(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Tunggu Aku


__ADS_3

Author selalu berharap readers meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan tambahkan ke favorit kalian.


Happy reading guys... Have a nice day...


“Kita ke Sydney yuk, Ra?” tanya Nevan pada Haura yang sedang menikmati ice cream rasa cokelat di tangannya. Haura duduk di samping Nevan.


“Ke Sydney… Untuk apa?” tanya Haura seolah merasa bingung


“Liburan. Untuk apa lagi.” Nevan berucap dengan santainya. Seolah Sydney berjarak seperti Jakarta ke Bandung.


Mereka sedang menikmati senja di sebuah taman. Rencana awalnya mereka hanya ingin jalan-jalan melepas rasa bosan karena tidak ada kegiatan selama libur sekolah.


Sebenarnya hanya Nevan yang bosan. Sementara Haura tidak sekalipun merasa bosan karena libur sekolah. Malah Haura sangat bahagia karena punya banyak waktu untuk membantu meringankan pekerjaan Ibunya.


Ini sudah menjadi ajakan Nevan untuk kesekian kalinya. Sudah beberapa hari Nevan mengajak Haura untuk ikut bersamanya ke Sydney. Nevan begitu merindukan grandmanya. Namun dirinya ingin mengajak Haura untuk ikut bersamanya. Mengajak sahabat kecilnya itu menikmati kota dimana ia dibesarkan. Nevan begitu ingin menghabiskan waktu bersama Haura.


“Kenapa kamu selalu menolak ajakan aku?” tanya Nevan pada Haura. Perhatian gadis itu hanya tertuju pada ice cream di tangannya. Dan juga beberapa anak kecil yang berlarian kesana kemari.


“Emmm….” Haura mengedikkan bahunya.


“Ayolah Ra… Mau ya… Plisss…” mohon Nevan lagi.


Setelah menghabiskan ice cream favoritnya, Haura menatap Nevan. Laki-laki di sampingnya itu sedang memasang wajah memohon. Berharap Haura bersedia menerima ajakannya.


“Aku gak mau ikut, Van. Kalau aku pergi kasian Ibu sendirian. Lagian aku senang kalau ada waktu libur kayak sekarang, karena aku bisa punya banyak waktu bersama Ibu.”


Nevan menghembuskan nafas kasar. Nevan telah menduga bahwa inilah alasan utama Haura menolak ajakannya.


“Lagian aku belum pernah naik pesawat. Aku takut. Sydney bukanlah tempat yang dekat. Itu sangat jauh.” Haura berkata jujur sambil tersenyum kaku memamerkan deretan gigi putihnya.


“Ngebayangin naik pesawat aja aku gak pernah, Van. Nah kamu malah ngajak aku ke Sydney,” sambung Haura lagi.


“Makanya aku ngajak kamu, biar kamu tahu gimana rasanya naik pesawat,” Nevan mulai kesal dengan perkataan Haura. “Nanti aku izin deh ke Ibu kamu.”


“Gak usah Van. Kamu gak usah minta izin ke Ibu. Karna aku memang gak mau ikut kamu. Tolong mengerti ya Nevan.”

__ADS_1


Haura yakin dengan pasti jika Nevan meminta izin pada Ibunya, sudah barang pasti Ibunya akan memberikan izin. Bukan karena tidak ingin menolak permintaan Nevan. Akan tetapi Ibunya ingin Haura menikmati masa remajanya. Bukan malah terjebak dengan berbagai pekerjaan rumah seperti sekarang.


Satu hal lagi yang membuat Haura tidak mau menerima ajakan Nevan. Disana ada Nyonya Vania dan juga teman-teman Nevan lainnya dan secara tidak langsung adalah teman-temannya juga. Dirinya benar-benar merasa canggung jika bergabung bersama mereka. Seperti ketika hari pengambilan raport.


Bahkan membayangkan hari itu saja membuat Haura merasa sangat malu. Dirinya bagaikan seorang dayang dalam lingkaran para pangeran dan tuan putri. Haura tidak ingin lagi hal itu terulang kembali.


“Aku akan pergi selama satu minggu,” ucap Nevan lagi.


Sementara Haura hanya mengangguk.


“Kamu gak masalah aku tinggal selama seminggu?”


“Memangnya aku kenapa?”


Nevan menautkan kedua alisnya. Berharap Haura akan merespon dengan cara lain. “Kamu gak kangen aku kalau aku tinggal selama seminggu?”


Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya. Membuat Nevan semakin kesal.


“Ckkkk…. Nanti pasti kamu nangis karena kangen sama aku.” Sungguh pernyataan yang penuh dengan kepercayaan diri.


Nevan terdiam karena perkataan Haura. Remaja laki-laki itu menerawang pada masa kanak-kanaknya. Ketika dirinya bermain bersama gadis di sampingnya saat ini. Juga ketika mereka berpisah karena Nevan harus pergi bersama grandmanya.


