(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Kasta Itu Masih Ada... Meski Tak Kasat Mata


__ADS_3

Hasil ujian selama satu semester telah diumumkan lewat papan buletin sekolah. Dikarenakan Sander International High School adalah sekolah terbaik dengan siswa-siswa pilihan, maka perolehan nilai siswa pun bersaing begitu ketat. Hampir seluruh siswa mendapatkan nilai di atas rata-rata. Selisih nilai antara siwa yang satu dengan lainnya sangatlah tipis.


Namun demikian, perolehan peringkat teratas dari seluruh siswa kelas XI di sekolah tersebut sungguh di luar dugaan. Niko yang biasanya bertahta sebagai pemegang nilai tertinggi dari seluruh siswa kelas XI kini posisinya bersanding bersama seorang siswa lainnya. Hal tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya. Nama siswa yang mampu bersanding dengan Niko sebagai juara umum kelas XI tidak lain adalah Nevan.


Hal tersebut sudah pasti menjadi trending topik seluruh penghuni sekolah elit tersebut. Bagaimana tidak, Nevan yang notabennya adalah siswa pindahan yang terkenal sangat jarang mengikuti pelajaran, mampu mendapatkan nilai ujian sempurna. Keseluruhan nilainya adalah A. Tidak ada cacat sama sekali.


Nevan sebenarnya siswa yang cerdas meskipun terlihat tidak peduli. Hal tersebut terbukti dari hasil ujiannya dengan nilai yang sempurna. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang baru bagi Niko dan Gian.


Lain halnya dengan Niko yang memang dikenal sebagai siswa teladan. Sangat berbanding terbalik dengan Nevan meskipun mereka adalah saudara sepupu. Seluruh siswa berkumpul di aula sekolah menantikan pengumuman resmi hasil ujian dari pimpinan sekolah. Bisa dikatakan bahwa ini sama seperti hari pengambilan raport.


Para siswa dan wali mereka telah berkumpul di aula sekolah tersebut menantikan pembacaan nilai siswa satu persatu. Juga menjadi ajang saling pamer kepintaran dari anak-anak mereka. Begitulah yang selalu terjadi di setiap semesternya. Setiap siswa duduk berdampingan dengan orang tua mereka masing-masing.


"Kita duduk di depan, Ra" titah Nevan kepada Haura. Nevan menggandeng tangan Haura menuju pada barisan kursi paling depan.


"Kamu aja yang duduk di depan, aku di belakang aja gak masalah kok Van." Haura cukup sadar diri bahwa dirinya sangat tidak pantas untuk duduk di jejeran kursi paling depan. Meskipun Haura tahu bahwa hari ini yang akan mewakilinya mengambil raport adalah Zayn. Hal itu dikarenakan Bu Lastri merasa tidak pantas berada disana.


"Duduk di belakang?" Nevan tidak suka dengan penolakan Haura.


"Dimana aku duduk, disitulah kamu duduk. Dan kalau aku katakan di depan, itu artinya kamu hanya harus berjalan bersamaku menuju barisan paling depan. Paham."


Nevan tidak suka jika Haura selalu merasa dirinya berbeda dari siswa lainnya hanya karena persoalan materi. Remaja tampan itu berjalan dengan bangganya menggandeng tangan Haura. Tentunya hal itu tidak luput dari tontonan semua orang yang ada disana. Terlebih Nevan adalah putra dari pemilik Sander Group.


Flashback On


Satu hari sebelum acara pengambilan raport.


Haura yang baru saja pulang dari sekolah langsung berlari menuju dapur rumah utama keluarga Sander. Sebuah amplop undangan berwarna biru di pegang gadis itu. Masih sedikit terengah-engah, Haura menyerahkan undangan tersebut kepada Ibunya. Itu adalah amplop undangan pembagian raport siswa.


"Bu, ini undangan pengambilan raport Haura," gadis itu menyerahkan sebuah undangan berwarna biru laut kepada Bu Lastri.

__ADS_1


Bu Lastri pun menyambut pemberian anaknya dengan wajah bahagia. "Wahh... tidak terasa hasil belajar kamu semester ini akan dibagikan," ujar Bu lastri.


"Ibu yakin bahwa anak Ibu yang cantik ini pasti akan mendapatkan nilai terbaik."


"Pasti dong Bu." Meskipun Haura sudah tahu nilai yang diperolehnya lewat buletin sekolah, akan tetapi Haura masih belum mau memberi tahu Ibunya. Haura sangat berharap pembagian raport kali ini Ibunya bersedia mendampinginya menerima hasil belajarnya.


"Ibu datang yah bersama Haura," pinta gadis remaja itu kepada Ibunya.


Bu Lastri tersenyum melihat putri semata wayangnya itu. "Kamu duduk dulu nak."


Haura pun menuruti perkataan Ibunya. Gadis remaja itu duduk manis di meja makan yang memang khusus disediakan untuk para pembantu di rumah mewah itu.


Segelas jus jeruk mendarat di hadapan Haura. Tanpa aba-aba dari Ibunya, Haura langsung menenggak jus tersebut hingga tandas. Memang cuaca di luar sana sangat panas.


"Lagi?" tanya Bu Lastri


"Nggak Bu, udah cukup. Makasih Ibuku sayang," ucap Haura tulus kepada Ibunya.


Ya, semester lalu Bu Lastri tidak hadir ke acara pengambilan raport putrinya. Begitu pun dengan Haura juga tidak ikut hadir pada acara tersebut. Akan tetapi Haura tetap menerima raportnya setelah masuk sekolah pada semester selanjutnya. Hal itu sebenarnya tidak dibolehkan oleh pihak sekolah. Namun Zayn secara khusus meminta pihak sekolah mengecualikan peraturan itu untuk Haura.


