(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Kurcaci


__ADS_3

Saat ini kelompok ekskul broadcasting terlihat sedang berdiskusi. Mereka sedang mempersiapkan agenda untuk acara ulang tahun sekolah mereka yang akan di adakan bulan depan. Kegiatan Ekskul tersebut diketuai oleh Niko. Terlihat Nevan ikut bergabung bersama mereka. Tujuan Nevan kesana hanya untuk sekedar melihat-lihat, bukan untuk ikut berdiskusi mengenai kegiatan ekskul. Remaja laki-laki itu belum menentukan kegiatan ekskul apa yang akan dipilihnya nanti.


“Niko, lo tau tempat yang aman di sekolah ini?” tanya Nevan ketika telah duduk tepat di sebelah Niko. Nevan bertanya dengan suara yang pelan agar tidak menarik perhatian anak-anak lainnya yang terlihat sedang larut dalam pembicaraan mereka tentang materi penyiaran yang menarik dalam rangka menyambut acara ulang tahun sekolah.


“Maksud lo, tempat yang aman dalam hal apa?” tanya Niko yang tidak mengerti maksud tempat aman yang ditanyakan Nevan.


“Tempat aman yang bisa buat nongkrong tanpa ada gangguan,” tambah Nevan lagi.


“Ooooo....” jawab Niko sambil mengangguk tanda paham. “Tempat gue sama anak-anak nongkrong biasanya di rooftop. Di sana ada ruangan khusus. Gak bakalan ada siswa lain yang berani kesana,” jawab Niko kemudian.


“Oke.” Setelah mengetahui lokasi tempat yang tepat sesuai yang di inginkannya, Nevan pun beranjak untuk meninggalkan ruangan broadcasting.


“Bentar, Van. Lo untuk apa nanya tempat yang aman?” tanya Niko dan langsung menghentikan Nevan yang


ingin segera pergi.


“Gue ada urusan,” jawab Nevan singkat.


“Urusan apa?”


“Rahasia,” jawab Nevan sambil tersenyum penuh makna. “Lagian sejak kapan lo jadi Gian. Tumben lo banyak tanya,” sindir Nevan yang merasa Niko seperti sedang melakukan investigasi terhadap dirinya.


Sesaat kemudian Nevan siap melangkah untuk menuju tempat yang dimaksud oleh Niko.


“Van....” Suara Niko yang kembali memanggil namanya, membuat Nevan menghentikan langkahnya lagi.


“Apalagi Niko?” kini Nevan mulai jengah karena Niko lagi-lagi memanggilnya hingga dia terpaksa mengurungkan lagi niatnya untuk segera meninggalkan ruangan tersebut.


“Lo jangan macam-macam, ya. Jangan sampai lo buat masalah di hari pertama lo sekolah,” ucap Niko memperingati Nevan.


“Lo tenang aja, gue gak bakalan macam-macam. Cuma satu macam doang.”


“Gue tau apa yang lo fikirkan, Van. Mau lo apain dia?” tanya Niko to the point.


Nevan menatap Niko dengan horor, bagaimana bisa Niko seolah mengerti akan jalan pikirannya. Hanya dua orang yang mampu membaca isi pikirannya yaitu kak Zayn dan Niko. Hal itu membuat Nevan tidak akan pernah bisa berbohong jika berbicara dengan kedua orang tersebut.


Nevan sangat yakin bahwa dia yang dimaksud Niko adalah orang yang sama yang sedang Nevan fikirkan sekarang ini.


“Gak bakal gue apa-apain. Lo tenang aja dan jangan berfikiran aneh-aneh tentang gue,” Nevan menekankan setiap kata yang di ucapkannya. “Gue cuma mau menyapa dia dengan cara gue,” ucap Nevan lagi dengan seringai di bibirnya.


“Terserah lo, gue cuma gak mau lo buat masalah," ucap Niko memberi peringatan.


