(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Memulai Namun Kembali


__ADS_3

Di tempat lainnya Nevan terlihat begitu gusar karena sejak tadi dirinya menghubungi Haura namun tidak ada jawaban sama sekali. Beberapa pesan juga telah ia kirimkan, tetapi hanya di balas seadanya saja oleh Haura.


Rasa khawatir begitu menguasai Nevan. Tidak biasanya Haura mengabaikan dirinya. Sempat Nevan berfikir mungkin saja gadis itu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Namun setelah beberapa jam Haura tak kunjung juga menghubunginya.


Sejak tadi Nevan tidak pernah lepas dari ponsel miliknya. Berulang kali mencoba menghubungi Haura namun sambungan teleponnya tidak pernah terjawab.


Sikap Nevan tentu saja sangat menarik perhatian setiap orang yang berasa disana. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Menikmati kebersamaan dengan saling berbagi cerita tentang apa saja. Di sela-sela pembicaraan terdengar tawa bahagia dari mereka. Namun tidak dengan Nevan. Laki-laki itu bahkan tidak dapat mencerna dengan baik apa yang di bicarakan oleh yang lainnya.


Nevan menjauhkan diri dari kegaduhan pembicaraan yang sedang berlangsung. Mencoba menenangkan pikirannya, berharap Haura baik-baik saja disana. Laki-laki itu memandangi jalanan di luar sana lewat jendela rumah mereka. Lewat temaramnya lampu-lampu jalan, Nevan masih dapat melihat salju telah menyelimuti seluruh jalanan kota. Sejak pagi tadi badai salju melanda kota tersebut. Itulah mengapa mereka hanya berdiam diri di rumah.


"Kamu kemana Haura," gumam laki-laki itu. Pandangannya terpaut pada kristal-kristal putih yang turun silih berganti.


"Kamu baik-baik aja kan, Ra." Nevan melihat lagi ponsel miliknya. Masih belum ada panggilan masuk dari Haura. Hanya ada beberapa notifikasi pesan dari Tuan Liam dan juga Zayn. Nevan membuka pesan dan membalas pesan dari papa dan kakaknya itu.


Pandangan laki-laki itu tertuju pada sebuah rumah yang tepat berada di samping rumahnya. Rumah itu telah di tinggalkan oleh penghuninya beberapa bulan sebelum Nevan kembali pulang ke Indonesia. Sampai sekarang pun sepertinya belum ada tanda-tanda penghuni di sana. Hampir satu minggu Nevan di sana, tapi tidak pernah sekalipun dirinya melihat penghuni rumah itu.


Saat ini bukan rumah itu yang menjadi pusat perhatian Nevan. Tetapi fikiran laki-laki itu sepenuhnya tertuju pada seorang gadis yang sedang jauh disana. Di lihatnya lagi jam yang ada di ponselnya. Waktu menunjukkan hampir tengah malam, yang mana artinya di Indonesia juga sudah tiba waktu malam.


Nevan sudah sangat hafal bahwa jam-jam sekarang seharusnya Haura sudah berada di paviliun belakang, karena pekerjaan gadis itu telah selesai. Entah sebab apa Haura mengabaikannya sepanjang hari. Ingin rasanya Nevan kembali pulang saat itu juga bila tidak mengingat yang lainnya. Nevan tidak ingin mementingkan egonya saja. Terlebih lagi setelah kembali ke Indonesia, Nevan akan butuh waktu lama lagi untuk bertemu dengan grandmanya.


"Belum juga ada kabar dari Haura?" sebuah suara membuyarkan lamunan Nevan. Yang bertanya adalah Niko. Di tangan Niko ada dua cangkir teh. Satunya ia sodorkan untuk Nevan dan satunya lagi untuk dirinya. Kedua remaja tampan itu memandang ke luar jendela. Asap terlihat mengepul dari kedua cangkir mereka.


"Apa sejak tadi Haura gak ada kabar?" tanya Niko lagi.


"Hmmmm...." hanya itu jawaban Nevan. Selebihnya kembali senyap. Niko menyeruput teh panas yang ada di tangannya. Nevan kembali mecoba menghubungi Haura. Kali ini bahkan ponsel Haura tidak dapat menerima panggilan. Itu artinya ponsel Haura kehabisan daya.


"Kamu kemana Haura? Jangan buat aku khawatir," gumam Nevan lagi.

__ADS_1


"Dia akan baik-baik aja. Besok kita akan pulang."


Kata-kata Niko tidak cukup untuk membuat Nevan tenang. Menunggu besok tiba seakan sangat lama bagi Nevan. Masih beberapa jam lagi.


"Lo terlalu khawatir. Haura hanya hilang kabar selama satu hari." Niko tersenyum mengejek ke arah Nevan. Lalu kembali menyeruput teh miliknya. Begitu pun dengan Nevan ikut menyeruput tehnya yang sejak tadi berada di tangannya.


"Khawatir lo terlalu berlebihan. Hanya satu hari, bagaimana kalau Haura menghilang selamanya?"


Deg....


Jantung Nevan tiba-tiba berdegup kencang karena kalimat terakhir yang di katakan Niko. "Bagaimana jika Haura menghilang dari hidupnya? Tidak, itu tidak akan terjadi," batin Nevan memberontak.


"Haura gak akan kemana-mana," jawab Nevan yakin. Nevan mengalihkan pandangannya menatap lawan bicaranya Niko. "Kalau pun Haura menghilang, gue pastikan kalau gue akan menemukan dia dimanapun dia berada dan dengan cara apapun itu."


