
Haura begitu sibuk dengan tumpukan pakaian yang sedang dijemurnya. Sesekali bibir gadis remaja tersebut terlihat komat kamit seperti merapalkan sebuah mantra. Netra Haura juga beberapa kali beralih pada sebuah buku yang terbuka dan diletakkan pada sebuah kursi panjang yang ada di area penjemuran. Kursi yang memang di peruntukkan agar siapapun yang sedang menjemur pakaian dapat beristirahat sejenak apabila merasa lelah.
Sambil terus menjemur tumpakan pakaian yang berada di dalam keranjang, Haura tidak hentinya memilirik buku tersebut dan mulutnya juga terus berkomat kamit. Tidak ada siapapun disana. Hanya Haura dan juga mantra yang di rapalkan oleh gadis remaja itu.
Terdengar Haura berguman tentang teori Hukum Perbandingan Tetap dan Hukum Perbandingan Berganda. Itu merupakan materi mata pelajaran Kimia. Ya, itulah yang sedang Haura lakukan, bekerja sambil mengulang ulang materi pelajaran yang telah di pelajarinya.
Haura mencoba memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk membantu Ibunya dan juga belajar untuk ujian semester yang akan di mulai besok, pada hari Senin. Bagi Haura tidak masalah jika memang harus belajar sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Setidaknya ada sebagian materi pelajaran yang menempel di ingatannya. Hanya pada malam hari Haura benar-benar fokus belajar. Bahkan untuk bertegur sapa dengan Nevan ataupun Zayn sudah jarang Haura lakukan.
Ketika senja tiba, Haura mulai mengurung dirinya di kamar untuk belajar. Sudah satu minggu lamanya gadis remaja itu tidak lagi terlihat berlalu lalang di rumah utama pada malam hari. Karena memang Bu Lastri melarang Haura untuk membantunya menyiapkan makan malam untuk keluarga Sander. Bu Lastri ingin putrinya itu fokus belajar. Baginya sudah cukup Haura membantu meringankan pekerjaannya di siang hari.
Satu persatu pakaian yang ada di dalam keranjang mulai berpindah tempat pada jemuran. Setelah menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit, tanpa terasa keranjang tersebut pun telah kosong.
**Hufffff..... **Haura menghembuskan nafasnya kasar. Menandakan gadis remaja itu sangat lega karena pekerjaannya telah selesai.
Haura tidak langsung pergi meninggalkan area penjemuran. Dia lebih memilih untuk beristirahat sejenak pada kursi panjang yang ada disana. Gadis itu pun meraih bukunya dan mulai fokus membaca setiap kata yang tertulis disana.
Karena terlalu fokus pada buku pelajarannya, Haura sampai tidak menyadari bahwa sejak tadi dirinya di perhatikan oleh Nevan. Sejak Haura menjemur pakaian sambil sesekali melirik buku pelajarannya, hingga sampai gadis remaja itu fokus pada buku pelajarannya.
Nevan terus mengamati Haura tanpa bersuara sedikt pun. Bibir Nevan membentuk lengkungan bulan sabit, melihat sahabatnya Haura. Entah mengapa Haura adalah objek yang sangat unik dan menarik bagi Nevan. Gadis remaja yang selalu tampil sederhana dan apa adanya selalu berhasil manarik perhatian Nevan.
"Apa yang kamu sedang lakukan?" sebuah suara berbisik tepat di telingan Nevan.
"Grandma...." Nevan yang sangat terkejut karena seseorang berbisik padanya sontak saja berbalik dan mendapati sosok Grandmanya yang berada tepat di belakangnya.
"Nevan gak lagi liat Haura kok," sambung Nevan lagi.
__ADS_1
"Grandma gak bilang kalau kamu sedang melihat Haura." Nyonya Ana pun tersenyum penuh makna mendapati cucu kesayangannya itu seperti tertangkap basah karena sedang memperhatikan Haura.
Sebenarnya sejak tadi Nyonya Ana sudah berada di dekat Nevan, ikut memperhatikan apa yang sedang di lihat oleh cucunya itu hingga membuat Nevan tersenyum dengan manisnya. Tentu saja sesuai dengan dugaannya bahwa Nevan sedang mengawasi Haura yang sejak tadi tidak menyadari keberadaan Nevan.
"Haura cantik kan, Van?"
"Sangat cantik," jawab Nevan tanpa sadar. Di tambah lagi netra Nevan seakan begitu enggan berpaling dari sosok Haura yang sedang asik dengan bukunya. Rambut panjang Haura di gulung ke atas hingga memperlihatkan kesan dewasa dan imut secara bersamaan. Belum lagi keringat yang jatuh perlahan dari pelipis gadis remaja itu, membuatnya terlihat semakin cantik di mata Nevan.
Sedetik kemudian Nevan pun membulatkan matanya dan menatap ke arah Nyonya Ana. Remaja tampan itu tersadar bahwa dirinya baru saja memuji Haura di depan Grandmanya itu.
"Maksud Nevan bukan gitu, Grandma. Haura cantik, itu maksudnya bukankah semua perempuan memang cantik? Bukan karena Nevan mempunyai perasaan lebih dari pada seorang teman kepada Haura. Nevan hanya memuji Haura cantik sebatas karena Haura....."
