
Suasana pasar begitu padat seperti biasanya. Di tambah lagi pada hari itu adalah akhir pekan. Hari dimana orang-orang semakin ramai mengunjungi tempat tersebut. Entah itu hanya untuk berbelanja harian ataupun untuk persediaan satu minggu ke depan.
Zayn memarkirkan mobilnya berjarak lebih kurang seratus meter dari pasar. Tempat dimana mengharuskan mereka untuk sedikit berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan utama mereka.
Nevan melihat sekelilingnya. Remaja tampan itu menautkan alisnya, bingung melihat tempat yang mereka kunjungi. Mungkin dalam hayalannya pasar tradisional adalah tempat yang tidak terlalu buruk. Tapi yang dia lihat tidaklah sesuai ekspektasinya.
Pemandangan orang-orang yang berdesakan dan saling tawar menawar antara penjual dan pembeli membuat kebisingan yang luar biasa. Wajah Nevan yang tadinya begitu antusias seketika berubah masam.
Dari wajahnya dapat di pastikan bahwa keadaan sekarang benar-benar menyiksanya. Sayangnya baik itu Zayn maupun Haura seakan tidak peduli dengan gelagat tidak nyaman yang Nevan tunjukkan. Mereka benar-benar ingin memberi pelajaran kepada remaja sombong itu.
Lain halnya dengan Luisa. Remaja cantik itu terlihat begitu bersemangat dengan suasana pasar yang begitu ramai. Baginya mengunjungi pasar tradisional adalah sesuatu yang menantang. Pengalaman pertama yang sangat ingin dia manfaatkan dengan baik. Karena dapat di pastikan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mengunjungi tempat tersebut jika bersama dengan orangtuanya.
“Wahhh... banyak sekali orang,” Luisa menatap Haura dengan mata yang berbinar. “Ayo kak Haura, Lui gak sabar mau tahu gimana suasana di dalam.”
“Kamu selalu pegang tangan kak Haura. Jangan kamu lepas. Di dalam akan lebih ramai daripada yang terlihat dari sini. Kak Haura gak mau kamu tersesat,” nasehat Haura kepada Luisa.
“Iya kak,” jawab Luisa mantap dengan menganggukkan kepalanya.
Setelahnya Haura memfokuskan netranya pada Zayn dan Nevan. Ada rasa bersalah yang Haura rasakan karena gara-gara dirinya Zayn dan Nevan harus mengunjungi tempat tersebut. Hal ini adalah yang pertama kalinya bagi orang-orang yang ikut bersamanya.
“Kak Zayn...”
“It’s oke, Ra. Kamu tenang aja, kalau gini doang kak Zayn gak masalah.” Zayn tahu bahwa Haura menyesal karena telah mengajak mereka ke tempat tersebut.
“Tapi kak...” Haura tidak melanjutkan ucapannya. Manik hitam gadis remaja itu menatap pada sahabatnya, Nevan.
“Aku juga gak masalah kok, Ra. Kamu gak perlu khawatir,” ucap Nevan segera.
“Kita belanja sekarang. Keburu siang,” Zayn menginterupsi.
“Catatan belanjaannya biar Lui yang pegang. Kak Haura sebagai penunjuk jalan, ya.”
“Oke.” Haura pun memberikan catatan apa-apa saja yang harus di belinya kepada Luisa.
Mereka berempat pun melangkahkan kakinya siap melakukan pemburuan bahan makanan yang pastinya akan sangat melelahkan.
Tempat yang pertama mereka kunjungi adalah tempat yang menjual sayur-sayuran. Disana berbagai macam sayuran segar tersedia. Kelebihan berbelanja di pasar tradisional adalah bahan makanan yang masih bergitu segar. Itu terjadi karena para pengepul selalu menyetok barang pagi-pagi sekali untuk dijual pada hari itu juga, sehingga barang lebih segar. Dan proses itu berlangsung setiap harinya.
