
Pagi-pagi sekali Haura telah siap dengan seragam sekolahnya. Jika biasanya sebelum berangkat ke sekolah dirinya menuju rumah utama terlebih dahulu untuk berpamitan kepada ibunya, tapi tidak untuk hari ini. Ibu Haura sedang sakit oleh karena itu sebelum berangkat ke sekolah, Haura sudah menyiapkan sarapan dan obat untuk ibunya.
"Bu, sarapan dan obatnya Haura letakkan di meja, ya."
"Iya, nak," jawab Bu Lastri dengan tersenyum kepada putrinya itu.
"Untuk beberapa hari Ibu istirahat aja dulu. Haura udah bilang ke Bi Siti dan Bi Nur kalau Ibu sedang sakit."
"Ibu gak enak kalau harus istirahat lama."
"Gak pa-pa Bu, Bi Siti sama Bi Nur juga bilang Ibu harus istirahat untuk beberapa hari."
"Ya udah kalau gitu. Tolong sampaikan ucapan terimakasih Ibu untuk Bi Siti dan Bi Nur."
"Iya Bu. Nanti Haura sampaikan. Kalau gitu Haura berangkat sekolah dulu ya, Bu," pamit Haura kepada Ibunya.
“Nak, kenapa sekarang kamu pergi sekolahnya lebih awal?” tanya bu Lastri merasa heran. Karena sudah beberapa hari Haura berangkat ke sekolah tiga puluh menit lebih cepat dari biasanya.
“Biar gak terlambat, Bu” jawab Haura sekenanya.
Bu Lastri mengerutkan dahinya mendengar jawaban Haura. “Kok tumben? Biasanya juga kamu perginya jam tujuh.”
“Haura cuma pengen menghirup udara pagi masih segar, Bu. Belum bercampur dengan polusi. Hehe....”
“Ya sudah kalau begitu. Yang penting kamu hai-hati ya.”
“Iya, Bu. Haura berangkat ya.”
Sebelum pergi tidak lupa Haura mencium tangan dan kedua sisi wajah Ibunya. Tidak lupa pula Haura mengambil paper bag yang berisi sarapan pagi untuknya.
Dari jauh Haura sudah melihat mas ojol pesanannya sudah menunggu di depan gerbang utama. Haura pun mempercepat langkah kakinya.
Ketika sudah berada tepat di hadapan ojol pesanannya, tanpa melihat kiri kanan, Haura pun bergegas agar segera meninggalkan rumah tersebut.
“Kamu mau kemana, Ra?” Suara laki-laki yang sangat dikenalnya membuat Haura menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Nevan…” pekik Haura yang merasa sangat terkejut karena saat ini Nevan sedang berdiri di sisi kiri gerbang utama lengkap dengan seragam sekolahnya.
“Kenapa kamu bisa disini? Ini kan masih pagi?” tanya Haura yang merasa heran karena pagi-pagi sekali Nevan telah berada disana.
“Seharusnya aku yang tanya ke kamu. Ngapain kamu pagi-pagi gini udah berangkat ke sekolah?”
“Aku gak mau terlambat, makanya aku berangkat lebih pagi,” jawab Haura berbohong. Sebenarnya Haura berangkat lebih awal dari biasanya karena memang ingin menghindari Nevan.
Sudah beberapa kali Nevan menawarkan agar mereka berangkat ke sekolah bersama. Sebanyak itu pula Haura terus menghindari ajakan Nevan. Salah satu caranya adalah dengan berangkat ke sekolah lebih cepat dari biasanya. Karena Haura sangat yakin bahwa Nevan pasti tidak akan berangkat pada jam yang sama dengan dirinya.
Yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Nevan telah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya. Bisa dipastikan bahwa hari ini Nevan bangun lebih cepat guna untuk menyesuaikan jadwal berangkat ke sekolah agar sama seperti Haura.
“Aku gak butuh jawaban gak masuk akal dari kamu. Karena aku gak bakalan percaya.”
__ADS_1
“Aku jujur kok, Van. Aku memang gak mau terlambat ke sekolah. Lagi pula aku mau menghirup udara pagi yang masih bersih tanpa polusi.”
“Jangan banyak alasan, Haura. Kamu fikir aku bodoh. Kamu sengaja kan mau menghindar dari aku?” tanya Nevan penuh selidik.
“Gak gitu, Van. Kenapa aku harus menghindar dari kamu?” Haura justru balik bertanya.
Di tengah-tengah perdebatan mereka, mas ojol yang sedari tadi menunggu akhirnya buka suara.
“Maaf mba, ini jadi gak saya anterin?”
“Jadi, mas.”
“Enggak, mas.”
Jawab Haura dan Nevan secara bersamaan.
“Yang benernya gimana, ya. Jadi atau enggak?” tanya mas ojol kembali karena dia juga ikut merasa bingung dengan sikap kedua remaja di depannya saat ini.
“Yang benarnya gak jadi, mas. Dan ini biaya ganti rugi atas pembatalan pesanan,” ucap Nevan cepat sembari menyerahkan beberapa lembar uang rupiah berwarna merah kepada mas ojol tersebut.
“Ini kebanyaan.”
“Udah mas, gak pa-pa. Anggap aja ini rezeki pagi hari,” jawab Nevan lagi.
