
Ayo dong, like, comment, and vote supaya aku makin semangat nulisnya. Satu comment dari kalian adalah penyemangat aku dalam menulis. Tambahkan juga karya aku ke dalam rak buku favorit kamu.
Kantin sekolah terlihat ramai sebagaimana biasanya. Setiap siswa duduk dalam kelompok pertemanannya masing-masing. Ada juga beberapa siswa yang masih mengantri di outlet-outlet penjual makanan di sekolah elit tersebut. Menunggu pesanan mereka yang sedang di persiapkan oleh petugas kantin.
Haura sedang duduk seorang diri di sebuah meja yang terdapat di pojokan kantin. Gadis remaja itu belum memesan makanan. Sesekali terlihat Haura mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk kantin. Dia sedang menunggu kedatangan kedua sahabatnya. Sudah sepuluh menit Haura menunggu tapi baik Luna maupun Adel belum menampakkan batang hidung mereka. Sementara waktu jam istirahat akan berakhir sepuluh menit lagi.
Kedua sahabat Haura sedang berada di ruangan ekskul mereka masing-masing. Entah untuk apa Haura tidak tahu. Padahal Luna dan Adel mengatakan bahwa mereka tidak akan lama dengan urusan ekskul mereka. Oleh karena itu Haura langsung ke kantin dan menunggu kedua sahabatnya disana. Andai saja Haura tahu bahwa mereka akan lama, maka Haura lebih memilih untuk tetap berada di kelas daripada harus duduk seorang diri di tempatnya berada sekarang.
Karena yang di tunggunya tak kunjung datang, akhirnya Haura memilih untuk meninggalkan tempat tersebut. Tujuan gadis itu adalah kembali ke kelasnya. Belum sempat Haura mengangkat tubuhnya dari kursi yang dia duduki, tiba-tiba seseorang lebih dulu duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.
“Hai anak pembantu,” Ucap Rhea begitu mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi tepat di hadapan Haura. Gadis cantik itu sengaja bersuara lantang agar semua siswa yang ada di tempat tersebut dapat mendengar ucapannya.
Mendengar kata-kata Rhea sontak saja membuat anak-anak yang duduk di meja dekat dengan meja Haura menatap ke arahnya. Tatapan penuh tanya dari berpasang-pasang mata tertuju pada Haura.
Haura sudah menduga hal ini akan terjadi. Rhea pasti akan mempermalukan dirinya di depan anak-anak yang lain. Haura pun tidak memperdulikan perkataan Rhea dan memilih segera pergi dari tempat tersebut.
Melihat Haura seakan mengacuhkan dirinya membuat Rhea semakin tersulut emosi. “Heh... anak pembantu, mau kemana lo?”
Haura masih memilih diam, tidak menghiraukan penghinaan Rhea yang jelas-jelas di tujukan padanya.
“Lo mau godain siapa lagi? Kemarin malam lo godain Nevan. Sekarang siapa lagi yang lo incar?” Perkataan Rhea semakin membuat siswa lainnya berbisik-bisik menatap Haura. Mereka telah termakan pancingan yang Rhea tuduhkan untuk Haura. Karena itulah tujuan utama Rhea. Mempermalukan Haura di depan banyak orang.
“By the way, lo pasang tarif berapa?” tambah Rhea dengan menyilangkan tangannya di dada. Menatap penuh penghinaan kepada Haura.
Sontak saja ucapan Rhea membuat Haura menghentikan langkah kakinya. Haura sungguh tidak terima dengan semua tuduhan yang sengaja Rhea lontarkan untuknya demi mempermalukan dirinya. “Jaga ucapan kamu! Aku gak pernah godain siapa pun.”
“Enggak godain siapa pun? Yakin lo? Dasar anak pembantu. Gue gak nyangka ternyata selain miskin lo juga murahan.”
“RHEA....” Bentak Haura dengan suara lantangnya. Sungguh gadis remaja itu tidak terima jika Rhea mengatakannya perempuan murahan.
“Aku gak punya masalah apapun sama kamu, jadi jangan menghina aku sesuka hati kamu. Meskipun aku miskin, tapi aku bukan perempuan murahan seperti yang kamu tuduh.” Haura tidak tinggal diam mendengar hinaan yang Rhea tujuan untuknya.
“Bukan cewek murahan lo bilang? Terus apa yang lo lakuin selama ini selain godain Nevan. Bahkan kemarin malam lo jalan sama Nevan. Kalau bukan lo yang godain Nevan duluan gak mungkin Nevan bakal mau jalan sama anak pembantu kayak lo.”
Semua yang Rhea ucapkan di telan mentah-mentah oleh seluruh siswa yang ada di sana. Mereka semakin menatap sinis kepada Haura. Bagi mereka anak seorang pembantu adalah sebuah kasta terendah dan sangat tidak pantas bersekolah di tempat yang sama seperti mereka.
