
Setelah peringatan yang Nevan berikan beberapa hari yang lalu di kelasnya, kini hal tersebut telah menjadi trending topic di seluruh sekolah. Semua siswa membicarakan sikap Nevan yang begitu mengistimewakan Haura. Karena hal itu pula semakin menyulut kemarahan siswa-siswa yang tidak menyukai Haura.
Sayangnya mereka tidak berani mengusik Haura secara langsung. Di tambah lagi satu orang siswa lainnya yang ikut pasang badan melindungi Haura. Yaitu Farel. Kini remaja tampan kelas XII tersebut secara terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan Haura. Tidak lagi main kucing-kucingan seperti satu tahun yang lalu.
Sama seperti Nevan, Farel juga selalu mengawasi Haura ketika berada di sekolah. Tapi bedanya Nevan tidak bisa berinteraksi langsung dengan Haura karena janji yang telah mereka sepakati bersama, untuk saling menjaga jarak saat di sekolah. Alhasil, Nevan hanya mampu mengawasi Haura dari jarak jauh. Tetapi selalu ada di sekitar gadis itu.
Jika Nevan hanya memantau Haura dari jarak jauh, maka Farel selalu ada dimana pun Haura berada. Ketika jam istirahat tiba, Farel selalu menemui Haura, baik itu di kelas, kantin, perpustakaan atau di tempat lainnya. Kecuali toilet siswa perempuan.
Desas-desus tentang Haura sebagai perempuan penggoda kian merebak karena kedekatang gadis remaja itu dengan Farel. Para siswa yang membenci Haura semakin menatapnya sinis. Bahkan mereka berspekulasi bahwa Haura benar-benar tidak tahu malu dengan menggoda dua laki-laki sekaligus.
Haura bukan tidak mendengar rumor tersebut. Hanya saja gadis remaja itu pura-pura menulikan pendengarannya. Toh tidak ada untungnya jika di lawan karena sekeras apa pun Haura mencoba untuk menjelaskan, mereka tetap tidak akan percaya. Bagi Haura cukup orang-orang yang mengenalnya dan menyayanginya yang tahu bagaimana dirinya sebenarnya. Begitulah yang Haura fikirkan.
“Untuk kamu.” Farel meletakkan sebotol minuman dingin di hadapan Haura lalu duduk di sebuah kursi di sisi Haura.
“Kenapa sendiri?” tanya Farel lagi karena tidak biasanya Haura duduk seorang diri. Pasti selalu ada Luna dan Adel bersamanya.
“Itu.” Haura menunjuk ke arah tempat memesan makanan di kantin sekolah mereka. Luna dan Adel terlihat sedang memilih-milih menu yang akan mereka pesan.
Mengapa hanya Luna dan Adel yang memesan? Alasannya adalah karena jika Haura ikut mengantri maka dapat di pastikan ada saja siswa lain yang mengganggunya dengan dalih tidak sengaja. Seperti dua hari yang lalu ada seorang siswa perempuan yang menumpahkan saus teokbokki ke seragam Haura ketika gadis itu sedang mengantri untuk memesan makanan. Alhasil seragam sekolah Haura benar-benar kotor.
Tapi dengan cepatnya siswa tersebut meminta maaf dengan dalih bahwa dia tidak sengaja. Padahal baik Haura maupun kedua sahabatnya dapat melihat dengan jelas bahwa siswa tersebut benar-benar sengaja menabrakkan tubuhnya kepada Haura.
Bukan hanya itu, kemarin ada juga seorang siswa perempuan yang menabrak Haura dan dengan sengaja menumpahkan kuah baksonya agar mengenai kulit Haura. Syukurnya Haura dengan sigap menghindar sehingga kuah bakso yang panas tidak mengenai kulitnya secara langsung. Hanya tumpah dan mengenai ujung sepatu yang di pakai Haura.
