(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Pelajaran Berharga


__ADS_3

Nevan telah terlihat telah rapi dengan pakaian casualnya. T-shirt lengan pendek berwarna hitam di padukan dengan celana jeans berwarna coklat dengan potongan sebatas lutut. Penampilan yang sederhana namun cukup mampu memanjakan mata setiap gadis yang melihatnya. Sempurna. Kata itu sangat pantas untuk mendeskripsikan seorang Nevan.


Remaja tampan itu menunggu kedatangan Haura dan Bu Lastri di teras depan sambil memainkan benda pipih berbentuk persegi empat miliknya. Sesekali terlihat sebuah senyuman terbit di wajah tampannya. Menatap potret Haura yang diambilnya secara diam-diam tanpa di ketahui oleh si empunya wajah.


Jangan fikir bahwa semua foto Haura di handphonenya adalah foto cantik dengan senyuman sempurna. Karena Nevan mengambil foto candid Haura dengan berbagai pose. Ketika Haura makan, menguap, memejamkan mata, bahkan ketika Haura sedang menekuk wajahnya.


Jemari tangan Nevan asik menggeser layar smartphonenya. Melihat semua koleksi foto Haura yang ada di sana. Jarinya terhenti pada sebuah foto yang menampilkan Haura dengan rambut tergerai dan memakai pakaian pasian.


Ya, itu adalah foto ketika Haura berada di rumah sakit tempo hari. Nevan mendapatkan foto itu dari sepupu cantiknya. Luisa. Tentu saja hal itu tidak gratis, karena Nevan harus membayar sepupu kecilnya itu dengan album terbaru Boy Band Korea yang menjadi favorit Luisa.


“Cantik,” gumam Nevan. Satu kata yang tidak mampu di ucapkannya ketika pertama kali melihat Haura tampil berbeda. Bukan karena tidak ingin mengungkapkan fakta tersebut di depan Haura. Akan tetapi Nevan tidak suka karena kecantikan Haura justru di lihat oleh banyak orang. Apalagi si playboy Gian yang tidak henti-hentinya memuji bahwa Haura benar-benar cantik dengan rambutnya yang tergerai indah. Nevan benar-benar tidak rela.


Netra Nevan masih terpaku pada foto tersebut dan tidak menyadari bahwa seseorang telah berdiri dengan anggun di hadapannya dan menatap aneh pada dirinya.


“Waduh…. Grandma gak salah lihat nih…”


Nevan tersentak mendengar suara grandmanya. Wanita senja berwajah cantik itu telah berdiri di hadapan Nevan dengan tatapan penuh selidik pada cucu tampannya itu.


“Grandma… Kapan grandma tiba?” Tanya Nevan ketika langsung menghamburkan dirinya ke pelukan grandma tersayangnya. Orang yang menemanima selama sepuluh tahun terakhir ini.


“Grandma udah dari tadi berdiri di depan kamu. Eh… kamunya malah senyam-senyum sama handphone sampai gak sadar kalau grandma datang.”


Nevan hanya nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya. Takut-takut grandmanya itu melihat apa yang dia lihat di handphonenya semenit yang lalu. Karena kalau sampai grandmanya tahu maka dapat di pastikan akan terjadi kehebohan se komplek. Bukan tidak mungkin grandmanya itu akan menyebarkan rumor bahwa dirinya menyukai Haura tanpa klarifikasi terlebih dahulu.


Begitulah grandma tersayangnya itu. Selalu menggebu-gebu bagaikan pahlawan revolusioner.


“Maaf grandma, Nevan gak fokus tadi.”


“Emang kak Nevan liatin apa? Kok Lui jadi curiga… Hmmm…” celetuk si gadis centil yang ikut bersama grandmanya ke rumah utama keluarga Sander.


“Kak Nevan gak lagi liatin apa pun.”


“Yakin? Jangan bilang kalau kak Nevan liat…”


“Luisa….” Nevan menatap tajam pada sepupunya itu.


Hal itu justru di balas dengan sebuah pernyataan ambigu yang keluar dari mulut Luisa. “Kak Nevan tenang aja, Lui bisa jaga rahasia kok.” Setelahnya gadis remaja cantik itu mengisyaratkan mengunci rapat mulutnya menggunakan tangannya.


