
Jika pada hari-hari biasanya jam pulang sekolah adalah hal yang paling di nanti oleh seluruh siswa Sander International high School karena mereka akan mengikuti kegiatan ekskul sesuai dengan minat mereka masing-masing di ruang ekskul yang telah di sediakan, maka lain hal yang terjadi dua minggu terakhir ini. Jam pulang sekolah seluruh siswa tergesa-gesa untuk segera pergi meninggalkan sekolah mereka. Tujuannya tidak lain adalah karena mereka harus mengikuti pelajaran tambahan lainnya. Entah itu kursus privat bersama tutor yang handal atau melanjutkan belajar kelompok lagi di tempat yang lebih nyaman daripada sekolah. Kegiatan ekskul yang begitu mereka minati benar-benar mati suri untuk sesaat.
Begitu juga dengan Nevan dan teman-temannya. Siang itu mereka berkumpul di rumah Nevan untuk belajar bersama. Meskipun sebenarnya si tuan rumah tidak begitu peduli dengan yang namanya belajar. Bahkan awalnya Nevan menolak keras ketika Niko dan yang lainnya ingin belajar di rumahnya. Namun berdasarkan voting suara terbanyak, semua memilih belajar di rumah Nevan dan mau tidak mau Nevan terpaksa menyetujuinya sambil menggerutu kesal.
Di rumah mewah tersebut sudah ada Niko, Gian, Rhea dan Bella berkumpul di ruang keluarga. Sementara Nevan semenjak tiba di rumah langsung menuju ke paviliun belakang. Tujuan remaja tampan itu sudah pasti untuk menemui Haura.
Pulang sekolah tadi, Haura memilih pulang bersama kedua sahabatnya. Dengan satu alasan yaitu Haura ingin sedikit memberi jarak antara dirinya dan Nevan. Percakapan Nevan dan Rhea di perpustakaan membuat Haura merenungkan tentang hubungannya dan Nevan. Karena nyatanya persahabatannya dan Nevan justru menyakiti perasaan Rhea. Bukan hanya itu, Haura juga ingin berdamai dengan hatinya. Gadis remaja itu tidak ingin larut pada perasaan cintanya kepada Nevan. Nevan tidak akan pernah bisa membalas cintanya. Terlebih lagi ada seorang gadis yang sangat Nevan cintai, Alesha. Sebuah nama baru yang membuat Haura semakin harus membuang jauh perasaan cintanya untuk Nevan.
Di sisi lain alasan utama Nevan tidak mengizinkan teman-temannya belajar di rumahnya adalah karena Haura. Nevan khawatir jika nanti Rhea akan bertemu Haura dan ada rasa canggung di antara kedua sahabatnya itu.
Nevan berjalan tergesa untuk menghampiri Haura. Remaja tampan itu ingin memberitahu kepada Haura agar tidak pergi ke rumah utama untuk beberapa jam kedepan. Nevan hanya ingin memastikan kenyamanan untuk Haura dan juga Rhea.
“Haura… Haura…” panggil Nevan sambil mengetuk pintu salah satu paviliun disana yang menjadi tempat tinggal Haura dan Ibunya.
“Iya… sebentar,” jawab sebuah suara dari arah dalam. Itu suara Haura, Nevan sudah menghafal betul suara sahanat baiknya itu.
“Nevan… Ada apa?” tanya Haura heran ketika membuka pintu dan melihat Nevan telah berdiri di depan pintu rumahnya.
“Emmmm… aku cuma mau bilang untuk sementara kamu gak perlu ke rumah utama.”
Haura terlihat bingung dengan pernyataan Nevan. Bagaimana mungkin Haura tidak ke rumah utama, karena seperti biasanya Haura harus membantu Ibunya.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Haura heran.
“Jangan tanya kenapa, yang penting kamu dengerin aku aja. Jangan ke rumah utama sampai sore!” titah Nevan tegas.
“Tapi aku mau…”
Nevan yang sudah bisa menebak apa yang ingin Haura katakan segera memotong ucapan Haura, “Nanti aku bilang ke Ibu kamu kalau kamu lagi belajar.”
Jika Haura pulang sekolah lebih awal, maka gadis remaja itu segera menuju rumah utama untuk membantu Ibunya. Begitulah yang selalu terjadi dan Nevan sudah hafal dengan baik kegiatan Haura setiap harinya.
Alis Haura nyaris saling bertaut karena merasa semakin bingung dengan larangan Nevan. Sesuatu terjadi, Haura yakin itu. Ini adalah pertama kalinya Nevan melarang dirinya pergi ke rumah utama. Namun apakah sesuatu itu sangat fatal? Hingga Nevan sendiri yang datang ke paviliun untuk mengingatkan dirinya.
“Gak bisa gitu, Van. Lagian aku bantu Ibu cuma sebentar, setelah itu aku bisa lanjut belajar. Dan satu lagi, kenapa aku gak boleh ke rumah utama. Alsannya apa?” tanya Haura yang mencoba mencari tahu apa yang membuat Nevan melarangnya.
