
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Haura telah selesai dengan rutinitas membersihkan perlengkapan makan malam di rumah utama keluarga Sander. Pekerjaan yang tidak pernah terlewatkan oleh gadis itu. Setelah lelah beraktifitas sepanjang hari, Haura memilih untuk segera mengistirahatkan dirinya. Gadis itu pun segera kembali ke paviliun belakang untuk segera bertemu dengan ranjang dan juga bantalnya.
Sebelumnya Haura terlebih dahulu berpamitan kepada Bu Lastri untuk segera menuju ke kamarnya dengan alasan mengerjakan tugas sekolah. Haura sengaja tidak mengatakan bahwa dirinya lelah dengan aktifitas hariannya agar Ibunya tidak kembali merasa bersalah pada Haura. Bu Lastri kerap kali menyalahkan dirinya karena Haura ikut membantunya bekerja di rumah utama keluarga Sander. Nyatanya Haura melakukan semua pekerjaan tersebut atas dasar kemauannya sendiri dan sama sekali tidak pernah menyalahkan Ibunya.
Dua jam sudah Haura berdiam diri di kamarnya. Sebagian waktu tersebut di gunakan oleh gadis itu untuk menatap langit-langit kamarnya. Seakan disana ada sebuah lukisan yang sangat menarik untuk di nikmati oleh kedua indra penglihatannya. Mungkin juga bagi Haura disana ada wajah orang yang selalu menguasai pikirannya yaitu Nevan.
Sudah satu bulan lamanya Nevan tidak juga kunjung kembali ke Indonesia. Awalnya komunikasi antara Haura dan Nevan masih cukup baik, namun sekarang Nevan seakan benar-benar menghilang. Haura berulang kali mencoba menghubungi Nevan, tetapi laki-laki itu begitu sulit untuk di hubungi.
Haura hanya bisa mengobati rasa rindunya lewat beberapa foto yang Nevan unggah melalui media sosial milik laki-laki itu. Ada sebuah foto yang memperlihatkan Nevan bersama seorang gadis yang mempunyai paras yang sangat cantik. Kemudian foto itu menghilang dari media sosial Nevan. Namun Haura telah mengingat dengan jelas paras cantik dari gadis tersebut. Alesha nama gadis di dalam foto itu. Haura mengetahuinya karena bertanya kepada Niko.
"Gadis itu adalah masa lalu Nevan." Begitulah penjelasan singkat yang Niko berikan saat itu. Haura pun tidak bertanya lebih jauh lagi.
Awalnya Haura merasa malu untuk bertanya pada Niko tentang gadis yang pernah ia lihat lewat media sosial Nevan. Pasalnya Haura merasa bahwa dirinya tidak punya hak apapun untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan pribadi Nevan. Akan tetapi rasa malu itu di kesampingkan oleh Haura karena rasa ingin tahunya begitu menggebu.
Perkataan Niko terus terngiang dalam ingatan Haura. Juga paras cantik Alesha yang mampu membuat siapa saja jatuh hati kepadanya. Perasaan gadis itu terasa sangat bergejolak karena rasa sedih dan cemburu yang datang secara bersamaan menderanya. Akan tetapi di lain sisi Haura merasa tenang bahwa Nevan baik-baik saja disana. Juga laki-laki yang di cintainya bahagia disana.
Tidak jarang pula Haura menangis seorang diri ketika melihat beberapa foto Nevan yang tersenyum bahagia disana. Laki-laki itu bahagia disana. Sementara Haura setiap malamnya harus berteman dengan air mata dan juga kerinduan. Gadis itu tersakiti oleh cintanya sendiri.
"Kamu jahat Van," lirih Haura. Dinding-dinding kamar gadis itu menjadi saksi bisu akan kesedihan yang di rasakan oleh Haura di setiap malamnya.
"Aku nunggu kamu... Tapi kamu lupa dengan janji yang udah kamu ucapkan." Haura memeluk gulingnya dengan erat. Air mata gadis itu kembali menemaninya seperti malam-malam yang telah berlalu.
__ADS_1
"Janji itu udah kamu abaikan, Nevan. Hikkksss..."
"Janji kamu melukai aku."
