
Hari ini Haura izin untuk pulang lebih cepat tanpa mengikuti kegiatan ekskul. Haura sengaja meminta izin kepada pihak sekolah karena mengingat Ibunya yang sedang sakit seorang diri di rumah. Meskipun ada Bi Siti dan Bi Nur yang bersedia menjaga Ibunya, tetap saja Haura merasa sangat sungkan jika harus merepotkan orang lain untuk melayani Ibunya yang sedang sakit.
Di tambah lagi pekerjaan Bi Siti dan Bi Nur yang semakin banyak karena Ibunya sakit membuat Haura semakin merasa tidak enak hati jika menitipkan Ibunya terlalu lama. Meskipun sebenarnya Bi Siti dan Bi Nur sama sekali tidak merasa di repotkan. Para ART di kediaman Sander saling membantu satu sama lain. Jadi tidak ada yang namanya saling iri atau apalah itu. Di rumah itu mereka sama-sama untuk menyambung hidup. Oleh karenanya mereka saling tolong menolong jika ada salah satu dari mereka yang mendapat kesulitan.
“Kenapa kamu izin pulang lebih awal?” tanya Adel ketika menemani Haura meminta izin kepada guru untuk pulang lebih awal dari jadwal biasanya.
“Ibu aku sakit. Aku khawatir jika harus meninggalkan Ibu sendirian terlalu lama.”
“Sakit apa? Parah?” Adel terlihat begitu terkejut mendengar bahwa Ibu sahabatnya sedang sakit.
“Cuma demam, Del. Mungkin karena Ibu kelelahan.”
“Udah kamu bawa ke rumah sakit?”
“Belum. Tapi aku udah beli obat di apotik. Demam Ibu sudah sedikit turun.”
“Kalau ada apa-apa kamu kabari aku atau Luna ya, Ra. Jangan semuanya kamu sembunyikan dari kita berdua.”
“Iya. Kalau aku butuh bantuan, pasti kalian orang pertama tempat aku minta pertolongan. Kalau gitu, aku pulang duluan ya, Del. Oya… bilang ke Luna kalau aku pulang duluan.”
“Sip… hati-hati ya, Ra,” ucap Adel sambil melambaikan tangannya kepada Haura yang sedang mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah.
*******
“Kenapa kamu sudah pulang, nak?” tanya Bu Lastri yang langsung mendudukkan tubuhnya di ranjang ketika Haura memasuki kamarnya. Tidak seperti biasanya, hari ini Haura pulang jauh lebih cepat dari biasanya.
“Haura izin ke guru untuk pulang lebih cepat, Bu.”
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu di sekolah?” Wajah Bu Lastri menggambarkan raut kekhawatiran menatap putrinya.
“Ibu gak usah khawatir gitu, semanya aman. Haura minta izin pulang cepat, supaya bisa jagain Ibu.”
“Seharusnya kamu gak perlu….”
“Sekarang Haura mau Ibu tiduran lagi karena Haura mau ambil makan siang untuk Ibu. Terus Ibu minum obat.” Belum selesai Bu lastri berkata, Haura sudah memotong perkataan Ibunya. Karena Haura sangat yakin, bahwa kata-kata yang akan di ucapkan Ibunya berisi sebuah protes akan keputusannya untuk pulang lebih awal karena ingin merawat Ibunya yang sedang sakit.
“Tapi, Ra…”
“Gak ada tapi-tapi-an ya Ibuku yang cantik. Biarkan putri Ibu yang cantik ini merawat Ibu dengan sepenuh hati. Tugas Ibu hanya menikmati pelayanan spesial dari Haura,” ucap Haura panjang lebar di akhiri dengan sebuah senyuman manis hingga menampilkan kedua lesung pipi di masing-masing sisi wajahnya.
“Kamu biisaaaa aja, Ra.”
“Bisa dong. Haura…”
Kedua Ibu dan anak itu pun tertawa bersama.