Tidak sampai disana, bahkan satu hari setelah ancaman Nevan minggu lalu, loker milik Haura menjadi wadah bagi para siswa yang membenci Haura untuk mengeluarkan unek-unek mereka kepada gadis itu. Betapa terkejutnya Haura mendapati begitu banyak surat penuh dengan kata umpatan untuknya berada di dalam loker tersebut.
*******
“Nevan jangan sampai tahu soal ini. Aku mohon kalian tutup mulut,” pinta Haura pada ke dua sahabatnya itu tempo hari.
Haura benar-benar tidak ingin Nevan mengetahui apa yang terjadi karena dia takut kalau sahabatnya ini akan melakukan apa yang dia ucapkan.
“Tapi ini gak bisa di biarkan, Haura. Ini namanya teror.” Sanggah Luna segera.
“Aku mohon. Tolong rahasiakan ini. Aku gak mau makin memperkeruh suasana.” Haura menatap intens wajah kedua sahabatnya itu. Tatapan matanya penuh dengan permohonan.
“Terus kamu maunya apa? Membiarkan mereka terus bersikap semena-mena sama kamu? Membiarkan mereka terus mengganggu kamu? Oke, kalau sekarang kamu bilang kamu gak pa-pa. Tapi mau sampai kapan? Sampai kita lulus? Kamu yakin akan sanggup menanggung ini semua?” Adel mencecar Haura dengan pertanyaan beruntun. Pertanyaan yang sebenarnya lebih kepada sebuah pernyataan.
Tanpa banyak berfikir Haura mengangguk mantap kepada kedua sahabat baik hatinya itu. “Aku gak masalah kalau pun mereka akan terus mengganggu aku. Aku Cuma gak mau karena ak, akan ada masalah lain yang timbul. Masalah yang justru akan merugikan banyak orang.”
Baik Haura maupun Adel mendengus kesal mendengar perkataan Haura. Mereka tidak habis fikir, bagaimana bisa Haura selalu mengalah pada keadaan.
__ADS_1
“Lagipula mereka gak menyakiti aku secara fisik. Jadi gak ada yang perlu di besar-besarkan.”
“Kekerasaan secara verbal juga gak bisa di anggap remeh, Haura,” kini Luna mulai menggeram kesal kepada sahabatnya itu. Bisa-bisanya Haura mengatakan jangan membesar-besarkan masalah yang sedang di alaminya sekarang. “Kekerasan Verbal juga bisa berakibat fatal. Bisa membuat mental seseorangdown dan bisa menimbulkan trauma berkepanjangan.”
“Itu gak akan terjadi. Kan ada kalian yang selalu bersama aku. Mana mungkin aku bakal down.” Haura memaksakan dirinya untuk tersenyum meskipun batinnya benar-benar terluka dengan apa yang sedang terjadi.
Bohong jika Haura tidak merasa sedih karena seluruh siswa seakan sangat membencinya. Tapi Haura terus memaksa dirinya untuk tetap kuat. Tidak lama lagi dirinya akan lulus dan akan segera meninggalkan sekolah tersebut, sehingga tidak perlu lagi bertemu dengan orang-orang yang begitu jahat padanya. Itulah selalau yang Haura katakan untuk terus menepis rasa sedih di hatinya.
“Lagi pula, umpatan kayak gini bukan masalah besar untuk aku. Kita tinggal membuang semua kertas-kertas ini. Dan masalah selesai.” Padahal di relung hatiya Haura ingin menangis sekencang-kencangnya karena umpatan yang tertulis di kertas-kertas tersebut benar-benar sangat menyakitkan.
Sebelum membuang semua kertas-kertas tersebut, gadis remaja itu sempat mebaca beberapa tulisan yang terdapat disana. Dan benar saja, kata-kata yang tertulis disana mampu mengoyak hati Haura dengan sempurna. Sedih dan marah. Itulah yang Haura rasakan.
Cewek murahan gak tahu diri.
Perempuan miskin, bodoh.
Pergi dari sekolah kami!
Berapa tarif lo per malam? Bisa dong sama gue. Gue akan bayar mahal.
