(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Ketulusan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Nevan dan Haura masih berada di sekolah mereka. Tepatnya berada di dalam pos keamanan. Setelah drama panjang untuk menemukan Haura, hingga kini kedua remaja itu masih terjebak disana. Mereka belum bisa segera pulang. Hujan malam itu belum juga reda sepenuhnya. Masih menyisakan gerimis tipis-tipis. Sedangkan jarum jam juga seolah berputar lebih cepat dari biasanya. Kini jarum pada penunjuk waktu yang terdapat di dalam pos keamanan telah berada tepat di angka dua belas. Artinya sekarang tengah malam.


Haura tertidur dengan posisi duduknya dan dalam pelukan Nevan. Dada bidang Nevan menjadi sandaran untuk Haura. Selimut tebal milik petugas keamanan sekolah membalut tubuh gadis remaja itu yang menggigil dengan sempurna.


Sesekali Haura mengigau memanggil Ibu dan Ayahnya. Akibat kejadian tadi, Haura terserang demam tinggi. Bahkan cedera kakinya terlihat semakin memburuk karena tidak kunjung mendapatkan pertolongan.


Tentu saja Haura berda di pos keamanan dengan di gendong oleh Nevan karena kaki gadis itu benar-benar tidak bisa berjalan.


Setidaknya sekarang Haura sudah bisa memejamkan matanya dengan tenang tanpa perlu merasa takut lagi karena terkunci di dalam ruangan seorang diri.


Sementara itu, Nevan telah menghubungi Bu Lastri untuk memberitahu bahwa saat ini Haura bersamanya dan dalam keadaan baik-baik saja. Nevan terpaksa berbohong agar Ibu Haura tidak panik disana. Nevan sangat yakin, bahwa Haura juga akan mengatakan hal yang seperti dirinya katakan agar Ibunya tidak merasa gelisah.


Sebenarnya Nevan juga merasa sangat kedinginan akibat kehujanan sepanjang perjalanan tadi. Bahkan baju yang Nevan kenakan sekarang sudah hampir kering di tubuhnya. Tapi dia tidak mungkin berbagi selimut bersama Haura. Apalagi saat ini Haura terkena demam. Remaja laki-laki itu bersedia kedinginan asalkan Haura bisa merasa lebih baik.


Sejak tadi tangan Nevan tidak pernah henti-hentinya mengelus lembut puncak kepala Haura. Manik coklat miliknya seakan tak ingin berpaling kemana pun agar bisa terus mengawasi Haura yang sedang tertidur dalam pelukannya.


Sebuah kendaraan memasuki gerbang sekolah dan berhenti tepat di depan pos keamanan. Dapat di pastikan bahwa itu adalah sebuah mobil. Sorot lampu kendaraan itu sangat menyilaukan mata. Nevan menggunakan tangannya sebagai penghalang agar cahaya lampu dari kendaraan tersebut tidak menyilaukan matanya.


Dua orang remaja laki-laki seusia Nevan keluar dari mobil itu. Niko dan Gian. Ketika menerima kabar bahwa Haura belum juga pulang, Niko yang ikut mencari Haura langsung menghubungi Gian untuk menemaninya mencari Haura.


Gian sempat merasa heran dengan ajakan Niko. Pasalnya Haura bukanlah teman baik mereka. Akan tetapi keheranannya itu sirna seketika ketika Niko mengatakan Nevan telah pergi mencari Haura terlebih dahulu. Gian paham bahwa Niko melakukan itu untuk Nevan.


Tanpa banyak bertanya lagi, Gian segera menerima ajakan Niko. Karena dirinya yakin pasti sesuatu yang tidak baik sedang terjadi. Begitulah mereka bertiga. Jika salah satunya mengalami kesulitan, maka yang lainnya pasti ikut andil dalam mengatasi kesulitan tersebut. Persaudaraan dan persahabatan yang luar biasa. Karakter Nevan, Niko dan Gian yang sangat berbeda jauh seakan menjadi sesuatu yang saling melengkapi antara satu dan yang lainnya.


"Gimana keadaan Haura?" tanya Niko ketika telah ikut bergabung di dalam pos keamanan yang berukuran tiga kali empat meter tersebut. Berdesakan. Itulah pemandangan yang dapat di lihat dalam pos keamanan itu sekarang.


"Dia demam dan kakinya...."Nevan melirik pergelangan kaki Haura yang cedera juga memar di sekitar lutut Haura. "Dia juga gak bisa jalan." Nevan menatap sendu ke arah Haura yang masih terlelap dalam dekapannya. Sesekali terdengar gadis tui meringis kesakitan dalam tidurnya.


"Kenapa bisa kayak gini sih, Van?" Gian mengikuti arah pandang Nevan yang tertuju pada kaki Haura. "Kenapa bisa dia terkunci di dalam sana? Dan kakinya..." Gian tidak melanjutkan perkataannya karena melihat raut wajah Nevan yang menggambarkan kekhawatiran yang luar biasa.


