(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Drama Di Pagi Hari


__ADS_3

“Kamu mau kemana, Ra?” tanya Nevan ketika melihat Haura pagi-pagi sekali sudah rapi. Niat hati Nevan ke dapur untuk mengambil air, justru melihat Haura yang sudah rapi. Itu artinya Haura ingin pergi ke suatu tempat. Tebak Nevan.


“Bukankah hari ini akhir pekan? Kamu mau kemana?” tanya Nevan lagi tanpa menunggu Haura menjawab terlebih dahulu.


“Aku mau belanja sama Ibu. Ini kan akhir pekan, jadi hari ini jadwal Ibu untuk berbelanja kebutuhan dapur untuk satu minggu ke depan,” Haura menjawab sambil menatap penuh tanda tanya kepada Nevan. Pasalnya, laki-laki itu sudah beberapa kali melihat Haura pergi berbelanja dengan Ibunya setiap akhir pekan, tapi kenapa Nevan selalu saja bertanya kemana Haura hendak pergi. Aneh rasanya.


Nevan membulatkan mulutnya sebagai pertanda bahwa dia telah paham dengan perkataan Haura. “Kalau gitu aku ikut kamu.”


“Ikut? Ikut kemana?”


“Ya ikut kamu belanja lah. Mana mungkin ikut kamu ke pantai.” Remaja itu berkata dengan sangat entengnya. Seakan kegiatan berbelanja bahan makanan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.


Ketika berada di rumah, Nevan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar bisa selalu bersama Haura. Terbatasnya interaksi kedua remaja tersebut selama berada di sekolah, membuat Nevan merasa ada sesuatu yang tidak lengkap dalam hidupnya. Waktunya untuk menggoda sahabatnya itu berkurang akibat perjanjian konyol yang mereka buat.


“Kamu jangan aneh-aneh deh, Van. Aku tuh sama Ibu mau belanja keperluan dapur bukan jalan-jalan di mall. Lagi pula untuk apa kamu ikut sama aku dan Ibu?” Haura tak habis fikir dengan kemauan Nevan yang terus saja membuatnya bingung.


“Aku tahu kamu mau belanja bahan makanan, Haura. Kalau aku mau ikut, salahnya dimana?”


Gadis itu terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang seharusnya dia katakan agar Nevan segera mengurungkan niatnya untuk ikut berbelanja bersama dengannya.


“Lagi pula, kamu gak bisa ngelarang aku. Sesuai kesepakatan kita, aku boleh sama kamu sesuka aku ketika kita di rumah. Kita boleh ngobrol apa pun,” lanjut Nevan setelahnya. Menegaskan bahwa Haura tidak akan bisa mencegah keinginannya.


“Ngobrol sih ngobrol. Tapi aku mau belanja, gak mungkin juga kita ngobrol saat aku belanja. Apa yang mau kita bicarakan? Harga sembako?” Haura semakin kesal pada Nevan yang tidak tahu waktu dan tempat untuk berbicara. Meskipun mereka bisa berbicara banyak hal selama di rumah, bukan berarti bisa dimana saja dan kapan saja. Apalagi sampai mengganggu pekerjaannya, Haura sungguh tidak bisa terus mengikuti semua kemauan anak majikannya itu.


“Kamu nurut aja sama maunya aku. Lagipula dengan aku ikut sama kamu dan Bu Lastri, justru akan lebih menguntungkan.”


Haura semakin di buat dongkol karena perkataan Nevan. Ingin menyuarakan protes dengan bersuara lantang, tapi Haura tidak berani. Takut jika si tuan rumah sesungguhnya mendengar dirinya meneriaki putra bungsu keluaraga tersebut.


“Menguntungkan gimana sih, Nevan. Dengan kamu ikut, itu malah semakin ngerepotin aku dan juga akan menyuiksa kamu. Aku sama Ibu belanjanya di pasar tradisional. Pasti di sana becek, panas, orang yang berdesakan. Kamu yakin masih mau ikut?” Haura terpaksa berbohong. Berharap kebohongannya akan membuat Nevan mengurungkan niatnya. Gadis itu sangat yakin bahwa Nevan tidak akan mau jika harus menginjakkan kakinya di pasar tradisional. Meskipun nyatanya bukanlah pasar tradisional yang akan di tuju oleh Haura dan Ibunya.