Pembicaraan keduanya justru semakin menambah rasa ingin tahu grandma mereka. Wanita berusia senja itu pun menatap secara bergantian kedua cucunya itu. Pasti ada yang terjadi, begitulah fikirnya.


“Grandma kesini sama siapa?” tanya Nevan untuk mengalihkan pembicaraan karena di lihatnya grandma kembali ingin buka suara membahas ucapan ambigu Luisa.


“Tuh… di jemput Zayn.” Tunjuk grandma dengan menggunakan kedua matanya.


Terlihat Zayn berjalan kearah mereka setelah memarkirkan mobilnya.


“Oooo… Pantesan kak Zayn pagi-pagi udah pergi padahal lagi weekend. Tau nya jemput grandma.”


“Ya iya lah, kan gak mungkin kamu yang jemput. Bangun pagi saja harus dibagunkan pakai beduk masjid. Boro-boro jemput Grandma. Impossible.”


Wanita cantik berusia senja itu tahu betul bagaimana kebiasaan Nevan yang sangat sulit untuk bangun pagi. Setiap harinya selama di Sydney membangunkan Nevan adalah hal paling menjengkelkan bagi Nyonya Ana. Cucunya itu seperti menyumbat telinganya memakai lem setan sampai-sampai tidak mendengar teriakannya setiap pagi untuk membangunkannya.


“Itu dulu Grandma. Sekarang Nevan udah rajin bangun pagi tanpa harus menimbulkan kehebohan seperti dulu.”


Setelahnya Nyonya Ana melihat penunjuk waktu yang tersemat di pergelangan tangannya. Kemudian dahinya yang telah keriput mengerut sedemikian rupa. Menatap penuh tanya pada cucunya itu.


“Are you ok?” tanyanya heran.


“Yes, of course. What’s wrong?” Justru Nevan lebih heran karena pertanyaan neneknya.


“Kamu gak lagi kesurupan setan rajin kan? Ini pukul Sembilan dan kamu udah bangun. Di tambah lagi…” Nyonya Ana menelisik penampilan Nevan yang telah terlihat rapi. Itu artinya Nevan telah bangun sejak tadi.


“Bilang sama grandma, kepala kamu terbentur di bagian mana? Baru aja grandma tinggal tiga bulan tiba-tiba kamu udah rajin gini. Siapa yang udah pukul kepala kamu sampai buat kamu hilang ingatan gini. Buat kamu lupa sama kebiasaan malas kamu,” ucap Nyonya Ana sambil meneliti bagian kepala Nevan. Rambut remaja tampan itu nyaris kembali berantakan karena ulah grandmanya itu.


Bukannya senang, Nyonya Ana justru ketakutan melihat perubahan konstan yang Nevan alami. Selama tiga bulan berpisah dari cucu kesayangannya itu dan dirinya tinggal di rumah anak-anaknya yang lain,  justru mendapat kejutan dengan berubahnya Nevan dari si pemalas akut menjadi si rajin berbudi luhur.


Nyonya Ana masih ingat dengan jelas tiga bulan lalu sebelum dirinya dan Nevan kembali ke Tanah Air, cucunya itu masih sulit untuk bangun pagi. Dan sekarang, di luar dugaannya, pukul Sembilan Nevan telah terlihat rapi dan tampan. Apalagi ini adalah weekend. Hari dimana biasanya Nevan bangun pagi di waktu makan siang akan di mulai. Benar-benar sebuah keajaiban luar biasa.


“Peri darimana yang bisa merubah kamu kayak gini?”


“Bukan peri Grandma, tapi Haura,” jawab Zayn segera setelah ikut bergabung di teras rumah bersama Grandma, Nevan dan Luisa.

__ADS_1


“Haura?” Nyonya Ana mencoba mengingat-ngingat nama yang baru saja di ucapkan oleh cucu sulungnya itu.


“Iya Grandma, kak Haura. Peri-nya kak Nevan.”