"Grandma paham," potong Nyonya Ana sebelum Nevan menyelesaikan ucapannya. Ucapan yang mungkin akan di ulang-ulang lagi oleh cucu tampannya itu. Bahwa dirinya memuji Haura hanya karena Haura seorang perempuan yang memang sudah kodratnya terlahir cantik.
"Maksudnya bukan karena Nevan..."
"Terserah Grandma aja deh,” jawab Nevan lirih. Bagi Nevan tidak ada gunanya berdebat dengan Grandmanya itu, karena sejak dulu Nevan memang tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Nyonya Ana. Selama sepuluh tahun tinggal bersama Grandmanya di Sydney, Nevan selalu menjadikan Grandmanya tempat dia mencurahkan semua perasaannya. Baik itu masalah sekolah bahkan masalah percintaannya. Nyonya Ana bagaikan seorang Ibu bagi Nevan.
“Kamu menyukai Haura?” tanya Nyonya Ana tiba-tiba yang nyaris membuat Nevan membulatkan kedua matanya mentapa tak percaya pada pertanyaan yang baru saja di dengar dari Grandmanya.
Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut Nevan. Wajah tampan Nevan seakan mengisyaratkan kebingungan harus memberikan jawaban seperti apa kepada Nyonya Ana. Karena memang Nevan saja tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya kepada Haura. Ada rasa ingin melindungi dan tak ingin kehilangan. Akan tetapi Nevan belum menyadari bahwa itu bentuk lain dari kata cinta.
“Apa kamu menyukai Haura?” tanya Nyonya Ana lagi karena tidak kunjung mendapat jawaban dari cucunya itu.
“Tidak.” Satu kata penyangkalan lolos dari mulut Nevan.
__ADS_1
“Nevan sayang sama Haura tapi hanya sebagai sahabat. Bukan berarti Nevan menyukai Haura sebagai seoarang laki-laki menyukai lawan jenisnya.”
Nyonya Ana terdiam sejenak mendengar pengakuan cucunya itu. Mata senja wanita itu dapat menangkap gelagat keraguan di wajah Nevan.
“Jika kamu menyukai Haura hanya sebatas sahabat, maka bersikaplah seperti sahabat yang sebenarnya,” ucap Nyonya Ana sambil memegang kedua pundak Nevan. Cucunya itu sudah semakin dewasa akan tetapi belum bisa memahami perasaannya sendiri.
Nevan tertegun karena ucapan Grandmanya itu. Remaja tampan itu masih mencerna maksud tersirat dari setiap kata kata yang baru saja di dengarnya.
“Kamu harus tahu bahwa wanita di ciptakan untuk di sayangi. Tapi jangan pernah membuat wanita salah paham dengan sayang yang laki-laki berikan. Karena jika wanita sudah menyayangi seseorang maka akan sulit baginya untuk berpaling. Meskipun karena sayang itu dirinya harus tersakiti. Mereka rela. Itu bukan karena seorang wanita sangat rumit. Hanya saja Tuhan memang menciptakan perasaan wanita setulus itu.”
Nyonya Ana berkata sambil menatap dalam pada kedua netra Nevan. Sementara Nevan terus menyimak tanpa berniat untuk menginterupsi sama sekali.
“Begitu juga Haura. Jika memang kamu hanya menganggap Haura sebagai sahabat, jangan buat dia salah paham dengan sikap sayang yang kamu tunjukkan padanya.”
“Maksud Grandma?” tanya Nevan yang memang terlihat benar-benar tidak paham.
“Kamu cukup pintar untuk memahami perasaan kamu sendiri. Pelan-pelan saja, kamu akan paham dengan apa yang selama ini kamu lakukan pada Haura. Jangan sampai pada akhirnya ada yang tersakiti dan ada yang menyesali. Karena jika itu terjadi, Grandma yakin semuanya sudah terlambat,” Ucapan Nyonya Ana dengan tersenyum penuh sayang kepada Nevan.
Setelahnya Nyonya Ana pun pergi meninggalkan Nevan yang masih mematung di tempatnya. Butuh beberapa menit bagi Nevan untuk tersadar dari lamunannya.
Nevan kembali menatap Haura yang masih duduk di sana. Wajah sahabatnya itu tidak cantik namun cukup menarik. Tubuh Haura yang pendek selalu menjadi topik menarik untuk Nevan mengganggunya. Kurcaci, begitulah panggilan istimewa Nevan untuk Haura.
Belum lagi sikap salah tingkah Haura setiap kali dirinya merangkul Haura atau meminta sahabatnya itu untuk memeluk tubuhnya ketika mereka menggunakan motor. Dan satu lagi, Haura yang sering sekali menangis karena ulahnya menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk Nevan. Karena ketika Haura menangis, Nevan dengan senang hati memeluk tubuh mungil Haura hingga sabahatnya itu selesai menangis.
Nevan masih enggan mengalihkan pandangannya dari Haura. Bahkan sekarang di wajah tampan Nevan terukir sebuah senyuman. Semua tentang Haura adalah hal yang mampu membuat Nevan merasakan berbagai macam perasaan. Ada bahagia, marah, bahkan cemburu. Cemburu ketika sahabatnya itu tertawa karena orang lain. Cemburu karena Farel yang lebih dulu menjadi pelindung untuk Haura.
__ADS_1
"Dasar gadis bodoh," gumam Nevan.
"Ini bukan cinta kan, Ra? Ini hanya sayang kan, Haura?" tanya Nevan pada siluet tubuh Haura yang bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi Nevan memperhatikannya.