Lebih kurang Nevan telah menceritakan kronologi kejadian kepada Niko dan Gian melalui panggilan telepon sebelum kedua sahabatnya itu tiba di tempat mereka sekarang.


"Gue gak tau, Gi. Yang pasti setelah ini gue bakalan cari tau tentang semua yang terjadi." Nevan mempererat pelukannya kepada Haura tanpa peduli ada Niko dan Gian disana. Tanpa di sadari oleh Nevan kedua sepupunya itu sedang memberikan tatapan penuh selidik kepadanya.


Melihat sikap Nevan yang seakan sangat menyayangi Haura, siapa pun yang melihat hal itu pasti akan berfikir bahwa Haura adalah pacar Nevan. Bukan hanya sebatas teman.


"Kita haurus segera bawa Haura ke rumah sakit," ucap Niko.


Nevan tersentak ketika mendengar ucapan Niko. Benar, kenapa dia sampai lupa untuk segera membawa Haura ke rumah sakit. Padahal sejak tadi tujuannya menghubungi kedua sahabatnya dan juga kak Zayn adalah agar bisa segera membawa Haura ke rumah sakit.


Drttt.... Drttt.... Handphone Nevan kembali berdering.


Kak Zayn yang menghubunginya.


"Van, kamu dimana?" tanya Zayn kepada adiknya tanpa basa-basi.


"Nevan masih di sekolah, kak."


"Kenapa masih disana? kakak sedang menunggu kedatangan kalian di rumah sakit. Kamu segera membawa Haura kesini. Niko dan Gian udah disana, kan?" Zayn seakan mendikte apa yang harus di lakukan Nevan.


Memang tadi Zayn meminta Niko dan GIan untuk menjemput Nevan di sekolah mereka. Sedangkan dirinya segera menuju ke rumah sakit untuk meminta tim dokter untuk segera memberikan penanganan ketika Haura tiba disana.


Kenapa bisa? Tentu saja bisa. Karena rumah sakit yang akan di tuju oleh Nevan adalah rumah sakit milik Sander Group.


Zayn memang sangat menyayangi Haura. Meskipun mereka berasal dari keluarga terpandang, tapi Tuan Liam selalu mengajarkan anak-anaknya untuk peduli kepada sesama dan menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan.

__ADS_1


Apalagi mengingat Ibu dari Zayn dan Nevan bukanlah seorang wanita yang berasal dari keluarga terpandang. Nyonya Amira adalah seorang wanita biasa yang tumbuh besar di sebuah panti asuhan. Bagi Tuan Liam status bukanlah sebuah masalah penting selama orang tersebut memiliki etika dan hati yang baik.


"Udah kak, Niko dan Gian udah disini dan kami akan segera ke rumah sakit." Setelahnya Nevan langsung mengakhiri panggilan tersebut.


Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada kedua petugas keamanan yang berjaga di sekolah mereka, dengan sigap Nevan kembali menggendong tubuh Haura.


Merasa dirinya seakan melayang, Haura pun dengan perlahan membuka kedua bola matanya. "Kita mau kemana?" tanya gadis itu dengan suara seraknya. Haura seakan lupa bahwa saat ini mereka masih di sekolah.


"Kita ke rumah sakit. Kaki kamu harus segera di obati."


"Rumah sakit?" Haura menautkan alisnya. Sedetik kemudian Haura seakan paham bahwa saat ini dia memang harus ke rumah sakit.


"Ibu..."


"Aku udah menghubungi Ibu. Jadi tenanglah." Nevan segera memotong perkataan Haura.


Haura kembali memejamkan matanya dan mengalungkan tangannya ke leher Nevan. Gadis itu tidak ingin berkata apapun lagi karena sakit yang dirasakannya semakin menjadi-jadi. Bukan hanya kakinya tapi juga di seluruh tubuhnya. Dia hanya diam saja membiarkan Nevan membawanya memasuki sebuah mobil yang dia yakini bahwa itu adalah milik kak Zayn karena Haura tidak sempat melihat dengan jelas si pemilik mobil tersebut.


“Kita berangkat.” Sebuah suara laki-laki selain Nevan terdengar dan itu buka suara kak Zayn. Haura langsung membuka kembali matanya.


Segera dia dapat mengenali siapa pemilik suara itu. Niko yang saat ini berada di kursi pengemudi dan juga di sebelahnya ada Gian.


Haura menatap Nevan yang duduk di sebelahnya. “Kenapa?”


“Mereka berdua ikut bantuin aku untuk cari kamu.” Lagi-lagi Nevan kembali memotong perkataan Haura.


“Terimakasih,” ucap Haura dengab penuh ketulusan kepada kedua sepupu sekaligus sahabat Nevan itu.


“Gak masalah, Ra. Kamu gak perlu ngerasa gak enakan gitu,” jawab Niko segera sembari menghidupkan mobilnya untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


Perasaan Haura menghangat mendengar perkataan Gian. Entah itu jujur ataupun sebuah kebohongan, Haura tidak peduli. Yang dia yakini bahwa Nevan benar-benar mengkhawatirkannya.


