
Nevan terus saja berjalan menuju tempat tujuannya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Haura.
Pemandangan yang terjadi sekarang hanya memperlihatkan Nevan yang berjalan dengan santainya, sedangkan Haura terlihat seperti sedang berlari-lari kecil untuk mengimbangi langkah kaki Nevan.
Haura yang mempunyai tinggi badan 153cm, setengah berlari mengikuti langkah Nevan. Menyadari hal itu, Nevan menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Hal itu membuat Haura yang tidak fokus dengan langkahnya menabrak punggung Nevan.
“Lo bisa nggak sih jalan cepetan dikit?” Nevan bertanya dengan nada sewot. Dia merasa Haura berjalan dengan sangat lambat.
“Aku udah usahakan jalan cepat,” jawab Haura cepat. Karena memang benar bahwa dia sudah berusaha dengan susah payah agar langkahnya tidak tertinggal dari Nevan.
“Gini lo bilang cepat. Atau lo mau gue gendong?”
“Nggak... Nggak... aku bisa jalan sendiri.” Jawab Haura panik. Bagaimana tidak panik, sejauh ini Nevan sudah dua kali mengancam akan menggendong dirinya.
“Kalau bisa jalan sendiri, seharusnya jangan lelet.”
“Iya,” jawab gadis remaja itu singkat. Sungguh, dia sangat susah mengikuti langkah Nevan yang mempunyai tinggi tubuh jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan tinggi tubuh Haura.
Nevan pun melanjutkan langkahnya menuju rooftop.
“Gimana mau ikutin langkah kamu. Aku kan pendek dan kamu tinggi. Seharusnya kamu pengertian dengan postur tubuh aku,” Haura bergumam kecil agar Nevan tidak mendengar ucapannya.
“Makanya, jadi orang tuh jangan kayak kurcaci. Kerdil,” balas Nevan.
“Hah....” Haura kaget mendengar ucapan Nevan. Artinya laki-laki itu mendengar ucapannya.
Detik selanjutnya, Nevan memperlambat langkah kakinya. Menyadari hal itu Haura pun tersenyum menatap punggung laki-laki yang berjalan di depannya sambil menggenggam tangannya itu.
Jangan lupakan tatapan membunuh seluruh siswa lainnya terhadap Haura. Mereka merasa cemburu. Seorang siswa baru yang diketahui sebagai anak pemilik sekolah, ditambah lagi wajah Nevan yang sangat sempurna sedang berjalan sambil menggenggam tangan seorang siswa perempuan yang jauh dari kata cantik apalagi populer. Bagaimana mungkin berpasang-pasang mata yang melihat pemandangan tersebut tidak merasa cemburu.
Mereka bahkan berfikir ini adalah sebuah adegan romantis. Dimana seorang laki-laki menggenggam tangan perempuan yang di sukainya dengan sangat posesif. Faktanya yang terjadi adalah sebuah adegan pemaksaan dan keterpaksaan yang hakiki.
...****************...
Di rooftop
"Lo sadar kalau lo itu punya salah sama gue?" tanya Nevan tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Hah... aku punya salah ke kamu?" bukannya menjawab pertanyaan Nevan, Haura justru balik memberikan pertanyaan pada Nevan.
“Lo jangan pura-pura gak tau. Lo sadar gak sih, kalau lo buat salah ke gue bukan cuma sekali. Tapi beberapa kali.” Kini Haura merasa benar-benar takut mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Nevan.
Haura hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Nevan. Dia sungguh tidak tahu akan kesalahannya. Karena sejak kedatangan Nevan dari Sydney, dia berusaha sebisa mungkin tidak menampakkan dirinya di hadapan Nevan ketika berada di rumah. Jadi bagaimana bisa dia berbuat kesalahan lebih dari satu kali terhadap laki-laki yang sekarang sedang berdiri dihadapannya dengan tatapan penuh intimidasi.
“Salah lo itu FATAL.” Nevan sengaja menekankan kata fatal hingga membuat Haura merasa semakin ketakutan.
