(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Kata Istimewa Untuk Orang Istimewa


__ADS_3

Selama satu minggu Haura di rawat di rumah sakit, tidak sehari pun Nevan absen untuk mengunjunginya. Setelah cerita Haura tempo hari, Nevan seakan tidak pernah ingin meninggalkan Haura seorang diri. Satu rahasia Haura yang baru Nevan ketahui beberapa hari yang lalu, bahwa selama ini sahabatnya itu ternyata masih menyimpan trauma akibat bullying yang dia alami beberapa tahun yang lalu.


Masalah bullying tidak bisa di anggap sebagai hal sepele. Banyak anak-anak korban bullying masih menyimpan trauma sampai beberapa tahun lamanya dan bahkan akan mengalami trauma seumur hidup mereka. Korban bullying rentan mengalami masalah kesehatan fisik maupun mental.


Tindakan bullying pada anak dapat menimbulkan perasaan rendah diri, depresi, gangguan kecemasan, sulit tidur nyenyak, keinginan untuk menyakiti diri sendiri dan bahkan ada beberapa anak yang ingin mengakhiri hidupnya karena tekanan fisik dan mental yang mereka alami.


Meskipun Haura selalu bersikap ceria, namun ternyata dalam setiap malamnya Haura selalu mengalami mimpi buruk. Dalam tidurnya gadis itu selalu gelisah dan sesekali bergumam meminta pertolongan.


Mengetahui hal buruk menimpa Haura membuat Nevan merasa sedih dan marah di waktu bersamaan. Remaja laki-laki itu sedih karena tidak pernah mengetahui kabar Haura selama sepuluh tahun terakhir. Seandainya dirinya mengetahui kabar Haura beberapa tahun lebih awal, mungkin hal buruk tersebut tidak akan pernah menimpa sahabat kecilnya itu.


Dan Nevan juga marah karena orang-orang yang membully Haura tidak pernah merasa menyesal sama sekali. Bahkan mereka tidak pernah meminta maaf kepada Haura. Mungkin sekarang pelaku pembullyan itu dapat hidup dengan tenang. Tapi beda halnya dengan Haura yang masih menyimpan trauma mendalam akibat kekerasan fisik dan mental yang dia dapatkan.


Setelah satu minggu di rawat di rumah sakit, keadaan Haura semakin membaik. Gadis itu telah di perbolehkan pulang. Hal tersebut tentu saja sesuatu yang sangat di nanti-nantikan oleh Haura. Pasalnya sudah seminggu lamanya dirinya selalu di layani oleh orang lain. Mulai dari Ibunya sampai sahabat-sahabatnya. Gadis itu merasa bersalah karena telah merepotkan banyak orang karena dirinya.


Ruang rawat inap tersebut kembali di penuhi oleh orang-orang yang datang untuk menjemput Haura. Ada Bu Lastri, Ibu dari Haura. Juga ada sahabat-sahabat Haura, Luna dan Adel. Tidak ketinggalan pula Luisa juga ikut datang untuk menjemput kepulangan Haura. Gadis cantik tersebut datang dengan di antarkan oleh Zayn, kakak Sepupu kesayangannya. Kini Luisa bukan hanya berteman baik dengan Haura akan tetapi gadis cantik itu juga begitu akrab dengan kedua sahabat baik Haura, yaitu Luna dan Adel.


Satu lagi orang yang pasti tidak pernah absen untuk berkunjung yaitu si tampan Nevan Sander. Remaja tampan tersebut bahkan sampai bolos sekolah beberapa hari demi menemani Haura di rumah sakit. Tentu saja hal itu pada awalnya mendapat penolakan keras dari Haura dn Bu Lastri. Akan tetapi dengan dalih kalau dirinya telah meminta izin pada Tuan Liam, maka baik Bu Lastri maupun Haura tidak berkomentar apapun lagi.


Ruang rawat pasien yang harusnya tenang, sekarang menjadi tempat untuk bersitegang antara Nevan dan dua sahabat Haura. Mereka sama-sama saling mempertahankan keinginan mereka agar Haura ikut pulang menggunakan mobil mereka masing-masing.


Sementara itu Bu Lastri, Haura dan Luisa hanya menjadi penonton budiman. Menyaksikan tanpa berkomentar apa pun sambil membereskan beberapa barang agar bisa segera pulang.


“Pokoknya gue gak mau tahu, Haura pulang bareng gue dan Luna,” ucap Adel dengan tegas. Sementara Luna ikut mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui apa yang Adel ucapkan.


