
Haura berjalan seorang diri di koridor sekolah sambil sesekali merenggangkan otot tangannya dan memijat-mijat bahu kanannya. Suasana sekolah begitu lenggang karena semua siswa masih berada di kels masing-masing. Jam pelajaran masih berlangsung. Gadis berlesung pipi itu baru saja mendapat hukuman untuk hormat pada bendera merah putih selama dua jam pelajaran tanpa boleh menurunkan tangannya sedikitpun. Bukan hanya tangannya yang pegal, tapi juga tengkukdan kakinya juga ikut menderita.
Ini adalah hukuman pertama yang Haura terima selama satu tahun lebih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dan hukuman tersebut dia dapatkan karena tidak mengumpulkan Pekerjaan Rumah.Dan sialnya lagi PR tersebut adalah tugas dari wali kelas mereka, Miss Maria nama wali kelas XI IPA 2. Beliau mengajar pelajaran Fisika.
Sebenarnya Haura bukan tidak mengerjakan tugas tersebut, karena Haura sangat sadar saat mengerjakan tugas Fisika tadi malam. Bahkan tadi malam dia telah memasukkan buku pelajaran Fisikanya ke dalam tas sekolah miliknya. Tapi entah kenapa saat ingin mengumpulkan tugas, buku Fisikanya tidak ada di dalam tasnya. raib entah kemana.
Dengan melangkah lesu, Haura menuju ke kelasnya. Rasa pegal di bahu kanannya benar-benar menyiksa. Ingin rasanya gadis remaja itu pulang dan mendapat pijitan, akan tetapi sayangnya lagi jam pelajaran ke tiga dan empat akan segera di mulai. Dan waktu pulang masih jauh dari angan.
“Haura, kenapa bisa buku Fisika kamu hilang?” cecar Adel ketika Haura baru saja mendaratkan tubuhnya di bangku miliknya.
Haura menggelengkan kepalanya, isyarat bahwa dia tidak tahu kenapa bisa buku Fisika miliknya hilang.
“Huffff...” Haura menghembuskan nafasnya kasar dan merebahkan kepalanya di meja belajarnya. Lelah, itulah yang gadis itu rasakan. Bagaimana tidak lelah jika selama dua jam penuh harus mengangkat tangan untuk menghormati bendera. Jangan lupakan juga kakinya yang berdenyut bagaikan baru selesai melakukan lari jarak jauh.
“Tapi kamu yakin kalau buku kamu gak ketinggalan di rumah?” tanya Adel lagi untuk memastikan bahwa sahabatnya itu memang membawa buku pelajaran tersebut.
“Aku yakin. Tadi malam selesai buat PR aku langsung masukin bukunya ke tas. Aku gak mungkin salah.” Jawab Haura masih dengan kepala yang di rebahkan di meja belajarnya.
“Kok bisa gak ada ya?” Luna bertanya bingung.
Haura hanya mengedikkan bahunya. Kalau dia tahu mengapa bukunya bisa hilang mana mungkin dia sampai di hukum begini.
“Mungkin gak sih kalau ada yang isengin kamu?” tutur Luna bertanya penuh kecurigaan.
“Isengin aku? Gak mungkin lah.” Haura bangkit dari posisinya dan kini duduk tegak. Gadis itu ikut menoleh ke bangku di belakangnya dimana kedua sahabatnya itu duduk.
“Siapa tahu aja ada yang diam-diam isengin kamu. Kan berbagai kemungkinan bisa terjadi.”
Benar seperti yang Luna katakan, semua kemungkinan bisa terjadi. Apalagi tadi pagi setelah tiba di sekolah, Luna meminta haura dan Adel untuk menemaninya sarapan di kantin. Bisa saja kan ada orang yang ingin mengerjai Haura.
“Kalau pun ada, siapa?” tanya Haura yang sudah mulai menerima kemungkinan yang Luna katakan.
“Itu yang harus kita cari tahu,” jawab Adel cepat yang memang telah memikirkan juga kemungkinan yang Luna katakan.
“Tapi tunggu dulu, untuk apa mereka isengin aku sampai bela-belain ngambil buku tugas aku?”
“Alasannya apa lagi kalau bukan karena si cover boy yang nyebelin itu,” jawab Adel memutar bola matanya malas.
“Iyups... setuju, alasannya pasti sahabat kamu yang sok cool itu. Kamu lupa ya Haura, kalau kamu itu musuh semua cewek-cewek yang menjadi fans berat tuh cowok yang songongnya sejagat raya."
