
Flashback
“Kamu mundur dulu, ya!” Pinta laki-laki yang mengaku sebagai anak jalanan itu kepada Haura.
Haura hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Jujur saja saat itu dia sangat takut bahkan untuk mengucapkan satu kata saja dia tidak sanggup. Apalagi di tambah dengan kepalanya yang terasa sangat pusing. Serta rasa perih dari luka di wajahnya akibat tamparan yang dia terima beberapa menit yang lalu.
"Bocah pintar. Kamu bisa jalan sendiri?" tanya laki-laki itu. Matanya menatap iba pada Haura. Gadis di depannya terlihat sangat tidak baik-baik saja. Mata sembab, pipi memar, sobekan di sudut bibirnya dan rambut yang sangat acak-acakan. Sangat memprihatinkan.
Sebenarnya laki-laki itu ingin langsung menggendong Haura untuk menjauhi tempat tersebut. Akan tetapi dia sangat yakin jika dirinya melakukan hal itu, maka gadis remaja di depannya pasti akan takut padanya dan akan berfikir bahwa dirinya sama jahatnya dengan kelima laki-laki kejam yang telah membuat gadis itu benar-benar terluka.
Lagi, Haura hanya menganggukkan kepalanya.
Laki-laki baik itu tersenyum hangat kepada Haura. "Kamu tunggu aku di sana. Ini gak akan lama," ucapnya lagi sambil menunjuk sudut ruangan itu. Tempat yang di maksud laki-laki itu berjarak cukup jauh dari tempat mereka sekarang.
Haura mencoba untuk bangkit. Meskipun sulit karena seluruh tubuhnya masih bergetar hebat akibat ketakutan. Tapi gadis itu tetap mencoba untuk berjalan sendiri. Tak ingin meminta pertolongan pada laki-laki baik yang saat ini terus mengawasinya.
Bukan ingin terlihat kuat, tapi sebenarnya Haura juga merasa takut pada laki-laki baik itu. Pasalnya Haura tidak mengenalnya. Apalagi penampilan laki-laki itu sama berantakannya dengan kelima laki-laki jahat yang baru saja menyakitinya. Meskipun laki-laki di hadapannya saat ini bersikap sangat baik padanya, tapi Haura tetap harus waspada.
Melihat Haura yang sangat kesulitan berjalan, laki-laki itu langsung menolongnya. Hal itu sontak saja membuat Haura terkejut. Matanya membola sempurna melihat laki-laki itu telah memapahnya tanpa permisi.
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu." ucapnya dengan tersenyum hangat kepada Haura.
Detik itu Haura menyadari bahwa laki-laki baik yang menolongnya ternyata sangat tampan. Wajahnya sangat tidak pantas jika di sebut sebagai anak jalanan. Tapi di saat seperti ini, tentu saja bukan saat yang tepat untuk mengagumi wajah laki-laki itu. Mereka sedang berada di situasi yang sangat berbahaya.
"Kalau kamu takut, kamu bisa tutup mata kamu rapat-rapat. Aku akan membalas semua perbuatan mereka sama kamu."
Setelah memastikan Haura telah berada di tempat yang aman, laki-laki itu kembali kepada kelima laki-laki jahat yang menyakiti Haura. Tanpa rasa takut laki-laki itu kembali mengayunkan langkahnya kembali ke tempat dirinya berada beberapa menit yang lalu. Tujuannya adalah membuat perhitungan dengan kelima laki-laki pengecut yang telah menyakiti seorang gadis kecil.
"Apa harus kita lanjutkan?" tanya laki-laki baik tersebut.
"Ckkkk.... Mending lo mundur. Mau jadi pahlawan kesiangan lo?" hardik laki-laki yang tadinya hendak melecehkan Haura lengkap dengan matanya menatap tajam pada lawan bicaranya.
"Wowwww..... Slow down man," ucap laki-laki baik itu dengan senyum mengejek di wajahnya. "Kalau gue gak mau mundur, lo mau apa? Lagian lo semua beraninya sama cewek doang. BANCI."
"Oke kalau lo memang ngajak kita ribut."
Tanpa basa-basi lagi perkelahian antara satu lawan lima tidak dapat di hindari. Haura mengamati pertarungan yang terjadi dengan rasa takut yang takterhingga. Meskipun laki-laki penolongnya memintanya untuk menutup mata rapat-rapat, tapi Haura tetap ingin menyaksikan perkelahian yang tidak seimbang tersebut.
