
Dear pembaca setia😊
Dukung terus karya aku yah
Jangan lupa vote, poin, koin, tonton iklan di kolom hadiah juga🤗
Tinggalkan juga jejak dengan cara like, komen, dan subscribe akun aku
Peluk jauh semuanya🌹🥰
...****************...
“Haura, kenapa kamu masih disini?” tanya Zayn ketika memasuki area dapur dan mendapati Haura masih berada disana.
“Eh.. Kak Zayn. Haura sedang beberes kak.”
“Udah, di tinggal aja. Besok di lanjutin.”
“Gak pa-pa kak, Nanggung. Bentar lagi juga siap.”
Haura pun melanjutkan kegiatannya mencuci sisa piring kotor bekas makan malam.
“Bu Lastri mana?” tanya Zayn lagi karena tidak melihat sosok Bu Lastri karena biasanya Haura bersama Ibunya yang melakukan kegiatan beres-beres tersebut.
“Ibu udah istirahat, kak. Tadi Ibu sedikit tidak enak badan,” jawab Haura sambil melakukan kegiatannya.
“Emmmm…. Ibu kamu udah minum obat?”
“Udah kak, tadi Haura udah belikan ibu obat di apotik depan.”
Kini Haura telah selesai dengan pekerjaannya. Gadis itu pun bersiap meninggalkan dapur. Akan tetapi ketika dia berbalik badan ternyata Zayn masih berada di sana dan duduk dengan rapi di meja makan khusus ART yang memang letaknya di area dapur.
“Kak Zayn, kenapa masih disini?” tanya Haura kaget.
Zayn menampilkan senyuman nyengir, “Sebenarnya kakak lapar,” ucap Zayn berkata jujur.
“Jadi kak Zayn mau makan apa? Biar Haura bantu buatin.”
“Emmm…. Terserah kamu aja, Ra. Yang pasti, yang gak ngerepotin kamu.”
“Kalau yang gak ngerepotin sih, cuma mie instan,” jawab Haura nyengir. Memang benar bahwa makanan yang mudah untuk di buat dan tidak memakan waktu lama cuma mie instan.
“Boleh deh,” kata Zayn menerima usulan dari Haura.
“Mau mie goreng atau berkuah?”
“Yang goreng aja.”
“Oke… kakak tunggu sebentar, ya.”
Gadis remaja itu pun terlihat sigap memasak mie instan untuk Zayn. Sementara Zayn duduk manis menunggu Haura selesai memasak untuknya.
“Kak Zayn, apa yang kakak lakukan disini?” suara Nevan membuat perhatian Haura dan Zayn beralih kepadanya.
“Ehh… kamu, Van. Ngagetin aja. Ada apa kamu kesini?” Bukannya menjawab, Zayn malah memberikan sebuah pertanyaan kembali untuk Nevan.
“Itu pertanyaan Nevan, kak. Kenapa kaz Zayn balik tanya?”
“Ohhh… iya.” Zayn tersenyum ke arah adiknya itu. “Kakak laper. Jadi pengen makan sesuatu dan kebetulan Haura mau bantu masakin mie instan untuk kakak.”
“Kalau laper kan bisa delivery kenapa harus ngerepotin Haura?” ucap Nevan.
Semenjak hubungan persahabatannya kembali membaik dengan Haura. Nevan tidak segan-segan memberikan perhatian lebih kepada Haura. Baik itu di sekolah maupun di rumah. Terkadang Nevan bersikap terlalu posesif kepada sahabatnya itu. Hingga membuat Haura merasa tidak nyaman karena sikap Nevan kepadanya. Haura merasa bahwa perhatian yang Nevan berikan kepada dirinya terlalu berlebihan sebagai sahabat.
Zayn menepuk jidatnya. Benar apa yang di katakana Nevan, kenapa dirinya tidak berfikir untuk memesan makanan dari aplikasi online.
“Gak ngerepotin sama sekali kok, Van,” jawab Haura di sela-sela kegiatan memasaknya.
__ADS_1
“Gak ngerepotin gimana. Seharusnya sekarang kamu tuh udah tidur, karena besok kamu harus sekolah. Lagian kak Zayn ngapain juga nyuruh Haura. Kalau memang mau makan mie instan, kan bisa masak sendiri. Mudah kan cara masaknya?” ucap Nevan panjang lebar. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman melihat kedekatan antara kakaknya dan Haura.
“Kak Zayn gak minta aku buat masak. Justru aku sendiri yang menawarkan bantuan, karena tadi….” Perkataan Haura terhenti karena ketika dia berbalik badan untuk berbicara kepada Nevan, ternyata Nevan telah berada tepat di belakangnya.
Jantung Haura berdetak dengan kencang. Terasa seperti akan keluar dari rongga dadanya. Karena sekarang ini posisi mereka hanya terpisah beberapa senti saja. Untung saja postur tubuh Nevan yang tinggi, jadi wajah Haura hanya membentur dada bidang Nevan.
