
Semua mata para siswa tertuju pada Haura sepanjang perjalanan menuju Laboratorium Kimia. Bahkan semenjak Haura tiba di sekolah beberapa jam yang lalu, dirinya sudah menjadi pusat perhatian seluruh siswa Sander International High School. Tidak terkecuali kedua sahabatnya, Luna dan Adel yang sejak tadi mengatakan bahwa Haura terlihat sangat cantik pagi itu.
Semua itu bukan tanpa sebab. Penampilan haura yang berbeda dari biasanya berhasil menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Gadis remaja itu terlihat cantik meskipun dengan wajah yang masih di tekuk karena kejadian tadi pagi bersama Nevan yang membuatnya sangat tidak percaya diri. Bahkan Haura berfikir bahwa semua anak-anak yang melihat ke arahnya karena wajahnya yang jelek.
Haura bahkan menganggap semua pujian dari kedua sahabatnya adalah sebuah kebohongan untuk menyenangkan hatinya saja.
Sebenarnya ketika tiba di sekolah Haura telah menguncir kembali rambutnya menggunakan ikat rambut milik Adel. Namun sayangnya hal itu tidak berlangsung lama karena Nevan kembali melepas kunciran rambut Haura dan lagi-lagi membuang ikat rambut gadis remaja tersebut.
Baik Luna maupun Adel terus memperhatikan bahwa Haura terlihat begitu murung sejak pagi tadi. Bahkan Haura begitu irit berbicara membuat Luna dan Adel begitu bingung dengan sikap sahabat mereka itu. Ketika salah satu dari mereka bertanya hal apa yang membuat Haura sangat tidak bersemangat pada hari itu, bukannya menjawab pertanyaan kedua sahabatnya, Haura justru membuang nafas panjang. Pertanda ada sesuatu yang begitu mengganggunya. Hal itu pula yang membuat Luna dan Adel tidak mau bertanya lagi. Mereka hanya menunggu Haura sendiri yang akan bercerita kepada mereka.
Sepanjang koridor sekolah menuju Laboratorium Kimia, Haura terus berjalan sambil menunduk layaknya sedang menghitung jumlah langkah kakinya. Tidak sedikit pun Haura mengangkat wajahnya. Beberapa kali pula Haura nyaris menabarak orang-orang yang berjalan berlawanan arah darinya. Untung saja ada Luna dan Adel yang terus mengawasi langkah Haura.
“Coba kamu tanya lagi sama Haura kenapa dia sangat bad mood gitu,” bisik Luna pada Adel. Kini kedua remaja cantik itu memperlambat langkah kaki mereka hingga menghasilkan jarak beberapa langkah dari Haura yang
berjalan di depan keduanya. Masih sesekali indra penglihatan kedua gadis remaja cantik itu mengawasi Haura.
“Kamu aja yang tanya. Aku gak berani tanya lagi. Kamu liat sendiri tadi waktu aku tanya Haura gak mau jawab sama sekali,” tolak Adel.
“Apa ini ada hubungannya dengan si manusia planet itu?” ucap Luna menduga-duga bahwa penyebab Haura mengaktifkan mode senyap adalah karena remaja tampan yang selalu bersama Haura. Siapa lagi kalau bukan Nevan Sander.
“Aku yakinnya sih gitu. Pasti gara-gara si cowok super menyebalkan itu,” jawab Adel ikut membenarkan kecurigaan Luna.
Kedua remaja cantik sahabat Haura itu sudah cukup paham bahwa hanya Nevan seorang lah yang mampu membuat mood Haura jungkir balik.
“Kamu liat gak dimana Nevan? Aku mau tanya langsung sama dia apa yang udah dia lakukan sampai buat Haura
murung gitu?”
Luna hanya mengedikkan bahu pertanda tidak tahu dimana keberadaan orang yang ditanyakan oleh Adel. Karena memang seperti biasanya, Nevan lebih sering bolos di jam pelajaran. Hanya sesekali saja Nevan mengikuti pelajaran, selebihnya remaja tampan itu menghilang entah kemana.
Sementara Luna dan Adel yang masih terlihat mengendarkan pandangan mereka ke segala arah untuk mencari keberadaan Nevan, Haura pun masih berjalan sambil menundukkan kepalanya. Enggan menatap ke depan.