Gadis itu sangat khawatir jika laki-laki baik yang menolongnya akan terluka karena dirinya dan tidak dapat mengalahkan mereka maka sudah dapat di pastikan bahwa dirinya akan kembali berada dalam bahaya.
Sembari mengamati dengan dada yang berdebar, Haura tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan agar mereka selamat. Dirinya dan laki-laki baik yang menolongnya.
Bughhh.... Bughhh.... Bughhh....
Pukulan demi pukulan silih berganti mereka terima. Meskipun perkelahian itu terjadi anatar satu lawan lima, akan tetapi sejauh ini yang bisa di katakan pemenang adalah laki-laki baik yang menolong Haura. Ternyata benar kata BANCI memang pastas di sematkan pada kelima laki-laki jahat tersebut. Buktinya melawan satu orang saja mereka tidak sanggup.
Ke empat gadis remaja yang tadinya begitu menggebu-gebu menyakiti Haura, terlihat begitu gusar karena teman-teman mereka mulai kewalahan melawan satu orang. Tanpa memperdulikan Haura lagi, mereka pun memilih pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Setelah cukup lama berkelahi akhirnya kelima laki-laki jahat tersebut tumbang. Mereka kalah telak. Bukan seperti film Hindia dimana pemeran utamanya tidak terluka sama sekali. Buktinya laki-laki baik yang menolong Haura juga cukup babak belur.
Pelipis laki-laki itu berdarah, luka sobekan di sudut bibirnya dan juga wajahnya yang lebam hingga membuat wajah tampannya terlihat begitu memprihatinkan.
Dengan sedikit sempoyongan, laki-laki baik itu menghampiri Haura.
Gadis remaja itu menatap laki-laki itu dengan tatapan berterimakasih juga tatapan yang penuh rasa bersalah.
"Kita pulang." Ucap laki-laki itu ketika telah berada di hadapan Haura dengan tangannya menjulur pada Haura.
Haura mendongakkan wajahnya, menatap sedih pada laki-laki baik yang telah babak belur karena menolong dirinya.
Lagi-lagi Haura hanya menggangguk sebagai jawaban. Mata gadis itu kembali berembun. Akhirnya Haura selamat. Haura segera menyambut uluran tangan laki-laki baik itu. Menggenggamnya erat dan berusaha untuk berdiri. Dengan sigap laki-laki itu kembali membantu Haura berdiri.
Laki-laki itu langsung merangkul pundak Haura dan memapahnya untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Meskipun pemandangan yang terjadi saat itu antara Haura dan laki-laki itu adalah saling memapah antara satu sama lain. Mereka sama-sama terluka.
Sambil tertatih laki-laki itu membawa Haura menuju halaman belakang rumah tua tersebut. Disana ada sebuah motor sport yang Haura yakini bahwa itu milik laki-laki yang menolongnya.
"Terimakasih." Ucap Haura lirih. Hanya kata itu yang mampu di ucapkan oleh Haura. Gadis itu kembali menangis sesenggukan.
Mendengar ucapan Haura, laki-laki itu menghentikan langkahnya. Kini dia berdiri tepat di hadapan Haura. Tanpa permisi laki-laki itu menangkup wajah gadis remaja yang sedang menangis sesenggukan di hadapannya.
"Kamu jangan nangis lagi. Semuanya udah berakhir. Jangan takut." Tangan laki-laki itu mrnghapus air mata yang membasahi wajah pucat Haura. Jemarinya mengelus lembut sudut bibir Haura yang terluka. Ada jejak darah yang sudah mengering di sana.
Haura pun ikut menghapus air matanya. Bahkan Haura menggunakan punggung tangannya ujung mengelap ingusnya. Tanpa merasa malu pada laki-laki di depannya saat ini.
"Siapa nama kamu?"
"Haura. Nama aku Haura, kak." ucap Haura. Manik hitam miliknya menatap langsung wajah laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Aku Farel."
"Terimakasih kak Farel. Dan maaf."
Laki-laki yang bernama Farel itu pun mengernyitkan dahinya mendengar permintaan maaf Haura.
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Maaf, karena kak Farel terluka karena nolongin Haura." Ucap Haura dengan suara parau. Gadis itu ingin kembali menangis. Kejadian yang di alaminya beberapa waktu yang lalu benar-benar membuatnya takut.
"Hei bocah. Jangan kamu fikir semua ini gratis."
Ucapan Farel sontak membuat Haura memundurkan langkahkah menjauhi laki-laki itu. Fikirannya kembali kalut. Rasa takut kembali menyelimutinya.