“Ngapain kamu nawarin bantuan untuk kak Zayn?” tanya Nevan dengan nada suara penuh intimidasi.
Setelah klarifikasi tentang kesalahan fatal yang Haura lakukan kepada Nevan, kini panggilan antara Nevan dan Haura pun berubah. Awalnya “Lo… Gue” menjadi “Aku… Kamu.” Begitulah yang terjadi sekarang.
“Aku….” Haura tidak mampu berkata-kata. Bagaimana bisa dia berbicara pada Nevan sementara posisi mereka sedekat ini.
Haura pun memilih berbalik badan kembali. Bukan hanya karena dia sangat gugup dengan posisi dirinya dan Nevan sekarang yang begitu dekat, tapi juga karena mie instan untuk Kak Zayn sudah matang dan siap untuk
di sajikan.
“Kamu mundur dulu, Van. Aku mau ambil piring,” pinta Haura karena Nevan tidak kunjung beranjak dari posisinya.
Sementara Zayn hanya tersenyum melihat tingkah laku adiknya itu. Bisa dikatakan bahwa sekarang Nevan seperti sedang merasa cemburu kepadanya.
“Mendingan kamu mundur dulu deh, Van. Kasian Haura gak bisa kemana-mana.” Zayn melipat kedua tangannya ke dada dan tersenyum mengejek ke arah adiknya.
“Eheemmm….” Nevan pun berdehem ketika menyadari bahwa memang benar posisi dirinya berdiri seperti mengunci Haura agar tidak bisa bergerak kemanapun.
“Ini kak, silakan di makan,” ucap Haura ketika meletakkan mie instan buatannya di depan Zayn.
“Makasih, Ra. Pasti enak deh.” Ucap Zayn sambil menatap penuh makna ke arah Nevan.
“Sama-sama, kak. Kalau gitu, Haura pamit mau balik ke rumah belakang.”
“Iya, Ra. Tidur yang nyenyak ya.” Zayn pun memulai prosesi makannya.
“Kamu mau kemana, Ra?” pertanyaan dari Nevan menghentikan langkah kaki Haura.
“Aku mau tidur.”
“Aku lapar juga. Aku juga mau di buatkan mie instan yang sama seperti punya kak Zayn,” pinta Nevan yang terdengar seperti sebuah perintah.
“Gak usah pakek tapi-tapi-an. Aku mau kamu masak buat aku sama seperti punya kak Zayn,” titah Nevan lagi. Kemudian remaja tampan itu pun mengambil posisi duduk tepat di sebelah Zayn.
“Ahahahahah….” Zayn tertawa nyaring melihat sikap adiknya.
“Apanya yang lucu, kak?” Nevan menatap heran ke arah kakaknya yang sedang tertawa entah kenapa.
“Yang lucu itu kamu,” jawab Zayn di sela-sela tawanya.
“Nevan? Bagian mananya yang lucu?” tanya Nevan heran.
“Tadi kamu bilang kalau masak mie instan itu mudah. Kenapa kamu harus minta Haura yang masak? Kan kamu bisa masak sendiri,” ucap Zayn mengulang kembali perkataan yang Nevan ucapkan untuk dirinya beberapa
menit yang lalu.
“Ehhhmm…” Lagi-lagi Nevan berdehem untuk mengalihkan rasa gugupnya karena sekarang ini dirinya seakan mati gaya di depan Haura.
“Nevan cuma mau tahu, sebenarnya Haura itu bisa masak atau enggak. Makanya Nevan meminta Haura yang buatkan mie instan untuk Nevan,” kilah Nevan untuk menutupi rasa malunya.
“Hah…” Haura yang belum beranjak dari posisinya melebarkan rahangnya mendengar pernyataan terakhir Nevan.
Sementara Zayn tersedak oleh makanannya ketika mendengar sebuah alasan tak masuk akal yang di ucapkan oleh adiknya.
Melihat Zayn yang tersedak dengan sigap Haura mengambilkan segelas air putih untuk kak Zayn.
“Ini kak airnya. Makannya pelan-pelan kak,” ucap Haura ketika meletakkan segelas air putih tepat di hadapan Zayn.
“Manja banget sih, kak. Masak ambil air aja gak bisa,” ketus Nevan.
“Bukannya gak bisa, tapi kan Haura sendiri yang….”
__ADS_1
“Seharusnya kak Zayn nolak bantuan Haura. Kan kasian Haura yang selalu kakak repotin,” ucap Nevan lagi memotong perkataan kakaknya yang belum selesai.
“Aku sama sekali gak merasa di repotin, kok.” Kata Haura karena memang menurutnya kak Zayn sama sekali tidak merepotkan dirinya.