Tanpa Haura sadari, seseorang berjalan ke arahnya dan dengan sengaja berdiri menghalangi langkah Haura, hingga mengakibatkan Haura menabrak tubuh orang tersebut dan membuatnya nyaris terjatuh. Untung saja orang yang Haura tabrak dengan sigap menangkap tubuh mungilnya.
“Apa yang kamu fikirkan?” suara bariton milik Farel membuat Haura membuka matanya yang sempat ia pejamkan karena berfikir bahwa dirinya benar-benar akan terjatuh.
Ya, orang yang Haura tabrak adalah Farel yang memang sejak tadi terus memperhatikan Haura. Farel telah mendengar bisik-bisik siswa lainnya yang mengatakan bahwa Haura terlihat berbeda hari ini. Hak tersebut membuat Farel ingin mengetahui secara langsung perbedaan apa yang terjadi pada Haura sehingga mampu menarik perhatian hampir seluruh siswa di sekolah mereka.
Benar saja, Haura memang sangat berbeda. Terlihat begitu cantik. Ini adalah kali kedua Farel melihat Haura tampil cantik dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai begitu indah. Namun sayangnya, penampilan Haura yang terlihat begitu cantik justru membuat wajahnya yang terlihat begitu murung.
__ADS_1
Oleh karena itu Farel sengaja berdiri di hadapan Haura karena sejak tadi Farel melihat bahwa gadis yang sejak tadi di awasinya itu sangat tidak fokus pada langkahnya sendiri. Sesuai dugaan Farel, Haura bahkan tidak menyadari kehadirannya hingga menabarak tubuhnya hingga nyaris terjatuh andai saja Farel tidak sigap merangkul pinggang Haura.
Merasa tubuhnya begitu menempel pada tubuh Farel, dengan sigap Haura melepaskan dirinya yang berada dalam dekapan Farel. Dimana tangan Farel melingkar dengan sempurna di pinggang Haura.
“Enggak ada kak, Haura lagi gak mikirin apapun.”
Farel segera melepaskan tubuh Haura dan menatap sendu pada gadis yang dikaguminya itu yang saat ini seakan begitu enggan berdekatan dengannya.
“Bohong.” Farel sangat tahu bahwa saat ini ada sesuatu yang membuat Haura bersikap demikian. Bahkan gadis di
depannya itu tidak bisa fokus pada langkahnya sendiri.
“Kamu gak bisa bohong sama aku," Sambung Farel lagi. "Ada apa?”
“Haura jujur kak, gak ada apa-apa.” Gadis remaja itu pun memaksa untuk tersenyum. Namun dapat di pastikan bahwa siapa pun yang melihat senyuman Haura akan tahu bahwa itu adalah sebuah senyum yang tidak tulus. Senyum yang sangat terpaksa.
“Karena Nevan? Apa yang dia lakukan?” Farel yang tahu bahwa Haura sedang berbohong langsung mencecar gadis remaja itu dengan pertanyaan lainnya. Sebuah pertanyaan yang di duga kuat oleh Farel sebgai penyebab Haura terlihat begitu tidak bersemangat di hari itu.
Dengan cepat Haura menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba menampik apa yang di katakan oleh Farel. “Bukan kak. Nevan gak ngelakuin apa-apa.”
“Kita udah duga, pasti penyebab kamu bad mood adalah si manusia kutub itu.” Suara Adel menginterupsi dari arah
belakang Haura.
“Kenapa sih, Ra? Cerita sama kita,” desak Luna lagi.
Ketiga orang tersebut menatap langsung pada Haura dengan wajah penuh tanda tanya. Mereka menuntut sebuah
jawaban jujur dari Haura. Mendapat tatapan penuh intimidasi dari Luna, Adel dan Farel membuat Haura mau tidak mau harus berkata jujur penyebab dirinya begitu tidak bersemangat di pagi itu.
Sebelum menjawab pertanyaan tersbut, Haura menghembuskan nafas dalam. Seakan hal tersebut dapat membantunya melepas semua kegundahan hatinya.
“Aku jelek, kan?” sebuah pertanyaan yang sejak tadi membuat Haura begitu gusar akhirnya lolos dari tutur Haura.
Penuturan yang Haura keluarkan tentu saja membuat ketiga remaja yang sedang menantikan sebuah jawaban dari Haura mengernyitkan dahi bersamaan. Mereka merasa bingung dengan pertanyaan Haura. Karena tidak pernah biasanya Haura mempertanyakan tentang penampilannya.