"Ma...Maksud kak Farel apa?" tanya gadis itu dengan terbata-bata.
"Aku nolongin kamu bukan berarti aku gak minta imbalan apapun."
__ADS_1
Haura meremas ujung bajunya. "Haura gak punya apa-apa untuk membayar kak Farel."
"Aku gak minta bayaran berupa uang." Farel melangkahkan kakinya mendekati Haura. Melihat hal itu, Haura kembali melangkah mundur. Dia fikir hal buruk lainnya pasti akan terjadi padanya.
"Jadi aku harus bayar pakai apa?" Cairan bening kembali menggenang di kelopak matanya.
"Kamu bisa membayar dengan menggunakan diri kamu sendiri."
"Gak... aku gak mau."
Haura berbalik hendak berlari meninggalkan laki-laki bernama Farel. Tapi gerakannya kalah cepat, Farel terlebih dahulu mencekal pergelangan tangan Haura hingga gadis itu tidak dapat melarikan diri.
"Kak, tolong lepasin aku. Aku akan bayar, tapi aku mohon biarin aku pulang dulu. Aku akan cari uang untuk bayar kak Farel. Tapi aku gak mau bayar menggunakan diri aku. Aku gak mau." Dalam batinnya gadis itu sangat menyesal karena telah menerima pertolongan dari Farel. Ternyata tidak ada orang yang benar-benar tulus padanya. Itulah yang Haura fikirkan.
Farel menyunggingkan sebuah senyuman kecil mendengar perkataan Haura. Laki-laki itu dapat menebak apa yang sedang di fikirkan oleh bocah kecil di hadapannya.
"Kamu gak perlu cari uang untuk bayar aku. Karena aku gak butuh uang kamu. Yang aku butuhkan adalah kamu." Bukannya melerai kesalah pahaman Haura, kata-kata Farel justru menambah kesalah pahaman Haura terhadap dirinya.
"Kak Farel, aku janji akan mendapat uangnya segera. Tapi aku mohon jangan sakiti aku. Aku akan berusaha untuk kerja supaya bisa...."
"Aku mau kamu jadi adik kecil aku," potong Farel cepat.
Haura mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Menatap penuh tanda tanya pada laki-laki yang kini sedang memegang kedua pundaknya.
"Kamu mau kan jadi adik kecil aku?" Farel kembali memberikan pertanyaan yang sama.
"Kak Farel..."
"Dasar bocah. Jangan berfikiran macam-macam." Ucap Farel sambil mengusap gemas puncak kepala Haura. Hari itulah pertama kalinya Farel memanggil Haura dengan sebutan bocah.
"Bukannya kak Farel mau aku untuk..." Haura tidak melanjutkan ucapannya. Dirinya benar-benar telah salah paham pada Farel.
"Aku gak akan nyakitin kamu. Aku akan melindungi kamu, Haura." Setelah mengatakan itu, Farel pun beralih ke sisi belakang tubuh Haura.
Tanpa diguga-duga ternyata Farel merapikan rambut Haura yang terlihat sangat acak-acakan.
"Haura mau kak. Haura mau jadi adik kecil kak Farel." Tanpa meminta waktu untuk berfikir, Haura justru mengiyakan permintaan Farel. Bagi gadis itu, Farel memang benar-benar laki-laki yang baik.
Mendengar kata-kata Haura, Farel tersenyum simpul sambil terus mengikat rambut panjang Haura.
"Sekarang kita pulang. Ayo!" Farel kembali memberikan tangannya kepada Haura.
Gadis itu pun langsung menyambut tangan Farel. Tidak ada lagi rasa takut. Dalam hatinya Haura terus mengucap syukur karena Tuhan benar-benar mengirimkan seorang penyelamat yang baik hati untuknya.
Hal lain yang Haura khawatirkan adalah bagaimana cara menjelaskan pada Ibu dan Ayahnya nanti. Mungkin inilah saatnya untuk Haura berkata jujur pada Ibu dan Ayahnya tentang apa yang di alaminya di sekolah selama ini.
Laki-laki itu menggenggam erat tangan gadis remaja yang baru di kenalnya beberapa saat lalu. Entah kenapa, Farel benar-benar merasa ingin melindungi Haura. Melindungi gadis remaja itu agar tidak tersakiti oleh siapapun. Siapapun.
__ADS_1
Aku akan melindungi kamu dengan caraku, batin Farel.