Haura menggut-manggut. Benar juga apa yang di katakan oleh kedua sahabatnya itu. Semenjak Nevan bergabung sebagai siswa di Sander International High School, sahabatnya itu menjadi idola pertama di sekolah mereka. Menggeser posisi Gian. Secara otomatis Haura juga menjadi musuh pertama untuk seluruh siswa perempuan di sekolah tersebut karena kedekatannya dan Nevan yang membuat iri banyak kaum hawa di sekolah mereka.
“Siapa maksud lo?” sebuah suara laki-laki terdengar menyela pembicaran ketiga gadis remaja tersebut.
Mendengar suara tersebut sontak saja ketiga gadis remaja yang sedang larut dalam pembicaraan mereka menoleh pada sumber suara. Disana sudah ada Nevan yang berdiri tegak di belakang Haura. Entah sejak kapan remaja tampan itu sudah berdiri disana. Bahkan Luna dan Adel yang seharusnya menyadari kedatangan Nevan karena arah mereka duduk yang menghadap ke pintu masuk kelas, pun tidak sadar bahwa Nevan telah berada di tempat itu.
“Yang lo bilang sok cool dan songong itu siapa?” tanya Nevan penuh intimidasi.
“Makhluk astral dari planet Neptunus,” jawab Luna sambil melirik Haura. Pasalnya julukan Neptunus adalah pemberian Haura untuk Nevan. Tentunya tanpa sepengetahuan Nevan.
“Lo tahu kan planet yang suka ngerusuh? Persis kayak seseorang,” sindir Adel setelahnya.
__ADS_1
“Terkadang yang suka ngerusuh itu justru ngangenin,” balas Nevan telak. Remaja tampan itu tahu bahwa arah perkataan Luna dan Adel adalah untuk menyindir dirinya.
Nevan memposisikan dirinya di bangku miliknya, tepat di sebelah Haura tanpa mempedulikan wajah bengong ketiga temannya karena ucapannya barusan. Remaja tampan itu ikut duduk menghadap ke meja di belakangnya. Mengarah pada kedua sahabat Haura.
“Buktinya Haura sering kangen sama gue,” ucap Nevan setelahnya. “Iya kan, Ra?”
Haura hanya mengerjapkan matanya mendengar setiap perkataan Nevan. Tingkat pede sahabatnya
itu benar-benar seluas cakrawala.
“Kamu kenapa? Aku dengar kamu di hukum?” Nada bicara Nevan yang tadinya songong berubah lembut menatap Haura yang masih belum berkedip menatapnya.
Haura benar-benar di buat bingung oleh sikap Nevan yang sering berubah-ubah layaknya bunglon. Sudah seminggu lamanya Nevan memasang wajah datarnya pada Haura karena permintaan Haura tempo hari yang meminta mereka untuk saling menjaga jarak.
Meskipun akhirnya keinginan Haura terpenuhi karena bantuan kak Zayn, tapi Nevan terus saja menggerutu setiap kali mereka pergi dan pulang sekolah bersama. Nevan kesal pada Haura yang benar-benar tidak mau bersinggungan dengannya selama berada di sekolah. Tapi perkara pergi dan pulang sekolah bersama, Haura tidak bisa menolak. Jika gadis itu menolak maka semua keinginan Haura akan batal seketika.
Akibat kekesalannya itu juga, Nevan tidak pernah mengikuti pelajaran sama sekali alias bolos selama seminggu penuh. Tapi anehnya, tidak ada satu pun guru yang mengajar di kelas mereka menanyakan keberadaan Nevan. Kedudukan benar-benar dapat member pengaruh yang sangat luar biasa.
“Aku tahu kalau aku lebih tampan dari oppa-oppa Korea, tapi jangan sampai kamu lupa kedip, Haura.”
Haura tersentak mendengar ucapan Nevan. “Tampan apanya. Mirip abang-abang cilok juga.” Gadis itu mendengus kesal karena ulahnya sendiri yang begitu terpesona menatap Nevan. Sungguh bodoh. Meski sebenarnya Haura tidak bisa menampik bahwa Nevan memang benar-benar tampan. Tapi tidak perlu se-pede
itu juga.
“Abang-abang cilok? Sejenis penjual bakso?” tanya Nevan bingung. Alisnya mengerut sempurna.
“Bukan. Sejenis tukang sayur keliling,” jawab Haura sewot. Setelahnya terdengar tawa Luna dan Adel yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan kedua teman mereka itu.
