(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Satpol PP


__ADS_3

Jam pelajaran pertama telah dimulai. Lingkungan sekolah sudah terlihat sepi. Seluruh siswa telah masuk ke ruang kelas masing-masing. Kecuali kelas yang memiliki jam pelajaran olahraga dan mengharuskan mereka untuk melakukan kegiatan di luar ruangan.


Terlihat seorang siswa laki-laki sedang berjalan menyusuri koridor kelas bersama dengan seorang guru perempuan. Siswa tersebut tidak lain adalah Nevan. Terlihat bahwa sang guru akan mengantarkan dirinya menuju kelas barunya.


Berjalan menuju ruang kelas, Nevan melewati lapangan basket dimana ada pelajaran olahraga sedang berlangsung. Terang saja, pandangan para siswa tertuju ke arahnya. Terutama kaum hawa. Para siswa perempuan berdecak kagum dengan ketampanan seorang Nevan. Dia nyaris sempurna. Bagi Nevan sendiri, dia sudah terbiasa dengan tatapan penuh kagum pada dirinya. Oleh sebab itu, dia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah mereka terus saja menatap kearahnya. Sungguh, mereka seperti terhipnotis dengan pesona mematikan sang remaja dingin tersebut.


Tiba di depan kelas XI IPA 2, guru yang mengantarkan Nevan menyapa guru dan siswa-siswa yang menjadi penghuni kelas tersebut, diikuti oleh Nevan di belakangnya. Setelah membisikkan entah apa itu kepada sang guru yang sedang mengajar pelajaran Matematika yang bernama Bu Yuli, guru tersebut pun pergi meninggalkan kelas.


“Mohon perhatian semuanya,” Pinta Bu Yuli agar fokus seluruh siswa tertuju padanya. Kebetulan sekali, Bu Yuli adalah wali kelas XI IPA 2.


Sebenarnya tanpa sang guru meminta perhatian khusus kepada seluruh siswa, nyatanya sejak tadi perhatian seluruh siswa telah tertuju pada objek yang ada di hadapan mereka, terutama siswa perempuan. Sungguh ciptaan Tuhan yang luar biasa. Begitulah kira-kira arti tatapan yang mereka berikan kepada sosok Nevan.


“Hari ini kita kedatangan teman baru. Dia pindahan dari Sydney.” Melihat ke arah Nevan, Bu yuli menambahkan, “Silahkan perkenalkan diri kamu.”


“Ehemm…” Nevan berdehem untuk mencairkan suasana agar para kaum hawa di kelas tersebut berhenti memandanginya seperti itu. Sungguh dia bosan dengan tatapan mengangumi tanpa batas kepada dirinya.


Akan tetapi ada satu orang siswa yang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ya, dia adalah Haura. Berdasarkan informasi yang Nevan dapatkan dari kak Zayn tadi pagi, akhirnya Nevan meminta kepada guru untuk menempatkannya di kelas yang sama dengan Haura. Hal itu tentu saja akan dituruti dengan senang hati oleh guru di sekolah tersebut. Karena status Nevan adalah putra bungsu pemilik sekolah.


“Perkenalkan nama gue Nevan Sander. Gue nggak terima pertanyaan apa pun. Jadi jangan coba-coba bertanya apa pun tentang gue," ucap Nevan. Perkataannya nyaris membuat seisi kelas membulatkan mata tanda terkejut mendengar ucapannya.


Hanya itu kata perkenalan dari seorang Nevan. Tidak ada basa-basi seperti "semoga kita menjadi teman atau salam kenal semuanya". Tidak ada sama sekali.


Sekarang seluruh siswa mulai berbisik-bisik mendengar nama belakang Nevan. Mereka paham siapa itu keluarga Sander dan mereka yakin bahwa laki-laki yang baru saja bergabung di kelas mereka adalah putra bungsu dari Tuan Liam Sander.


Karena prosesi perkenalan berlangsung dengan singkat tanpa embel-embel apa pun lagi, maka Bu Yuli meminta Nevan untuk duduk di bangkunya. “Baiklah Nevan, Ibu rasa acara perkenalan telah selesai. Sekarang silahkan kamu duduk di bangku kosong yang ada di sana,” Tunjuk Bu Yuli ke arah bangku kosong yang berada di urutan ke tiga baris kedua dari arah pintu masuk kelas.


“Saya hanya mau duduk sebangku dengan dia," pinta Nevan. Dari nada bicaranya, remaja laki-laki itu tidak ingin ada penolakan. Lebih tepatnya perkataan Nevan bukanlah sebuah permintaan, tapi itu adalah sebuah perintah.

__ADS_1


Tatapan seluruh penghuni kelas tertuju pada arah jari telunjuk Nevan. Sungguh tak ada yang memprediksi bahwa seorang siswa laki-laki yang ketampanannya mampu mengalahkan Gian Sander ingin duduk sebangku dengan seorang siswa biasa yang sangat tidak menarik perhatian sama sekali. Haura Annisa.


Sementara yang di tunjuk membuka mulutnya dengar lebar tanda terkejut dengan aksi sang anak baru yang bertindak sesuka hatinya.


Mampus aku, batin Haura mendengar permintaan Nevan. Duduk dengannya? Untuk apa? Bermacam pertanyaan muncul di benak Haura. Sekarang Haura paham maksud perkataan kak Zayn tadi pagi.