Sesaat kemudian Bu Lastri menyadari bahwa Haura pulang ke rumah tanpa menggunakan baju sekolahnya. Hanya rok sekolah dan sebuah jaket sebagai atasannya.
“Haura, baju kamu kenapa seperti ini, nak?” tanya Bu Lastri yang kembali memasang wajah panik. Takut sesuatu terjadi pada Haura di sekolah.
Haura menatap pakaian yang masih di pakainya. Dia menyesali kecerobohannya kenapa tidak mengganti baju terlebih dahulu sebelum menyapa Ibunya.
“Tadi baju sekolah Haura basah waktu Haura sedang ganti seragam olahraga di toilet. Jadinya Haura pinjam hoodie milik Luna. Daripada Haura masuk angin. Kan lebih baik diganti dengan ini,” Haura memberikan alasan kepada Ibunya dengan sebuah alasan yang sama seperti yang dia berikan kepada Nevan beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Maaf, Bu. Haura terpaksa berbohong, batin Haura karena terpaksa harus berbohong kepada Ibunya tentang kejadian sebenarnya yang dia alami di sekolah.
“Kamu gak lagi bohong sama Ibu kan, Ra?” tanya Bu Lastri lagi penuh selidik.
Haura memegang kedua sisi wajah Ibunya dan tersenyum manis pada wanita tersayangnya itu. “Ibu, mana berani Haura bohong sama Ibu. Haura takut nanti kena kutukan jadi tambah cantik.”
“Dasar kamu ini. Bisa aja buat Ibu jantungan. Ibu fikir kamu mau bicara apa.” Bu Lastri pun menarik gemas ujung hidung Haura.
“Ibu, hidung Haura jangan di tarik. Nanti kalau tiba-tiba berubah mancung seperti pinokio kan jadi repot.” Haura pura-pura protes sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ya bagus dong. Jadi hitung kamu bisa tambah mancung. Dari pada sekarang, mancungnya ke dalam.”
“Ahahahaha…..” lagi-lagi mereka tertawa lepas karena hal-hal sepele.
“Udah, kamu ganti baju dulu sana.”
“Oke, Bu.” Haura pun segera beranjak menuju kamarnya. Sementara Bu Lastri tidak hentinya tersenyum melihat anak gadisnya tersebut.
Haura memilih memakai baju berlengan panjang untuk menutupi luka di lengannya. Setelah selesai mengganti pakaian Haura langsung menuju dapur untuk memasak agar Ibunya bisa segera makan dan minum obat. Ya, di paviliun yang Haura tempati bersama Ibunya, selalu ada tersedia bahan makanan untuk berjaga-jaga jika terkadang penghuni paviliun itu merasa lapar di tengah malam tanpa harus kembali ke rumah utama.
Gadis remaja itu memilih memasak sendiri dari pada pergi ke rumah utama untuk mengambil makan siang. Karena dirinya merasa sungkan jika datang mengambil makanan tanpa membantu pekerjaan apapun. Padahal nyatanya, tidak ada yang mempermasalahkan jika Haura melakukan hal tersebut. Tapi Haura tetap saja merasa malu.
Tidak butuh waktu lama bagi Haura untuk menyelesaikan masakannya. Karena dia hanya memasak sayur sup dan menggoreng ikan. Setelah selesai membersihkan peralatan masak dan menyiapkan makanan untuk Ibunya. Haura pun meninggalkan area memasak dengan membawa sebuah nampan lengkap dengan makanan di atasnya.
“Ta-daaaa….. Haura udah selesai masak. Waktunya Ibu untuk makan.”
“Kamu masak sendiri, Ra? Kenapa tidak mengambil makanan di rumah utama?”
“Kan Haura udah bilang, kalau Haura mau memberikan pelayanan maksimal untuk Ibu. Salah satunya dalah dengan memasak makan siang untuk Ibu.”
“Aaaaa….” Pinta Haura kepada Ibunya. Bu Lastri pun langsung membuka mulutnya tanpa berkata apa pun lagi.
