
Hari yang di tunggu akhirnya tiba. Perayaan ulang tahun Sander International High School di gelar dengan sangat megah. Tamu undangan dari berbagai kalangan turut hadir untuk memeriahkan acara tahunan tersebut.
Liam Sander, pemilik Sander Group tiba ke lokasi acara bersama putra sulungnya Zayn Sander. Dimana Nevan? Sudah pasti saat ini Nevan sudah berada di lokasi utama acara karena remaja tersebut merupakan salah satu tim penanggungjawab kelancaran acara bergengsi tersebut. Sinar flash kamera menyambut kedatangan Tuan Liam sander dan putra sulungnya. Kedua laki-laki berbeda usia tersebut terlihat gagah dalam balutan jas mewah.
Alasan lainnya mengapa Nevan tidak bersedia untuk ikut hadir bersama dengan Tuan Liam dan Zayn adalah karena banyaknya media berita yang turut hadir pada acara tersebut. Nevan tidak begitu suka dengan sorot kamera. Mengingat Nevan adalah putra bungsu dari Liam Sander, sudah dapat di pastikan bahwa dirinya akan menjadi sasaran empuk untuk media berita yang begitu antusias menyoroti tentang kehidupan keluarganya.
Ditambah lagi selama ini awak media hanya mengetahui nama putra bungsu pengusaha sukses tersebut tanpa pernah tahu bagaimana wajah dari Nevan. Oleh karena itu sebisa mungkin Nevan tidak mau untuk ikut bergabung dengan sang Papa dan kakaknya ketika ada awak media. Nevan ingin hidup biasa tanpa adanya berita yang menyoroti tentang kehidupan pribadinya.
Setelah acara pembukaan yang di sampaikan oleh Tuan Liam sander, kini tibalah pada acara inti yaitu pentas kreative siswa. Diawali dengan pembukaan pameran lukisan siswa sampai dengan panggung peragaan busana.
Pada malam itu, siswa yang mempunyai bakat dalam bidang modeling mulai menunjukkan kebolehan mereka di atas catwalk. Bak model profesional, mereka tampil dengan penuh percaya diri. Para orang tua terlihat sangat kagum dan bangga pada putra-putri mereka. Tidak sedikit dari kalangan orang tua terus-menerus membanggakan putra-putri mereka kepada sesama tamu undangan yang hadir disana.
Yang menjadi model utama malam itu adalah Rhea. Ketika Rhea berjalan di catwalk, semua mata menatap kagum padanya. Kecantikan gadis remaja tersebut mampu menghipnotis semua mata yang memandangnya. Tidak sedikit dari tamu undangan yang hadir berfikir bahwa Rhea adalah seorang model profesional karena kepiawaiannya katika berjalan di catwalk.
Satu persatu pementasan kreasi siswa ditampilkan dari satu hingga yang lainnya. Hingga tiba pada pementasan tearkhir, yaitu panggung teater. Di belakang panggung Haura dan teman-temannya sangat gugup. Mereka seolah mempunyai beban berat untuk menutup acara dengan baik dan sempurna setelah acara pembukaan yang sangat luar biasa.
Haura menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara kasar. Mulutnya gadis berlesung pipi tersebut tidak berhenti komat-kamit untuk menghafalkan naskah agar tidak lupa. Jemarinya saling bertautan untuk mengurai rasa gugup yang saat ini dia rasakan.
“Ayo semuanya kita kumpul dulu,” terdengar suara Sheril sebagai ketua tim teater memberi instruksi untuk teman temannya agar segera berkumpul.
Semua anggota teater pun berkumpul membentuk sebuah lingkaran besar.
“Sebelum kita tampil, kita berdoa dulu menurut keyakinan kita masing-masing agar penampilan kita sempurna.”
Setelah instruksi singkat dari Sheril, semua anggota teater mulai memanjatkan doa singkat agar pementasan mereka sukses tanpa hambatan apa pun.
Iyel-iyel pun mulai mereka gaungkan untuk memberi semangat pada tim mereka.