Haura berfikir dengan sangat keras tentang kesalahan apa yang telah dia perbuat. Tapi sekeras apapun Haura memutar otaknya, dia tetap tidak mengetahui apa salahnya hingga membuat Nevan sangat marah padanya.
Hal lain yang sedang difikirkan oleh Haura adalah nasib pekerjaan ibunya dan pendidikannya. Bagaimana jika yang dikatakan Nevan benar? Bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal hingga membuat Nevan sangat marah. Mungkinkah ibunya akan di pecat dan beasiswa sekolahnya akan di hapuskan? Membayangkan hal itu sungguh membuat Haura ingin menangis.
“Lo tau, gue udah sabar banget ngeliat sikap lo sejak pertama gue balik ke rumah.”
“Aku buat salah apa? Aku benar-benar nggak tau. Kalau memang aku salah, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud buat kamu marah.” Mata gadis itu mulai berembun. Sungguh saat ini dia sangat takut. Sebisa mungkin Haura menahan agar tidak menangis. Genangan air mata mulai memenuhi kelopak matanya. Sedikit saja dia berkedip, maka air matanya akan jatuh tanpa bisa di cegah lagi.
Nevan mengusap wajahnya gusar. Dia tahu bahwa saat ini Haura hendak menangis. Suara gadis itu bergetar.
“Lo dengar baik-baik.” Ada jeda sejenak sebelum Nevan melanjutkan kata-katanya. Haura menunggu dengan cemas apa yang akan di ucapkan oleh seorang Nevan. Takut, itulah yang dirasakan Haura. Dia bukanlah gadis penakut, akan tetapi jika berhubungan dengan sang ibu, sungguh nyalinya menciut. Dia takut mengecewakan ibunya.
“Salah lo itu karena udah mempermainkan gue.”
“Aku gak ngerti. mempermainkan gimana maksud kamu?” air mata gadis itu mulai membasahi pipinya. Haura pun menghapus air matanya dengan kasar.
Tangan Haura saling bertautan satu sama lain. Dia benar-benar takut dengan tuduhan tak berdasar yang dilontarkan oleh Nevan pada dirinya.
“Lo mempermainkan gue dengan cara cuekin gue. Sejak pertama kita jumpa, lo nggak nyapa, lo nggak senyum sama dan lo pura-pura nggak kenal gue. Lo nggak tau ‘kan gimana rasanya diabaikan?” Nevan mendikte satu persatu kesalahan Haura. Kesalahan yang konyol.
“Kenapa lo pura-pura nggak kenal sama gue? Lo ‘kan tau kalau gue Nevan, teman kecil lo. Seharusnya saat gue balik, lo nyapa gue, nanyain kabar gue. Seenggaknya lo senyum gitu ke gue. Bukan sebaliknya lo malah pura-pura nggak kenal dan terus menghindar dari gue," ucap Nevan lagi dengan panjang lebar.
Tangis Haura pun pecah mendengar satu persatu kesalahannya yang di sebutkan oleh Nevan. Sungguh, beberapa menit yang lalu dirinya sangat takut dengan alasan kemarahan Nevan. Tapi ternyata setelah mengetahui alasan seorang Nevan marah padanya hanya karena dia tidak menyapa laki-laki itu, rasa takutnya menjadi rasa kesal.
Dirinya merasa dipermainkan.
“Kenapa lo nangis?” Nevan mulai panik melihat Haura menangis dengan kencang. Aneh, pikirnya. Mengapa cewek di depannya tiba-tiba menangis. Apakah dia sangat menakutkan? Hingga membuat Haura menangis begitu kencangnya. Ditambah suara cempreng Haura. Sungguh merusak pendengaran.
“Lo diam dong, Ra, please. Kalau ada yang dengar gimana? Ntar dikira gue ngapa-ngapain lo." Nevan berusaha membujuk Haura yang menangis dengan kencang agar gadis itu segera diam. Padahal sebab utama yang membuat Haura menangis adalah karena ulahnya sendiri.
__ADS_1
"Atau lo mau gue peluk?” tanya Nevan lagi.