Suapan demi suapan mendarat dengan mulus ke dalam mulut Bu Lastri. Tanpa disadari ternyata kini piring yang awalnya terisi banyak nasi dan lauk kini isinya telah tandas semua.
“Ibu Haura keren deh, bisa habis semua makannya,” ucap Haura seolah-olah Ibunya seperti seoarang balita.
“Habisnya, kamu masaknya enak. Kan Ibu jadi ketagihan," puji Bu Lastri.
“Hehehe… makasih, Bu. Selanjutya Ibu minum obat.” Dengan penuh ketelenan Haura mengambil satu persatu obat yang harus di konsumsi oleh Ibunya.
Kini Bu Lastri telah beristirahat setelah selesai makan dan minum obat. Haura mengusap wajah Ibunya dengan lembut. Lalu mendaratkan bibirnya pada wajah sang Ibu.
“Cepat sembuh ya, Bu. Haura sayang Ibu,” ucapnya sambil menahan tangis. Jika boleh jujur, sebenarnya Haura sangatlah bersedih ketika Ibunya sakit. Akan tetapi dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di hadapan sang Ibu.
Bagi Haura, Ibunya adalah hal paling berharga dalam hidupnya. Karena hanya Ibu lah orang tuanya yang tersisa saat ini. Sungguh Haura merasa sangat khawatir kalau sampai sakit Ibunya semakin parah. Tapi syukurnya kini
keadaan Bu Lastri semakin membaik
“Ibu juga sayang Haura.”
“Ibu istirahat, ya.” Ibu Haura hanya mengangguk dan sedetik kemudian langsung memejamkan matanya karena efek dari obat yang beliau minum telah mulai menunjukkan reaksinya.
Setelah memastikan Ibunya telah terbang ke alam mimpi, Haura pun meninggalkan kamar Ibunya untuk membersihkan piring kotor bekas Ibunya dan juga mengisi perutnya sendiri yang sudah mulai terdengar gemuruhnya.
__ADS_1
Haura menghempaskan tubuhnya ke ranjang berukuran kecil miliknya. Di tariknya nafas dalam-dalam dan di hembuskannya dnegan perlahan.
Satu persatu tentang kejadian semenjak dirinya bertemu Nevan kembali setelah sepuluh tahun berlalu berputar bagaikan sebuah film tanpa iklan. Awal mula dirinya bertemu kembali dengan Nevan, perhatian Nevan kepada dirinya hingga kejadian hari ini. Kejadian yang dapat di katakana sebagai awal dari permasalahan yang akan Haura hadapi di sekolah.
Haura sangat yakin bahwa Rhea akan terus mengusiknya selama dirinya tidak menjauhi Nevan. Tapi bagaimana caranya agar Haura bisa menjauhi Nevan jika setiap harinya Nevan selalu memaksa dirinya agar menempel pada lelaki itu.
“Nevan… Nevan…. Nevan….” Haura terus menyebut nama Nevan sambil bergumam.
Irama jantungnya kembali berpacu lebih cepat dari biasanya ketika mengingat wajah sahabat tampannya itu. Bohong jika Haura berkata bahwa dia tidak menyukai Nevan. Karena semenjak kejadian mie instan yang sama persis beberapa hari yang lalu, jantung Haura selalu berdetak dengan kencang setiap kali dirinya bertatap mata dengan Nevan.
Tapi sebisa mungkin Haura menekan perasaannya. Gadis berlesung pipi tersebut selalu meyakinkan dirinya bahwa dia menyukai Nevan sebagai sahabat tidak lebih. Dan tidak boleh lebih sedikit pun. Kasta. Itulah yang selalu Haura tanamkan dalam fikirannya. Kasta mereka berbeda. Tidak boleh ada cinta dihatinya untuk Nevan.
Sesaat kemudian Haura bangkit dengan terburu-buru untuk mengambil smart phonenya. Gadis remaja itu mencari daftar kontak sahabat tampannya.