Luna dan Adel terlihat mengunjungi backstage teater. Kedatangan mereka ke sana tidak lain adalah untuk memberi dukungan kepada Haura. Melihat kedua sahabatnya datang mengunjunginya ke belakang panggung, Haura pun sangat bahagian. Seolah dirinya mendapat dukungan ekstra.
“Luna... Adel...” Haura menghampiri kedua sahabatnya yang terlihat sedang celingak-celinguk melihat kiri dan kanan.
Sebenarnya kedua sahabat Haura sedang mencari keberadaan Haura. Akan tetapi karena pada malam itu Haura telah menggunakan kostum teater sehingga membuat Luna dan Adel tidak dapat mengenali Haura.
“Haura...” ucap Luna dan Adel kompak.
“Aku seneng banget kalian mau datang ke back stage. Aku sangat gugup,” ucap Haura sembari meraih tangan kedua sahabatnya.
Baik Luna maupun Adel dapat merasakan bahwa saat ini suhu tangan Haura sedikit menurun. Itu artinya sahabat mereka benar-benar sedang di landa kegugupan.
“Kamu gak perlu gugup. Kamu harus percaya diri dengan penampilan kamu. Jangan sampai kegugupan kamu membuat semuanya berantakan,” ujar Adel memberi nasehat agar Haura tidak perlu merasa tertekan.
__ADS_1
“Kamu adalah Haura. Sahabat kami yang paling keren. Sekarang saatnya kamu untuk menaklukkan panggung,” Luna ikut memberi semangat kepada Haura. Padahal jika dirinya di hadapkan dengan hal tersebut, tentu saja Luna juga akan merasa sama gugupnya seperti Haura.
“Makasih karena kalian udah support aku,” ucap Haura tulus. “Haura, kamu pasti bisa.” Gadis berlesung pipi tersebut juga ikut meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan mampu tampil sempurna tanpa membuat kesalahan.
Tinggg.... notifikasi pesan masuk dari handphone milik Haura berbunyi.
Neptunus nama kontak yang tertera di sana.
(Kurcaciku.... Kamu pasti bisa. Semangat.) Nevan
Bibir Haura melengkung membentuk sebuah senyuman membaca pesan singkat dari Nevan. Ya, Neptunus adalah nama Nevan dalam daftar kontak milik Haura.
“Siap ulat bulu. Penampilan aku pasti gak akan mengecewakan. Kamu liat aja nanti,”balas Haura.
(Pangeran, bukan ulat bulu. Ntar kalau kamu gugup, panggil nama aku tiga kali ya, Ra. Maka aku akan datang sebagai malaikat penolong untuk kamu.) Nevan.
“Biasanya yang sering muncul saat di panggil tiga kali itu setan jelangkung. Bukan malaikat gadungan.”
(Tau ah… tadi ulat bulu, sekarang setan. Dasar kurcaci.) Nevan
Haura terus saja tersenyum membaca isi pesan Nevan. Gadis itu cukup tahu bahwa saat ini Nevan pasti sedang menekuk wajahnya setelah membaca pesan darinya.
“Siapa, Ra?” tanya Luna heran ketika melihat Haura senyum-senyum sendiri dengan handphone di tangannya.
“Pasti Nevan. Iya kan?” tanya Adel tepat sasaran.
Haura hanya nyengir sebagai jawaban atas pertanyaan Adel. Sahabatnya yang satu ini memang serba tahu tentang dirinya.
“Kalian pacaran ya, Ra?” tanya Luna. Karena dirinya memang sangat penasaran tentang hubungan sebenarnya antara Haura dan Nevan. Luna terus berfikir mengapa sahabatnya Haura bisa begitu dekat dengan Nevan. Sementara Nevan adalah seorang siswa baru di sekolah mereka. Aneh rasanya jika Haura tiba-tiba dekat dengan Nevan apalagi mengingat status Nevan sebagai anak pemilik sekolah mereka.
“Gak. Aku gak pacaran sama Nevan. Kita cuma berteman.” Haura menyangkal dengan cepat pernyataan Luna. Karena memang begitulah sebenarnya.
“Cuma temenan kok segitunya. Kita perhatikan kayaknya Nevan posesif banget sama kamu. Menurut aku perhatian dia ke kamu melebihi perhatian seorang teman. Kamu gak lagi bohongin kita kan, Ra?” Luna terus saja menyuarakan pendapatnya tentang hubungan antara Haura dan Nevan.
