(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Kepergian Nevan


__ADS_3

Acara makan malam keluarga Sander telah berakhir beberapa jam yang lalu. Setelah ritual beres-beres selesai, kini jam sudah menunjukkan pukul tengah malam. Waktunya untuk Haura mengistirahatkan tubuhnya yang seakan remuk karena lelah dengan aktifitas sepanjang hari.


“Bu, Haura tidur dulu, ya,” pamit Haura kepada Ibunya ketika mereka baru saja memasuki tempat tinggal mereka.


“Iya, nak. Makasih ya, seharian kamu pasti capek bantuin Ibu,” jawab Bu Lastri dengan lirih. Sungguh, dia merasa kasian dengan putrinya tersebut karena harus bersusah payah membantu pekerjaannya.


“Kok makasih sih, Bu. Udah kewajiban Haura buat bantuin Ibu. Lagian Haura senang bisa bantu pekerjaan Ibu.”


“Seharusnya di usia kamu, kamu bisa menikmati masa remaja seperti teman-teman kamu. Tapi kamu malah bersusah-susah dengan pekerjaan rumah tangga. Maaf ya, nak, ibu belum bisa kasih yang terbaik buat kamu.” Kini suara Bu Lastri terdengar bergetar menahan tangis saat berbicara. Sungguh, dia sangat ingin melihat Haura bisa bahagia seperti remaja lainnya. Akan tetapi apa yang bisa dia lakukan. Sejak meninggalnya sang suami, Bu Lastri harus berusaha untuk bisa mencukupi kebutuhan mereka berdua.


Alhasil, Haura harus kehilangan masa remaja yang menyenangkan. Meskipun sebenarnya Haura tidak mempermasalahkan hal itu. Tetap saja, sebagai orang tua Bu Lastri merasa sangat sedih melihat putrinya tersebut. Ada rasa bersalah karena Haura harus ikut menanggung beban yang belum saatnya dia rasakan.


“Bu, ini kehidupan terbaik untuk Haura. Meskipun Haura gak bisa kayak teman-teman yang lain, tapi Haura bahagia. Haura punya Ibu, bisa peluk Ibu, bisa manja-manja sama Ibu. Itu udah lebih dari apapun. Jadi Ibu gak usah sedih. Karena Haura sangat bahagia.” Jelas Haura kepada Ibunya.


Ada cairan bening yang mulai tampak di sudut mata Bu Lastri karena mendengar perkataan anaknya, Haura.


"Haura yakin, suatu hari nanti kehidupan kita akan lebih baik. Haura bakal bisa banggain Ibu sama Ayah." tambah Haura lalu memeluk Ibunya.


"Iya nak, Ibu juga yakin kalau suatu hari nanti, kamu akan jadi seseorang yang hebat."


"Aamiin..." sepasang Ibu dan anak itu pun tertawa bersama.


"Ya udah, kamu tidur sana. Besok kan kamu harus sekolah," ucap Bu Lastri.


"Satu lagi, besok pagi kamu gak usah bantuin Ibu. Kamu istirahat saja yang cukup, karena seharian kamu udah capek."


"Tapi Bu..."


"Ibu gak terima tapi-tapian. Kali ini gak boleh nawar," sela Bu Lastri.


"Iya deh, Bu," jawab Haura. Lalu dia pun memeluk Ibunya. "Haura tidur dulu ya, Bu," pamit Haura lagi kepada Ibunya dan Bu Lastri memberi kecupan di kedua pipi anaknya.


...****************...


Meski waktu telah menunjukkan lewat tengah malam, Haura masih belum bisa memejamkan matanya. Gadis tersebut terlihat sangat gelisah. sudah satu jam lamanya dia mencoba untuk terlelap. Entah kenapa, matanya sangat mengkhianatinya malam ini.


"Hufftt...." Haura menghembuskan nafasnya dengan berat. Matanya memandang langit-langit kamarnya yang bercat putih.


"Kenapa aku gelisah gini?" tanyanya pada diri sendiri.


