
Rhea terus menatap nyalang pada gadis remaja yang berada di atas motor Nevan. Meskipun gadis remaja itu menyembunyikan wajahnya di balik punggung Nevan, akan tetapi Rhea sudah melihat dengan jelas bahwa gadis remaja itu adalah Haura.
Dada Rhea naik turun karena menahan amarah yang bergejolak di dadanya karena mendapati Haura bersama Nevan dan hal lain yang membuatnya lebih murka adalah Haura berada di rumah Nevan. Rumah utama keluarga Sander.
Sebenarnya gadis remaja cantik itu memaksa untuk ikut bersama GIan dan Niko yang hendak pergi ke rumah Nevan dengan alasan dia bosan sendirian di rumah, sedangkan Bella sedang berkencan dengan pacarnya. Awalnya Gian dan Niko menolak permintaan Rhea, karena takut hal seperti ini akan terjadi, Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak ketika Mama Rhea menelepon Gian untuk mau menemani putri cantiknya pergi ke rumah Nevan untuk sekedar mengunjungi remaja tampan itu. Apalagi Mama dari Rhea sangat berharap bahwa kelak Nevan akan menjadi menantunya.
"Kenapa dia bisa di sini?" tanya Rhea dengan nada kesal yang terdengar jelas dari cara bicaranya.
"Dia?" tanya Nevan sambil mengernyitkan alisnya. "Dia punya nama dan namanya Haura," jawab Nevan sengit.
Sejak melihat Rhea ikut bersama Gian dan Niko, Nevan sudah memasang wajah dingin. Tidak ada basa-basi sama sekali menyambut kedatangan ketiga sahabatnya itu. Jika biasanya Nevan senang jika Gian dan Niko datang ke rumahnya, tapi tidak dengan malam ini. Remaja tampan itu sangat kesal karena kedua sepupu sekaligus sahabatnya itu datang bersama Rhea. Meskipun Nevan sangat yakin bahwa hal yang terjadi sekarang pasti seratus persen karena paksaan dari Rhea.
Rhea memutar bola matanya mendengar kata-kata Nevan. Sebisa mungkin dia menahan amarahnya agar tidak meledak di hadapan Nevan.
"Iya, maksud aku Haura. Kenapa dia bisa di sini?" tanya gadis cantik itu lagi.
"Kenapa Haura gak boleh di sini?" Nevan malah melempar sebuah pertanyaan kembali kepada Rhea.
"Maksud gue kenapa bisa Haura sama lo dan ada di rumah lo."
"Nggak ada yang gak bisa di dunia ini. Lagi pula gak ada satu kewajiban buat gue menjawab semua pertanyaan
lo." Nevan berbicara dengan nada yag sangat dingin kepada Rhea. Sangat berbanding terbalik ketika berbicara kepada Haura.
Rhea dapat menyadari bahwa sikap Nevan kepadanya sangat berbeda. Meskipun dulu Nevan bersikap begitu dingin, tapi sekarang ada nada kebencian untuk dirinya di dalam setiap perkataan Nevan.
Gian dan Niko hanya menjadi penonton dan pendengar budiman. Mereka tidak mau ikut campur untuk menjelaskan rasa penasaran Rhea terhadap Haura. Meskipun setelah ini Rhea pasti akan mengintrogasi mereka berdua, tapi setidaknya baik Gian maupun Niko tidak perlu membuang-buang energi terlalu cepat untuk menjelaskan kepada Rhea.
Sementara itu Haura masih betah bersembunyi di belakang Nevan. Punggung bidang Nevan menjadi tempat persembunyian yang aman untuk gadis itu sekarang. Tidak dapat di pungkiri, bahwa saat ini Haura merasa sangat takut. Takut jika Rhea mengetahui statusnya yang sebenarnya. Bukan karena malu dengan statusnya sebagai anak seorang pembantu, akan tetapi Haura takut jika Rhea semakin membullynya dan menyakitinya lagi seperti beberapa hari yang lalu
Nevan segera menyalakan motornya siap meninggalkan rumahnya.
