
Akhirnya orang yang di tunggu oleh Haura pun tiba. Nevan setengah berlari menghampiri Haura. Dapat Nevan lihat bahwa sahabatnya itu telah memasang wajah kesal padanya. Namun Nevan tidak mau ambil pusing, bahkan remaja tampan itu berencana untuk membuat Haura semakin kesal. Karena memang itulah hal yang paling di sukai olehnya. Melihat Haura kesal, lalu menangis dan dengan senang hati Nevan memeluk Haura untuk menenangkan sahabatnya itu.
“Kenapa mukanya di tekuk gitu?” tanya Nevan seakan tidak terjadi apapun. Padahal pada kenyataannya dirinyalah yang membuat Haura memasang wajah cemberut di pagi hari.
“Buruan dong, Van. Ini tuh udah jam tujuh tiga puluh. Aku udah nungguin kamu dari tadi."
“Ini juga udah di buru. Bawel banget sih,” ucap Nevan dengan tersenyum kepada Haura yang terlihat begitu kesal pada dirinya. Namun Nevan sama sekali tidka menggubris hal tersebut. Justru sikap Haura yang sedang kesal padanya terlihat begitu menggemaskan bagi Nevan.
“Gimana gak bawel, kamunya bangun kesiangan malah maksa aku untuk tungguin kamu. Kalau aja aku pergi duluan naik ojol pasti aku udah di sekolah sekarang.”
“Mau ngapain naik ojol. Mendingan sama aku yang keren gini. Banyak cewek yang ngantri pengen aku bonceng. Ehhh... kamunya malah lebih milih abang ojol.”
“Ckkk...” Haura hanya berdecak kesal mendengar jawaban Nevan. Tingkat percaya diri sahabatnya itu benar-benar berada di level tak terhingga.
“Itu bibir gak usah manyun gitu, kamu tuh udah jelek jadi tambah jelek kalau manyun-manyun gak jelas,” ledek Nevan tak henti-hentinya.
Haura yang telah paham bahwa Nevan hanya ingin membuatnya semakin kesal tak mau ambil pusing dengan beradu argumen melawan sahabatnya itu. Bagi Haura jika mereka terus berdebat maka sama saja dengan membuang-buang waktu dan kemungkinan besar mereka akan terlambat tiba di sekolah. Tanpa berkata apapun untuk membalas ucapan Nevan, Haura pun segera mengambil helm dan memakainya.
Tidak mendapat respon dari Haura bukannya membuat Nevan menyerah. Nevan seperti tak kehabisan ide-ide jahil untuk terus menggoda Haura.
“Untuk apa kamu pakai helm?”
“Karna kita ke sekolah naik motor," jawab Haura polos. "Biasanya juga aku pakai helm,” sambung Haura lagi. Karena bagi Haura sudah sewajarnya jika naik motor menggunakan helm.
“Siapa bilang kita ke sekolah pakai motor?”
Hauara terlihat bingung karena ucapan Nevan. “Terus kita ke sekolah naik apa?” tanya Haura polos.
“Jalan kaki.”
Mendapat jawaban yang tak terduga dari Nevan, Haura begitu terkejut sampai-sampai membelalakkan kedua matanya.
“Hahahaha....” ekspresi Haura yang sedemikian rupa justru mengundang gelak tawa Nevan. "Matanya biasa aja, jangan kayak ngeliat hantu gitu."
“Kamu aja yang jalan kaki.” Haura segera mengambil handphonenya untuk memesan ojek online. Namun sayang, belum juga Haura sempat melaksanakan kehendaknya, handphonenya telah berpindah tangan kepada Nevan.
“Jangan coba-coba naik ojek.”
“Apaan sih kamu. Tadi kan kamu yang bilang kalau kita jalan kaki. Mendingan aku naik ojek online daripada jalan
kaki sama kamu.”
“Huuu... Dasar gak setia," ejek Nevan. "Lagian kenapa kamu bawel banget sih sekarang?” ucap Nevan sambil menutup mulut Haura menggunakan salah satu tangnnya.
“Awww... sakit, Ra,” ringis Nevan karena tangannya di gigit oleh Haura.
“Rasain. Salah sendiri jadi cowok usil banget.”
“Tapi gak usah di gigit juga.”
“Buruan... Mau ke sekolah gak. Ini kita bisa telat ujian mata pelajaran pertama.
__ADS_1
Dengan menggerutu Nevan pun segera menyalakan mesin motor sport miliknya. Benar kata Haura, mereka akan terlambat jika tidak segera berangkat ke sekolah. Waktu hanya tinggal dua puluh menit lagi sebelum ujian untuk mata pelajaran pertama di mulai.
Meskipun sebenarnya Nevan merasa kesal karena Haura menggigit tangannya, namun Nevan tidak mau memperpanjang lagi perdebatan mereka. Lebih tepatnya Nevan menunda untuk membalas Haura. Karena dapat di pastikan setelah ujian selesai maka Nevan akan meminta bayaran tak terduga atas sikap Haura yang berani menggigit tangannya.