Sudut bibir Niko membentuk senyuman kecil. Niko sangat yakin dengan apa yang di katakan oleh Nevan. Sepupu sekaligus sahabatnya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Hal itu sudah pernah di lakukan oleh Nevan.


Kini ketiga sahabat itu saling berdiri sejajar menghadap jendela yang menampilkan pemandangan jalanan kota di malam hari. Badai salju masih belum usai. Niko dan Gian berdiri di kedua sisi Nevan.


"Lo cinta dia Van.... Dan jangan menyangkalnya," tambah Gian lagi.


Nevan terlihat gusar. Raut wajahnya seketika berubah karena ucapan Gian.


"Cinta?" Nevan seakan tidak percaya dengan kata-kata itu. Benarkah dirinya jatuh cinta pada Haura. Jatuh cinta pada gadis yang setiap harinya selalu membuat hatinya gelisah ketika mereka berjauhan.


"Lo jatuh cinta Van. Akui itu," Niko ikut menyetujui ucapan Gian. "Udah waktunya lo ngelupain dia," tambah Niko lagi.


Sejenak ketiganya terdiam. Mereka sangat tahu dia yang di maksud Niko adalah seorang gadis yang pernah hadir di hidup Nevan. Seorang gadis yang pernah Nevan cintai.

__ADS_1


"Menurut gue perasaan lo untuk Alesha hanyalah rasa sayang karena kehidupan Alesha saat itu. Jangan menyiksa diri lo sendiri kaya gini. Dia pergi ninggalin lo tanpa ada kata pamit. Dan lo masih nunggu dia?" ucap Gian panjang lebar. Gian dan Niko cukup tahu tentang hubungan Nevan dan seorang gadis yang bernama Alesha.


Fikiran Nevan mencoba mengingat kembali wajah Alesha. Gadis yang telah mematahkan hatinya sebelum dirinya kembali ke Indonesia. Namun bayangan wajah itu samar. Juga Nevan telah melupakan Alesha. Tidak pernah sekalipun Alesha terlintas di benak Nevan. Bahkan dalam mimpi pun tidak pernah. Seperti Nevan telah sepenuhnya melupakan gadis itu.


Justru wajah Haura yang terlintas dalam fikiran Nevan. Gadis sederhana yang selalu tersenyum manis padanya. Juga gadis yang selalu menangis karenanya. Gadis yang memberikan warna berbeda dalam kehidupan Nevan. Pun gadis yang tidak pernah bisa di lupakannya bahkan selama sepuluh tahun mereka berpisah.


Ya... mungkin ini cinta. Nevan mulai menerima kata itu sebagai bentuk rasa sayangnya selama ini kepada Haura. "Gue jatuh cinta sama Haura?" Gumam Nevan.


"Lo kangen Haura? Lo gelisah saat jauh dari Haura. Lo marah saat Haura bareng Farel. Itu cinta Van. Jangan berpura-pura bersikap bodoh," Gian menjelaskan tentang perasaan Nevan. Seolah dirinya dapat merasakan semua yang dirasakan oleh Nevan.


Semua yang Gian ucapkan adalah benar. Itulah yang selalu Nevan rasakan. "Lalu gue harus apa?" pertanyaan polos dari Nevan keluar begitu saja dari ucapannya. Sontak saja membuat Niko dan Gian menertawakan kebodohannya.


"Katakan padanya," Niko merangkul pundak Nevan. Meyakinkan sahabatnya itu untuk mengungkapkan perasaannya pada Haura. "Jujur pada perasaan lo."


"Dan gue yakin, Haura gak akan menolak lo," ucap Gian sambil mengedipkan sebelah matanya. Bagaimana tidak yakin, Gian dan Niko sudah bisa menebak dengan pasti bahwa selama ini Haura mencintai Nevan dan memendam perasaannya itu. Hanya saja selama ini Nevan bersikap begitu bodoh.


"Good luck, bro. Katakan padanya," Niko mengakhiri pembicaraan mereka malam itu. Niko dan juga Gian meninggalkan Nevan seorang diri. Begitu juga yang lainnya entah kapan telah meninggalkan ruang keluarga. Karena memang jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Meninggalkan Nevan yang masih berdiri di tempatnya, pandangan laki-laki it tertuju pada rumah kosong di sebelah rumahnya.


"Aku harap kamu baik-baik saja dimanapun kamu berada," monolog Nevan dengan dirinya sambil menatap rumah di hadapannya.


"Haura.... Aku jatuh cinta. Aku cinta kamu."


Dalam lamunannya tiba-tiba lampu menyala dari rumah yang menjadi pusat perhatian Nevan sejak tadi. Sontak saja Nevan membelalakkan kedua matanya. Karena sejak awal dirinya di kota itu, tidak terlihat seorang pun di rumah tersebut. Siluet seseorang terlihat jelas dari balik tirai jendela rumah itu. Nevan tidak dapat melihat siapa pemilik siluet tersebut. Namun hati laki-laki itu berdegup kencang.


Semuanya seolah sedang di permainkan oleh perasaan mereka sendiri. Ada cinta yang telah di akui. Ada seseorang yang sedang menanti. Pun ada seseorang yang sedang patah hati. Juga ada seseorang yang datang kembali.


Semuanya tidak akan pernah sama seperti sedia kala. Ketika ingin memulai dengan lembaran baru, masa lalu justru kembali dengan pasti. Meskipun harap itu telah redup, namun akan banyak hati yang akan terluka.

__ADS_1


__ADS_2