“Gak bakalan ada masalah. Lo tenang aja. Dan satu lagi, kalau anak-anak tanyain gue, jangan bilang sama mereka kalau gue di rooftop,” ucap Nevan sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Sementara Niko hanya menatap kepergian Nevan dengan senyum tersungging di sudut bibirnya. Dia tahu betul bagaimana sikap Nevan jika sudah merasa terganggu dengan suatu hal. Dan Niko tahu hal apa yang sangat mengganggu fikiran Nevan saat ini.


Melihat Nevan berjalan meninggalkan ruangan tanpa mengatakan hendak kemana, membuat Gian dan yang lainnya heran.


“Nevan mau kemana, Nik?” tanya Gian. Karena sejak tadi Gian memperhatikan Niko dan Nevan membicarakan sesuatu. Tapi dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


“Ke kelas,” jawab Niko berbohong karena sesuai permintaan Nevan bahwa dia tidak ingin yang lainnya tahu kemana tujuan Nevan sebenarnya.


“Ya udah kalau gitu, gue susul Nevan ke kelasnya,” kata Rhea yang hendak beranjak dari duduknya untuk menyusul Nevan.


“Lo gak usah susul dia. Lagian Nevan mau ke toilet dulu sebelum ke kelasnya. Emang lo mau ke toilet cowok demi nyusul Nevan?” ucap Niko cepat untuk mencegah Rhea menemui Nevan.


“Mendingan lo tetap disini dan kita lanjutin menentukan project kita untuk acara sekolah,” kini Bella ikut mencegah Rhea agar mengurungkan niatnya untuk menyusul Nevan.


Meskipun Bella tidak berniat agar Rhea tidak mengetahui kemana Nevan ingin pergi, karena memang Bella tidak tahu tujuan Nevan kemana, tapi Bella tahu betul bagaimana sifat Rhea. Jika dia membiarkan Rhea pergi dan meninggalkan diskusi mereka di tengah jalan, maka pembahasan tentang project mereka akan di lanjutkan beberapa hari kemudian karena Rhea sudah pasti akan mempunyai banyak alasan jika sudah menyangkut dengan kegiatan yang menguras otak dan tenaga.

__ADS_1


“Bentaran doang, Bel. Nanti juga gue balik,” ucap Rhea yang masih bertahan pada niat awalnya.


“Terus lo mau nyusul Nevan ke toilet cowok, gitu?” tanya Bella lagi karena merasa bahwa Rhea akan tetap pada pendiriannya. “Lo mau nunggu di depan toilet cowok sendirian. Lo yakin?” sambung Bella lagi.


“Ya udah deh, gue gak jadi,” sahut Rhea dengan wajah yang di tekuk.


Kedua gadis remaja cantik itu pun meneruskan lagi pembahasan project mereka. Sesekali Rhea menatap ke arah pintu menunggu kemunculan Nevan.


“Emang Nevan kemana sih, Nik?” tanya Gian yang masih merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Niko.


“Daripada lo banyak tanya, mending lo periksa lagi proposal untuk acara ulang tahun sekolah kita,” ucap Niko sambil menyerahkan setumpuk proposal kepada Gian. “Satu lagi, lo periksa dengan baik bagian pengeluaran dana, jangan sampai ada yang salah,” perintah Niko lagi.


“Wait, kenapa harus gue. Kan lo yang pintar, seharusnya lo yang....” ucapan Gian terhenti ketika melihat Niko telah memasang Headphone dan meneruskan pekerjaannya seolah mengabaikan kata-kata Gian.


Sambil menggerutu, Gian pun melakukan apa yang di minta oleh Niko. Gian sungguh tidak mengerti jika berhubungan dengan angka-angka.


*******


Di dalam sebuah ruangan kelas terlihat Haura sedang membereskan buku pelajarannya. Luna dan Adel sudah meninggalkan kelas lebih dahulu untuk mengikuti kegiatan ekskul masing-masing. Luna menuju ruang broadcasting dan Adel menuju lokasi ekskul pecinta alam. Sementara Haura memilih ekskul teater. Tiga bersahabat tersebut memilih ekskul di bidang yang berbeda-beda.


