
Sebelum Nevan bersekolah di Sander International High School, seorang Haura bukanlah siswa yang mampu menarik perhatian siswa lainnya. Akan tetapi, kini semuanya seolah berubah seratus delapan puluh derajat. Semua gerak-gerik Haura selalu menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata yang ada di sana. Terutama kaum Hawa yang mengidolakan Nevan secara berlebihan. Apalagi ketika Haura bersama Nevan. Perhatian yang Nevan berikan kepada Haura, selalu saja di salah artikan oleh setiap orang yang melihatnya. Karena sikap Nevan kepada Haura terlalu posesif jika di kategorikan sebagai perhatian seorang sahabat.
Yang paling merasa terganggu dengan kedekatan antara Nevan dan Haura adalah Rhea. Remaja cantik tersebut merasa bahwa Haura adalah saingan utamanya dalam hal mendapatkan hati Nevan. Apalagi Haura sangat jauh dari katagori cantik untuk bersaing dengannya. Oleh karena itu dia merasa sangat tidak suka karena gadis biasa seperti Haura mampu menarik perhatian seorang Nevan Sander yang Notabene-nya adalah cinta pertama Rhea.
Hari ini adalah jam pelajaran olahraga untuk kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2. Itu artinya kedua kelas tersebut akan melaksanakan pelajaran olahraga bersama-sama. Semua siswa terlihat bergegas menuju ruang ganti untuk mengganti seragam olahraga mereka.
Haura dan kedua sahabatnya juga sedang menuju ke ruang ganti. Mereka terlihat berjalan beriringan menuju tempat tujuan mereka diselingi dengan canda tawa dalam setiap langkahnya.
*******
"Heh... Lo..." Haura yang ingin memasukkan seragamnya ke dalam loker miliknya terperanjat ketika tiba-tiba mendengar suara seseorang di belakangnya. Seketika Haura berbalik badan untuk melihat siapa kiranya yang memanggilnya ketus seperti itu.
"Rhea." Seru Haura yang merasa aneh kenapa Rhea memanggilnya dengan nada dan wajah yang sangat tidak bersahabat. Apalagi ini adalah pertama kalinya Haura di sapa oleh tuan putri Sander International High School, Rhea. Akan tetapi sapaan pertama untuknya dapat di pastikan bukan karena ingin berteman dengannya.
"Gue mau ngomong sama lo," ucap Rhea ketus.
"Kamu mau ngomong apa, Rhe?" tanya Haura.
"Gue males basa-basi sama lo. Gue minta supaya lo jauhi Nevan," perintah Rhea.
Haura sudah menduga hal apa yang akan dikatakan oleh Rhea. Karena semenjak Nevan dekat dengan dirinya, tatapan membunuh selalu Rhea berikan untuknya.
Apalagi semenjak Nevan memaksa untuk pergi dan pulang sekolah bersama dengannya. Seluruh siswa perempuan di sekolah tersebut mulai menatapnya dengan tatapan penuh dengan kebencian.
Jika berangkat ke sekolah Haura dan Nevan bisa pergi lebih cepat dari jadwal biasanya, beda halnya jika jam pulang sekolah. Apabila Haura dan Nevan menunggu siswa lainnya pulang, dapat dipastikan bahwa mereka akan tiba di rumah ketika hari sudah mulai gelap. Dan jika itu terjadi tentu saja orang pertama yang merasa sangat khawatir adalah Bu Lastri, Ibu dari Haura.
Haura selalu meminta kepada Nevan agar mereka tidak perlu pulang bersama. Tapi Nevan tetaplah Nevan. Remaja laki-laki itu tidak akan pernah mau jika apa yang di inginkannya mendapat penolakan. Alhasil, Haura kembali harus mengalah.
"Gue sangat terganggu dengan kedekatan lo sama Nevan. Mungkin Nevan murni menganggap lo temannya. Tapi gue gak yakin kalau lo cuma menganggap kebaikan Nevan hanya sebatas teman." Lagi-lagi Rhea berkata tanpa menunggu jawaban dari Haura.
“Atau bisa saja sebenarnya Nevan cuma kasian sama lo.”
"Maaf, Rhe. Aku rasa kamu salah paham. Aku gak pernah menganggap kebaikan Nevan melebihi seorang teman. Aku gak pernah berfikiran seperti yang kamu tuduhkan," ucap Haura memberikan klarifikasi atas kesalahpahaman Rhea terhadapnya.
Mengenai ucapan Rhea yang mengatakan bahwa Nevan mungkin saja hanya kasihan kepadanya. Haura tidak berani membantah apapun. Karena mungkin saja apa yang dikatakan Rhea benar. Karena selama ini Haura
belum pernah menanyakan langsung kepada Nevan mengapa dia bersikap sangat baik kepadanya.
"Yakin lo? Gue tahu betul gimana modelan perempuan kayak lo," ucap Rhea lagi dengan tatapan meremehkan terhadap Haura. "Perempuan yang akan melakukan apa pun hanya untuk menarik perhatian laki-laki. Apalagi laki-laki itu seperti Nevan," sambung Rhea lagi yang terus saja menuduh Haura dengan tuduhan yang sangat menghina.