Perkataan Luisa justru mendapat balasan berupa tatatapn tajam dari Nevan. Bukannya takut, Luisa malah semakin menjadi-jadi menggoda sepupu tampannya itu.


“Kak Haura itu calon pacarnya kak Nevan. Lui yakin kalau Grandma pasti suka sama kak Haura. Karena kak Haura orangnya baik, sederhana dan pastinya kak Nevan cinta….” Luisa tidak dapat melanjutkan ucapannya karena mulutnya telah di bungkan oleh Nevan. Yang terdengar selanjutnya adalah suara meronta Luisa yang tertahan karena ulah Nevan.


“Dimana gadis yang bernama Haura itu? Grandma penasaran.” Wajah senja Nyonya Ana benar-benar sangat penasaran dengan sosok Haura. Ingin berjumpa langsung dengan gadis remaja yang sepertinya benar-benar bisa merubah Nevan.


Apalagi mengingat satu tahu yang lalu cucu tampannya itu sempat terpuruk karena di tinggal pergi tanpa kabar oleh seorang gadis yang menjadi sahabatnya selama di Sydney. Yang di ketahui oleh Nyonya Ana mereka bersahabat. Akan tetapi Nevan mencintai sahabatnya itu. Alesha. Gadis remaja cantik yang membuat Nevan merasakan kembali rasanya di tinggalkan.


"Itu..." tunjuk Zayn dengan menggunakan matanya.


Haura terlihat menuju teras utama bersama Ibunya. Gadis remaja manis itu berjalan sambil menggandeng tangan Ibunya. Pasangan Ibu dan anak yang begitu manis.


"kak Haura cantik kan Grandma," bisik Luisa pada Grandmanya. Sebenarnya Haura bukanlah gadis yang dapat di kategorikan cantik. Tapi kesederhanaannya justru menjadi daya tarik tersendiri untuk gadis berlesung pipi itu.


Nyonya Ana masih meneliti dengan seksama gadis yang secara perlahan mendekat ke arah mereka. Mengamati wajah Haura yang terlihat manis dengan kesederhanaannya.


"Cantik." Satu kata pujian lolos dari bibir wanita senja itu. Matanya belum bisa terlepas dari Haura.


"Grandma, please jangan bicara yang aneh-aneh. Nevan sama Haura cuma teman. Haura bukan calon pacar Nevan apalagi pacar," tegas Nevan. takut jika Grandmanya akan mengatakan hal-hal yang dapat mempermalukan dirinya di depan Haura.


"Pacar juga gak pa-pa kali kak."


Perkataan Luisa justru mendapat balasan berupa tatapan tajam dari Nevan.


Pasangan Ibu dan anak yang sedari tadi melangkah perlahan sambil membicarakan sesuatu yang entah itu apa tidak menyadari bahwa mereka sedang di perhatikan oleh beberapa pasang mata.


Bu Lastri yang terlebih dahulu menyadari bahwa ada yang mengawasi mereka, mengedarkan pandangannya. Alangkah terkejutnya wanita paruh baya itu melihat di depan rumah utama ada Nyonya Ana. Ibu dari majikannya. Dengan tergesa-gesa Bu Lastri menuju rumah utama untuk menyambut kedatangan Nyonya Ana.


Sikap Ibunya itu tentu saja membuat Haura bingung. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Setelahnya Haura pun sadar bahwa di rumah utama kedatangan tamu istimewa yaitu Ibu dari Tuan Liam. Grandma dari Nevan dan Kak Zayn.


"Maaf Nyonya, saya tidak tahu kalau Nyonya datang berkunjung," ucap Bu Lastri segera ketika langkahnya terhenti di rumah utama.


Perkataan Bu Lastri yang terdengar panik justru mendapat senyuman hangat dari Nyonya Ana. Begitulah keluarga Sander. Meskipun kaya raya akan tetapi selalu memperlakukan semua orang dengan sangat baik. Hal tersebut juga turun secara otomatis kepada cucu-cucu Nyonya Ana. Meskipun Nevan dan Niko yang bersikap terkesan dingin, kedua remaja itu tidak pernah memandang rendah orang hanya karena status mereka.