“Dengar ya semua yang ada di sini.” Rhea semakin menjadi-jadi. Bahkan saat ini remaja cantik itu telah beranjak dari duduknya dan berdiri di tengah-tengah kantin sekolah mereka.
“Cewek yang terlihat sok polos di depan kita ini adalah anak seorang Pem-ban-tu di rumah Nevan.” Ucap Rhea dengan menekankan kata pembantu demi memperjelas status Haura sebenarnya.
“Dan asal kalian tahu, cewek ini juga gak tahu diri dengan menggoda anak majikannya yaitu Nevan sampai-sampai membuat Nevan gak bisa lepas dari dia. Sekarang gue tanya sama lo semua yang ada di sini, apa mungkin Nevan mau berbaik hati sama cewek rendahan kayak dia kalau dia gak menawarkan sesuatu untuk Nevan.”
Para siswa yang merasa perkataan Rhea cukup masuk akal mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sungguh mereka benar-benar telah termakan hasutan Rhea.
“CUKUP RHE!” Haura berteriak menghentikan Rhea yang akan mengeluarkan fitnah selanjutnya untuk dirinya.
“Kenapa? Lo takut kalau semua kejelekan yang selama ini lo sembunyikan di balik tampang sok polos itu gue bongkar semua?”
“Satu lagi,” ucap Rhea kemudian. Seakan belum puas gadis cantik itu mempermalukan Haura di depan siswa lainnya.
“Cewek murahan ini juga pernah terlibat berteman dengan anak jalanan dua tahun yang lalu.” Rhea tersenyum sinis penuh kemenangan karena telah berhasil mengetahui masa lalu Haura. Tentunya Rhea berusaha keras untuk mengorek masa lalu Haura karena merasa sangat sakit hati karena Nevan mengabaikan dirinya demi seorang perempuan se-kelas Haura.
“Dasar murahan,” sentak salah satu siswa yang ada di sana.
__ADS_1
“Gak heran sih kalau dia murahan, secara kelas ekonominya aja rendahan. Udah pasti dia bakal cari uang lebih dengan menggunakan jalan pintas,” tambah siswa lainnya juga.
“Gue malah kasian sama Nevan karena di manfaatkan sama cewek miskin seperti dia.”
Hinaan demi hinaan silih berganti di lontarkan untuk Haura oleh para siswa yang ada di sana. Berpasang-pasang mata menatap Haura penuh kebencian.
Si penyebar rumor tersenyum licik penuh kemenangan menatap Haura. Rhea merasa sangat puas karena berhasil mempermalukan Haura dengan sempurna.
Sementara Haura hanya bisa menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menopang tubuhnya dengan menggunakan kedua lututnya. Kedua tangan gadis remaja itu dia gunakan untuk menutup rapat-rapat telinganya.
Bagai dejavu, apa yang Haura alami hari ini mengingatkannya pada kejadian yang dia alami beberapa tahun yang lalu. Di hina oleh banyak orang dan tidak mempunyai siapa pun. Belum juga traumanya hilang, Haura sudah harus merasakan hal menakutkan itu lagi.
Tanpa permisi air mata gadis itu pun berhasil lolos dari kedua mata indahnya. Haura bahkan tidak sanggup untuk membalas setiap tuduhan yang di lontarkan oleh para siswa untuk dirinya.
“Dasar murahan….. Dasar cewek miskin….. Benalu gak sadar diri…..” Kata-kata umpatan dan hinaan masih dapat Haura dengar dengan jelas meskipun dia telah menutup telinganya rapat-rapat.
“Ibu, Haura takut,” ucap Haura lirih. Sementara air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya.
Brak….. Seorang siswa datang menendang sebuah kursi yang ada di tempat tersebut. Terang saja hal itu mengalihkan perhatian semua siswa yang ada di sana, termasuk Rhea yang sejak tadi masih berdiri di tengah kantin dan tersenyum merendahkan Haura.
Semua mata tertuju pada sosok yang baru saja menendang sebuah kursi di salah satu meja yang ada di kantin sekolah mereka.
“Gue gak akan tinggal diam pada siapa pun yang berani mengusik Haura,” ucap siswa tersebut dengan nada bicara yang begitu dingin. Matanya memindai satu persatu siswa yang ada di sana. Mengingat dengan jelas wajah-wajah yang telah menghina Haura.
“Siapa pun yang mengusik Haura itu artinya orang tersebut juga mengusik gue,” tambahnya lagi.
Hening, tidak ada satu orang pun yang berani membuka suara. Kantin yang tadinya begitu riuh sekarang berubah seperti kuburan yang begitu sunyi. Bahkan Rhea pun ikut bungkam, tak berani membuka suara.