Melihat Nevan yang hendak pergi, Rhea pun segera turun dari motor Gian dan berdiri tepat di depan motor milik
Nevan. Menghalangi motor Nevan agar tidak pergi.
"Kalian mau kemana?" Rhea tidak terima jika Nevan meninggalkan dirinya begitu saja tanpa menjelaskan apapun. Apalagi Haura masih berada di belakang Nevan.
"Minggir, Rhe. Jangan halangi jalan gue." Nevan menggeram melihat aksi Rhea.
"Jawab dulu kalian mau kemana?"
"Gue mau kencan sama Haura," jawab remaja tampan itu enteng.
Mendengar jawaban Nevan, Rhea dan Haura membulatkan kedua mata mereka dengan sempurna. Kedua gadis remaja itu tidak percaya dengan jawaban yang Nevan berikan.
Sedetik kemudian Nevan menarik kedua tangan Haura agar memeluk dirinya. Aksi Nevan itu tentu saja membuat Haura semakin takut. Gadis itu takut Rhea semakin salah paham padanya. Sementara Rhea melihat ke arah Haura dengan penuh kebencian.
Haura langsung melepas pelukannya dari Nevan. Dia tidak ingin semakin membuat Rhea marah pada dirinya. Sayangnya Nevan kembali menarik tangan Haura agar memeluknya. Bahkan kini Nevan menatap Haura yang berada di belakangnya. "Jangan di lepas dan jangan takut." ucapnya seakan meminta Haura untuk tidak perlu khawatir pada apa pun.
__ADS_1
Rhea hanya terbengong mendengar apa yang Nevan ucapkan kepada Haura. Detik selanjutnya Nevan kembali menyalakan motornya. Ketika motor Nevan melaju dengan sendirinya Rhea menepikan tubuhnya. Gadis cantik itu masih tidak percaya bahwa Nevan mengabaikannya hanya karena seseorang seperti Haura.
*******
“Kenapa?” tanya Nevan yang melihat Haura hanya diam saja sedari tadi. Gadis itu seakan tidak bersemangat sama sekali. Selama dalam bioskop, Nevan dapat melihat dengan jelas bahwa Haura sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang tentunya sangat mengganggu fikirannya.
Haura hanya menatap kosong pada layar besar dimana sebuah film di tayangkan. Padahal mereka nonton film horror, tapi Haura hanya termenung tanpa bereaksi sama sekali. Bahkan teriakan banyak orang karena ketakutan seperti tidak terdengar oleh gadis itu.
Gadis itu terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan dia alami di sekolah karena telah membuat Rhea marah. Haura juga takut jika dirinya kembali mendapat bullying seperti kejadian yang menimpanya beberapa tahun yang lalu.
Nevan tahu pasti pa yang mengganggu fikiran Haura. Tentu saja kedatangan Rhea ke rumahnya. Dan tanpa Haura katakan pun Nevan tahu apa yang sedang mengganggu fikiran gadis yang saat ini sedang bersamanya itu.
“Kenapa? Siapa?” tanya Haura berpura-pura bodoh.
“Kamu. Siapa lagi. Apa yang kamu fikirkan?”
“Aku?” Haura menunjuk pada dirinya sendiri. “Tidak ada apa-apa dan tidak ada yang aku fikirkan.” Gadis itu kembali memasang senyuman terbaiknya kepada Nevan hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya.
“Kamu fikir aku bodoh. Apa hobi baru kamu adalah berbohong? Bilang ke aku apa yang kamu fikirkan?”
“Emmmm…" Haura menggaruk tengguknya yang tidak gatal mencoba mencari alasan jitu. "tidak ada. Aku hanya memikirkan film yang tadi kita tonton, ceritanya sangat menyedihkan. Bagaimana bisa kisah cinta antara pemeran utamanya berakhir begitu tragis. Cinta mereka tidak bisa bersatu karena terhalang restu meskipun mereka saling mencintai. Sebenarnya tadi aku mau nangis, tapi itu pasti sangat memalukan. Andai saja aku nontonnya sendirian, pasti aku udah nangis histeris."