“Van, aku udah pulang duluan. Maaf karena gak sempat bilang ke kamu.” Haura mengirim sebuah pesan kepada Nevan melalui aplikasi chat.
Tingg…. Suara notifikasi haandphone milik Haura berbunyi.
(Kenapa kamu pulang duluan? Apa terjadi sesuatu? Apa kamu sakit?) Nevan.
“Gak. Aku baik-baik aja. Kamu gak perlu khawatir. Aku pulang lebih awal karena harus jagain Ibu aku yang sedang sakit. Kasian Ibu kalau aku pulangnya sore.”
(Kenapa kamu gak bilang ke aku kalau Ibu kamu sakit? Kan kita bisa pulang bareng dan aku juga bisa minta supir di rumah buat ngaterin Ibu kamu ke rumah sakit.) Nevan.
“Gak usah Van. Lagian Ibu juga udah mendingan. Demam Ibu udah turun, jadi gak perlu di bawa ke rumah sakit.”
Haura sungguh tidak habis fikir dengan jalan fikiran Nevan yang suka mengambil keputusan tanpa berkompromi terlebih dahulu.
(Kalau emang kamu udah pulang. Aku pulang juga.) Nevan
“Apa? Kenapa kamu juga pulang?” balas Haura cepat. Jari-jari haura menari dengan lincah pada tuts smart phone miliknya.
(Kenapa aku harus di sekolah?)
Baik itu berbicara secara langsung ataupun melalui pesan, Nevan selalu saja bersikap sama. Bukannya menjawab pertanyaan Haura, Nevan malah kembali bertanya.
“Untuk belajar. Lalu untuk apa lagi?”
(Haura Annisa, asal kamu tahu ya, aku tuh ke sekolah dari pagi sampai sore bukan untuk belajar, tapi untuk jagain kurcaci aku , yaitu kamu. Paham?) Nevan.
Membaca pesan yang baru saja Nevan kirimkan pada Haura membuat gadis remaja tersebut reflek menjatuhkan handphonenya Untung saja jatuhnya ke ranjang. Haura seperti terhipnotis membaca pesan dari Nevan. Menjagaku? Untuk apa? gumam gadis itu.
Tinggg… lagi-lagi Nevan mengirim pesan untuk Haura.
(Jadi, kalau kamu udah pulang, gak ada alasan lagi untuk aku berada di sekolah. Lagian perlu kamu ingat bahwa tanpa belajar pun aku ini memang sudah terlahir PINTAR.) Nevan.
Haura mengerjapkan matanya berkali-kali ketika membaca setiap pesan yang Nevan kirimkan untuknya. Sungguh, sahabatnya itu benar-benar seorang alien dari planet Neptunus. Meskipun Haura tidak tahu seperti apa bentuk alien di planet Neptunus. Yang Haura tahu bahwa Neptunus adalah planet pembuat masalah karena suka mengganggu orbit planet yang ada di sekitarnya. Seperti Nevan yang sangat suka mengganggu ketenangan hidupnya.
Lagipula dari mana Nevan mendapatkan kepercayaan diri tingkat dewa seperti itu? Haura memijat pelipisnya untuk mengembalikan kesadarannya.
(Tunggu aku ya, Ra. Sebentar lagi aku bakalan hadir di hadapan kamu. Jadi kamu gak perlu kangen sama aku lama-lama….. Karena kamu bisa langsung melihat aku, bahkan kalau kamu mau, kamu juga boleh peluk aku.....) Nevan.
Setelah membaca pesan Nevan yang terakhir Haura segera membenamkan wajahnya kedalam bantal dan berteriak dengan kencang karena dia merasa kesal dengan pesan unfaedah yang dikirimkan oleh Nevan untuknya.
__ADS_1
“Dasar alien dari planet Neptunus,” Sekeras apapun Haura berteriak, tidak aka nada yang akan mendengarkannya.