"Nevan," gumamnya lagi.

__ADS_1


"Kamu, apa kabar? apa salah jika aku merindukanmu?" Haura terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Pertemuan pertamanya dengan Nevan beberapa jam yang lalu adalah alasan kenapa sampai lewat tengah malam matanya tidak bisa terpejam.


Fikiran gadis remaja tersebut menerawang pada waktu sepuluh tahun yang lalu saat terakhir kali dirinya bertemu dengan Nevan.


Flashback On


Anak kecil laki-laki yang sangat tampan terlihat sedang berdiri di halaman sebuah rumah mewah. Raut wajahnya terlihat sangat gelisah. Manik matanya yang berwarna coklat terus saja memperhatikan arah gerbang utama. Terlihat jelas bahwa anak kecil tersebut sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Nevan, kamu sedang apa, nak?" terdengar suara seorang laki-laki dewasa bertanya kepada anak kecil tersebut.


Ya, anak kecil tersebut adalah Nevan. Dia sedang menunggu kedatangan sahabatnya, Haura. Sudah satu jam lebih dirinya menunggu Haura yang tak kunjung menampakkan dirinya.


"Nevan, cepat, Nak. Sudah waktunya kamu berangkat, Grandma sudah menunggu kamu sejak tadi," Tuan Liam kembali memanggil Nevan yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


"Pa, perginya boleh sebentar lagi? Nevan lagi nunggu Haura," pinta Nevan pada Papanya dengan wajah memohon yang sangat menggemaskan.


Mendengar permintaan putra bungsunya, Tuan Liam menaikkan sebelah alisnya. Mengingat-ingat kembali nama yang disebutkan Nevan. "Nak, nanti kalian akan ketinggalan pesawat," jelas Tuan Liam kepada Nevan agar anaknya tersebut bergegas untuk segera berangkat.


"Sebentar lagi, Pa. Nevan mohon," pintanya dengan penuh harap agar Papanya memberikan izin.


"Iya Pa. Nevan janji." Pandangan Nevan kembali tertuju kearah gerbang.


"Haura pasti datang kan, kak?" tanya Nevan pada Zayn yang baru saja bergabung bersamanya.


"Haura udah janji sama Nevan, kalau dia akan datang hari ini." suara anak kecil tersebut seakan-akan ingin menangis.


"Haura pasti datang. Kakak yakin," jawab Zayn. Lalu tatapannya beralih pada benda yang dipegang oleh Nevan. sebuah benda segi empat berukuran kecil. Lebih tepatnya seperti sebuah hadiah. "Apa yang kamu pengang itu?"


"Hadiah untuk Haura," ucap nevan singkat.


"Kamu bisa titipkan ke kakak. Biar kakak yang akan memberikannya untuk Haura," tawar Zayn karena dia lihat kalau Papa mereka sudah tidak sabar menunggu.


Pada saat itu Zayn tidak berangkat bersama Nevan dan grandma mereka ke Sydney. Karena dia akan berangkat ke Sydney bersama Papanya setelah sang Papa selesai mengurus kepindahan sekolah Zayn ke Sydney dan mengurus beberapa bisnisnya yang mempunyai sedikit masalah. Oleh karena itu, Zayn dan ayahnya akan berangkat ke Sydney minggu depan. Nevan dan grandma akan pergi lebih dulu.


"Nevan gak mau, kak, Nevan mau kasih langsung sama Haura," tolak Nevan karena dia ingin dirinyalah yang akan memberikan hadiah itu secara langsung kepada sahabatnya itu.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Haura muncul bersama ayahnya, Pak Hamzah. Haura terlihat cantik dengan rambut yang di kuncir dua. Sebuah senyuman pun dia berikan kepada Nevan hingga menampakkan beberapa deretan gigi susunya yang sudah tanggal.


Nevan kecil pun menyambut kedatangan Haura dengan bahagia.