Dan banyak lagi yang belum sempat Haura baca karena Luna dan Adel menarik kertas-kertas itu secara paksa dari tangan Haura.
*******
“Kita teman dan aku akan selalu ada untuk kamu. Kamu ingat kan, kalau aku udah janji akan selalu menjaga kamu.”
“Terima kasih kak Farel.” Gadis itu tersenyum kecut kepada lawan bicaranya itu. Jarak yang Haura sendiri ciptakan membuatnya merasa sedikit canggung berbicara pada Farel. “Haura Cuma gak mau terus-terusan ngerepotin. Kak Farel udah banyak bantuin Haura dan semua itu gak mungkin sanggup Haura balas. Lagipula...”
“Aku gak pernah minta kamu untuk membalas apa pun yang udah aku lakukan untuk kamu. Aku tulus. Aku sayang sama kamu, Haura.”
Inilah yang Haura takutkan. Haura takut akan menyakiti Farel semakin dalam. Laki-laki itu sudah sangat banyak membantunya. Menemaninya di saat-saat terberat beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi Haura hanya bisa menganggap Farel sebagai seorang kakak. Tidak ada perasaan sayang layaknya seorang perempuan kepada lawan jenisnya.
Haura tidak bisa berpura-pura mencintai Farel. Karena itu sama saja dengan menjadikan dirinya sebagai pembohong yang akan melukai hati orang sebaik Farel.
“Kak Farel, Haura...”
“Aku gak minta kamu untuk membalas perasaan aku. Aku cukup tahu diri bahwa sesuatu yang terpaksa itu sangat tidak baik. Karena itu aku gak mau memaksa kamu untuk cinta sama aku. Cukup jadikan aku tempat kamu berbagi. Bisa?” Farel tersenyum hangat kepada Haura. Sebuah senyuman yang begitu tulus. Dan sialnya Haura masih belum bisa memunculkan rasa cinta di hatinya untuk si pemilik senyuman tersebut.
Setelah mencuri dengar kata-kata Haura di UKS, Farel mencoba menerima dengan lapang dada bahwa cinta Haura memang bukan untuknya. Meskipun Farel masih terjebak pada sebuah perasaan yang bernama Cinta, akan tetapi Farel tidak mau bersikap egois dengan memaksa Haura agar membalas cintanya. Karena remaja laki-laki itu sadar bahwa sejak awal hanya dirinya seorang yang terjebak dalam perasaan cinta itu. Sementara Haura telah terjebak dalam cinta yang lain. Cinta yang Farel yakini telah tumbuh di hati Haura untuk waktu yang cukup lama. Cinta Haura hanya untuk Nevan.
Sebenarnya sejak pertama Farel melihat kedekatan Haura dan Nevan, Farel sudah yakin bahwa Haura menyukai Nevan. Cara Haura menatap Nevan berbanding terbalik dengan cara gadis remanja itu menatap dirinya.
__ADS_1
Ada cinta yang tersembunyi setiap kali Haura menatap remaja laki-laki yang menjadi rival Farel itu. Sementara ketika gadis remaja itu menatap Farel, yang ada di sana hanya tatapan sayang sebagai seorang sahabat atau seorang adik untuk kakaknya.
Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati Farel, yaitu alasan Haura menjauhi dirinya. Masih menjadi misteri yang masih coba di usut oleh Farel.
“Kamu punya aku tempat kamu berbagi. Bahu aku cukup lebar untuk kamu bersandar. Jangan menanggung semuanya sendiri. Anggap aku diary kamu. Cerita semua sama aku. Hmmm...”
Gadis remaja itu tertegun karena ucapan Farel. Hatinya nyeri karena telah mematahkan hati laki-laki sebaik Farel. Tapi cinta tetaplah cinta. Tidak memandang kepada siapa dia akan jatuh dan bagaimana dia akan menemukan tempatnya berlabuh. Tidak ada yang tahu. Bahkan meskipun orang tersebut sebaik Farel sekalipun, jika memang cinta itu tidak bisa bertunas di hati, sungguh tidak ada yang dapat memaksanya untuk hadir.