Tanpa terduga-duga Nevan menarik Haura dan mengapitnya di bawah ketiak remaja tampan itu. Tidak ketinggalan sebelah tangannya menutup rapat mulut Haura yang ikut-ikutan menertawakannya.
“Awww… Awww… sakit Van.” Haura benar-benar meringis kesakitan karena bahu dan tengkuknya masih sangat nyeri akibat hukuman yang di terimanya beberapa waktu yang lalu.
Rintihan Haura membuat Nevan langsung melepaskan Haura saat itu juga. “Maaf, Ra. Aku lupa,” ucap Nevan penuh penyelasan.
“Maaf. Masih sakit?” tanya Nevan lagi.
Haura hanya mengangguk sambil memijat-mijat bahunya.
“Lo kira-kira dong. Haura itu cewek,” Adel ikut kesal karena aksi Nevan. “Pindah lo. Gue mau bantu pijitin bahu Haura,” perintah Adel setelah berdiri tepat di sisi kursi yang Nevan duduki.
Karena rasa bersalahnya, Nevan langsung bangkit dari duduknya. Menyerakan tempatnya yang di anggap sangat sakral itu kepada Adel. Jika biasanya Nevan tidak pernah mengizinkan siapa pun duduk di sebelah Haura
selain dirinya, bahkan Luna dan Adel pun tidak boleh menempati kursi tersebut meskipun Nevan tidak ada. Maka kali ini remaja tampan itu benar-benar mengizinkan Adel duduk di sana.
“Sini Ra, aku bantu pijitin.” Tanpa menunggu jawaban Haura, Adel angsung mendaratkan tangannya di pundak Haura. Nyaman. Itulah yang Haura rasakan. Setidaknya pegal yang dia rasakan sedikit berkurang. Sedangkan di meja satunya lagi, ada Luna dan Nevan yang duduk bersebelahan. Dua-duanya memutar bola mata malas pada satu sama lain.
“Gimana ceritanya kamu bisa di hukum?” tanya Nevan pada topik utama yang sempat terlupakan untuk beberapa saat. Demi mengetahui kejadian sebenarnya yang membuat Haura terkena hukuman, Nevan bahkan rela keluar dari persembunyiannya yang terletak di rooftop. Bahkan Nevan menghilangkan gengsinya yang telah merajuk pada Haura selama satu minggu belakangan. Jika selama satu minggu ini Nevan selalu berbicara jutek pada Haura, maka saat ini nada bicara Nevan melembut sebagaimana biasanya jika berbicara pada sahabat istimewanya itu.
Bagaikan reka ulang, Haura pun menceritakan sebab musabab hingga dirinya terkena hukuman untuk hormat pada bendera selama dua jam penuh. Jangan lupakan penyedap yang di tambahkan Luna demi lebih mendramatisir keadaan.
Nevan menyimak dengan seksama cerita ketiga bersahabat itu. Meski merasa marah karena yakin bahwa seseorang pasti telah mengambil buku Haura, akan tetapi sebisa mungkin Nevan bersikap tenang. Mendengar semua cerita tanpa memotong cerita Haura sedikitpun.
__ADS_1
“Kamu mau kemana?” tanya Haura bingung karena Nevan segera bangkit dari duduknya ketika dirinya selesai menceritakan duduk perkara sebenarnya.
“Ke ruang guru,” jawab Nevan singkat. Sekarang dirinya benar-benar kesal pada wali kelas mereka karena memberikan hukuman yang tidak tanggung-tanggung pada Haura hanya karena tidak mengumpulkan tugas.
Bagi Nevan tidak mengumpulkan tugas bukanlah masalah besar, karena selama dua bulan dirinya bersekolah di tempat itu tidak sekali pun remaja tampan itu mengumpulkan tugas yang di berikan guru kepadanya. Jangankan
tugas, mengikuti pelajaran saja jarang.
“Kamu mau apa ke ruang guru?”
“Untuk apa lagi Haura. Ya untuk protes ke Miss Maria karena benari menghukum kamu. Kalau memang harus, aku bisa minta Miss Maria untuk minta maaf ke kamu.”
“WHAT?” pekik Haura, Luna dan Adel secara bersamaan.
“Kenapa?” tanya Nevan polos.
“Kenapa lo bilang?” Adel mendengus kesal pada temannya yang tampan itu. Untung juga wajahnya tampan, kalau tidak mungkin saat ini juga Adel sudah memberikannya jurus seribu bayangan. Benar-benar manusia sombong.
“Lo fikir ini sekolahan punya lo? Main seenaknya aja protes ke ruang guru,” lanjut Adel lagi.