Detik selanjutnya netra wanita senja itu beralih pada sosok gadis remaja yang berdiri di samping Bu Lastri. Haura disana.


Bu Lastri memberikan kode kepada Haura melalui matanya untuk menyalami Nyonya Ana. Gadis remaja itu pun paham kode yang di lemparkan oleh Ibunya itu.


Haura meraih tangan Nyonya Ana dan menyalami tangan yang sudah mulai terlihat keriput itu dengan takzim. Persis sebagaimana yang biasanya Haura lakukan pada Ibunya.


"Siapa namanya?" tanya Nyonya Ana berpura-pura tidak mengetahui nama Haura.


"Haura Nyonya. Haura Annisa," jawab Haura cepat.


"No... no... no..." Ucap Nyonya Ana sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan kanan. "Grandma. Jangan panggil Nyonya. panggil Grandma saja," titah Nyonya Ana.


Haura tersenyum canggung. Matanya melirik pada ketiga cucu Nyonya Ana yang ada di sana. Haura fikir sangat tidak pantas rasanya jika dirinya memanggil wanita senja itu dengan panggilan yang cucu-cucunya gunakan untuk memanggil Nyonya Ana.


Manik hitam milik Haura beralih kepada Ibunya. Meminta pertolongan bagaimana cara menolak permintaan Nyonya Ana.


"Kamu harus panggil saya Grandma. Ini perintah," tegas Nyonya Ana sekali lagi.


Bu Lastri dan Haura menoleh cepat pada Nyonya Ana yang seakan paham dengan apa yang sedang di fikirkan oleh pasangan Ibu dan anak tersebut.


"I-i-iya Nyonya... Eh.... Maksudnya Grandma," jawab Haura gugup.


"Jadi sekarang cucu perempuan Grandma ada dua."


"Yeayyyy..." Luisa bersorak senang karena hal itu.


"Dan adik perempuan kak Zayn juga ada dua." timpal Zayn dan mengusap gemas puncak kepala kedua gadis remaja tersebut.


"Ngomong-ngomong, ini pada mau kemana?" tanya Nyonya Ana karena melihat Bu Lastri dan Haura sudah rapi.


"Kami mau berbelanja Nyonya," jelas Bu Lastri.


"Dan Nevan mau ikut Bu Lastri dan Haura berbelanja," potong Nevan.

__ADS_1


"Hah...." Semua orang yang ada di sana kecuali Haura melongo kaget karena ucapan Nevan. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan remaja tampan itu.


"Kenapa kaget. Memangnya kalau Nevan mau ikut ada yang aneh, ya?" tanya Nevan polos. Padahal tanpa dirinya bertanya seperti itu, ekspresi orang-orang yang ada di sana sudah cukup mewakilkan dengan keanehan ucapan Nevan.


"Lagi pula Nevan penasaran gimana rasanya berbelanja di pasar tradisional."


"HAHHHH....." Bagai sebuah paduan suara, masih dengan orang-orang yang sama kecuali Haura, mereka ber-hah ria dengan sangat kompak. karena perkataan Nevan selanjutnya.


"Pasar tradisional?" Bu Lastri membeo. Tatapannya langsung beralih pada Haura. Bu Lastri sangat yakin pasti putrinya itu telah membohongi Nevan. Karena dirinya tidak pernah berbelanja bahan makanan di pasar tradisional. Begitulah titah Tuan Liam.


Di tatap sedemikian rupa oleh Ibunya, Haura hanya mampu cengengesan. Binar mata gadis remaja itu memancarkan permohonan agar Ibunya mengikuti permainannya. Bu Lastri menggeleng perlahan. Tanda tidak mau berpartisipasi pada permainan yang putrinya ciptakan.


Bahu Haura merosot sempurna. Rencananya untuk mengerjai Nevan gagal karena Ibunya tidak mau ikut membantu.


"Ide bagus. Sebagai orang Indonesia, Nevan harus tahu bagaimana rasanya berbelanja di pasar tradisional." Suara Nyonya Ana menginterupsi percakapan batin yang terjadi antara Bu Lastri dan Haura.


Zayn menatap tak percaya pada Grandmanya itu. "Ini serius?" tanya Zayn meyakinkan indra pendengarannya tidak salah mendengar.