Haura berbicara panjang lebar dengan kebohongan dan kebodohan bersatu padu dengan sempurna tanpa menatap lawan bicaranya yang sedang terbengong mendengar penjelasannya. Bagaimana bisa film horor mempunyai alur cerita menyedihkan. Justru yang sekarang begitu menyedihkan adalah Haura, karena tertangkap basah dengan kebohongan yang begitu bodoh.
"Dasar kurcaci." Nevan menjitak pelan puncak kepala Haura. "Lihat aku!"
Mendengar perintah Nevan, segera Haura yang tingginya hanya sebatas dada Nevan mendongakkan wajahnya menatap langsung wajah laki-laki yang berada di hadapannya saat ini.
"Sakit." Protes Haura. Lantas gadis itu segera menepis tangan Nevan dari hidungnya. "Tadi kamu berantakin rambut aku, sekarang kamu narik hidung aku. Ngeselin tau." Gadis itu mengusap ujung hidungnya yang sedikit perih karena ulah Nevan.
"Makanya jadi kurcaci yang nurut dan jangan suka bohong."
"Jangan khawatirkan apa pun. Kamu hanya harus tersenyum dan nikmati kencan kita," Ucap Nevan dengan tersenyum hangat kepada Haura yang masih menatapnya.
Sontak saja hal itu membuat jantung Haura kembali cenat-cenut. Nevan layaknya seorang tenaga medis yang
selalu berhasil memberikan CPR kepada Haura.
Ya, benar. Bukankah sejak awal Haura ingin menikmati malam ini. Kencan? Benar kencan, meskipun hanya malam ini. Gadis itu pun ikut tersenyum kepada laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Ayo." Nevan pun merangkul pundak Haura. Membawa gadis itu agar semakin dekat kepadanya.
Hal itu tentu saja membuat Haura semakit jantungan. "Tangannya tolong di kondisikan. Gak perlu rangkul-rangkul aku segala." Kembali mode jutek Haura mulai On. Gadis remaja itu menepis tangan Nevan yang berada sempurna di pundaknya.
"Ooooo... jadi kamu gak mau di rangkul sama aku?" Remaja tampan itu kembali berdiri di sisi depan Haura dan meletakkan kedua tangannya di pundak gadis itu. Lalu Nevan menekuk lututnya sedikit agar tinggi badannya dapat menyamai tinggi badan Haura.
"Kalau gak mau di rangkul, maunya apa? Mau di peluk? Atau di gendong?" Lagi-lagi Nevan kembali menggoda Haura. Bahkan ketika berbicara Nevan menatap langsung kedua mata Haura.
Hanya butuh waktu sepersekian detik saja wajah Haura langsung memerah karena malu. Gadis remaja itu segera mengalihkan pandangannya ke samping demi menghindari manik coklat milik Nevan. "Gak usah ngada-ngada ya, Van. Siapa juga yang suka di peluk sama di gendong kamu."
__ADS_1
"Kamu. Bukannya kamu suka di peluk aku? Buktinya minggu lalu kamu nyenyak tidur di pelukan aku. Bahkan kamu meluk aku erat, sampai aku gak bisa nafas." Mecin mulai di tambahkan dalam ucapan Nevan. Sontak saja hal itu semakin membuat Haura kesal.
"Pantesan minggu lalu aku ngerasa kayak meluk tembok. Gak ada nyaman-nyamannya." Balas Haura sengit. Dan tanpa menunggu jawaban Nevan, gadis itu segera berjalan meninggalkan Nevan yang siap ingin membalas perkatannya.
Bukannya marah karena Haura pergi meninggalkannya tapi justru sebaliknya, Nevan tersenyum menatap Haura yang sudah berjalan beberapa langkah darinya. Rambut ekot kuda Haura bergoyang ke kiri dan kanan. Menandangan pemiliknya berjalan sambil menghentakkan kakinya kuat.
Segera Nevan menyusul Haura. Setelah langkahnya tepat di samping Haura, Nevan kembali merangkul pundak Haura dan membawanya agar lebih mendekat. Orang-orang yang melihat hal itu pasti akan berfikir bahwa mereka adalah pasangan remaja yang sangat romantis. Padahal nyatanya kedua remaja itu sedang beradu argumen.