Haura dengan cekatan memilih sayur mayur yang hendak di belinya. Hal itu bukanlah sesuatu yang baru untuknya. Karena sering menemani Ibunya berbelanja, sehingga membuat Haura terbiasa dengan hal itu. Sesekali terdengar Luisa menanyakan ini dan itu kepada Haura. Seperti nama-nama sayuran yang tidak pernah dia lihat. Begitulah pasar tradisional. Banyak barang yang tidak penah kita temua di supermarket justru ada di pasar tradisional.
"Kak Haura, ini apa?" tanya Luisa ketika melihat sejenis umbi-umbian yang tidak pernah dia lihat.
Haura yang sedang memilih kubis menoleh ke arah Luisa. Melihat benda apa yang menjadi pusat perhatian Luisa. "Itu namanya Talas. Sejenis umbi-umbian juga."
"Ooooo.... rasanya gimana kak?" tanya Luisa lagi. Gadis itu masih penasaran dengan jenis umbi tersebut.
"Rasanya enggak terlalu manis. Enggak seperti ubi jalar. Tapi yang pasti rasanya gak kalah enak."
"Kita beli ya kak. Lui penasaran mau coba." Gadis remaja cantik itu terlihat begitu ingin tahu tentang umbi tersebut.
Haura hanya mengangguk dan tersenyum. Menyetujui permintaan Luisa. Haura begitu kagum pada Luisa yang notabenenya adalah putri dari keluarga terpandang tapi sangat bisa menyesuaikan diri dengan situasi apapun.
Di lain sisi Zayn dan Nevan juga memandang kagum pada Haura. Di usianya yang masih remaja, Haura terlihat begitu cekatan dengan apa yang dia lakukan sekarang. Sesuatu yang sangat jarang mampu dilakukan oleh gadis remaja lainnya. Meski tidak di pungkiri bahwa keadaan yang membentuk Haura untuk bisa melakukan apa pun. Memaksa gadis remaja itu untuk menekan egonya demi berdamai dengan keadaan hidupnya.
Tanpa terasa sebuah senyuman kekaguman terlukis di wajah tampan Nevan untuk sahabatnya itu. Bagi Nevan, Haura benar-benar sosok yang mengagumkan. Sederhana tapi luar biasa.
Jika tadinya Zayn memperhatikan Haura, kini tatapan laki-laki dua puluh tuga tahun itu beralih kepada adiknya, Nevan. Tanpa Nevan sadari, senyumannya untuk Haura justru menjadi perhatian Zayn.
"Jangan di liatin terus, nanti jadi cinta," ejek Zayn yang berbisik langsung pada telinga Nevan.
Sontak saja Nevan terkejut mendapati kakaknya yang ternyata memperhatikannya sejak tadi. "Siapa juga yang liatin Haura," desis Nevan kesal.
Ucapan Nevan membuat Zayn tersenyum penuh makna. "Kak Zayn gak pernah bilang kalau kamu liatin Haura."
Nevan terkesiap mendengar perkataan Zayn. Benar, kakaknya itu tidak pernah menyebut nama Haura. Bodoh... bodoh... bodoh.... dalam hati Nevan merutuki kebodohannya. Tapi bukan Nevan namanya jika mau mengakui apa yang dia lakukan.
Remaja tampan itu berusaha bersikap biasa saja meskipun telah tertangkap basah oleh kakaknya karena sedari tadi terus memandangi Haura.
"Eheemmm.... Kak Zayn jangan salah sangka. Nevan bukannya liatin Haura," kilah Nevan.
"Terus kamu liatin siapa sampai senyam senyum sendiri?"
Nevan semakin kesal karena Zayn seakan memang ingin menggodanya. "Nevan bukan liatin Haura, tapi liatin Ibu penjual sayuran."
"Hahahahaha" Zayn tertawa nyaring karena perkataan Nevan. "Kenapa?" tanya Zayn lagi yang belum puas menggoda Nevan. Meskipun wajah adiknya itu menunjukkan rasa kesal, tapi Zayn tidak peduli.
"Cantik. Mirip Miss Universe. Puas." Setelahnya Nevan langsung meninggalkan Zayn yang masih menertawakan dirinya.