“Emang lo siapanya Haura? Haura pulang sama gue. Lagian gue sama Haura tinggal di rumah yang sama, jadi udah sewajarnya kalau Haura bareng gue,” ucap Nevan tak mau kalah.


“Kita sahabatnya Haura, kalau memang lo lupa siapa kita. Lagian nih ya, lo itu apa-apaan sih, kalau pun Haura tinggal di tempat yang sama dengan lo, bukan berarti lo bisa ngatur-ngatur Haura sesuka hati lo.” Cibir Luna


dengan mulut nyinyirnya. “Lagian lo ngapain sih asik ngelonin Haura. Udah kayak babysitternya Haura aja.”


“Ini bentuk solidaritas sesama teman. Bukan kayak lo pada, gak ada setianya sama sahabat sendiri. Ngakunya aja sahabat.”


Perdebatan demi perdebatan terus saja terdengar dari mulut tiga orang remaja itu. Nevan pun tidak mau mengalah dengan argumennya. Sejak ikut berteman dengan Luna dan Adel, Nevan tidak pernah mau kalah jika beradu mulut melawan kedua sahabat Haura.


“Lagian lo kenapa kayak banci sih, nyolot mulu dari tadi. Heran gue. Sejak kapan mulut lo berubah jadi kayak ban bocor?” Adel langsung membungkan mulut Nevan dengan ocehan pedasnya.


“Hahahahahaha….. Kak Adel kalau ngomong suka bener deh.” Celetuk Luisa yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan ketiga orang tersebut.


Sementara Haura hanya cekikian mendengar kata-kata Adel.


“Udah… udah…. Gak usah ribut-ribut. Ibu sama Haura pulang naik taxi online aja. Jadi kalian semua gak usah berantem lagi.” Bu Lastri menjadi penengah dari perdebatan sengit antara sahabat-sahabat anaknya.


“Iya, aku sama Ibu pulang naik taxi aja. Jadi kalian bisa pulang duluan. Gak usah nganterin aku.” Haura pun ikut mendukung perkataan Ibunya.


“Enggak boleh.” Seru Nevan, Luna dan Adel secara bersamaan.


“Gak bisa gitu Bu. Kalau terjadi apa-apa di jalan gimana? Kan lebih baik Bu Lastri dan Haura pulang sama Nevan. Lebih aman. Nevan kan laki-laki, jadi Nevan bisa jagain Ibu dan juga Haura.” Jiwa sok pahlawan Nevan mulai berkobar-kobar.


Mendengar kata-kata Nevan, sontak saja Adel tidak terima. Pasalnya meskipun Adel seorang perempuan, tapi ilmu bela dirinya tidak bisa di anggap remah. Tidak tanggung-tanggung gadis cantik bermulut pedas itu menguasai tiga cabang ilmu bela diri yaitu Taekwondo, Judo, sampai Karate.

__ADS_1


“Memang ni cowok sableng minta di beri jurus Naga Tiarap.” Adel mendengus kesal kepada Nevan. “Eh lo cowok sableng, emang lo fikir laki-laki doang yang bisa melindungi orang lain. Gue juga bisa melindungi temen-temen gue. Gue bahkan bisa tumbangin lo dengan satu pukulan. Lo mau coba?”


Bukannya menjawab tantangan Adel, Nevan justru fokus pada kata-kata baru yang di ucapkan Adel untuknya. Sableng. Wajah tampan Nevan terlihat bingung, dia tidak pernah mendengar kata itu. Remaja tampan itu hanya tinggal di Indonesia di masa kecilnya. Itu pun tidak lama, hanya tujuh tahun. Sementara itu selama sepuluh tahun dia tinggal di Sydney. Jadi sangat wajar jika Nevan sedikit asing dengan kosa kata yang jarang di dengarnya.


“Tunggu dulu. Sableng itu apaan?” tanyanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Mendengar ucapan Nevan, sontak saja seisi ruangan tertawa renyah. Bu Lastri juga ikut tertawa karena sebuah pertanyaan yang begitu polos keluar dari mulut Nevan.


Melihat semua orang tertawa, Nevan hanya mampu nyengir kuda. Dirinya benar-benar tidak tahu apa itu arti kata sableng. “ Aku serius nanya. Sableng itu artinya apa?”


“Sableng itu satu kata yang istimewa. Biasanya di ucapkan untuk orang-orang yang istimeja juga,” jawab Luna sambil menoel tangan Adel menggunakan sikunya.