“Aku? Kenapa?” Tanya Haura heran sambil menunjuk dirinya sendiri


“Karna gue mau. Lagian gue gak perlu alasan buat duduk sama lo.”


“Tapi ‘kan aku udah ada teman sebangku. Kalau kamu duduk di sebelah aku, terus Luna duduk dimana?”


“Terserah dia mau duduk di mana. Gue nggak suka penolakan. Lagian lo harusnya bersyukur karena dari semua penghuni kelas ini, gue milih duduk sama lo,” Ucap Nevan seolah-olah duduk sebangku dengannya adalah sebuah keberuntungan tak terhingga.


Meskipun faktanya menurut Haura banyak siswa perempuan yang ingin Nevan duduk sebangku bersama mereka. Tapi tetap saja Haura merasa sikap Nevan sangatlah arogan.


"Gak bisa gitu. Aku udah nyaman duduk sebangku bersama Luna. Lagi pula masih ada bangku kosong lainnya. Jadi, kenapa kamu harus memaksa duduk disini?" ucap Haura dengan suara di buat selembut mungkin mengingat Nevan adalah anak dari majikannya.


Andai saja seorang Nevan adalah orang yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Sander, tentu saat ini Haura telah mengeluarkan umpatannya karena pemaksaan yang sedang berlangsung atas dirinya.


"Kan gue udah bilang, gue gak suka penolakan. dan untuk temen lo....," Nevan menatap Luna sesaat. "Sebaiknya lo duduk di tempat lain," ucap Nevan lagi. Kali ini perkataannya di tujukan untuk Luna yang menjadi teman sebangku Haura.


Haura semakin menganga mendengar keputusan sepihak yang diucapkan oleh Nevan. Haura menatap penuh tanda tanya ke arah Nevan. Dia masih mencari-cari jawaban atas permintaan penuh paksaan dari teman masa kecilnya itu.


“Dengan gue mau duduk sama lo, itu artinya lo dapat anugerah. Jadi jangan sok-sok-an pasang wajah seolah-olah lo dapat musibah,” tambah Nevan lagi.


Baiklah, Haura paham sekarang. Nevan Sander si anak majikan dan mantan teman masa kecil adalah si pemaksa level dewa.

__ADS_1


“Gue gak mau pindah. Gue mau tetap duduk sama Haura.” Luna, teman sebangku Haura protes dengan permintaan aneh Nevan.


“Gue nggak perlu izin lo untuk duduk dimana yang gue mau," balas Nevan dengan tak kalah sengit.


Seluruh siswa tak mampu berkata-kata mendengar perkataan si anak baru yang maunya sesuka hati.


Luna yang pada dasarnya adalah seorang yang cerewet dengan susah payah menahan sumpah serapahnya untuk seorang Nevan. Jika saja tidak ada Bu Yuli di kelas, tentu saja Luna akan memborbardir anak baru yang sombong tersebut dengan umpatan kasar yang sejak tadi sudah tertahan di mulutnya dan meminta untuk dikeluarkan.


Nevan berjalan menuju bangku Haura dan Luna dan siap menggeser posisi Luna. Haura pun dengan segera memegang erat tangan teman sebangkunya itu. Sungguh dia tidak akan sudi duduk sebangku dengan cowok songong tingkat alot seperti Nevan.


 “Sudah… sudah… jangan beradu argumen. Luna Ibu harap kamu mau duduk di belakang bersama Adel,” Pinta Bu Yuli dengan nada membujuk agar Luna mau berpindah untuk duduk bersama Adel. Bukan karena Luna tidak mau duduk bersama Adel yang merupakan sahabatnya juga, akan tetapi dia tidak suka dengan sikap si anak baru yang bertindak semaunya.


Sejak tadi Adel hanya memilih diam mendengar perdebatan antara kedua sahabatnya dengan si anak baru yang merupakan anak pemilik sekolah tersebut. Akan tetapi jangan lupakan tatapan Adel yang sejak tadi melihat Nevan seperti  seorang sniper yang telah berhasil membidik target tepat sasaran. Garang.


“Udah Lun, mendingan kamu duduk di sini sama aku. Biarin aja tuh Satpol PP duduk sama Haura.” Perkataan mematikan keluar dari mulut seorang Adel yang terkenal dengan mulut pedasnya. "kali aja dia kesini bukan mau sekolah, tapi petugas penggusuran," ucap Adel lagi.


Mendengar hal itu, seluruh siswa tertawa nyaring. Sungguh Adel benar-benar mematenkan julukannya sebagai si mulut pedas ala bon cabe level sepuluh.


“What? Satpol PP? Apaan itu? Tanya Nevan heran karena dirinya memang tidak tahu apa itu satpol PP.


"Lo gak tahu apa itu satpol PP?" tanya Luna.


Nevan tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan Luna untuk dirinya. Sungguh dia tidak tahu apa itu Satpol PP.


"Satpol PP itu sejenis makanan berbentuk ketoprak tapi pakek keju," jawaban Absurd dari Adel semakin membuat seisi kelas semakin riuh.


Haura juga ikut tertawa renyah mendengar ucapan Adel. bahkan Haura sudah memegang perutnya yang mulai sakit karena tawanya. Tanpa dia sadari tatapan Nevan mulai beralih kepadanya. Dia melihat Haura bagai sebuah mangsa yang siap untuk di serang.

__ADS_1


Menyadari hal itu, Haura langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mati aku, apakah ini awal dari penderitaanku, Tuhan. Batin Haura.


__ADS_2