__ADS_1
Nevan pergi untuk menyusul Haura dan Luisa. Kedua remaja perempuan itu telah pergi meninggalkan Zayn dan Nevan yang asik dengan perdebatan kecil mereka.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Nevan melihat Haura membawa barang belanjaan yang di bungkus dalam beberapa kantong plastik di kedua tangannya. Segera remaja tampan itu mempercepat lajunya.
"Biar aku yang bawa." Haura menoleh ke sumber suara yang berada di belakangnya. Nevan telah bergabung kembali bersama dirinya dan Luisa. Begitu juga Zayn yang terlihat melangkah dengan lebar menuju ke tempatnya.
Tanpa menunggu jawaban Haura, Nevan langsung menyambar semua kantong plastik yang ada di tangan Haura.
"Itu berat, Van. Biar sebagian aku yang bawa," protes Haura.
"Justru karena ini berat makanya biar aku yang bawa. Kamu gak akan sanggup."
"Kamu juga gak akan sanggup kalau harus bawa semuanya. Kita masih harus berkeliling membeli beberapa barang lagi. Jadi biar aku bantu bawakan."
"Aku cowok. Kalau cuma gini doang gak mungkin aku gak sanggup bawa. Lagian kurcaci kayak kamu jangan angkat yang berat-berat, nanti kamu jadi tambah mengecil."
Ingin rasanya Haura meremas mulut Nevan. Perkara bawa barang belanjaan sampai harus mengungkit ukuran tubuh. "Terserah kamu aja. Males berdebat sama kamu."
Haura pun memilih segera pergi meninggalkan Nevan dan Luisa. Jika dirinya terus meladeni Nevan, maka dapat di pastikan perdebatan mereka tidak akan berakhir dalam waktu singkat.
“Cieee kak Nevan. Perhatian banget sama calon pacar,” celetuk Luisa yang langsung membuat Nevan menatap horor ke arah sepupunya itu
“Lui...” Nevan menggeram pada Luisa yang ikut-ikutan menggodanya. "Jangan suka menyebar rumor."
"Mana ada Lui nyebar rumor. Ini fakta yang tidak terbantahkan. Turunin dikit gengsinya. Kalau suka tinggal bilang suka. Jangan sampai di tikung kak Farel duluan."
Setelah mengatakan itu, Luisa pun segera menyusul Haura dan meninggalkan Nevan yang siap untuk membalas perkataannya. Nevan semakin kesal karena Luisa menyebut nama
"Kenapa?" tanya Zayn ketika telah berada bersama Nevan. Wajah adiknya itu begitu kusut bagai jeruk purut.
"Gak pa-pa," bohong Nevan. Tidak mungkin dirinya mengatakan pada Zayn bahwa dia semakin kesal karena Luisa menyebutkan nama Farel. Bisa-bisa dirinya menjadi bahan olokan selama satu bulan.
Setelahnya Nevan pun memberikan sebagian kantong plastik berisi belanjaan mereka kepada kakaknya itu. "Berat," ucapnya singkat. Aksi sok pahlawan Nevan berakhir sudah.
Sementara Zayn hanya tersenyum menatap punggung adiknya yang telah meninggalkannya lagi.
Kini ke empat orang tersebut menuju tempat penjualan ikan dan daging. Luisa masih terdengar bertanya tentang hal-hal yang baru di temuinya. Dan Haura pun masih siap sedia menjawab semua pertanyaan gadis remaja cantik itu. Sementara ketika tatapan Haura bertemu dengan tatapan Nevan, Haura segera membuang wajahnya. Melihat ke arah lain karena dirinya masih kesal kepada Nevan. Begitu juga yang Nevan lakukan.
Banyak ikan segar dengan berbagai jenis. Haura melihat catatan yang Ibunya berikan dan siap memburu ikan yang harus di belinya.
"Kita beli ikan Lele," ucap Haura ketika sampai di tempat penjual ikan Lele.
Luisa segera melihat catatan belanjaan mereka. Kemudian terlihat Luisa mengernyitkan dahinya. Jenis ikan Lele tidak ada dalam catatan tersebut.