Haura sangat menyukai bagian seni peran, oleh sebab itu dia sangat antusias jika menyangkut kegiatan ekskul. Sementara Adel memang tipe gadis yang menyukai tantangan. Ekskul pecinta alam adalah pilihan yang tepat untuknya. Lain halnya dengan Luna, alasannya memilih ekskul broadcasting hanya karena ada Niko disana.


Ketika Haura sedang memasukkan satu persatu buku ke dalam tasnya, dirinya tersentak karena tangannya di tarik dengan paksa oleh seseorang.


“Nevan!” ucap Haura dengan suara yang meninggi satu oktaf dari biasanya.


“Lo ikut gue,” perintah Nevan.


“Kemana?” tanya Haura heran karena tiba-tiba Nevan muncul tanpa bersuara dan langsung menarik tangannya dan memintanya untuk ikut.


“Lo ikut aja, gak usah banyak tanya.”


“Gak bisa gitu, aku harus tahu kamu minta aku ikut kemana?” protes Haura. Akan tetapi Haura tidak mampu menatap mata Nevan secara langsung saat berbicara.


“Kamu lepasin dulu tangan aku. Ini sakit,” pinta Haura yang mulai merasa sakit karena pergelangan tangannya di cekal dengan kuat oleh Nevan.


Sedetik kemudian Nevan pun melepaskan tangan Haura. Dilihatnya pergelangan tangan Haura sedikit memerah karena ulahnya.


“Gue mau ngajak lo ke suatu tempat,” ucap Nevan dengan nada suara yang terdengar lebih lembut dari sebelumnya.


“Maaf aku gak bisa, aku harus segera ke ruang teater.” Haura menolak ajakan Nevan dengan lembut. Meskipun pada dasarnya Haura memang harus segera menuju ruang teater untuk latihan pementasan drama.


Haura pun membalikkan tubuhnya untuk memasukkan lagi bukunya ke dalam tas.


“Maaf, Van. Aku harus pergi sekarang,” pamit Haura sambil berjalan melewati Nevan tanpa menatap kearahnya. Sungguh, suhu udara di kelas itu tiba-tiba terasa semakin tinggi.


Mendapat penolakan dari Haura, Nevan pun kembali mencekal pergelangan tangan gadis itu. Tapi kali ini dia tidak melakukannya dengan kasar, “Gue janji gak bakalan lama. Cuma sebentar doang.” Nada bicara Nevan seakan dia benar-benar berharap bahwa Haura mau ikut dengannya.


Deg.... Deg....


Jantung Haura berdetak dengan kencang mendengar suara lembut dari seorang Nevan. Kini gadis manis tersebut memberanikan diri menatap langsung ke arah Nevan. Dan ternyata Nevan juga sedang menatap ke arahnya. Mata mereka saling mengunci untuk beberapa saat.


“Memangnya kamu mau ngajak aku kemana?” tanya Haura setelah melepaskan tatapan matanya dari Nevan.


“Ke suatu tempat. Nanti juga lo tau,” jawab Nevan penuh dengan teka-teki.


“Ta-tapi untuk apa?” tanya Haura yang mulai merasa gugup.


“Ada hal penting yang mau gue omongin sama lo,” jawab Nevan sambil berjalan meninggalkan ruangan kelas mereka. Jangan lupakan pergelangan tangan Haura yang masih berada dalam genggaman tangan Nevan.

__ADS_1


“Kenapa gak ngomong disini aja? Kenapa harus pergi ke tempat lain?” sungguh Haura sekarang merasa takut memikirkan kemana tujuan Nevan akan membawa dirinya.


“Gue gak mau ada gangguan. Gue mau kita bicara di tempat yang lebih private,” jawab Nevan tanpa menoleh ke


arah Haura.


Jawaban yang diucapkan oleh Nevan membuat fikiran Haura melayang kepada hal-hal negatif. Apa gerangan yang akan dibicarakan Nevan padanya. Bagaimana jika Nevan melakukan hal aneh padanya.


Menit selanjutnya Haura pun menghentikan langkahnya.


“Kenapa lo berhenti?” tanya Nevan ketika menyadari Haura menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.


“Ki-kita bicara disini saja,” jawab Haura terbata-bata.