Orang tersebut berjalan perlahan ke arah Haura. Tepat di hadapan Haura, siswa tersebut pun ikut berlutut. Mensejajarkan posisi tubuhnya agar sama seperti Haura.
Mendengar suara yang begitu akrab di telinganya, Haura pun membuka kedua matanya. Tangisnya semakin menjadi-jadi melihat sosok di depannya.
“Kak Farel.” Gadis itu pun mengucapkan nama orang yang saat ini ikut bersimpuh di depannya dengan bibir yang bergetar karena takut.
“Iya, ini aku. Jangan takut lagi. Gak akan terjadi apa-apa.” Farel yang sangat mengetahui masa lalu Haura mencoba menenangkan gadis di hadapannya yang saat ini terlihat begitu ketakutan.
Para siswa yang ada di sana masih terdiam tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Farel seorang senior yang begitu penyendiri ternyata mengenal Haura dengan baik. Tentu saja akan semakin banyak tanda tanya yang hadir dalam fikiran para siswa yang menyaksikan kejadian tersebut.
Dengan penuh kelembutan Farel menghapus air mata Haura, dan melepaskan tangan gadis itu dari kedua telinganya. Mendapat perlakukan seperti itu dari Farel, tangisan Haura semakin pecah.
"Haura." Satu lagi siswa datang dan memanggil nama Haura dengan lantang. Tanpa ba-bi-bu, siswa tersebut langsung berlari dan menjatuhkan tubuhnya di hadapan Haura dan tepat berada di sebelah Farel.
Sedetik kemudian siswa itu langsung membawa Haura dalam pelukannya. Tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang melihat aksinya tersebut. Farel juga tidak kalah terkejut melihat aksi siswa tersebut.
"Nevan, aku takut."
"Jangan takut, aku di sini. Hmmm."
Ya, siswa tersebut tidak lain adalah Nevan. Tanpa peduli pada tatapan Farel yang terus menatapnya dengan tajam, Nevan justru mengecup puncak kepala Haura. Membelai kepala gadis remaja yang ada di pelukannya itu. Menenangkan Haura dengan caranya.
Farel tidak mengatakan apa pun, hanya menatap Nevan dan Haura yang ada di pelukan Nevan. Dirinya bahkan tidak berani bersikap seberani itu semenjak Haura menjauhi dirinya tanpa alasan yang jelas.
Melihat dua pelindung Haura datang secara bersamaan, Rhea menjadi semakin murka. Gadis itu terus mengumpat Haura di dalam hatinya tanpa berani mengutarakan. Gadis remaja cantik itu tahu dengan pasti bagaimana sikap Nevan jika sudah membenci suatu hal. Oleh karena itu, Rhea hanya diam menahan amarahnya yang telah sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Haura.... Haura..." Luna dan Adel juga ikut hadir ke tempat tersebut setelah mengetahui sesuatu yang buruk menimpa Haura dari beberapa mulut siswa yang terus bergosip di setiap koridor sekolah.
"Kamu gak pa-pa kan, Ra?" tanya Adel panik. Adel pun langsung menarik Haura yang masih berada dalam pelukan Nevan. Meneliti dengan seksama tubuh sahabatnya itu. Mencari kalau-kalau Rhea kembali melukai Haura seperti yang terjadi ruang ganti beberapa minggu yang lalu.
Tanpa perlu di minta Nevan pun langsung melepaskan pelukannya pada Haura. Nevan yakin Haura akan lebih tenang jika bersama kedua sahabatnya itu.
Mendengar pertanyaan Adel, Haura pun menggeleng pelan. "Aku gak pa-pa." Meskipun masih merasa takut, Haura mencoba tersenyum kepada kedua sahabatnya itu.
"Kita ke UKS ya, Ra. Kamu istirahat dulu di sana," ajak Luna kemudian.
Haura pun mengangguk, menyetujui saran yang Luna berikan. Gadis remaja itu menolehkan pandangannya kepada dua laki-laki yang selalu melindunginya. Nevan dan Farel.
"Makasih kak Farel, Nevan," ucap Haura tulus.
"Gak perlu berterima kasih, aku kan udah janji akan selalu melindungi kamu." jawab Farel segera. Kemudian Farel mengusap lembut puncak kepala Haura. "Kamu istirahat di UKS, ya." Lagi-lagi Haura hanya megangguk dan dan tersenyum kepada Farel.
Tentu saja Nevan sangat tidak suka melihat Farel yang begitu perhatian kepada Haura. Akan tetapi dia tidak ingin membuat keributan di situasi seperti sekarang ini. Nevan pun memilih tidak melihat ketika Farel mengusap lembut puncak kepala Haura.