“Buruan naik,” perintah Nevan dengan suara ketus.
“Iya.. Iya...,” jawab Haura dengan nada suara yang sama.
Baru saja Haura mendaratkan kakinya di footstep motor milik Nevan, Zayn tiba-tiba memanggil nama gadis remaja itu.
“Haura..” panggil Zayn dengan suara lantang karena memang jarak anatara Haura dan Zayn terbilang terpisah hampir sepuluh meter jauhnya.
Merasa namanya di panggil oleh Zayn, Haura pun segera berbalik ke arah sumber suara. “Iya kak Zayn, ada apa?”
“Kamu ke sekolahnya bareng kakak aja,” tawar Zayn. Sebuah tawaran yang sebenarnya hanya untuk membuat Nevan kesal.
“Serius kak, boleh?” Haura yang seakan paham maksud dari putra tunggal majikannya itu terlihat begitu antusias menerima tawaran Zayn.
“Boleh dong. Ayo sini buruan.”
Segera Haura melepas kembali helm yang telah tersemat di kepalanya. Gadis remaja itu hendak melangkah menuju Zayn yang menunggunya dan telah membukakan pintu mobilnya untuk Haura.
“Mau kemana?” cegah Nevan dengan menggenggam erat pergelangan tangan Haura.
“Aku mau berangkat sama kak Zayn, jadi....”
“Naik sekarang atau aku gendong?” Nevan memotong ucapan Haura dengan sebuah pilihan yang tentu saja membuat Haura bungkam seketika. Haura sangat yakin jika tidak segera naik ke motor Nevan, maka akan dapat di pastikan bahwa Nevan benar-benar akan menggendongnya.
“Gitu dong. Nurut sama aku,” ucap Nevan dengan tersenyum penuh kemenangan.
Setelah memastikan Haura telah duduk dengan benar, Nevan pun segera melajukan kendaraannya tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada kakaknya. Melihat tingkah adiknya, Zayn hanya bisa menggelengkan kepala.
“Dasar bocah.” Sebagaimana Nevan dan Haura yang berangkat ke sekolah, begitu juga Zayn yang langsung meninggalkan rumah mewah tersebut menuju kantornya.
Di jalanan Ibu kota Nevan memacu kendaraannya bermotornya dengan kecepatan sedang. Remaja tampan itu sungguh tidak peduli bahwa sebentar lagi ujian akan di mulai. Lain halnya dengan Haura yang terlihat begitu gusar di belakang Nevan.
Beberapa kali Haura melirik arloji miliknya yang telah menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Jika Nevan tidak mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi maka kata terlambat tidak akan bisa mereka berdu hindari. Tak ingin mengambil resiko di hari pertama ujian, Haura pun meminta agar Nevan menambah kecepatan motornya.
Haura menepuk bahu Nevan perlahan, “Van, ngebut dong bawa motornya. Kita bisa terlamabat beneran kalau kamu bawanya santai gini.”
“Kamu yakin? Bukannya kamu takut kalau aku ngebut?” Nevan tahu betul bahwa setiap kali dirinya melajukan motor dengan kecepatan tinggi sudah tentu Haura yang duduk di belakangnya akan ptotes keras. Bahkan pernah Haura tidak ingin berbicara padanya selama satu hari karena Nevan sengaja ngebut di jalanan hingga membuat Haura menangis sesenggukan.
“Gak pa-pa Van, Dari pada kita terlambat.”
“Yaudah kalau itu mau kamu. Tapi janji kamu jangan nangis.”
“Aku gak akan nangis,” jawab Haura dengan keyakinan.
“Oke... Peluk aku!” perintah Nevan.
Tanpa ba-bi-bu seperti biasanya, Haura pun segera memeluk tubuh Nevan dengan erat seraya memejamkan kedua matanya. Meskipun berkata tidak takut, nyatanya Haura tetap saja merasa tidak aman setiap kali Nevan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Namun apa boleh buat, saat ini mereka sedang berpacu dengan waktu.
__ADS_1
Mendapat pelukan dari Haura, entah kenapa dada Nevan seperti bergemuruh. Detak jantung Nevan yang tadinya berdetak normal, kini seakan berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Padahal pada kenyataannya ini bukanlah kali pertama Haura memeluknya. Bahkan terkadang Nevan sendirilah yang terlebih dahulu memeluk Haura.
Nevan merasa sejak beberapa hari belakangan ini setiap dirinya berdekatan dengan Haura, jantungnya bergemuruh bak angin ribut belum lagi ada rasa aneh yang menyelusup ke dalam hatinya. Rasa nyaman namun juga ada takut yang entah karena apa.
“Aduhh... kenapa gue jadi gini sih kalau dekat sama Haura,” batin Nevan.