Untuk sesaat keduanya saling terdiam. Haura memandang langit senja. Semburat jingga perlahan demi perlahan mulai menghiasi cakrawala. Siap menghantarkan keindahan sesaat. Senja tidak pernah menjanjikan keabadian. Namun hadirnya siap memberi ketenangan. Hanya sesaat.


Bagi Nevan wajah Haura justru menjadi pemandangan yang indahnya mengalahkan senja. Bagai magnet yang selalu menariknya untuk mendekat. Menatap lekat wajah polos Haura.


“Apa selama sepuluh tahun kamu gak pernah memikirkan aku, Haura?” tanya Nevan. Mengalihkan tatapan Haura kepadanya.


Nevan memalingkan wajahnya. Menatap lurus ke depan. “Apa kamu sama sekali gak pernah kangen sama aku?”


Haura tertegun pada pertanyaan Nevan. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Nevan akan menanyakan hal tersebut.


Tentunya sungguh sebuah kebohongan bila Haura mengatakan bahwa dirinya tidak pernah memikirkan Nevan. Terlebih lagi ketika ia dan Ibunya mulai menetap di rumah keluarga Nevan. Haura selalu memikirkan sahabat masa kecilnya itu.


“Pernah,” jawab Haura.

__ADS_1


Nevan tersenyum bahagia. Nevan tahu bahwa Haura tidak berbohong. Satu kata sebagai jawaban Haura membuat dirinya merasa mempunyai arti dalam hidup gadis yang masih di anggap sebagai sahabatnya itu.


“Aku sering,” ucap Nevan.


“Aku sering memikirkan kamu,” jujur Nevan lagi.


“Aku selalu memikirkan bagaimana wajah Haura sekarang. Apa dia masih mengingatku. Apa dia baik-baik saja disana. Apa dia masih cengeng.. Dan apakah dia merindukan aku” Tutup Nevan. Senyuman manis menghiasi wajah tampan Nevan.


Haura seperti kehilangan kata-kata mendengar ucapan Nevan. Ditambah lagi tatapan mata biru milik Nevan seperti menghanyutkannya ke samudra luas. Haura tidak dapat mengartikan makna dari tatapan Nevan sekarang.


Gadis itu tidak pernah menyangka bahwa Nevan yang dia anggap telah melupakannya, justru selama ini masih mengingatnya. Batin Haura ingin sepenuhnya percaya bahwa yang Nevan katakana adalah sebuah kejujuran. Ya, Nevan pasti jujur dengan ucapannya.


“Aku selalu kangen kamu, Ra.” Nevan mencubit gemas hidung Haura. Mencoba mencairkan suasana.


“Sakiittt…” Protes Haura.


“Biar mancung Haura,” Nevan tertawa sementara Haura merasa kesal.


Waktu terus berputar. Bahkan jingga hendak beranjak meninggalkan cakrawala. Mempersilahkan malam datang menemani rembulan. Sudah waktunya kedua remaja itu untuk pulang.


Di perjalanan mereka hanya saling terdiam. Hanya suara motor milik Nevan dan kendaraan lainnya yang terdengar menemani perjalanan mereka berdua. Haura mencoba menghirup dalam-dalam aroma parfum Nevan. Dalam benaknya membenarkan perkataan Nevan bahwa dirinya pasti akan merindukan Nevan. Pun begitu juga dengan Nevan.


Haura telah menjadi bagian dalam keseharian Nevan. Bahkan belum pergi pun Nevan sudah sangat yakin bahwa dirinya pasti akan terus memikirkan Haura.


“Aku pasti kangen kamu, Ra,” Ucap Nevan. Indra pendengaran Haura dapat menangkap dengan jelas perkataan Nevan.


“Aku juga,” jawab Haura. Nevan tersenyum bahagia mendengar jawaban gadis yang sedang memeluknya itu. Nevan mengusap lembut tangan Haura.


“Aku gak akan lama disana. Cuma satu minggu. Tunggu aku pulang ya, Haura. Tunggu aku pulang untuk untuk kamu. Dan jangan nangis kalau kangen aku.”


“Hmmm…”


Bagai sebuah janji dari seorang laki-laki untuk perempuan yang sangat di cintainya. Janji itu terucap begitu saja bagai keyakinan akan sebuah kepastian. Tentunya sebuah janji yang tulus dari Nevan untuk Haura. Sebuah janji yang entah akan terpenuhi atau tidak nantinya. Sebuah janji yang akan menjadi harapan bagi Haura. Juga mungkin luka baginya.


Tanpa Haura ketahui Sydney menjadi kota yang pernah memberikan luka yang teramat bagi Nevan. Kota yang menyembunyikan seseorang yang Nevan yakini sebagai cinta pertamanya. Seseorang yang namanya mempunyai arti yang sama besarnya seperti Haura dalam hidup Nevan.

__ADS_1


__ADS_2