"Kamu tunggu aku di UKS. Jangan kemana-mana." perintah Nevan kepada Haura. Haura juga menggangguk pelan sebagai jawaban atas perintah Nevan.
Kemudian Luna dan Adel membawa Haura ke UKS untuk bisa beristirahat sejenak di sana. Menenagkan sahabat mereka itu dari ketakutan yang melandanya beberapa saat yang lalu.
Kini tatapan Nevan dan Farel tertuju pada si pembuat masalah, Rhea. Dengan menahan amarah, Nevan berjalan menghampiri Rhea. Melihat tatapn Nevan yang begitu mengerikan membuat Rhea ketakutan. Tidak pernah Rhea melihat Nevan semarah sekarang. Reflek gadis cantik itu memundurkan langkahnya beberapa langkah. Niatnya adalah kabur dari tempat tersebut.
Akan tetapi belum juga Rhea berhasil membalikkan tubuhnya, Nevan terlebih dahulu mencekal pergelangan tangan Rhea. "Lo tahu kan, kalau gue gak suka sama orang-orang yang bertindak di luar batasannya. Gue tahu kalau lo beberapa kali udah nyakitin Haura, tapi gue masih diam mengingat pertemanan kita." Sebisa mungkin Nevan menahan amarahnya agar tidak meledak saat itu juga.
Nevan semakin mendekatkan dirinya kepada Rhea. Berbicara tepat di telinga gadis cantik itu. "Lo dengar baik-baik peringatan gue. Jangan pernah lo sentuh Haura lagi, atau lo akan berurusan langsung sama gue." Setelah mengatakan itu Nevan langsung pergi meninggalkan Rhea yang terlihat begitu ketakutan.
Baru beberapa langkah Nevan pergi, Farel kembali berdiri tepat di hadapan Rhea.
"Gue memang gak pernah mau menyakiti perempuan. Tapi kalau lo masih berani menghina Haura, gue gak akan segan-segan untuk membuat perhitungan sama lo. Dan satu lagi, gue bukan Nevan yang masih berbaik hati sama lo karena mengingat ikatan pertemanan. Gue sama sekali gak kenal sama lo, jadi gue gak akan segan-segan untuk membalas semua perbuatan jahat lo sama Haura."
Rhea mematung di tempatnya. Gadis itu terdiam menahan takut dan amarah yang menguasainya saat ini. Sementara itu satu persatu siswa pergi meninggalkan kantin setelh drama panjang mengejutkan yang di ciptakan oleh Rhea.
Di lain sisi, Farel mempercepat langkahnya mengejar Nevan. Dari jarak yang tidak begitu jauh, Farel dapat menangkap sosok Nevan yang terlihat berjalan dengan terburu-buru menuju UKS. Farel pun berlari agar bisa menyusul Nevan.
"Gue perlu bicara sama lo," ucap Farel ketika telah berada tepat di belakang Nevan.
Merasa mengenali suara tersebut, Nevan pun menghentikan langkah kakinya. Berbalik melihat sosok si pemilik suara tersebut. "Gue rasa gak ada yang perlu kita bicarakan," jawab Nevan ketus.
"Ckkkk...." Farel berdecak kesal. "Jauhi Haura!" Perintah Farel tanpa mau banyak basa-basi.
Mendengar permintaan Farel, Nevan pun tersenyum mengejek kepada lawan bicaranya itu. "Lo fikir lo siapa berani perintah gue untuk menjauhi Haura?"
"Semua yang terjadi pada Haura sekarang karena kedatangan lo dalam hidup Haura. Gue gak mau karena kehadiran lo akan membuat Haura mengalami kejadian yang membuatnya kembali trauma."
"Lo gak perlu mendikte gue, karena gue tahu gimana caranya untuk menjaga Haura."
Farel berdecak kesal mendengar perkataan Nevan. "Menjaga Haura? Semakin lo dekat dengan Haura, itu artinya semakin lo menyakiti dia."
"Satu lagi..." Farel pun menepuk pundak kiri Nevan. Posisi mereka berdiri sekarang saling berseberangan. Kedua remaja tampan itu saling menatap dengan tatapan saling membunuh satu sama lain. "Gue masih sanggup untuk menjaga Haura. Jika sesuatu yang buruk menimpa Haura, lo adalah orang pertama yang akan gue hajar."
"Dan lo dengar juga baik-baik apa yang gue katakan," ucap Nevan tak mau kalah. "Gue gak takut sama sekali sama ancaman bodoh lo. Dan gue cukup bisa menjaga Haura tanpa pernah menyakiti dia. Asal lo tahu, lo adalah salah satu orang yag ikut menyakiti Haura."
__ADS_1
Nevan pun menghempaskan tangan Farel yang berada di pundak kirinya. Meninggalkan seniornya itu yang masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang dirinya katakan.