Terlihat Nevan menggaruk-garuk dagunya. Remaja tampan itu sedang berfikir. “Pasar tradional,” terdengar Nevan bergumam pelan.


Di sisi lain Haura menatap penuh harap pada Nevan. Berharap Nevan benar-benar mengurungkan niatnya itu.


Tapi seperti harapan Haura menguap bersama udara yang ada di ruangan tersebut. Karena detik selanjutnya mata Nevan memancarkan binar aneh yang justru membuat Haura semakin takut di buatnya.


"Oke... pasar tradional kan, Ra?"


Haura hanya mengangguk bodoh untuk menegaskan jawabannya.


"Aku ikut. Aku mau tahu gimana rasanya belanja di pasar tradisional." Binar bahagia terpancar dari wajah Nevan. Bukannya mengurungkan niatnya, sebaliknya Nevan terlihat semakin antusias dengan rasa penasaran yang begitu tinggi. Layaknya anak kecil yang begitu penasaran bagaimana rasanya mandi secara langsung di bawah guyuran hujan untuk pertama kalinya.


Keingintahuan Nevan membuat Haura panik. Kebohongannya di sambut dengan antusias oleh Nevan. "Enggak... Enggak... Kamu gak boleh ikut. Titik," tegas gadis remaja itu benar-benar menolak tegas kemauan sahabat tampannya itu.

__ADS_1


Binar bahagia di wajah tampan Nevan redup sudah karena penolakan dari Haura. Kesal. Itulah yang Nevan rasakan. Remaja tampan itu tidak menyadari bahwa sikapnya lah yang lebih dahulu membuat Haura kesal.


Batin Haura menyesal karena mengunjungi rumah utama sebelum berangkat untuk berbelanja bersama Ibunya. Andai saja dirinya menunggu Ibunya di rumah, pasti tidak akan berpas-pasan dengan Nevan di dapur. Dan drama pagi hari dimana sahabatnya itu yang ingin ikut berbelanja tidak perlu terjadi.


“Meskipun kamu gak izinin aku untuk ikut, aku tetap ikut. Dan aku gak butuh izin dari kamu.” Ucap Nevan dingin. Nevan tetap bersikeras untuk ikut berbelanja bersama Haura dan Bu Lastri.


“Lagi pula aku mau tahu kenapa kamu gak bolehin aku untuk ikut?” Nevan menautkan alisnya menatapa tajam kepada Haura. Dirinya merasa penasaran mengapa Haura begitu gencar melarangnya untuk ikut berbelanja bersama. Alasan Nevan ingin ikut selain memang ingin menemani Haura, juga karena merasa bosan di rumah. Tidak ada yang bisa di lakukannya. Apalagi tadi pagi-pagi sekali kakaknya telah pergi entah kemana. Sementara Papanya setelah selesai sarapan langsung mengunci diri di ruang kerja. Tidak ada yang bisa di ajaknya untuk sekedar berbicara hal-hal ringan. Hanya handphone yang menjadi temannya.


“Karna kamu anak majikan aku.” Akhirnya Haura mengatakan alasan sebenarnya atas keberatannya itu. Tapi sayangnya satu kalimat yang lolos dari mulut Haura justru membuat raut wajah Nevan berubah marah.


“Nevan, meskipun kamu sahabat aku, kita berteman dekat tapi kamu harus sadar dengan status kita. Di sini kamu putra dari majikan aku dan aku adalah anak seorang ART. Oke, kita berteman. Tapi tidak harus seperti ini. Kita harus tetap menjaga batasan mana yang boleh dan mana yang tidak. Dengan kamu ikut bersama aku dan Ibu dan membantu kami, itu sungguh membuat aku gak nyaman. Aku gak mau melanggar aturan-aturan seperti itu.”


Gadis remaja tersebut terus saja berbicara dengan panjang lebar tanpa menyadari bahwa saat ini lawan bicaranya telah memasang wajah datar. Nevan menatap Haura dalam diam. Saat ini remaja laki-laki itu hanya mendengarkan semua alasan atas penolakan Haura. Nevan belum menjawab sepatah kata pun dari semua ucapan Haura.


“Aku harap kamu paham, Van. Kita berteman. Tapi status tetaplah status.” Ucap Haura dengan lirih sebagai penutupan dari perkataan yang telah di ucapkannya sedari tadi.


“Udah?” tanya Nevan datar. Terdengar suara Nevan sedikit menggeram.


