(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Pacar Satu Malam


__ADS_3

Tuan Liam dan kedua putra tampannya yaitu Zayn dan Nevan sedang menikmati makan malam mereka sambil sesekali berbicara ringan perihal aktifitas mereka masing-masing. Terdengar juga candaan dan nasehat yang di berikan Tuan Liam kepada kedua putranya di meja makan itu.


Jika bagian nasehat, tentu saja orang yang paling banyak mendapat nasehat dari Tuan Liam adalah si bungsu Nevan. Laki-laki paruh baya itu mendapatkan banyak laporan tentang Nevan selama hampir dua bulan terakhir berada di Indonesia dari oarang kepercayaan beliau yang di tugaskan untuk selalu memantau kegiatan Nevan.


Meskipun Nevan tidak pernah membuat kesalahan fatal selama berada di Indonesia selain sering bolos sekolah, akan tetapi Tuan Liam merasa harus selalu mengontrol dengan baik putra bungsunya yang sedikit keras kepala itu. Tentu saja Tuan Liam juga tahu tentang kedekatan Nevan dan Haura. Lagi-lagi beliau tidak mau ambil pusing perihal kehidupan remaja. Selama hal itu tidak memberikan efek buruk pada Nevan, itu sudah cukup baginya.


Setelah ritual makam malam selesai, Tuan Liam dan Zayn beranjak dari meja makan menuju ruang kerja, atapun sekedar duduk-duduk santai di ruang keluarga sambil berbicara perihal bisnis keluarganya bersama putra sulungnya itu.


Sementara Nevan masih setia berada di meja makan meskipun remaja itu sudah selesai dengan kegiatan makan malamnya.


Sebuah senyuman terbit di bibir remaja tampan itu ketika melihat Haura datang ke ruang makan. Ya, tujuan Nevan masih berada di sana adalah untuk menunggu Haura yang seperti biasanya selalu membereskan piring kotor setiap makan malam keluarganya selesai.


"Kenapa kamu masih disini?" tanya Haura heran. Tidak seperti biasanya, setelah makan malam selesai Nevan langsung menghilang dari meja makan. Tapi malam itu Nevan masih berada di tempat tersebut lengkap dengan senyuman yang sangat tampan terukir sempurna di bibirnya.


“Haura, ini malam apa?”


Haura menautkan alisnya karena pertanyaan Nevan. Untuk sejenak Haura menunda pekerjaannya. Mata gadis itu menatap langsung pada lawan bicaranya yang masih duduk manis pada salah satu kursi di meja makan mewah yang ada di ruangan itu.


“Malam Minggu,” jawab Haura polos. Gadis itu menatap aneh pada Nevan. Heran dengan pertanyaan yang Nevan tanyakan. Tidak mungkin rasanya kalau Nevan lupa jika malam ini adalah malam Minggu.


“Terus?” Nevan kembali bertanya.


“Terus?” Bukannya menjawab, kini giliran Haura yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Di tambah lagi gadis itu justru mengulang kembali pertanyaan yang Nevan berikan untuknya.


“Huufffff….” Remaja laki-laki itu menghela nafasnya panjang. “Terus kalau malam Minggu biasanya kamu ngapain?”


Gadis remaja itu semakin heran dengan arah pertanyaan lawan bicaranya itu. Haura fikir apa temannya ini benar-benar bodoh sampai dia tidak tahu bahwa setiap malam Minggu dan malam-malam lainnnya Haura selalu membantu perkerjaan Ibunya lalu setelahnya kembali ke paviliun belakang. Entah itu untuk mengerjakan tugas sekolah ataupun langsung menemui alam mimpi.


“Kamu udah berapa lama di sini?” tanya Haura kemudian. “Maksud aku, kamu udah berapa lama balik dari Sydney ke Indonesia?”


“Hampir dua bulan. Emangnya kenapa, Ra?” kini Nevan yang berbalik menatap aneh pada Haura. Pasalnya pertanyaan yang Haura berikan benar-benar tidak berhubungan dengan yang Nevan tanyaan sebelumnya.


“Terus biasanya kalau malam Minggu atau malam-malam lainnya, kamu liat aku ngapain di jam segini?”


“Emmmm…. Biasanya kamu bantuin Ibu kamu, Bik Siti dan Bik Nur menyiapkan makan malam. Atau gak kamu bantuin cuci piring-piring kotor setelah makan malam. Setelah itu kamu balik ke paviliun belakang untuk belajar atau tidur. Kadang juga kamu temenin aku ngobrol di gazebo belakang.” Nevan mendikte satu persatu kegiatan Haura setiap malamnya. Semua yang Haura lakukan telah tercatat sempurna dalam kepala Nevan.


“Itu kamu tau. Terus kenapa kamu tanya kegiatan malam Minggu aku?”