Haura menangis tanpa suara seorang diri di dalam kamar tidurnya. Tangis yang begitu memilukan. Cinta pertamanya sangat mematahkan hatinya. Juga cinta pertamanya begitu menyakitinya. Cinta yang tak akan pernah terbalas.
Setiap malamnya gadis itu menangis hingga terlelap. Jejak air mata terlihat jelas di wajah Haura. Cinta dan rindunya membuat gadis itu begitu rapuh. Namun sebisa mungkin Haura menyembunyikan kerapuhannya di depan orang lain dengan berpura-pura ceria seakan tidak terjadi apapun di dalam hidupnya. Seakan kehilangan Nevan bukanlah sesuatu yang menyedihkan baginya.
Haura terluka dalam tawanya.
Tinggg....
Sebuah notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel milik Haura. Itu adalah notifikasi pesan dari grup chat gadis itu bersama kedua sahabatnya. Setiap malamnya Luna dan Adel selalu mencoba menghibur Haura. Kedua sahabat Haura sangat tahu bahwa sekarang dirinya.sedang tidak baik-baik saja.
"Boleh... yukkkk," jawab Adel segera.
Haura tahu bahwa kedua sahabatnya itu sedang berusaha menghibur dirinya. Setiap harinya ada saja tempat yang mereka kunjungi. Setidaknya hal tersebut cukup membuat Haura melupakan Nevan untuk beberapa saat. Ketika malam datang, rasa rindu itu kembali, seakan mendekapnya erat dalam bayang-bayang wajah Nevan.
"Haura mana nih...." pesan lainnya masuk dari Luna.
"Haura ikut ya," tambah Adel lagi.
__ADS_1
"Aku kayanya gak bisa ikut," jawab Haura. "Aku harus bantuin Ibu... Maaf ya..." lanjut gadis itu lagi.
Kemudian Haura kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Notifikasi pesan masuk dari grup chatnya terus berbunyi. Akan tetapi Haura sama sekali tidak ingin mengetahui apa isi pesan tersebut.
"Alesha..." gumam Haura sambil membayangkan kembali foto gadis itu bersama Nevan. Batin Haura sangat menyadari bahwa Alesha sangat pantas jika bersama Nevan. Mereka bagaikan dua orang yang tercipta untuk bersama.
Senyum mengejek tersungging di sudut bibir Haura. Gadis itu kembali menertawakan dirinya sendiri karena sudah berani jatuh cinta kepada Nevan.
Haura mengusap air matanya. Untuk sejenak gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menghela nafas panjang dan kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju meja belajar miliknya. Beberapa buku pelajaran dan juga alat tulis milik gadis itu tertata dengan rapi di atas meja tersebut.
Selain buku-buku pelajaran, disana juga terdapat beberapa novel milik Haura. Novel yang di dominasi dengan cerita romansa remaja. Sejak dulu Haura selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca. Jika uang saku gadis itu tidak cukup untuk membeli novel terbaru, maka Haura sering juga meminjam pada tempat-tempat peminjaman buku dengan tarif yang cukup terjangkau.
Haura mengambil sebuah buku yang tersusun di antara barisan novel miliknya. Tangan gadis remaja itu dengan pasti meraih sebuah buku dengan sampul berwarna putih dan ada gambar setangkai mawar merah yang semakin mempercantik tampilan sampul buku tersebut.
Itu adalah sebuah diary milik Haura. Diary yang selama ini menemaninya dan juga menjadi teman tempatnya bercerita. Tentang cinta yang yang tak tertahan, juga cinta yang menyakitkan. Tentang cinta yang luar biasa, juga tentang patah hati yang begitu menyiksa. Tentang Nevan yang menjadi tokoh utama dalam cerita cintanya.
Gadis itu menatap nanar pada sampul diary miliknya. Mengusap perlahan buku tersebut. "Terima kasih udah menjadi temanku selama ini," ucap Haura lirih.
Haura membuka sampul diary miliknya. Pada halaman pertama buku tersebut terdapat sebuah lukisan wajah Nevan. Hasil goresan tangan Haura.
Di bawah lukisan wajah Nevan terdapat sebuah kalimat dari sebuah perasaan mendalam. Ada pertanyaan dan juga keraguan disana. Ada harapan pada sebuah ketidakpastian.
__ADS_1
"(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta?"