"Maksud kamu apa?" kini Haura juga mulai meninggikan suaranya. Dia merasa tidak terima dengan kata-kata
Rhea yang menghinanya harga dirinya.
"Gue rasa lo paham maksud gue. Jangan sok-sok-an pasang wajah lugu lo buat narik perhatian Nevan. Karena gue gak bakalan tinggal diam. Gue akan buat hidup lo gak akan aman di sekolah ini," ucap Rhea penuh dengan ancaman.
"Terserah kamu mau berfikir apa tentang aku. Yang pasti aku gak pernah berniat untuk menarik perhatian siapapun di sekolah ini."
Haura pun berbalik badan untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda yaitu meletakkan seragamnya kedalam loker agar bisa segera meninggalkan ruang ganti.
__ADS_1
"Mau kemana lo?" Rhea mencekal tangan Haura yang akan pergi meninggalkannya.
"Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai. Aku mau kelapangan karena pelajaran olahraga akan di mulai." Haura pun menghentakkan tangan Rhea yang mencekal kuat tangannya.
Ketika Haura hendak mengayunkan langkahnya, sedetik kemudian dia berteriak karena merasa sebuah tarikan kuat di surai ekor kudanya.
"Awwww.... kamu apa-apaan sih, Rhe?" Haura pun mencengkeram pergelangan tangan Rhea dengan sama kuatnya. Sungguh dia tidak terima karena di perlakukan semena-mena oleh Rhea.
Yang terjadi selanjutnya adalah aksi saling jambak antara Rhea dan Haura. Dalam perperangan fisik tersebut, Haura tentu saja akan kalah, mengingat postur tubuh Haura yang pendek, Rhea dengan sangat mudah dapat menyerang Haura.
Aksi mereka berdua pun menjadi perhatian siswa lainnya, akan tetapi tidak ada yang berani untuk melerainya.
Karena yang sedang terlibat dalam pertengkaran itu adalah Rhea.
Tidak lama kemudia Luna, Adel dan Bella keluar dari toilet karena mendengar suara keributan di luar sana. Betapa terkejutnya mereka bertiga karena melihat sahabat mereka masing-masing sedang terlibat dalam pertengkaran fisik.
"Haura..... Rhea..." Pekik Luna, Adel dan Bella secara bersamaan.
Adel berjalan paling cepat untuk melerai pertikaian yang sedang terjadi antara Haura dan Rhea.
"Lo apa-apaan sih nyerang sahabat gue kayak gitu?" sentak Adel dengan tatapan penuh amarah.
"Lo yang apa-apaan main nuduh Rhea tanpa bukti. Bisa aja kan, nih anak yang nyerang Rhea duluan," tuduh Bella yang tidak terima melihat Adel menyalahkan Rhea atas pertikaian antara Rhea dan Haura.
"Gak mungkin Haura yang nyerang Rhea duluan. Gue tahu sabahat gue dengan baik. Pasti sahabat lo yang cari masalah duluan." Adel sangat yakin jika Haura tidak mungkin memulai pertengkaran ini. Karena selama mengenal Haura, sahabatnya itu berusaha sebaik mungkin agar tidak pernah membuat masalah di sekolah.
"Ckkk.... Lo yakin kalau gue duluan yang nyerang dia?" tanya Rhea seakan tidak merasa bersalah sama sekali. "Kalau memang lo sangat yakin, sebaiknya kita ke ruang BP untuk memperjelas masalah ini. Gue sama sekali gak keberatan kalau memang lo mau tahu duduk perkaranya," jelas Rhea panjang lebar dengan nada menantang, seolah-olah memang benar bahwa Haura lah yang telah menyerang dirinya terlebih dahulu.
"Gak usah, Del. Gak usah di perpanjang lagi," Akhirnya Haura buka suara untuk menyudahi perdebatan antara Rhea dan Adel. Tentunya perdebatan yang disebabkan oleh dirinya.
Sungguh Haura tidak mau jika permasalahan ini sampai harus ke ruang BP. Bukan berarti Haura tidak ingin menjelaskan bahwa dia tidak bersalah. Akan tetapi dalam hal ini tentu dirinya yang akan rugi karena Rhea adalah anak dari salah satu dari pemegang saham Sander Group. Meskipun Haura benar, Haura sangat yakin bahwa pihak sekolah tidak akan membelanya. Apalagi Haura takut jika masalah ini sampai mempengaruhi beasiswanya nanti.
"Lo liat kan. Buktinya sahabat lo yang sok lugu ini nolak untuk ke ruang BP. Itu artinya, memang dia yang mulai nyerang gue duluan.”
"Tapi, Ra. Kita harus memperjelas masalah ini. Biar kedepannya nih orang gak semena-mena lagi," Luna merasa keberatan karena Haura menolak untuk menyelesaikan permasalahan ini ke ruang BP.