“Terimakasih, mas.” Setelah mengucapkan terima kasih, akhirnya mas ojol tersebut pun pergi meminggalkan Nevan dan Haura.
“Gak bisa gitu, Van,” Haura mencoba protes dengan sikap Nevan yang sangat sesuka hatinya saja.
“Emang kenapa gak bisa? Ada yang salah?”
“Jelas-jelas ini salah.”
“Salahnya dimana? Apa jangan-jangan kamu punya pacar, terus pacar kamu marah kalau kita pergi bareng?” tuduh Nevan lagi.
“Bukan gitu.”
“Lalu?”
“Aku gak bisa ke sekolah bareng kamu.”
“Gak bisanya kenapa? Kalau ngomong itu yang jelas, Haura.”
“Aku gak mau ke sekolah bareng kamu, karena aku gak mau menjadi pusat perhatian anak-anak lainnya. Dengan kita berangkat bareng, pasti anak-anak akan menyebarkan rumor yang gak baik tentang aku. Dan sebelum itu terjadi lebih baik aku mencegahnya,” Haura berkata dengan jujur, karena memang itulah alasan utama dirinya menolak ajakan Nevan untuk pergi dan pulang sekolah bersama Nevan.
“Gak bakalan ada yang berani nyebarin rumor seperti itu. Kalau pun ada, aku bakal bungkam mulut mereka. Kamu lupa siapa aku? Aku Nevan Sander."
“Iya, justru karena kamu Nevan Sander makanya aku menghindar. Mereka gak bakalan berani mengusik kamu, tapi beda dengan aku. Aku cuma mau tenang di sekolah tanpa terlibat dengan masalah apapun. Aku harap kamu ngerti, Van,” Haura berkata dengan lirih berharap Nevan akan memahami posisinya.
“Kalau gitu, setiap harinya kita akan berangkat sepagi ini atau bahkan lebih pagi dari hari ini. Jadi anak-anak belum ada yang datang ke sekolah dan gak bakalan ada yang ngeliat kalau kita ke sekolah bareng,"lagi-lagi Nevan mengambil keputusan sepihak.
__ADS_1
“Gak bisa gitu, Van.”
“Aku gak terima penolakan. Lagian aku kayak gini juga demi kamu."
"Hah... kenapa bisa demi aku?"
"Iya. Demi kamu. Demi keselamatan kamu. Gimana kalau kamu kenapa-napa karena pergi sekolah sendirian? Gima kalau kamu di godain sama mas ojol? Jadi, dengan pergi bareng sama aku, itu artinya aku bisa memastikan bahwa kamu sampai ke tujuan dengan selamat," ucap Nevan panjang lebar dengan alasan yang hanya bisa di terima oleh pemikirannya sendiri.
"Tapi...."
"Sekarang kamu tunggu disini karena aku mau ambil motor,” ucap Nevan memotong perkataan Haura.
Dengan berlari Nevan memasuki perkarangan rumah untuk mengambil motornya. Sementara Haura masih menatap punggung Nevan. Dia tidak bisa membantah apapun jika Nevan sudah menginginkan sesuatu.
Setelah menggunakan helm, Haura pun naik ke motor sport milik Nevan.
Tiba-tiba Nevan menyerahkan jaket miliknya kepada haura.
"Ini untuk apa?" tanya Haura bingung.
"Tutup" perintah Nevan dengan melirik arah rok haura yang tersingkap sedikit.
"Ehhh...." Haura panik ketika tahu maksud dari Nevan. "Makasih."
“Pegangan, Ra,” pinta Nevan ketika hendak melajukan motornya.
“Ini aku udah pegangan,” jawab Haura yang memang merasa telah berpegangan dengan baik.
“Bukan di pundak. Maksud aku, kamu peluk aku, biar gak jatuh.”
“Jangan macam-macam ya, Van. Atau aku akan turun dan naik ojol,” ancan Haura yang merasa permintaan Nevan tidak masuk akal.
“Terserah kamu deh. Tapi asal kamu tahu, aku bakalan ngebut. Jadi kalau kamu jatuh, itu bukan salah aku karena aku udah memperingatkan.”
“Oke, aku gak bakalan jatuh.”
Sesaat kemudian Haura mengencangkan pegangannya ke pundak Nevan. Alhasil, Nevan pun meringis kesakitan.
“Aaaawww… sakit, Ra. Kamu pegangannya gak usah kencang kayak gitu,” protes Nevan.
“Lah… tadi kan kamu yang minta supaya aku pegangan yang kuat. Giliran akunya pegangan yang kuat, kamunya protes. Aneh deh kamu, Van.”
“Ya gak gitu juga kali, Ra. Ntar kalau pundak aku lecet, memangnya kamu mau tanggung jawab?”
“Kita mau berangkat ke sekolah gak sih, Van. Atau aku turun aja deh,” Haura malas jika terus berdebat dengan Nevan. Karena jika di turuti maka perdebatan mereka akan berlangsung lama sementara jarum jam semakin berputar.
“Iya.. iya kita berangkat. Bawel banget sih.” Gerutu Nevan. Lalu dia pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang agar Haura tidak mencengkeram bahunya dengan kuat.
Haura hanya bisa tersenyum dengan kelakukan sahabatnya itu.
__ADS_1