Nevan nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Remaja tampan itu benar-benar merasa bodoh dengan pertanyaannya sendiri. Niat hati ingin main kode-kodean bersama Haura, tapi nyatanya kode yang Nevan berikan gagal total.


“Jalan yuk, Ra.” Ajak Nevan akhirnya.


Sebenarnya Nevan memang ingin mengajak Haura untuk keluar jalan-jalan di malam Minggu. Menikmati malam panjang bagi remaja-remaja pada umumnya. Entah itu sekedar berjalan-jalan, nonton, nongkrong di café-café kekinian atau hanya menghabiskan waktu di alun-alun kota.

__ADS_1


“Jalan? Maksudnya?”


“Ya jalan. Ini kan malam Minggu.”


“Gak deh, Van. Aku gak bisa.” Tanpa berfikir panjang Haura langsung menolak ajakan Nevan. Kemudian gadis remaja itu kembali melanjutkan kegiatannya membereskan meja makan.


“Kenapa gak bisa?”


“Ya gak bisa aja. Aku sibuk. Kan kamu liat sendiri aku lagi apa sekarang."


"Ya perginya gak sekarang juga, Haura. Aku bakal tunggu sampai pekerjaan kamu selesai. Mau ya?" bujuk Nevan lagi.


Haura hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Hanya terdengar bunyi piring dan sendok yang berdenting.


"Kenapa gak mau?"


Haura kembali menghentikan kegiatannya. Menatap langsung lawan bicaranya yang sangat keras kepala itu.


"Nevan, kenapa juga kamu ngajak aku. Kenapa kamu gak ngajak pacar kamu?" tanya Haura lagi. Padahal Haura tahu dengan pasti bahwa selama hampir dua bulan Nevan tinggal di Indonesia, sahabatnya itu tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun selain dirinya. Jadi tidak mungkin Nevan mempunyai pacar.


Nevan mendengus kesal mendengar perkataan Haura. "Pacar apaan? Emang kamu gak liat kalau setiap harinya aku sama kamu? Mana sempat aku cari pacar kalau kamu selalu buat aku khawatir setiap kamu jauh dari aku. Nanti kalau aku punya pacar siapa yang akan jagain kamu?"


"Maaf kalau aku selalu buat kamu khawatir," ucap Haura datar. Ada rasa bersalah dalam nada bicara gadis remaja itu karena selalu membuat Nevan khawatir karena dirinya. "Kamu udah bisa punya pacar. Lagian aku gak perlu kamu jagain."


Kata-kata Nevan membuat hati Haura menghangat. Bahagia? Tentu saja. Siapa yang tidak bahagia jika mendapat perhatian dari orang yang kita sukai. Begitu juga dengan Haura. Meskipun cintanya tidak bisa dia gapai, tapi setidaknya dia bisa menciptakan kenangan yang indah bersama cinta pertamanya itu.


Apalagi banyak yang mengatakan bahwa banyak orang yang gagal pada cinta pertama mereka. Bagi Haura setidaknya dia bisa bersama Nevan meskipun hanya sebatas sahabat. Itu cukup untuknya.


"Aku akan punya pacar. Tapi nanti," sambung Nevan lagi.


Nanti, jika aku sudah bisa memastikan bahwa hati aku tidak salah, batin Nevan.


Sementara Haura hanya diam mencerna ucapan Nevan. Nanti? Kapan? Apakah ada seseorang yang Nevan suka. Ataupun ada seseorang yang Nevan tunggu?


Untuk sejenak, Haura dapat menangkap tatapan Nevan seakan kosong. Ada sesuatu yang mengganggu fikiran laki-laki itu. Tapi Haura enggan bertanya. Gadis itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tak kunjung selesai karena selalu meladeni pembicaraan Nevan.


Sementara itu Nevan tersenyum getir. Menertawakan dirinya sendiri. Remaja tampan itu kembali mengalihkan pandangannya menatap Haura yang saat ini sedang berada di sisi lain meja makan. Berseberangan dengan posisi duduk Nevan.


"Kita jalan ya, Ra." pinta Nevan lagi yang masih bertahan dengan keinginannya.


Haura hanya menghela nafas panjang. Gadis itu tidak habis fikir dari mana datangnya sifat Nevan yang begitu pemaksa. Sangat berbanding terbalik dengan Zayn.


"Aku gak bisa Nevan. Setelah ini aku mau buat tugas sekolah. Aku udah satu minggu libur sekolah, jadi banyak tugas dan catatan yang harus aku selesaikan. Jadi aku gak bisa temenin kamu jalan-jalan."

__ADS_1


"Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus mau. Besok kan hari Minggu, kamu bisa buat tugas besok."