Haura menatap wajah laki-laki di hadapannya itu. Wajah yang sedari tadi di abaikannya karena dirinya terus saja berbicara tanpa henti. Haura menatap langsung pata manik coklat milik Nevan. Tatapan penuh dengan kemarahan.


“Udah ngomongnya?” tanya Nevan lagi.


Kini tatapan mata Haura memancarkan sedikit ketakutan. Dia tahu sahabatnya itu tidak suka ketika dirinya membahas tentang perbedaan status di antara mereka. Gadis remaja itu meneguk salivanya dengan kasar. Haura menyadari bahwa dia telah salah bicara. Tapi bukankah semuanya yang di katakannya benar?


Sementara Haura hanya mampu menggigit bibir bawahnya karena dirinya merasa sangat gugup karena Nevan menatapnya seperti itu. Ada rasa kekecewaan yang terlihat jelas dalam tatapan sahabatnya itu.


“Siapa pun kamu. Apa pun kamu. Bagaimana pun kamu. Kamu adalah sahabat aku. Orang yang sangat penting dalam hidup aku. Jadi, jangan pernah membahas lagi masalah status sialan itu.” Perkataan Nevan penuh


dengan ketegasan. Bisa di katakan bahwa saat ini Nevan sedang memberikan peringatan terakhir untuk Haura.


“Tapi, Van... Aku...”


“Kamu tahu, Haura? Semua sikap aku ke kamu selama ini, itu tulus. Bukan karena aku kasihan sama kamu atau apa pun itu. Kamu adalah sahabat aku. Kamu dan Ibu kamu adalah orang yang selalu nemenin aku saat aku kecil. Saat Mama aku sakit. Saat aku sendirian dan butuh teman. Saat gak ada satu pun yang bisa paham bahwa waktu itu aku sangat ingin di peluk oleh seorang Ibu seperti Niko dan Gian. Tapi Mama aku di rawat di rumah sakit, gak bisa untuk peluk aku. Dan Ibu kamu selalu ada untuk melakukan itu semua. Yang bahkan tante-tante aku sendiri pun gak ngerti dengan perasaan aku saat itu.”


Haura terdiam terpaku. Tubuh gadis remaja itu terasa kaku layaknya manekin. Sahabatnya itu sedang mencoba menahan agar tidak menangis, Haura tahu itu. Suara Nevan bergetar. Matanya mulai mengembun. Gadis itu menyadari bahwa dia benar-benar telah melakukan kesalahan.


“Apa menurut kamu, selama ini semua kebaikan aku ke kamu adalah sebuah rasa kasihan? Apa menurut kamu, aku gak tulus sama kamu? Apa menurut kamu....” Nevan tidak melanjutkan kata-kaanya. Remaja tampan itu mengusap wajahnya kasar.


Satu hal yang Haura sadari, bahwa perkataannya yang di anggap sepele justru membuat Nevan kembali


mengingat masa-masa kecilnya yang  begitu sulit.


“Kamu dan Ibu kamu sangat berharga buat aku. Jadi jangan pernah berfikir bahwa aku majikan kamu dan kalian hanya pembantu di rumah ini. Aku sayang kamu dan juga Ibu kamu.” Remaja laki-laki itu berkata dengan penuh kelembutan. Menatap langsung pada mata gadis remaja yang berdiri di hadapannya. Nevan dapat menangkap ada rasa penyesalan terbersit dalam tatapan Haura.

__ADS_1


Mungkin sahabatnya itu menyesal karena telah membuat dirinya mengingat kembali cerita masa kecilnya. Begitulah fikir Nevan.


“Maaf.” Hanya kata itu yang mampu Haura ucapkan.


“Kamu janji sama aku, kalau kamu gak akan pernah membahas lagi masalah status di antara kita. Aku gak mau dengar tentang hal itu lagi. Selamanya. Hmmmm...”


Hanya sebuah anggukan yang mampu Haura lakukan atas jawaban dari perkataan Nevan. Bohong jika Haura katakan bahwa dia tidak bahagia karena Nevan benar-benar tulus padanya.


Setelahnya Haura berjalan selangkah untuk lebih mendekatkan dirinya pada Nevan. Sedetik kemudian gadis itu menjinjit untuk mengurangi selisih tinggi bandan antara dirinya dan sahabatnya itu. Dengan penuh kelembutan, Haura mengusap air mata yang sejak tadi terlihat akan keluar dari kelopak mata Nevan.