"Maksudnya?" Nevan masih menuntut penjelasan lebih terperinci.


"Kayak kata kak Luna tadi, sableng itu sebuah kata yang ditujukan kepada orang-orang yang istimewa." Luisa mengulang kembali apa yang di katakan Luna. Matanya berkedip kedip ke arah Luna dn Adel. Mereka kompak ingin mengerjai si sombong Nevan.


"Maksudnya orang yang mempunyai sifat dan tingkah laku istimewa yang tidak di miliki orang lain pada umumnya. Jadi kak Nevan itu sangat pantas jika di sebut cowok sableng. Karena ada beberapa sifat kak Nevan yang gak di miliki oleh cowok kebanyakan." Luisa masih bersikap sok bijak. Menjelaskan dengan seksama kepada sepupu tampannya yang sableng itu.


"Sifat yang istimewa? contohnya?" Nevan benar-benar di bodohi oleh mereka. Remaja laki-laki itu begitu polosnya malah bertanya lebih lanjut maksud dari perkataan Luisa.


"Eheeemmmm..... " Haura berdehem keras hingga semua mata tertuju padanya. "Kamu lupa ya, Van, kalau di diri kamu punya banyak keistimewaan," si mantan pasien mulai buka suara.


Mendengar perkataan Haura, Bu Lastri melirik tajam ke arah putrinya. Wanita paruh baya itu sadar betul bahwa saat ini Haura juga ikut mengerjai Nevan. Haura mengedip-ngedipkan sebelah matanya ke arah Ibunya. Meminta kepada sang Ibu agar ikut dalam pemainan mereka.


Bu Lastri lantas mengalihkan pandangannya kepada Luna, Adel dan Luisa yang juga sedang memasang wajah memohon kepada dirinya agar tidak memberitahukan kepada Nevan arti kata sableng yang sebenarnya.


"Huhhhh...." Terdengar Bu Lastri menghela nafas panjang. Dengan terpaksa wanita paruh baya itu mengikuti permainan para remaja di ruangan itu.


"Iya Bu," jawab Haura singkat sebelum Ibunya keluar meninggalkan mereka berlima di ruang rawat inap tersebut.


"Jadi contohnya apa?" tanya Nevan lagi.


"Contohnya seseorang yang suka berbicara kata-kata bijak yang tidak pernah di ucapkan oleh orang umum lainnya. Semuanya yang di ucapkannya murni dari fikirannya sendiri. Atau juga contohnya, orang-orang yang suka bersikap berbeda, yaitu orang yang suka bertindak seperti maunya sendiri tanpa pernah mendengarkan pendapat orang lain. Persis kayak kamu, Van."


Nevan menyimak dengan seksama penjelasan yang Haura berikan. Kepalanya manggut-manggut tanda mulai memahami apa itu arti kata sableng.


Sedetik kemudian terlihat Nevan tersenyum bahagia. "Owhhh... jadi arti kata sableng itu, seperti orang-orang yang mempunyai prinsip yang kuat dan gak mau prinsipnya di ganggu gugat oleh orang lain. Gitu kan?"


"Binggo," Jawab Luisa cepat. "Ihhh... Kak Nevan aku memang the best." Sambung Luisa lagi dengan mengacungkan kedua ibu jarinya kepada Nevan.


"Iya dong, kak Nevan memang selalu the best. Kan kak Nevan cowok sableng." Dengan sedikit membusungkan dadanya, Nevan dengan sombongnya mengatakan bahwa dirinya sableng. Pembodohan mutlak.


"Ahahahaha....." Ke empat gadis remaja yang ada di ruangan itu kembali tertawa nyaring mendengar perkataan Nevan.


Mereka sampai tertawa terpingkal-pingkal hingga merasakan keram di perut mereka. Bahkan sudut mata mereka sampai berair karena menertawakan kebodohan Nevan.


Sementara Nevan yang di tertawakan hanya menatap aneh pada ke empat gadis remaja yang ada di hadapannya saat ini. Sesuatu yang tidak beres pasti sedang terjadi, begitulah fikirnya


"Udah ah, perut gue sakit karna ketawa mulu. Mendingan kita segera pulang." Adel mencoba menghentikan tawanya sambil memijat-mijat wajahnya yang terasa begitu kebas karena efek tertawa.