“Ini emang sekolah milik Papa gue, kalau emang lo lupa,” jawab Nevan sombong.
K.O. ketiga gadis remaja itu tidak bisa berkata-kata lagi. Bodohnya mereka karena lupa bahwa Nevan adalah putra pemilik sekolah mereka.
“Meskipun sekolah ini milik Papa kamu, tetap aja kamu gak bisa sembarangan gitu. Dan apa yang di lakukan oleh Miss Maria itu udah benar. Bukan salah Miss Maria karena ngasih hukuman untuk aku. Tapi semua salah aku karena gak mengumpulkan tugas. Meski dengan dalih apa pun, aku tetap salah. Pun buku aku yang hilang juga karena keteledoran aku. Bahkan siswa lain ada yang di hukum lebih parah dari aku. Membersihkan toilet sekolah misalnya.” Jelas Haura dengan lembut agar Nevan menugurungkan niatnya.
Haura sadar betul bahwa sudah sepantasnya seorang guru memberikan hukuman kepada siswa jika tidak mematuhi peraturan. Karena hal tersebut sebagai efek jera sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi. Apalagi hukuman yang Miss Maria berikan tidaklah sampai melukai fisik dan batin Haura. Jadi hal tersebut tidak perlu di permasahkan.
“Sekarang yang harus kita lakukan bukan protes ke Miss Maria, akan tetapi kita harus cari tahu siapa yang udah ambil buku Fisika Haura,” ucap Luna yang mendadak fikirannya bisa berfikir lurus.
Terlihat raut wajah Nevan yang tadinya marah kembali melunak. Bahkan sekarang dia telah kembali ke posisi duduknya membuat Haura dapat kembali bernafas lega. Yang Haura tidak habis fikir adalah bagaimana bisa Nevan selalu mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah lainnya. Otak sahabatnya itu yang selalu mengaku pintar selalu saja menjadi buntu jika sudah tersulut emosi.
“Tapi gimana cara cari tahunya.” Haura benar-benar bingun cara menemukan pelaku yang telah menjarah buku Fisikanya.
“Kalau itu gampang.” Timpal Nevan cepat.
Sedetik kemudian Nevan kembali berdiri dan melangkah menuju ke depan kelas. Hal tersebut membuat seisi kelas memasang atensi lebih kepadanya.
“Ini peringatan pertama dan terakhir dari gue,” ucap Nevan langsung tanpa embel-embel mohon perhatiannya teman-teman. Karena tanpa di minta pun, perhatian seisi kelas sudah tertuju padanya.
“Kalau ada salah satu dari kalian yang coba-coba mengusik Haura, itu artinya orang tersebut juga mengusik gue. Dan gue gak suka banyak kompromi. Berani berurusan sama gue, itu artinya kalian sudah siap menanggung akibatnya. Untuk siapa pun yang udah ngambil buku Haura, gue maafkan untuk kali ini. Gue gak akan cari tahu lagi siapa orangnya. Tapi lain kali jika ada yang masih berani main-main, maka siap-siap angkat kaki dari sekolah ini. Bahkan gue akan minta perusahaan keluarga gue untuk menarik saham dari perusahan-perusahaan orang tua kalian. Kalau lo semua berfikir apa yang gue ucapkan cuma omong kosong, lo semua bisa melakukan uji coba. Dan gue pastikan semua yang gue ucapkan akan terealisasi.
Glek… Seisi ruangan tersebut menelan saliva mereka berat. Nevan benar-benar tidak main-main dengan apa yang di ucapkannya.
Di lain sisi Haura menatap Nevan seperti orang bodoh. Tidak percaya dengan ucapan Nevan. Gadis itu fikir Nevan benar-benar berlebihan hanya karena sebuah buku. Seolah-olah sahabat tampannya itu kembali menegaskan statusnya yang berada di kasta teratas di antara penghuni sekolah lainnya.
Setelah pengumuman singkatnya Nevan kembali ke kursinya. Kursi yang berada di sebelah Haura, karena Adel juga telah kembali ke asalnya.
“Gampang kan?” ucap Nevan langsung setelah duduk kembali di sebelah Haura. Tidak lupa sebuah senyuman yang begitu mempesona terukir indah di bibir Nevan. Lagi-lagi kadar ketampanannya benar-benar setara dengan dewa Yunani.
Sementara itu Haura cs masih menatap tidak percaya dengan apa yang Nevan lakukan. Itu bukanlah sebuah peringatan tapi ancaman. Seolah semuanya adalah hal mudah bagi remaja tampan itu.
__ADS_1