Bu Lastri juga menampilkan ekspresi terkejut yang sedemikian rupa mendengar ucapan majikannya itu.


Angguk Nyonya Ana sungguh-sungguh. Sebuah senyuman penuh makna terbit di wajah senjanya. Dan Zayn cukup paham maksud dari senyuman Grandmanya itu.


"Kalau kak Nevan ikut. Lui juga mau ikut. Lui juga mau tahu gimana sih pasar tradisional itu."


"Jangan Lui.." cegah Haura cepat.


"Kenapa kak?"


"Karena...." Haura menjeda ucapannya. Gadis itu memilih membisikkan alasannya pada Luisa. Yang justru membuat Nevan semakin penasaran dengan sikap Haura yang seperti itu.


"Oooooo.... jadi di pasar tradisional banyak cowok keren dan tampan. Bagus dong kak Haura. Sekalian Lui cuci mata," ucap Luisa. Haura menatap horor pada Luisa. Bukan itu yang dia bisikkan.


Luisa mengedipkan tipis sebelah matanya. Haura dapat menangkap isyarat itu. Sebenarnya Luisa ingin mengurungkan niatnya untuk ikut. Akan tetapi sudah kepalang tanggung untuk mundur. Niat gadis remaja cantik itu adalah ingin mengerjai sepupu tampannya itu. Nevan.


"Dari pada buang-buang waktu lama dan hari juga semakin siang, lebih baik kalian berangkat sekarang. Dan Bik Lastri jangan ikut. Biarkan anak-anak yang pergi. Hitung-hitung mereka belajar langsung ke lapangan," titah Nyonya Ana.


"Tapi Nyonya..."


"Tidak masalah, Bik. Biarkan Zayn yang menemani mereka. Bik Lastri bisa bantu saya membereskan pakaian saya yang ada di dalam koper."


Bu Lastri melihat koper yang cukup besar di depan pintu utama.


"Baik Nyonya."


"Kamu bisa kan Zayn temani adik-adik kamu belanja?" tanya Nyonya Ana pada cucu sulungnya.


Kini Bu Lastri beralih kepada putrinya, Haura. "Catatan bahan dapur yang harus di beli ada sama kamu kan, nak?"


"Ada, Bu."


"Ya sudah, kamu berangkat sekarang. Jangan ada barang yang lupa kamu beli."


"Iya, Bu." Haura pun menciumi punggung tangan Ibunya dan Nyonya Ana secara bergantian. Setelahnya mengucapkan salam dan siap untuk berangkat.


Nevan dan Luisa berjalan terlebih dahulu memasuki mobil. Baru selangkah berjalan, langkah Haura terhenti karena tangannya di cegat oleh Nyonya Ana. Begitu juga dengan Zayn.


"Kalian harus benar-benar membawa Nevan ke pasar tradisional. Ingat itu. Biar cucu Grandma yang sombong itu tahu bahwa terkadang terlalu memaksakan kehendak akan berakibat buruk untuk diri kita sendiri."


Itulah tujuan utama Nyonya Ana menyetujui permintaan Nevan yang ingin ikut berbelanja di pasar tradisional.


"Siap Grandma." jawab Zayn cepat. Sementara Haura hanya menatap aneh pada Nyonya Ana dan Zayn secara bergantian. Bagaimana bisa mereka begitu kompaknya ingin mengerjai Nevan.


"Saatnya kita memberikan pelajaran berharga pada sahabat kamu yang menyebalkan itu," ucap Zayn pada Haura.


Saat itu juga sebuah senyum merekah menghiasi wajah Haura. Menyetujui saran Zayn. Saatnya untuk Haura mengerjai Nevan akhirnya tiba juga. Ajang balas dendam akan di mulai. Haura bersorak ria dalam hatinya.


"Kalian harus benar-benar memberikan sebuah pelajaran berharga untuk Nevan. Ingat itu."


"Siap..." jawab Zayn dan Haura bersamaan.


Bu Lastri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis fikir dengan konspirasi yang mereka buat untuk mengerjai Nevan.

__ADS_1


__ADS_2