Haura hanya mengangguk kepada lawan bicaranya itu.
Setelahnya Farel mencubit gemas kedua pipi Haura.
“Kak Farel... Sakiiittt...” protes Haura yang justru membuat Senyum Farel mengembang sempurna.
“Abisnya kamu gemesin. Selalu aja pasang wajah mendung.” Kini giliran rambut Haura yang menjadi sasaran tangan Farel.
“Jangan sedih-sedih lagi. Kamu bisa gunakan aku sebagai perisai melawan oarang-orang yang menyakiti kamu.”
Farel pun membuka penutup botol minumannya dan juga minuman milik Haura. Lalu mendorong botol tersebut kembali ke hadapan Haura.
Haura tersenyum manis kepada Farel hingga menampilkan kedua lesung pipi yang membuat wajahnya semakin manis. Gadis itu meraih botol minumannya dan mengenggak isinya.
“Sekarang kamu bilang sama aku, siapa yang udah teror kamu? Biar aku buat mereka jadi gado-gado. Aku udah lama gak adu tinju.”
Sontak saja Haura tersedak dengan minumannya. Manik hitamnya menatap horor pada Farel. Gadis itu tahu betul bagaimana sikap Farel yang sangat suka adu kekuatan fisik.
Jika Nevan suka menghancurkan lawannya dengan menggunakan kekuasaan yang dia miliki. Maka Farel
sangat suka menghancurkan lawannya dengan adu jotos. Dua perpaduan yang apik dan sempurna. Bahkan Haura bingung bagaimana bisa dirinya terjebak di antara dua laki-laki seperti Nevan dan Farel.
Kedekatan antara Haura dan Farel tentu saja menjadi pusat perhatian seluruh siswa yang ada di kantin saat itu. Bahkan Luna dan Adel juga mengurungkan niat mereka untuk kembali ke meja yang Haura tempati karena sudah ada Farel disana. Kedua gadis remaja cantik itu sangat yakin bahwa Haura sedang membicarakan sesuatu yang serius bersama Farel. Oleh karena itu mereka tidak mau menjadi pengganggu.
Tanpa Haura sadari, sejak tadi juga ada sepasang netra coklat yang menatap mereka dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan. Sosok tersebut memperhatikan Haura dari jarak yang cukup aman.
Ya, itu adalah Nevan. Remaja tampan itu juga berada di kantin bersama Gian dan Niko. Niat hatinya ingin mengajak haura untuk ikut bergabung dengannya. Namun baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah, Nevan terpaksa menghentikan lajunya karena melihat Farel yang terlebih dahulu duduk di hadapan haura.
Nevan ingin menyusul ke tempat Haura, akan tetapi segera di cegah oleh Niko. “Lo disini aja. Jangan semakin memperburuk keadaan,” Ucap Niko. Meski bertolak belakang dengan batinnya, akan tetapi Nevan memilih mengikuti saran Niko. Kembali duduk di tempatnya dan mengawasi Haura dari sana.
Nevan tidak dapat mendengar apa yang Haura dan Farel bicarakan. Indra penglihatannya menatap tajam pada Farel. Darahnya seakan bergejolak ketika melihat Farel mencubit gemas kedua pipi Haura dan mengusap puncak kepala gadis remaja yang di anggapnya hanya sebagai sahabatnya itu. Dua hal yang dilakukan Farel adalah hal yang di sukainya juga. Rahang remaja tampan itu telah mengeras sempurna.
“Cinta memang rumit,” gumam Gian setelahnya.
__ADS_1
Niko hanya mengedikkan bahunya. Sementara Nevan benar-benar tidak mendengar sama sekali apa yang Gian ucapkan karena tatapannya tidak beralih sedikit pun dari dua orang yang sangat mengganggu indra penglihatannya sedang berbicara sambil sesekali tertawa bersama. Hati Nevan di hinggapi rasa marah dan rasa asing yang perlahan menguasai hatinya. Perasaan yang entah.... Nevan masih enggan untuk menamainya.