__ADS_1


Begitu juga dengan Haura, Luna dan Luisa yang terlihat sedang megusap ujung mata mereka yang berair. Ke empat gadis tersebut benar-benar berhasil membodohi Nevan.


"Karena kamu sableng, jadi aku pulangnya bareng Luna sama Adel aja. Karena gak mungkin aku pulang sama orang sabelng." Haura berkata sambil menahan tawanya.


"Lui juga pulang bareng kak Luna dan kak Adel."


"Kenapa gitu? Seharusnya karena aku sableng, kalian ikut pulang bareng aku," ucap Nevan heran.


"Mendingan gini aja deh Van. Nanti begitu lo keluar dari ruangan ini, coba lo bilang ke bagian administrasi kalau lo itu Nevan yang sableng. Kalau lo berani bilang gitu, baru gue izinin Haura sama Luisa pulang bareng lo. Dan gue sama yang lainnya nunggu lo di parkiran. Gimana?" Nada tantangan jelas di lontarkan oleh Adel. Tujuannya hanya satu, yaitu kembali mengerjai si remaja tampan yang sangat arogan.


"Oke... jangankan sama petugas administrasi, bahkan memberikan pengumuman supaya di dengar se-isi rumah sakit juga gue berani." Tangkapan terpancing sempurna.


"Oke... Deal."


Segera Haura dan yang lainnya buru-buru meinggalkan ruangan tersebut. Mereka setengah berlari meninggalkan Nevan seorang diri.


Ketika tiba di meja petugas administrasi Haura segera meraih tangan Ibunya untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Untungnya Bu Lastri telah selesai mengurus administrasi untuk kepulangan Haura.


Dengan sedikit bingung, Bu Lastri mengikuti langkah kaki ke empat gadis remaja itu. Sesuatu yang tidak beres pasti sedang terjadi.


"Ini kenapa kalian lari-larian gini?" tanya Bu Lastri bingung.


"Nanti Haura ceritain, Bu. Yang penting kita pergi dari sini segera. Sebelum Singa datang bulan mengamuk."


"Hah.... Maksudnya gimana, Ra. Singa datang bulan? Siapa?" Wanita paruh baya itu benar-benar di buat bingung oleh putrinya sendiri.


"Kak Nevan, Bu. Kak Nevan singanya. Buruan."


Ke empat remaja itu semakin mempercepat langkah mereka. Tujuan mereka adalah langsung meninggalkan rumah sakit, bukan hanya menunggu Nevan di area parkir.


Sementara itu, Nevan berjalan dengan pongahnya menuju meja bagian administrasi.


"Eheemmmm..." Nevan berdehem dengan keras agar perhatian orang-orang disana hanya terfokus padanya.


"Mba... Mba tau gak siapa aku?' tanyanya penuh basa-basi.


"Ta-tau." jawab salah satu petugas administrasi dengan terbata-bata. Siapa yang tidak tahu Nevan. Putra bungsu pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.


"Kalau gitu mba tau juga kan, kalau nama aku Nevan. Nevan sableng."


"Hahahahaha....." Tawa semua orang yang berada di sana pecah mendengar Nevan dengan bangganya mengatakan bahwa dirinya sableng.


Hal itu sontak saja membuat remaja tampan itu mengernyitkan dahinya heran. Segera Nevan mengambil handphonenya dan membuka aplikasi si mbah yang serba tahu sejagat raya. Lalu dengan lincah jarinya mengetik "Arti kata sableng."


Hanya butuh waktu beberapa detik saja apa yang dicari oleh Nevan pun dia dapatkan. Remaja tampan itu membaca dengan seksama setiap informasi yang tertera di sana. "Arti sableng di KKBI adalah agak gila; kurang waras."


Sontak saja Nevan membulatkan matanya, dadanya naik turun menahan amarah, dengan lantang Nevan mengabsen satu persatu nama orang-rang yang sudah berhasil mengerjai dirinya.


"Hauraaaa, Lunaaa, Adeelll, Luiiii."

__ADS_1


"Hadirrrrr...." dengan sangat kompak ke empat gadis remaja itu menjawab panggiln Nevan. Padahal mereka telah berada di mobil dalam perjalanan pulang  seolah mereka memang dapat mendengar Nevan memanggil nama mereka satu persatu.


"Ahahahaha...." tawa kembali pecah di dalam mobil tersebut sambil membayangkan wajah Nevan yang sedang menahan amarah lengkap dengan hidungnya yang kembang-kempis seperti naga yang sedang mengeluarkan api.


__ADS_2