"Tapi kak..."
Belum sempat Luisa melanjutkan ucapannya, Luisa dapat menangkap kode yang di berikan Haura dengan kedua matanya. Sedetik kemudian Luisa pun ikut mengiyakan perkataan Haura. Begitu juga Zayn yang mengerti kode yang Haura sampaikan.
"Ikan Lele? Kok aku gak pernah dengar," tanya Nevan.
"Iya kak, kita harus beli ikan Lele."
"Pak, Lelenya sekilo berapa?" tanya Haura pada pedagang tersebut. Tidak ada yang menggubris ucapan Nevan.
"Tiga puluh ribu, Neng," jawab si penjual.
"Saya beli dua kilo ya, Pak."
"Iya, Neng." Si penjual pun dengan sigap hendak mengemas ikan-ikan tersebut. Akan tetapi langkah pedagang tersebut langsung di cekal oleh Zayn. Sayangnya Nevan tidak memperhatikan itu karena asik melihat sekitarnya yang semakin ramai.
"Biar kami yang mengambil sendiri."
Pedagang tersebut pun menyerahkan kantong plastik di tangannya kepada Zayn. "Terimakasih, Pak," ucap Zayn sambil tersenyum ramah.
"Van, kamu yang ambil ikannya."
Nevan begitu terkejut mendengar ucapan kakaknya itu. Memilih ikan? yang benar saja, fikirnya.
"Jangan aneh-aneh dek, kak. Mana mungkin Nevan pegang ikan. Apalagi ikan sejenis ini, liat aja Nevan gak pernah." Remaja tampan itu menolak mentah-mentah permintaan Zayn. Bahkan Nevan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Menunjukkan penolakan yang sempurna.
"Gak pa-pa kak zayn, biar Haura aja yang pilih. Lagian anak Nevan mana berani pegang ikan Lele," Haura memprovokasi.
"Iya kak Zayn. Biar kak Haura sama Lui aja yang ambil. Kak Nevan mah banci. Masak pegang ikan Lele aja gak berani," Luisa semakin memanaskan keadaan.
"Siapa yang kalian bilang anak manja dan banci?" Nevan mulai terpancing dengan perkataan Haura dan Luisa. Sementara kedua gadis remaja tersebut tersenyum penuh kemenangan.
"Aku juga bisa kalau cuma pilih ikan beginian." Tanpa basa-basi lagi Nevan pun siap mengambil ikan Lele tersebut.
__ADS_1
Baru saja Nevan mengambil satu Lele, sontak saja membuat Lele tersebut menggelepar. Ternyata ikan tersebut belum sepenuhnya mati. Nevan terkesiap karena begitu terkejut hingga reflek melepas ikan yang memiliki kulit licin itu dari tangannya. Alhasil semua Lele yang ada di sana menggelepar bersamaan. Akibat ikan-ikan yang menggelepar membuat dirinya terciprat air ikan yang mengenai bajunya. Seketika bau amis menyeruak dari tubuh Nevan.
"Kenapa ikannya masih hidup?" tanya Nevan panik.
"Kalau Lele hidup itu artinya masih segar," jawab si pedagang.
"Kalau masih hidup gimana mau di pegang," protes Nevan lagi.
"Biar aku aja yang ambil. Lagian aku juga gak minta kamu yang ambil. Tapi kamunya aja yang sok pahlawan," ucap Haura.
"Aku bisa." Rasa gengsi Nevan begitu tinggi untuk menyerah begitu saja. Apalagi ucapan Haura yang seakan begitu meremehkannya membuat harga diri remaja tampan itu tertantang. "Aku gak mungkin kalah kalau cuma melawan ikan Lele."
"Tapi buktinya belum apa-apa kamu kelihatan takut gitu," ejek Haura lagi.
Entah kenapa, Nevan begitu kesal pada Haura yang seakan begitu meremehkan dirinya. "Yang takut siapa? aku cuma kaget, Haura."
"Kamu minggir, biar aku yang ambil."