Mendapat perlakukan seperti itu dari Haura, Nevan benar-benar terkejut. Pasalnya Nevan merasa sangat malu karena Haura menyadari bahwa beberapa saat yang lalu dirinya hampir saja menangis karena mengingat masa kecilnya dulu.


“Ehhh... kamu jangan salah paham dulu, Ra. Ini bukan air mata tapi keringat.” Ucap Nevan panik karena Haura mengusap air mata yang tidak jadi keluar tersebut.


Haura menaikkan sudut bibirnya dengan sempurna hingga memperlihatkan lesung pipi yang membuatnya terlihat sangat manis. “Aku gak pernah bilang kalau aku mengusap air mata kamu,” balas Haura yang seketika membuat Nevan seperti sedang tertangkap basah karena salah bicara.


“Lagi pula, mana bisa mata berkeringat,” tambah Haura lagi.


“Ya bisa lah. Ini merupakan salah satu kejadian langka yang tidak terjadi pada sembarangan orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai kelainan genetik seperti ini,” kilah remaja tampan itu untuk menutupi aibnya karena hampir saja menangisdi depan Haura.


“Oh ya... kok aku gak pernah dengar?” Haura semakin getol menggoda Nevan secara langsung.Bahkan gadis itu menaik turunkan kedua alisnya yang membuat Nevan semakin kesal.


Nevan mendengus kesal karena Haura terus saja mengolok-olok dirinya. “Karena kamu kurang pintar, makanya kamu gak pernah dengar kejadian langka kayak gini.”


“Hahahaha....” Gadis remaja tersebut justru tertawa nyaring mendengar perkataan Nevan. Suasana yang tadinya sempat menegang dan nyaris membuat Nevan bersedih hilang dalam sekejap.


Hal tersebut semakin membuat Nevan menekuk wajah tampannya. Akhirnya Nevan memeilih untuk pergi meninggalkan dapur karena merasa benar-benar kalah telak dari Haura.Dia juga merasa kesal pada dirinya sendiri karena hampir mengeluarkan air matanya di depan seorang perempuan. Itu benar-benar aib besar bagi Nevan.


“Kamu jangan pergi dulu, karena aku mau ganti baju. Kamu harus tunggu aku.”


Nevan pun berlalu tanpa menunggu jawaban dari Haura. Sementara Haura terlihat mengusap ujung matanya yang sedikit berair karena efek menertawakan Nevan.


Tanpa kedua remaja itu sadari, dibaliksebuah pilar yang menghubungkan antara ruang makan dan dapur ada seseorang yang mencuri dengar semua pembicaraan Nevan dan Haura.


Sosok tersebut mengusap matanya yang sempat mengeluarkan cairan bening beberapa saat yang lalu karena mendengar pembicaraan kedua remaja tersebut. Dadanya terasa terhimpit beban berat setelah mengetahui


bahwa ternyata Nevan melewati masa kecilnya dengan sangat kesepian. Putra bungsunya itu kekurangan perhatian karena penyakit yang di derita oleh istrinya dan juga kesibukan dirinya pada dunia kerja hingga abai pada keluarganya.


Putra bungsunya itu bahkan tidak pernah mengeluh sama sekali. Berpura-pura tangguh padahal jiwanya benar-benar rapuh. Sebuah fakta yang membuat rasa bersalah Tuan Liam semakin menyeruak ke permukaan.


Tuan Liam menatap nanar ke arah putra bungsunya itu yang sedang menapaki anak tangga satu persatu. Sebuahrasa bersalah yang menyusup ke relung hatinya. Menyesal tapi sudah terlambat.


Detik selanjutnya laki-laki paruh baya itu mengalihkan indra penglihatannya pada sosok gadis remaja yang masih belum beranjak dari dapur. Sebuah lengkungan bulan sabit terbit di bibir Tuan Liam. Sebuah senyuman yang dapat di artikan sebagai ucapan terima kasih tak terucap kepada Haura.

__ADS_1


Gadis remaja yang sederhana namun begitu istimewa. Sosok gadis yang memberi kesan mendalam pada drama yang terjadi di pagi hari itu. Drama yang di awali dengan perdebatan, di bumbui dengan kesedihan dan di akhiri dengan tawa. Penuh warna.


__ADS_2