"Aku gak pa-pa. Kalian jangan khawatir," ucap Haura dengan menampilkan senyuman manisnya kepada kedua sahabatnya.
“Gue rasa semua udah jelas. Lagian gue gak mau buang-buang waktu sama makhluk gak penting kayak lo.” Ucap Rhea dengan tatapan merendahkan kepada Haura. Rhea dan Bella pun beranjak untuk meninggalkan tempat tersebut.
Baru berjalan beberapa langkah, Rhea kembali berbalik untuk menghampiri Haura. “Ini peringatan pertama gue. Lo bakalan liat apa yang akan gue lakukan jika lo gak nurut sama apa yang gue minta. Jauhi NEVAN,” bisik Rhea tepat di telinga Haura. Setelahnya gadis itu pun pergi dengan seringai penuh kemenangan.
Sepeninggalan Rhea dan Bella. Kini Haura menjadi pusat investigasi kedua sahabatnya.
“Ra, tolong jelasin ke kita. Kenapa tiba-tiba lo ber-urusan sama Rhea?” tanya Luna yang tidak sabar mendengar
cerita selengkapnya dari Haura.
“Ini cuma salah paham. Gak ada yang perlu di jelaskan,” jawab Haura seolah memang benar ini bukanlah masalah besar.
__ADS_1
“Salah paham? Salah paham hingga adu fisik? Haura, jangan bohong ke kita.” Adel sungguh tidak percaya dengan apa yang Haura ucapkan. “Apa ini ada hubungannya dengan Nevan?”
Haura sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Adel. Kebungkaman Haura membuat Adel dan Luna sangat yakin bahwa penyebab kejadian beberapa saat yang lalu adalah karena Nevan.
“Terus, apa yang tadi Rhea bisikkan ke kamu?” tanya Adel lagi karena tidak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.
“Rhea gak bilang apa-apa. Dia cuma minta maaf,” bohong Haura lagi. Sungguh kebohonga yang sangat payah.
“What? Minta maaf? Are you sure?” Luna memekik kaget mendengar penuturan Haura. Sudah bisa dipastikan oleh Luna dan Adel bahwa saat ini Haura sedang berbohong kepada mereka.
“Kamu anggap kita sahabat gak sih, Ra?” Adel tidak habis fikir mengapa Haura seakan selalu merahasiakan sesuatu dari dirinya dan Luna.
“Kalian sahabat aku. Sahabat terbaik,” jawab Haura penuh ketulusan.
“Jadi kenapa seolah kamu….” Kata-kata Adel menggantung ketika mendengar Haura meringis.
“Ya ampun, Ra. Tangan kamu bisa luka kayak gini?” Luna terlihat panik melihat tangan Haura yang terdapat beberapa luka karena terkena cakaran kuku Rhea.
“Aku gak pa-pa, cuma luka kecil. Kalian jangan khawatir gitu.”
“Sekarang juga kita ke UKS untuk obati tangan kamu dan kita gak terima bantahan apapun.” Luna berkata tegas agar Haura tidak membantahnya lagi.
Luna merapikan kembali rambut Haura yang terlihat sangat berantakan akibat ulah Rhea. Sementara Adel mengusap lembut tangan Haura yang terluka. Masih ada jejak darah yang telah sedikit mengering
disana.
Melihat kebaikan kedua sahabatnya itu, tanpa disadari, Haura meneteskan air matanya. Sungguh dirinya sangat bersyukur memiliki sahabat yang sangat tulus kepada dirinya.
“Kamu kenapa nangis, Ra?” tanya Adel saat merasakan setetes air mata yang jatuh tepat mengenai tangannya yang sedang mengusap tangan Haura. “Sakit banget ya, Ra?” tanyanya lagi.
Mendengar perkataan Adel, kini Luna pun ikut berdiri di hadapan Haura untuk memastikan bahwa Haura benar-benar menangis.
“Haura, kamu kenapa? Kenapa nagis gini?” Luna ikut bertanya. Kemudian Luna pun memeluk Haura dengan penuh sayang.
Mendapat pelukan dari Luna, tangis Haura semakin pecah. Bukan karena sakit akibat luka yang dia dapatkan. Akan tetapi Haura merasa terharu dengan ketulusan Luna dan Adel.
“Bukan karena sakit. Aku nangis karena aku bersyukur punya kalian,” jawab Haura di sela-sela tangisannya.
“Kamu jangan ngomong gitu. Kita sahabat. Selamanya,” ucap Luna yang semakin mempererat pelukannya kepada Haura.
“Iya, kita sahabat. Selamanya.” Adel pun ikut memberikan pelukan kepada kedua sahabatnya itu.
Mereka bertiga pun tertawa dan menangis secara bersamaan sebelum beranjak menuju ruang UKS.
Assalamu'alaikum semuanya....
Terimakasih karena udah mau meluangkan waktu untuk membaca novel pertama aku...
Dukung aku terus ya dengan cara vote, like and comment. Tambahkan juga ke dalam daftar novel favorit kamu...
__ADS_1
Big thanks for you guys