“Enggak… Aku harus tahu alasannya. Pasti terjadi sesuatu, iya kan?" Haura terlihat panik. Takut jika hal buruk benar-benar terjadi disana.
Nevan bergeming tidak langsung menjawab pertanyaan Haura. Justru menatap kesal ke arah Haura yang tidak mau mendengarkan perkataannya.
Melihat Nevan tidak menjawab, Haura memilih mencari tahu sendiri alasan Nevan melarangnya. Segera Haura menutup pintu rumahnya untuk pergi menuju rumah utama.
“Kamu mau kemana?” tanya Nevan sambil menghalangi jalan Haura.
__ADS_1
“Ke rumah utama. Kemana lagi?” Haura pun segera mengayunkan langkahnya tanpa peduli dengan Nevan yang sedang menatapnya tajam.
“Rhea di rumah utama.”
Seketika langkah kaki Haura terhenti. Gadis remaja itu berbalik menatap Nevan yang hanya berjarak beberapa langkah di belakangnya. Kini Haura tahu bahwa Nevan pasti tidak ingin dirinya bertemu Rhea. Bisa di katakan sikap Nevan adalah bentuk perlindungan remaja tampan itu kepada Haura.
“Rhea di rumah utama,” ulang Nevan lagi. Ada jeda sejenak sebelum Nevan melanjutkan kata-katanya. “Setelah apa yang terjadi antara kamu dan Rhea, aku hanya gak mau kalian bertemu dan akan ada hal yang tidak menyenangkan terjadi lagi antara kamu dan Rhea. Kamu paham kan, Haura?” jelas Nevan panjang lebar.
Haura hanya membisu. Tidak menjawab sepatah kata pun. Sekhawatir itukah Nevan pada dirinya? Atau yang Nevan khawatirkan justru Rhea. Ya, itu yang lebih tepat, Nevan pasti tidak ingin Rhea kembali bersedih seperti tempo hari. Begitulah fikir Huara. Karena tidak pantas rasanya jika dirinya merasa bahwa Nevan mengkhawatirkannya.
“Kamu disini aja, nanti aku akan bilang ke Ibu kamu kalau kamu sedang belajar.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Nevan pun pergi meninggalkan Haura yang masih belum beranjak dari posisinya. Menatap punggung Nevan yang secara perlahan menjauh lalu menghilang memasuki rumah utama.
Rhea di rumah utama, kata itu terus terulang dalam benak Haura. Sejak beberapa hari yang lalu saat tanpa sengaja Haura mencuri dengar percakapan yang terjadi antara Rhea dan Nevan di perpustakaan sekolah, Haura sebenarnya ingin sekali berbicara empat mata bersama Rhea. Haura hanya ingin menjelaskan pada Rhea bahwa dirinya tidak bermaksud untuk menciptakan jarak antara Rhea dan Nevan. Sekaligus ingin meminta maaf kepada Rhea karena secara tidak langsung Haura merasa bahwa dirinya turut andil dalam menyakiti perasaan Rhea.
Satu hal yang Haura yakini, bahwa semua sikap jahat Rhea kepada dirinya bukan karena Rhea adalah seorang gadis yang jahat. Seperti yang Nevan katakan, meskipun Rhea kerap kali bersikap arogan dan menyebalkan namun Rhea bukanlah sorang gadis yang jahat.
Selama Haura mengenal Rhea, belum pernah sekalipun Haura melihat Rhea menyakiti fisik orang lain. Dirinyalah yang menjadi korban pertama Rhea. Semua itu hanya karena cemburu. Wajar saja jika Rhea cemburu, karena Rhea memang lebih dahulu mencintai Nevan. Jauh sebelum Haura mencintai sahabat tampannya itu.
Meskipun Haura sangat yakin bahwa Rhea pasti tidak ingin berbicara padanya. Namun demi sebuah penjelasan, bagi Haura tidak ada salahnya untuk mencoba. Sudah beberapa kali Haura mencoba mendekati Rhea di sekolah, akan tetapi Rhea selalu bersama Bella atau jika tidak dirinyalah yang selalu di ikuti oleh kedua sahabatnya, Luna dan Adel. Tidak ada waktu yang tepat untuk mendekati Rhea di sekolah.
__ADS_1
Mungkin inilah saatnya, fikir Haura. “Aku harus menjelaskan semuanya kepada Rhea. Harus. ” gumam Haura.
Segera gadis remaja itu mengayunkan langkah kakinya menuju rumah utama. Haura tidak peduli dengan larangan Nevan. Jika Nevan menginginkan agar dirinya tidak bertemu Rhea, lain halnya dengan harapan Haura. Dia justru berharap semoga ada waktu untuk dirinya agar bisa berbicara pada Rhea. Meskipun hanya beberapa menit saja tidak mengapa. Haura akan memanfaatkan waktu itu dengan baik. Gadis remaja itu hanya ingin memperjelas semuanya, agar tidak ada lagi salah paham antara dirinya dan Rhea. Agar semuanya bisa kembali seperti semula. Seperti ketika Nevan belum hadir kembali ke dalam hidupnya. Juga sebelum dirinya hadir di tengah persahabatan Nevan dan Rhea.