Bu Lastri mengulas sebuah senyuman. Menarik nafas dalam sebelum memberikan jawaban agar putri semata wayangnya itu tidak kecewa. Wanita paruh baya itu pun duduk tepat di hadapan putrinya. Menggenggam tangan Haura sebelum memulai penjelasannya.


"Nak... Ibu sangat menyayangi kamu. Ibu gak pernah mau ada orang yang menyakiti kamu, baik itu dengan perbuatan maupun dengan perkataan mereka." Haura menyimak dengan seksama setiap kalimat yang Ibunya ucapkan.


"Menurut Ibu kehadiran Ibu di sekolah kamu sangatlah tidak pantas. Ibu tidak mau karena kehadiran Ibu disana justru akan menyulitkan kamu."


Haura menunduk lesu. Gadis remaja itu sudah tahu kemana arah pembicaraan Ibunya. Perkataan yang sama seperti enam bulan yang lalu. Namun saat itu Haura menerima saja penjelasan Ibunya. Haura masih belum menyela setiap penjelasan yang diberikan oleh Bu Lastri.


"Ibu gak mau anak-anak yang lain tahu tentang status pekerjaan Ibu. Bukan karena Ibu malu, justru Ibu bersyukur dengan keadaan kita sekarang. Namun Ibu paham betul bahwa nantinya kamu akan menjadi bahan ejekan teman-teman kamu karena kedatangan Ibu kesana," jelas Bu Lastri panjang lebar.

__ADS_1


"Tapi Haura tidak malu, Bu. Haura bersyukur memiliki Ibu yang sangat menyayangi Haura. Apa salahnya pekerjaan Ibu." Haura sungguh sangat sedih akan penolakan Ibunya itu. Ingin sekali Haura menggandeng tangan Ibunya memasuki aula sekolah elit tersebut. Menunjukkan pada teman-temannya bahwa inilah Ibunya. Namun sepertinya harapannya akan pupus lagi.


"Ibu tahu kamu sangat menyayangi Ibu. Tapi ini bukan persoalan kamu malu atau tidak memiliki Ibu seperti Ibu. Tidak semua tempat menerima perbedaan. Dan tidak semua orang akan lumrah pada perbedaan tersebut."


"Tapi Haura mau Ibu hadir disana bersama Haura. Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik Haura tidak pernah sekolah disana,"


"Hussshhh... Jangan bicara begitu. Kamu harus bersyukur dengan apa yang kamu dapatkan sekarang. Lagi pula melihat nilai kamu yang sangat baik sudah membuat Ibu bangga. Ibu selalu bangga memiliki anak seperti Haura."


Bu Lastri membelai lembut puncak kepala Haura, "Kamu paham kan sayang? Hmmmm..."


Hanya anggukan sebagai jawaban dari Haura. Gadis remaja itu ingin sekali menangis. Namun dia urungkan agar Ibunya tidak merasa semakin bersalah.


"Ibu sudah meminta tolong pada Nak Zayn untuk mengambilkan raport kamu. Sudah jangan bersedih lagi."


Flashback Off


Disinilah Haura sekarang. Di aula megah sekolah elit tersebut. Bersama Nevan berjalan beriringan menuju bangku utama di depan sana.


Tepat di meja VIP sudah ada Zayn yang telah hadir. Penampilan putra sulung dari keluarga Sander tersebut terlihat begitu bersahaja dengan balutan setelan jas. Menurut Haura terlalu berlebihan rasanya jika hanya menghadiri acara pengambilan raport menggunakan pakaian mewah seperti orang-orang yang hadir disana.


Keluarga Gian dan Niko juga sudah ada disana. Penampilan mereka sungguh sangat berkelas. Seketika Haura merasa seperti upik abu di tengah-tengah para bangsawan. Benar kata Ibunya, bahwa mereka tidak pantas berada disana. Haura sadari bahwa kasta itu memang ada, meskipun tak kasat mata.


Tepat di sebelah meja yang di tempati oleh Zayn dan lainnya, ada Rhea dan Bella bersama dengan orang tua mereka. Sekilas Rhea tersenyum kepada Haura. Meski hanya sebuah siluet, namun Haura dapat menangkap senyuman Rhea. Haura pun membalas senyuman Rhea dengan cara yang sama. Itu karena keduanya masih merasa canggung untuk berinteraksi.


Di salah satu meja VIP ada seseorang yang sangat menarik perhatian Haura, yaitu Farrel. Haura tidak menyangka bahwa laki-laki yang selalu menjadi penolongnya itu berada di bangku VIP. Selama ini memang Haura sama sekali tidak mengetahui tentang keluarga Farrel. Hal itu karena Farrel sangat enggan membahas perihal keluarganya.


Farrel hanya seorang diri. Tidak ada siapapun yang mendampinginya. Laki-laki itu memberikan senyuman terbaiknya kepada Haura yang sejak tadi terus menjadi pusat perhatiannya. Farrel tahu dengan pasti apa yang saat ini sedang difikirkan oleh Haura tentang dirinya yang hanya duduk seorang diri disana.


Haura pun siap beranjak ingin duduk bersama Farrel. Bukan hanya karena ingin menemani Farrel, akan tetapi Haura sejak tadi merasa sangat tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga Nevan.

__ADS_1


Haura mencoba meminta izin untuk meninggalkan tempat tersebut kepada Zayn dan Nevan. Namun sayangnya belum lagi Haura mengutarakan keinginannya, Nevan seperti tahu apa yang hendak Haura katakan.


"Tetap disini bersamaku," tegas Nevan tidak ingin dibantah.


__ADS_2