“Enggak Luna yang cantik. Mana mungkin aku bohong sama kalian berdua. Ntar deh aku certain versi lengkapnya kenapa aku bisa berteman dekat sama Nevan. Yang pastinya aku sama alien dari Neptunus itu gak pacaran. Jadi sahabat-sahabat aku yang cantik ini jangan berfikir macam-macam. Hmmmm…..” jelas Haura panjang lebar dengan mencubit gemas ujung hidung Luna dan Adel.
“Alien dari Neptunus? Nevan maksud kamu, Ra?” tanya Adel heran mendengar julukan terbaru dari Haura.
“Iya, Nevan. Manusia yang suka buat rusuh. Persis seperti planet Neptunus.”
“Kalau alien di Neptunus seperti Nevan, aku mau deh tinggal di sana,” celetuk Luna sambil membayangkan wajah tampan Nevan.
__ADS_1
“Kamu plin plan deh Lun. Nevan atau Niko?” tanya Adel.
“Ehhhh…. Aku lupa sama si manusia kayu. Hehehe….. Ya pasti Niko lah. My first love,” jawab Luna seketika.
“Kenapa manusia kayu?” tanya Haura heran.
“Kaku. Niko si kaku, seperti sebatang kayu,” jawab Luna dengan entengnya.
“Ahahahahaha….. mantap….” Seru Haura, Luna dan Adel bersama-sama.
Setelah berbincang beberapa menit, saatnya Haura harus pamit kepada kedua sahabatnyanya karena sudah waktunya untuk team teater tampil. Setelah mendapat wejangan singkat agar tidak gugup dari Luna dan Adel, akhirnya Haura dengan setengah berlari meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Begitu juga dengan Luna dan Adel. Kedua gadis cantik itu memilih untuk meninggalkan back stage dan kembali ke kursi penonton untuk menyaksikan penampilan sahabat mereka.
Team wardrobe untuk para penampil teater memastikan kembali bahwa properti panggung yang digunakan oleh pemeran telah lengkap dan sempurna, hingga tidak ada lagi kesalahan properti panggung yang dapat merusak penampilan mereka nantinya.
Ketika Haura hendak menyimpan handphone miliknya ke dalam tas, tiba-tiba notofikasi dari pesan masuk miliknya kembali berbunyi.
Setengah tergesa-gesa Haura kembali mengecek kotak masuk dari aplikasi chat miliknya. Gadis itu hanya khawatir bahwa pesan itu dari Ibunya, oleh karena itu Haura memutuskan untuk membaca pesan tersebut.
Sebuah nomor tanpa nama mengirim pesan untuknya.
(Hai bocah, semangat. Kamu pasti bisa tampil dengan sempurna. Aku akan ada di kursi penonton untuk melihat penampilan kamu malam ini.)
Begitulah isi pesan yang di kirimkan oleh sebuah nomor yang tidak ada dalam daftar kontak pada handphone milik Haura.
Haura hanya membaca pesan tersebut tanpa berniat membalasnya. Karena setelahnya gadis itu langsung menyimpan handphone miliknya ke dalam tas. Terlihat raut wajah Haura berubah ketika membaca pesan singkat tersebut.
Gadis remaja tersebut terdengar menghela nafasnya dengan berat.
Maaf, Haura tidak bermaksud untuk mengabaikan semua pesan kakak. Tapi ini yang terbaik, gumam Haura.
Meskipun tidak ada nama yang tertera di sana, Haura sangat tahu dengan pasti siapa gerangan si pengirim pesan tersebut.
Hai readers.... Hayoooo... siapa kira-kira yang ngirim pesan ke Haura?
Yuk tetap stay di novel pertama aku ini. Aku jamin ceritanya bakalan seru.
Jangan lupa juga untuk terus dukung novel aku dengan cara like, comment dan vote. Eitttsss.... tambahkan juga ke dalam koleksi rak buku kamu.
Quote!!!
__ADS_1
Istirahatlah jika kamu lelah, tapi ingat jangan pernah menyerah karena dunia masih menunggu sinarmu untuk bercahaya.