Merasa kecepatan motor masih sama seperti sebelumnya, Haura pun membuka kembali kedua matanya. “Buruan, Van. Kita cuma punya waktu sepuluh menit lagi.”
“Emmm... Emmm...” Nevan ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Haura.
“Emmm... Kenapa?” tanya Haura heran karena gelagat aneh yang Nevan tunjukkan. Sepertiingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
“Kamu jangan salah paham, Ra. Bisa gak kalau kamu....” Nevan begitu enggan menyuarakan permintaannya agar Haura tidak usah memeluknya. Karena jika hal itu berlangsung lama, dapat Nevan pastikan bahwa dirinya pasti akan terkena serangan jantung di usia muda.
“Kalau aku apa?” Haura semakin tak mengerti maksud perkataan Nevan yang sangat tidak jelas itu.
“Kalau kamu...” Menimbang Haura akan salah paham jika dirinya menyuarakan permintaan yang sangat tidak masuk akal itu, akhirnya Nevan mengurungkan niatnya.
“Kalau kamu peluk aku lebih erat,” ucap Nevan spontan. Sebuah permintaan yang sangat disesali oleh remaja tampan itu.
“Ooohhh... Oke.” Haura segera memeluk Nevan dengan erat. Bahkan gadis remaja itu menyandarkan kepalanya di punggung Nevan, lalu menutup kedua matanya.
Detik itu juga suhu tubuh Nevan mendadak naik karena pelukan Haura bagaikan sebuah CPR yang memompa jantung Nevan semakin kencang. Lagi-lagi Nevan tak ingin ambil pusing akan keadaan yang menimpa dirinya, remaja tampan itu pun segera menambah kecepatan motornya.
Tepat sepuluh menit kemudian kedua remaja itu pun tiba di sekolah mereka bersamaan dengan bel tanda masuk berbunyi. Haura dan Nevan segera turun dari motor, namun ada dua pemandangan yang berbeda dari keduanya. Haura terburu-buru menuju kelas mereka hingga membuat gadis itu berlari. lain halnya dengan Nevan yang berjalan santai sebagaimana biasanya. Seakan hari itu adalah hari seperti biasa, bukanlah hari pertama ujian.
Menyadari Nevan tidak ada di sampingnya, Haura pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang untuk mencari keberadaan Nevan. Haura hanya khawatir jika sahabat tampannya itu tidak menuju ke kelas mereka dan justru bolos seperti biasanya.
Namun Haura sedikit lega karena ternyata Nevan juga berjalan menuju ke kelas mereka meskipun dengan langkah santai tanpa beban apapun.
"Nevan, ayo cepat. Keburu guru masuk."
"Santai aja Haura. Kita mau ujian bukan mau perang," celetuk Nevan menanggapi Haura yang terlihat
sangat ingin segera tiba di kelas mereka.
Tanpa berkata apapun lagi, Haura melangkah menuju Nevan. Sementara Nevan segera menghentikan langkahnya karena melihat Haura yang berjalan ke arahnya dengan wajah yang sangat serius.
"A - a - ada apa, Ra?" tanya Nevan dengan tergagap ketika Haura berdiri tepat di hadapannya.
"Ayo!" seru Haura. Detik itu juga Haura menggenggam tangan Nevan. Selanjutnya yang terjadi adalah Haura membimbing Nevan untuk ikut berlari bersamanya menuju ke kelas mereka.
Semua itu terjadi begitu saja tanpa sempat Nevan mengatakan apapun. Dan anehnya remaja tampan itu mengikuti Haura tanpa penolakan sama sekali.
Haura menggenggam erat tangan Nevan dan terus berlari menyusuri setiap koridor sekolah. Surai hitam milik Haura yang tergerai indah berterbangan di terpa angin yang berhembus perlahan. Hal tersebut bagaikan menghipnotis Nevan. Manik coklat remaja tampan itu begitu terpaku melihat Haura di pagi itu. Bahkan saat itu rasa yang terus coba di tepis oleh Nevan, perlahan menyusup semakin menguasai hatinya.
"Ini gila," batin Nevan lagi. "Haura, ini tidak mungkin kan?"
"Ayo!" seru Nevan yang tak ingin larut dengan perasaannya. Kini Nevan justru berlari di hadapan Haura dan menggenggam tangan Haura dengan tak kalah erat. Seakan tak ingin kehilangan sosok gadis remaja yang masih di anggap sebagai sahabatnya itu. Haura hanya tersenyum pada Nevan.
Hari itu kedua remaja yang berstatus sebagai sahabat itu sedang mengukir kenangan yang kelak tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Kenangan sederhana namun nantinya akan sangat memberi makna hingga mereka akan terikat satu sama lainnya. Namun keduanya lupa pada satu nama, yaitu takdir. Yang entah akan berpihak pada mereka atau hanya sekedar mengajak mereka bercanda dan kemudian tiada.
__ADS_1