“Kalau aku bilang ngerepotin, ya artinya ngerepotin. Lagian nih ya, kenapa sih Ra, dari tadi aku ngerasa kamu kayak belain kak Zayn terus-terusan.”
“Bukan gitu maksud aku. Aku cuma….”
“Mendingan kamu buatin mie instan buat aku, SEGERA,” perintah Nevan dengan menekankan kata segera di ujung ucapannya.
“Iya.”
“Yang sama persis. Aku gak mau ada beda sedikitpun. Harus sama persis dalam hal apapun. Baik itu kapasitas porsinya, letak telurnya, tingkat kematangannya dan juga bentuk piringnya. Harus sama semuanya.”
“Mana mungkin bisa sama persis," protes Haura yang justru mendapat tatapan tajam dari Nevan.
"Iya. Aku buatkan yang sama persis.” Hanya kata itu yang mampu Haura ucapkan. Karena dirinya tidak tahu harus berkata apa dengan sikap Nevan sekarang ini. Sahabatnya itu benar-benar mempunyai sikap yang sangat aneh menurutnya.
Haura kembali dengan kegiatannya tadi, yaitu membuatkan mie instan untuk Nevan yang harus sama persis seperti yang dia buatkan untuk kak Zayn. Meskipun Haura sangat yakin bahwa tidak akan bisa dirinya membuat mie instan yang sesuai dengan keinginan Nevan. Tapi sayangnya Haura tidak bisa protes sama sekali.
“Menarik,” gumam Zayn yang baru saja menyelesaikan ritual makannya.
“Apanya?” tanya Nevan bingung dengan perkataan kakaknya.
“Kamu. Sangat menarik.”
“Aku. Memangnya apa yang menarik, kak?”
Zayn pun membisikkan sesuatu tepat di telinga Nevan. “Sikap kamu barusan menunjukkan bahwa kamu seperti sedang cemburu.”
“What? NO…” jawab Nevan cepat. “I’m not jealous,” tegas Nevan lagi.
Saat ini kedua kakak beradik itu sedang berbicara sedikit berbisik agar pembicaraan mereka tidak di dengar oleh Haura.
“Kakak cuma bilang seperti cemburu bukan cemburu.” Zayn terkekeh dengan sikap Nevan sekarang.
“Apapun itu. Mau kak Zayn bilang seperti cemburu atau cemburu sekalipun. Tapi Nevan benar-benar gak merasakan keduanya.”
“Are you sure?”
“Of course.”
“Oke.”
Zayn pun beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Haura untuk meletakkan piring kotor ke dalam tempat pencucian piring.
Melihat Zayn yang hendak mencucikan sendiri piring bekas makannya, membuat Haura dengan cepat mencegah Zayn melakukan hal itu.
“Kak, biar Haura aja yang cucikan,” ucap Haura sambil tangannya memegang tangan Zayn untuk mencegah laki-laki itu agar mengurungkan niatnya untuk mencuci piring kotor tersebut.
“Gak pa-pa kok, Ra. Kak Zayn bisa kalau cuma cuci piring gini doang,” jawab Zayn lalu melanjutkan kegiatannya.
“Tapi kak..”
“Udah… kamu lanjutin aja kerjaan kamu, sebelum anak manja satu itu ngambek,” bisik Zayn tepat di telinga Haura.
Haura pun tersenyum mendengar perkataan kak Zayn yang mengatakan Nevan sebagai anak manja. “Iya kak.”
Interaksi antara Zayn dan Haura mendapatkan tatapan tajam dari seorang Nevan. Dirinya sungguh tidak suka melihat kak Zayn yang seperti sengaja membuat dirinya panas. Meskipun Nevan sangat yakin bahwa saat ini dirinya sedang tidak cemburu, tapi tetap saja dia tidak suka dengan sikap kakaknya itu.
Selesai mencuci piring, Zayn pun bersiap untuk meninggalkan dapur. “Makasih ya Ra untuk mie nya. Rasanya benar-benar enak,” ucap Zayn sambil mengusap gemas puncak kepala Haura.
“Iya, sama-sama, kak.” Jawab Haura sembari memberikan senyuman manisnya kepada kak Zayn.
Sebelum benar-benar meninggalkan dapur, Zayn kembali mendekati Nevan, “Gak cemburu kan, Van?” tanyanya kepada Nevan dengan nada mengejek.
“Hmmmm….” Hanya gumaman yang Nevan berikan sebagai jawaban atas pertanyaan kak Zayn.
__ADS_1
“Hahahah…..” Zayn pun meninggalkan dapur sambil menertawakan Nevan.
Tinggallah Nevan dan Haura di tempat tersebut. Sekarang ini Nevan menatap Haura dengan tatapan garang. Sementara tubuh Haura seakan semakin mengerdil mendapatkan tatapan membunuh dari Nevan.