Gadis remaja itu menatap Nevan yang duduk di sebelahnya.


Mendapat tatapan dari Haura, Nevan seakan mati gaya. "Ehemmmm.... kejadiannya gak seperti itu. Semua yang Gian bilang....."


"Bohong kan?" Kini giliran Haura memotong perkataan Nevan. Gadis itu tersenyum di tengah-tengah rasa sakit


yang menghantam tubuhnya.


"Bohong kan, Van?" tanya Haura lagi.


"Emmmm.... semuanya bohong." Ucap Nevan. Kemudian remaja tampan itu memejamkan matanya. Pertanda dirinya ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka.


Haura hanya tersenyum melihat tingkah Nevan. Mode gengsi seorang Nevan mulai ON.


Niko dan Gian juga tersenyum penuh makna. Sekarang mereka berdua sekamin yakin dengan kecurigaan mereka.


"Stop ngetawain gue." Ucap Nevan seakan tahu bahwa mereka bertiga menertawakannya meskipun mata Nevan


masih terpejam.


"Kamu tidurlah." Nevan menarik kembali Haura ke dalam pelukannya.


Tangannya yang tiba-tiba di tarik oleh Nevan membuat Haura gelagapan. Karena sekarang dirinya kembali berada dalam pelukan Nevan. Sedangkan di depan mereka ada Niko dan Gian. Rasa malu melanda Haura.

__ADS_1


"Apaan sih, Van. Gak perlu peluk-peluk gitu," protes Haura dengan wajah yang mulai bersemu merah menahan malu.


"Apanya yang apa-apa-an. Bukannya dari tadi kamu yang peluk-peluk aku." Nevan seakan kembali menemukan hal yang menjadi favoritnya, yaitu menggoda Haura. "Kamu lupa ya Ra, siapa yang tadi peluk aku sambil nangis-nangis?"


"Bukannya kebalik. Kan kamu yang duluan peluk aku." Skakmat. Haura membalas Nevan telak. Dalam sekejap Haura seakan telah melupakan rasa sakitnya demi membalas perkataan Nevan yang baginya sangatlah memalukan.


Kecanggungan yang terjadi di antara kedua remaja itu selama tiga hari yang lalu seakan telah hilang tersiram oleh hujan malam itu.


Haura mendekatkan tubuhnya ke arah Nevan. Soktak saja Nevan memundurkan tubuhnya sedikit sebagai respon atas gelagat aneh dari Haura. "Tenang Haura ada aku disini." Haura kembali mengulang perkataan Nevan beberapa waktu yang lalu sambil mengusap puncak kepala Nevan.


"Gitu kan yang tadi kamu bilang ke aku?" tanya Haura sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Hahahaha...." tawa Niko dan Gian pecah mendengar perkataan Haura. Nevan benar-benar kehilangan kata-kata. Dia kalah telak. Niatnya ingin menggoda Haura, justru dirinya yang terperangkap dengan ulahnya sendiri.


"Niko, kita gak jadi ke rumah sakit."


Mendengar perkataan Nevan sontak saja Niko segera menepikan mobilnya.


"Kenapa, Van?" tanya Niko heran.


"Haura udah sembuh." Ucap Nevan lagi.


"Hah...." Haura, Niko dan Gian melongo sempurna mendengar perkataan Nevan.


"Haura udah sembuh. Buktinya dia udah bisa berkicau lagi. Itu tandanya dia gak perlu lagi dokter."


"Awwww.... kaki aku sakit, Van." Terdengar Haura kembali meringis kesakitan sambil memegang pergelangan kakinya yang membengkak. Niatnya adalah untuk mengerjai Nevan.Meskipun faktanya kakinya memang benar-benar sakit.


"Haura, harusnya kamu gak usah banyak gerak." Nevan kembali panik. Tanpa permisi Nevan meletakkan kaki Haura ke pangkuannya. Remaja tampan itu mengusap lembut pergelangan kaki Haura.


"Sakit?" tanya Nevan lirih.


"Emmmm...." Gadis remaja itu tidak dapat mengatakan apapun lagi karena sikap Nevan yang seakan sangat mengkhawatirkan dirinya.


Niko dan Gian memilih bungkam. Mereka tidak ingin berkata apapun melihat sikap Nevan yang begitu peduli kepada Haura. Biarlah Nevan sendiri yang akan memahami perasaannya itu.


Haura kembali memejamkan matanya sebelum kedua manik hitam miliknya kembali menumpahkan cairan bening. Nevan seakan menjebaknya dalam ketulusan yang menyakitkan.


-


-


-


-


-


-


-


Hai readers..... part ini aku tulis dengan susah payah loh. Maaf kalau sedikit mengecewakan. Aku harap kalian suka.


Happy reading. Love you banyak-banyak

__ADS_1


Salam sayang dari Aceh.


__ADS_2