Wajah Haura telah di tekuk sempurna mendengar perkataan Nevan. Laki-laki itu selalu membuat tensi darahnya naik karena sifat Nevan yang selalu memaksakan kehendaknya pada orang lain.


"Kamu tuh udah jelek, nanti tambah jelek kalau mukanya di tekuk gitu."


Haura kembali mendongkol karena perkataan remaja tampan itu. Baginya Nevan tidak perlu memperjelas bahwa dirinya jelek, karena Haura cukup sadar diri bahwa dirinya memang jelek dan bahkan tidak pantas berteman dengan laki-laki setampan Nevan.


"Emang akunya jelek. Lagian kamu ngapain berteman sama cewek jelek kayak aku."


Nevan hanya tersenyum mendengar ucapan Haura. Memang niatnya adalah membuat Haura kesal dengan mengatakan bahwa gadis itu jelek. Tapi tidak di sangkanya bahwa pancingannya langsung di tangkap dengan baik oleh Haura. Terbukti dengan wajah Haura yang telah di tekuk sempurna.


Tanpa berkata apapun lagi Haura mengambil tumpukan piring kotor yang telah di kumpulkannya di atas meja makan, lalu bersiap melangkahkan kakinya menuju dapur.


Baru dua langkah Haura berjalan, tiba-tiba Nevan mencegah langkahnya. "Kamu mau ngapain?" tanya Haura kaget karena Nevan langsung merebut piring yang berada di tangannya hingga nyaris terjatuh.


"Bantuin kamu lah. Biar kerjaan kamu cepat selesai dan kita keluar jalan-jalan."


Bukannya senang mendapat pertolongan dari Nevan, Haura justru semakin kesal. Setalah mengatakan dirinya jelek, kini Nevan malah semakin memaksanya untuk mau menemaninya  jalan-jalan.


Dalam hatinya Haura merasa senang karena ada orang yang mengajaknya jalan-jalan, karena memang Haura sangat jarang melakukan hal tersebut. Andai saja yang mengajaknya itu bukan Nevan, pasti Haura dengan senang hati meminta izin pada Ibunya untuk keluar jalan-jalan di malam Minggu. Akan tetapi karena ajakan itu dari seorang Nevan, maka Haura harus menolaknya. Gadis itu fikir tidak seharusnya dia menerima begitu saja ajakan Nevan. Apalagi Haura takut kedekatannya dengan Nevan akan membuat Tuan Liam salah paham pada hubungan mereka.


Sedetik kemudian gadis itu kembali mengambil alih piring kotor dari tangan Nevan.


"Kamu gak perlu bantuin aku dan aku juga tetap gak mau jalan sama kamu. Dan kamu jangan maksa aku atau aku bakal aduin kamu ke Ibu aku dan ke kak Zayn kalau kamu sering maksa-maksa aku untuk ikutin apa mau kamu," ancam Haura. Itu adalah sebuah ancaman yang sama sekali tidak berarti apapun untuk Nevan.


"Aduin aja ke Ibu kamu. Aku gak takut." Remaja tampan itu seakan memang ingin membuat Haura bertambah kesal.


"Lagian nih ya, aku udah duluan minta izin ke Ibu kamu untuk ngajak kamu jalan-jalan."


"Apa? Kapan?" Haura nyaris memekik kencang karena perkataan Nevan. Mata gadis itu telah membola sempurna karena rasa tidak percayanya.


"Tadi. Jadi aku udah dapat izin dari Ibu kamu dan kamu gak bisa nolak ajakan aku." Dalam perdebatan kali ini Nevan menang telak. Karena memang sejak sore tadi remaja tampan itu sudah terlebih dahulu meminta izin kepada Bu Lastri untuk mengajak Haura jalan-jalan.


"Jadi, kamu jangan banyak protes lagi. Cuma ikuti apa maunya aku. Gampang kan."


Haura menatanya menatap nyalang pada Nevan yang saat ini berdiri tepat di hadapannya sambil mengumpat dalam hati kepada sahabat tidak berakhlaknya itu.


"Sekarang aku mau ganti baju. Dan kamu juga harus siap-siap."


Kemudian Nevan menunduk sedikit lalu menempatkan wajahnya tepat di sebelah telinga kanan Haura. "Kamu harus siap-siap karena malam ini kamu akan jadi pacar satu malam aku."


Setelah membisikkan hal tersebut pada Haura, Nevan kembali menegakkan tubuhnya. Mengusap gemas puncak kepala Haura yang seakan sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan untuknya. Tanpa berkata apapun lagi, remaja tampan itu berlalu meninggalkan Haura seorang diri yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


Mata gadis itu menatap kepergian Nevan. "Hanya malam ini? Bolehkah aku berharap selamanya? Bukan hanya pacar, tapi teman hidup kamu. Selamanya."


__ADS_2