Gadis berlesung pipi itu selalu percaya diri dengan penampilannya. Meskipun sederhana tapi cukup menyenangkan
untuk di pandang mata. Bahkan penampilan Haura sekarang tergolong cukup cantik. Berbeda dari biasanya. Akan tetapi entah karena apa Haura justru bertanya demikian. Sebuah pertanyaan yang menyiratkan rasa tidak percaya diri yang cukup tinggi.
__ADS_1
"Kenapa kamu tanyanya gitu?" tanya Luna.
"Kalian jujur aja, aku jelek kan? Tarutama hari ini. Iya, kan?" Haura terus mendesak agar teman-temannya agar membernarkan ucapannya.
“Apaan sih, Ra. Kamu tuh gak jelek dan hari ini kamu cantik. Sangat cantik,” Adel segera menampik pernyataan Haura yang menurutnya sangat membingungkan.
Adel pun berdiri berhadapan dengan Haura dan memegang ke dua pundak sahabatnya itu yang masih memasang wajah sendu. “Kenapa kamu tiba-tiba gak percaya diri? Haura yang kita kenal gak pernah seperti ini. Ada apa... hmmm?”
“Kamu bilang aku cantik, cuma karena mau buat aku senang kan?” Haura yang tidak mempercayai semua
yang Adel katakan justru menganggap bahwa sekarang Adel sedang mencoba untuk
membohonginya.
“OMG Haura... sejak kapan kita suka bohong sama kamu. Kita tuh gak punya bakat untuk jadi pembohong." Ucapan Luna terdengar sedikit kesal. Bisa-bisanya Haura mengatakan bahwa mereka berbohong.
"Apa Nevan yang bilang kamu jelek?" tanya Farel yang sejak tadi hanya diam memperhatikan ketiga bersahabat itu berbicara.
Haura mengangguk pelan membenarkan pernyataan Farel. Membuat Luna dan Adel begitu kesal karena sesuai dugaan mereka bahwa Nevan lah penyebab Haura begitu tidak bersemangat di hari itu.
Lain halnya dengan Farel, remaja laki-laki itu melihat Haura yang mengangguk membuat Farel tersenyum pias dan tatapannya masih menatap lekat pada Haura. "Bodoh."
Satu kata itu membuat Haura kembali menatap Farel yang saat ini masih menatap lekat padanya. Ada gurat kesedihan dalam tatapan remaja laki-laki itu.
"Kamu bodoh," ucap Farel lagi. Haura masih belum mengalihkan netranya dari Farel. Menunggu kata selanjutnya yang akan di ucapkan oleh remaja laki-laki tampan yang menatap sendu ke arahnya.
"Kamu harus lebih peka." Setelah mengatakan itu Farel pun berlalu meninggalkan Haura, Luna dan Adel. Haura dan Luna masih mencoba mencerna maksud dari ucapan senior mereka itu. Lain pula yang terjadi dengan Adel, sahabat Haura yang satu itu sangat mengerti maksud ucapan Farel.
Adel sudah menduga bahwa antara Haura dan Nevan mulai hadir sebuah rasa yang bernama cinta. Sebuah kata sakti yang masih enggan untuk menampakkan dirinya kepermukaan.
"Apa maksud kak Farel?" tanya Luna pada Haura dan Adel.
Haura menggeleng pertanda bahwa dirinya juga tidak mengerti maksud dari ucapan Farel. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Haura, Luna pun mengalihkan tatapannya pada Adel untuk menuntut sebuah jawaban.
"Maksudnya, Kak Farel meminta Haura untuk lebih peka." Bukannya menjawab, Adel justru mengulang kembali apa yang Farel ucapkan satu menit yang lalu.
Setelahnya Adel pun menggandeng tangan kedua sahabatnya itu untuk melanjutkan langkah mereka tanpa memperdulikan tatapan penuh tanda tanya yang di tujukan Haura dan Luna untuknya.
"Lebih peka? Maksudnya apa?" tanya Haura ketika ketiganya terus berjalan menuju Laboratorium Kimia.
__ADS_1
"Kamu harus lebih peka pada semua maksud tak kasat mata dari semua ucapan Nevan." Jawaban ambigu dari Adel membuat Haura dan Luna semakin bingung. Namun setelahnya tidak ada lagi terdegar pertanyaan lanjutan yang diberikan Haura maupun Luna.
Haura lebih memilih untuk bergelut dengan fikirannya sendiri mencoba mencari jawaban tentang maksud dari ucapan Farel dan Adel.