"Apaan pegang-pegang." ucap Haura sambil melepaskan tangan Nevan dari pundaknya dan semakin mempercepat langkah kakinya.
"Bukan aku yang pegang kamu, tapi tangan aku. Kamu protes aja sama tangan aku, jangan protes sama aku."
Tidak mau kalah, Nevan kembali beralasan yang konyol agar Haura semakin kesal. Sedetik kemudian Nevan merangkul pundak Haura lagi.
"Nevaannn... Jangan dekat-dekat." Haura menggeram kepada Nevan yang terus saja menggodanya. "Aku gak mau kamu dekat-dekat aku."
"Gak mau atau suka?" Remaja tampan itu masih belum mau mengalah dan terus saja menggoda Haura yang
kini wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus karena malu.
Haura tidak menjawab ucapan Nevan lagi. Gadis itu hanya melepaskan tangan Nevan dari pundaknya dan semakin mempercepat langkahnya. Tapi sayangnya secepat apapun Haura melangkah, Nevan selalu berhasil menyeimbangi langkahnya karena memang postur tubuh Haura yang pendek. Satu langkah Nevan seimbang dengan dua langkah Haura.
Untuk beberapa kali adegan merangkul dan melepas rangkulan terjadi hingga akhirnya Haura menyerah dan membiarkan Nevan merangkul bahunya.
Tentu saja hal itu membuat Nevan tersenyum penuh kemenangan. Sementara Haura hanya memasang wajah masam.
Kedua remaja itu pun terus mengayunkan langkah mereka menuju tujuan mereka selanjutnya. Sesekali masih terdengar perdebatan-perdebatan kecil yang terjadi di antara dua remaja itu.
"Ngomong-ngomong tadi kita nonton film horor, gimana ceritanya film horor bisa buat kamu sedih?"
Haura segera menghentikan langkahnya dan menatap heran pada Nevan. "Film horor?" tanya Haura bingung.
Yang di tanya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Iya, film horor. Kenapa kamu bisa sedih?" Nevan mengulang kembali pertanyaannya sambil tersenyum jail kepada Haura.
Gadis itu pun kembali berjalan santai menutupi rasa malunya karena kebohongannya gagal total. Bisa-bisanya
karena memikirkan pertemuannya dengan Rhea beberapa waktu yang lalu sampai-sampai dirinya tidak bisa membedakan yang mana film horor dan yang mana film romantis. Bahkan dari backsoundnya saja sudah sangat jauh berbeda.
"Sedihnya dimana, Ra?" tanya Nevan lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Haura. Tak pernah cukup rasanya bagi remaja tampan itu untuk terus menggoda sahabatnya itu.
"Eheeemmmm..." Haura berdehem kuat sebelum memberikan jawaban pamungkasnya.
"Sedihnya itu ketika si cewek yang selalu pakai daster putih dan wajahnya compang-camping sedemikian rupa harus rela berpisah sama si cowok yang pakaiannya seperti lontong karena si cowok udah di jodohkan oleh orangtuanya sama seorang cewek yang sangat seksi bernama Wewe. Dan yang hampir buat aku nangis adalah ketika si cewek berdaster putih tahu bahwa ternyata si cowok udah lama menikah dengan mbak Wewe dan telah mempunyai seorang anak yang selalu memakai diapers."
Mendengar penjelasan Haura, terang saja Nevan langsung tertawa terbahak-bahak. Sungguh remaja laki-laki itu tidak habis fikir dengan imajinasi liar seorang Haura karena tidak mau jika dikalahkan telak oleh dirinya.
"Puas?" tanya Haura yang semakin kesal karena Nevan semakin menertawakan dirinya.
Nevan hanya mengangguk sambil masih terus tertawa. Tawanya sampai-sampai menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka. Sementara Haura segera pergi meninggalkan Nevan dengan tawa nyaringnya itu.
__ADS_1
Setelah kepergian Haura, Nevan menatap punggung gadis itu dan tersenyum ke arahnya. "Kamu hanya boleh
tersenyum. Jadi jangan pernah bersedih." gumam remaja tampan itu.