Di percobaan kedua masih sama seperti percobaan pertama. Bahkan semakin parah. Lele-lele tersebut seakan ikut mengerjai Nevan. Menggelepar tak tentu arah. Sekarang bukan hanya baju Nevan yang kotor akan tetapi mulai dari rambut, wajah, hingga pakaiannya terkena cipratan dari ikan Lele.
Haura, Luisa dan Zayn memilih menyingkir dan membiarkan Nevan berjuang seorang diri. Mereka bertiga berperan sebagai Cheerleader yang sedang menyemangati Nevan bertarung melawan ikan-ikan Lele tersebut. Setelah ini Zayn akan mengeluarkan uang yang lumayan untuk biaya ganti rugi akibat kekacauan yang Nevan ciptakan. Tapi itu bukan masalah untuknya, selama hal itu bisa memberi pelajaran untuk adiknya, Nevan.
Tanpa Nevan sadari juga ketiga orang tersebut tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengerjai dirinya.
*******
Drama di pasar tradisional di tutup dengan sangat apik.
Sekarang ke empatnya sudah berada di dalam mobil. Siap untuk kembali ke rumah. Meskipun belum semua barang terbeli, akan tetapi Nevan memaksa pulang karena tidak tahan dengan bau amis di tubuhnya.
Remaja tampan itu menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan menutup matanya rapat-rapat. Terdengar juga Nevan menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang. Sikapnya terlihat seperti baru saja menyelesaikan perang. Meski berhasil mendapatkan kemenangan akan tetapi cukup membuat dirinya babak belur.
"Masih mau ke pasar tradisional?" tanya Zayn dengan tersenyum mengejek.
Dengan mata yang masih terpejam Nevan hanya menjawab dengan gelengan atas pertanyaan Zayn. Sedetik kemudian Nevan menegakkan tubuhnya. Memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Cukup Sekali," ucapnya dengan tatapan masih menerawang ke depan. "Cukup sekali aku melewati petaka ini," lanjutnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengisyaratkan hal tersebut tidak akan terjadi lagi.
Nevan menoleh ke belakang dimana ada Haura dan Luisa disana. "Kamu jangan pernah lagi ke tempat tersebut," titah Nevan kepada Haura.
"Aku sama Ibu juga gak pernah berbelanja disana," jawab Haura enteng.
"WHATTT?" pekik Nevan nyaring.
"Aku sama Ibu selalu berbelanja di supermarket."
"Jadi kamu...."
Haura hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya. Melihat itu Nevan seperti kehabisan kata-kata. Remaja tampan itu paham bahwa saat ini Haura sedang mengerjai dirinya.
Nevan beralih menatap Zayn dan Luisa. Mencoba mencari penjelasan atas kejadian yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Tanpa terduga. Yang di dapatkan Nevan adalah kakaknya dan Luisa sedang berusaha menahan tawa mereka dengan menutup mulut mereka menggunakan tangan masing-masing.
"Ka-ka-kalian...." Nevan tercekat. Tak mampu meneruskan kata-katanya.
"Hahahahahahaha......." Tawa Haura, Luisa dan Zayn pecah bersamaan.
"HAURAAAAAAAA......" teriak Nevan di dalam mobil tersebut.
Nevan tidak pernah menyangka bahwa dirinya telah di kerjai dengan begitu luar biasa oleh sahabatnya itu. Dan lebih parahnya lagi kakaknya dan Luisa ikut berpartisipasi dalam konspirasi menyebalkan yang Haura rencanakan.
Mobil mewah tersebut pun melaju siap kembali ke asalnya. Sementara di dalam mobil itu masih terdengar tawa dan juga umpatan penuh kekesalan secara bersamaan.
-
-
-
-
-
-
-
Aku minta maaf karena gak bisa sering up karena ada sesuatu hal yang terjadi. Aku harap semua readers tetap setia membaca cerita aku. Terimakasih untuk semua dukungan kalian. Aku sangat-sangat tulus berterimakasih. Love you all . Love you so much.
__ADS_1