__ADS_1


Pak Hamzah berlalu meninggalkan Haura bersama Nevan untuk membantu memasukkan beberapa koper ke dalam mobil. Pada hari itu, Pak Hamzah tidak bertugas untuk mengantar Nyonya Anna dan Nevan ke bandara karena kondisinya sedang kurang sehat. Akan tetapi karena Haura terus menangis ingin menemui Nevan, terpaksalah Pak Hamzah menuruti keinginan sang putri untuk berkunjung ke rumah Tuan Liam.


"Nevan beneran mau pergi?" tanya Haura kecil kepada sahabatnya.


Nevan hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Haura.


"Nevan gak balik lagi?" tanya gadis kecil itu lagi dengan wajah yang terlihat mulai bersedih.


Nevan menggelengkan kepalanya, "Nevan balik lagi kok." Nevan kecil pun meraih tangan Haura lalu menautkan kedua jari kelingking mereka. "Nevan janji. Nevan pasti balik lagi dan kita bisa main lagi," ucap Nevan lagi.


Haura pun kembali tersenyum mendengar ucapan Nevan. "Haura akan tunggu Nevan balik kesini."


"Ini untuk Haura," Nevan menyerahkan kotak kecil berbentuk persegi yang dipegangnya sejak tadi.


"Ini kado untuk ulang tahun Haura minggu depan."


Gadis kecil tersebut menerima pemberian Nevan dengan bahagia. "Wah... Terimakasih Nevan."


Sedetik kemudian wajah Haura kembali sendu. "Tapi kan Nevan janji di hari ulang tahun Haura, Nevan mau ajak Haura jalan-jalan sama kak Zayn juga," ucap Haura dengan suara lirih.


"Haura jangan sedih, nanti kalau Nevan kembali, Nevan janji akan ajak Haura jalan-jalan. Jadi Haura harus tunggu Nevan kembali."


"Haura janji. Haura akan tunggu Nevan, Haura gak akan sedih," Kini giliran Haura yang meraih tangan Nevan dan kembali menautkan jari kelingking mereka.


Lalu Haura pun membuka hadiah pemberian Nevan. Senyum bahagianya kembali pudar, "Kenapa jepit rambutnya warna pink? Haura kan suka biru," protes Haura saat melihat hadiah dari Nevan yang ternyata sepasang jepit rambut berwarna merah muda.


"Biru itu warna Nevan dan pink warna Haura," jawab Nevan. Anak laki-laki kecil itu pun mengambil jepit rambut yang dipegang Haura dan memasangkannya di kedua sisi rambut Haura.


Hingga tiba waktunya Nevan harus pergi. Haura kecil pun menatap kepergian sendu kepergian sahabatnya. Tapi gadis kecil itu tidak ingin menangis. Dia sudah berjanji pada Nevan bahwa dia tidak akan bersedih.


...****************...


Flashback Off


Haura pun beranjak dari pembaringannya. Membuka sebuah laci yang terdapat di lemari pakaiannya. Di raihnya kotak kecil berbentuk persegi. Ya, itu adalah kado pemberian Nevan sepuluh tahun yang lalu. Gadis remaja itu masih menyimpannya dengan baik. Meskipun jepit rambut pemberian Nevan telah rusak, tapi Haura lebih memilih menyimpannya. Baginya itu adalah kenang-kenangan berharga dari sahabat kecilnya.


Dibukanya kotak tersebut. Haura pun mengusap dengan lembut jepit rambut yang sangat berharga baginya. Sebuah senyum terukir di bibir gadis manis berlesung pipi tersebut.


Senyuman itu bukan hanya karena sepasang jepit rambut pemberian Nevan. Akan tetapi karena sebuah kertas usang yang terdapat sebuah gambar sepasang laki-laki dan perempuan saling bergandengan tangan. Itu adalah sebuah hadiah lainnya dari Nevan sepuluh tahun yang lalu.


Haura kembali ke ranjangnya dan membawa kado pemberian Nevan kedalam dekapannya hingga sang mimpi datang menyapanya. Gadis itu pun terlelap dengan senyuman indah di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2