Seketika Haura menghentikan tangisannya mendengar kata-kata terakhir Nevan. Itu bukanlah sebuah pertanyaan tapi lebih menjurus kepada ancaman.
“Kamu buat aku takut. Aku fikir kesalahan aku apa sampai buat kamu sangat marah ke aku. Aku takut kamu marah dan berakibat pada pekerjaan ibu, terus aku nggak bisa sekolah lagi karena beasiswa aku bakalan di cabut." kata Haura dengan sisa tangisannya.
"Tapi ternyata kesalahan aku karena mengabaikan kamu. Kenapa kamu nggak bilang langsung, kenapa pakai drama kayak gini. Aku benar-benar takut," jelas Haura lagi sambil bersiap untuk menangis kembali.
"Lo jangan nangis lagi. Atau lo memang beneran mau gue peluk," ancam Nevan.
Haura hanya menggelengkan kepalanya dan berusaha sekuat tenaga agar tidak kembali menangis. Meskipun Nevan sangat tampan, tapi mana mungkin Haura membiarkan Nevan memeluk dirinya. Haura sangat sadar diri.
“Mengabaikan gue itu adalah sebuah kesalahan terbesar, Haura. Karena gue kangen sama lo,” ucapan Nevan nyaris seperti seorang laki-laki yang sangat merindukan pacarnya. Penuh kelembutan.
Haura mendongakkan wajahnya menatap langsung manik coklat milik Nevan. Benarkah seorang Nevan merindukannya? Haura mencari jawaban lewat mata indah tersebut. Dia tak bergeming. Menjelajahi mata tersebut untuk mencari jawaban sebenarnya dari kata-kata Nevan barusan.
“Gue serius, Ra. Gue kangen lo. Gue kangen sahabat kecil gue. Gue kangen main bareng lagi sama lo. Gue senang saat Papa dan Kak Zayn mengabulkan permintaan gue untuk sekolah di Indonesia. Salah satu alasannya karena gue pengen ketemu lo lagi. Saat tahu kita tinggal di tempat yang sama, gue sangat senang, Ra.” Nevan menghapus sisa air mata di wajah Haura.
Haura memilih bungkam. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
“Saat lo nggak nyapa gue di hari pertama kita ketemu, gue kecewa. Gue fikir lo udah ngelupain gue. Apa lagi tadi pagi lo di antar sama kak Zayn. Gue marah. Kenapa harus sama kak Zayn, kenapa lo nggak minta berangkat bareng sama gue. Sekarang lo paham ‘kan? Gue kangen lo. Sangat.” Nevan terus saja berbicara tanpa henti untuk menjelaskan kepada gadis yang merupakan sahabat masa kecilnya itu bahwa dirinya benar-benar merindukan sosok Haura.
Haura merasa terharu. Seorang Nevan, teman masa kecilnya merindukannya. Rasa rindu yang sama seperti yang Haura rasakan.
“Aku juga kangen kamu. Aku nggak berani nyapa kamu, Aku fikir kamu udah nggak ingat sama aku.” Haura mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Bahwa dia juga merindukan teman masa kecilnya tersebut.
“Lagi pula aku cukup tahu diri dengan posisi aku di rumah kamu. Jadi aku memilih untuk menghindari kamu. Maaf, jika sikap aku buat kamu marah.”
“Apapun posisi lo, gue nggak peduli. Lo tetap teman gue. Teman yang paling berharga. Jadi jangan pernah mengabaikan gue lagi,” Nevan mengusap gemas rambut Haura.
Senja mulai menampakkan wajahnya. Memberikan keindahan dengan penuh kesempurnaan meskipun untuk sesaat. Menenangkan jiwa dengan semburat jingga yang menghias cakrawala. Kedua remaja tersebut masih berdiri di tempat mereka dengan tersenyum bahagia kepada satu sama lainnya.
...****************...
Hi readers... Terimakasih udah baca novel pertama aku😊🙏
Don't forget to leave your like and comment. Dan jangan lupa juga jadikan novel aku sebagai favorit kamu.
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya🌹🥰