagai sebuah rahasia untuk dirinya saja. Rahasia yang akan dijaga dengan baik dan tak ingin di ungkapkannya. Selamanya.

__ADS_1


Di lain sisi Haura juga merasa bersalah pada Rhea. Karena kehadirannya di dalam hidup Nevan membuat persahabatan antara Nevan dan Rhea menjadi renggang. Dan sebab dirinya jugalah Rhea merasa kehilangan sosok Nevan hingga membuat gadis cantik itu benar-benar bersedih. Satu hal baru yang Haura ketahui, sosok Rhea yang arogan ternyata hanyalah sebuah tameng untuk menyembunyikan kerapuhannya. Rhea, gadis cantik yang ternyata juga mempunyai hati yang lembut dan mudah menangis.


Tidak jauh dari tempat Nevan dan Rhea berada, Gian yang memang ikut mencari keberadaan Rhea menyaksikan dan mendengar semua pembicaraan kedua sahabatnya itu. Entah mengapa hatinya begitu nyeri melihat Rhea menangis. Ingin rasanya Gian merengkuh tubuh Rhea ke dalam pelukannya. Menenangkan gadis cantik itu dari patah hatinya untuk kesekian kali karena cintanya yang tak terbalas pada Nevan. Namun semua itu tidaklah mungkin. Gian hanya mampu mengawasi Rhea dari jauh.


__ADS_2