“Kan gue udah bilang, kalau gue mau ngomongin hal penting, jadi gue gak mau di dengar oleh orang lain.”


Haura pun mengedarkan pandangan matanya melihat sekeliling mereka saat ini, “Disini gak ada siapa-siapa jadi gak akan ada yang dengar,” ucap Haura setelah memastikan bahwa sekeliling mereka benar-benar tidak ada siapapun. Haura berharap agar Nevan mengurungkan niatnya dan mereka dapat berbicara di tempat dimana mereka berada sekarang ini.


“Gue gak perlu saran dari lo. Kalau gue bilang ikut, maka lo tinggal ikut aja dan jangan banyak protes,” kata Nevan dengan memberikan tatapan penuh intimidasi kepada Haura.


Nevan pun kembali mengayunkan langkah kakinya. Tapi tidak dengan Haura. Gadis itu masih belum bergerak sedikit pun dari tempat dimana dia berdiri.


Menyadari tidak adanya pergerakan yang mengikutinya, Nevan kembali menghentikan langkahnya.


“Kenapa lagi? Kenapa lo masih disana?” tanya Nevan yang mulai merasa sedikit kesal karena Haura tak kunjung mengikuti apa kemauannya.


“A-a-ku....” jawab Haura ragu-ragu.


“Kenapa?”


“Aku takut.” Kini Haura mengungkapkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia benar-benar merasa takut dengan sikap Nevan sekarang. Bagaimana bisa dia tidak merasa takut ketika Nevan memintanya untuk berbicara di tempat yang lebih private.


“Takut? Karena?” tanya Nevan dengan mengerutkan keningnya. Memikirkan hal apa yang membuat Haura merasa takut.


“Aku takut karena kamu,” jawaban tersebut pun lolos dari mulut Haura. Ingin rasanya Haura menangis saat ini juga.


“Aku? Kerena aku?” tanya Nevan untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Sungguh Nevan merasa aneh kenapa Haura takut kepadanya.


Sesaat kemudian Nevan menepuk jidatnya sendiri. Kini dia paham apa yang difikirkan oleh Haura.


Nevan kembali berjalan ke arah Haura. Kini Nevan telah berada tepat di hadapan Haura. “Jangan berfikir yang aneh-aneh. Gue gak bakalan ngapa-ngapain lo.” Ucap Nevan. “Lagian nih ya, gue tuh gak bakalan suka sama modelan kurcaci kayak lo.”


Kata-kata terakhir yang di ucapkan Nevan membuat Haura menatap langsung ke wajah Nevan dan membulatkan matanya dengan sempurna.


“Jadi..... disini tuh jangan suka mikir macam-macam,” sambung Nevan lagi sambil menunjuk arah jidat Haura.


Blush.Wajah Haura memerah karena ketahuan oleh Nevan tentang apa yang ada di dalam pikirannya.


Hening. Haura tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Lidahnya terasa kelu. Sungguh saat ini Haura merasa sangat malu. Bagaimana bisa dirinya berfikir bahwa Nevan akan berbuat macam-macam padanya.


“Sekarang lo pilih jalan sendiri atau gue gendong?” tanya Nevan. Kini sudut bibir Nevan membentuk senyuman tipis melihat Haura yang seperti salah tingkah karena perkataannya.


“Aku bisa jalan sendiri,” jawab Haura cepat. Gadis itu pun berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan Nevan yang sepertinya masih menikmati kemenangannya karena berhasil membuat Haura merasa sangat malu.


Sebenarnya Haura tidak tahu kemana tujuan Nevan mengajaknya. Lagi-lagi Haura melakukan kesalahan karena berjalan mendahului Nevan.


“Aku harus jalan ke arah mana?” tanya Haura ketika menghentikan langkahnya berbalik menatap Nevan.


Tidak ada jawaban dari seorang Nevan. Remaja laki-laki itu pun berjalan menghampiri Haura dan langsung menarik tangan gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju rooftop, sebuah senyum penuh kemenangan terlukis jelas di wajah Nevan. Sedangkan Haura berjalan di belakang Nevan sambil terus merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2