
"Kamu pulang bareng aku aja Ra," ajak Adel. Kedua sahabat Haura saling bergantian selalu menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu ketika pulang sekolah. Namun sayangnya, sebanyak apapun Luna dan Adel ingin mengantar haura pulang, Haura selalu menolak tawaran kedua sahabatnya itu.
Meskipun mereka sudah bersahabat lama, akan tetapi sampai saat ini baik Luna maupun Adel tidak mengetahui dimana Haura tinggal. Kedua sahabat Haura itu belum pernah sekalipun bermain ke rumah Haura. Luna dan Adel selalu mendesak Haura agar mereka bisa bermain ke rumah sahabat mereka itu.
"Hmmm... makasih banget atas tawaran kamu. Tapi kayanya aku pulang sendiri aja deh. Maaf banget ya Adel," Haura mencoba menolak tawaran Adel dengan baik. Gadis itu tahu bahwa sahabatnya itu benar-benar tulus menawarkan tumpangan untuk dirinya. Akan tetapi Haura belum menceritakan perihal hidupnya kepada kedua sahabatnya itu.
"Sebenarnya apa yang kamu tutupi dari kami?" tanya Adel penuh selidik.
"Kita udah bersahabat lama. Kenapa kamu seakan menutupi tentang diri kamu dari aku dan Luna?" sambung Adel lagi.
"Aku tidak sedang menutupi apapun dari kamu atau Luna."
"Haura... tolong jujur sama aku. Apa menurut kamu selama ini aku dan Luna gak tulus bersahabat sama kamu? Apa kamu pikir kami akan meninggalkan kamu kalau kamu cerita yang sebenarnya tentang hidup kamu?" Adel terlihat mulai merasa kesal pada sahabatnya Haura. Selama ini Haura terus saja tidak mau berkata jujur pada dirinya dan juga Adel.
Haura tersenyum menatap sahabat cantiknya itu. Tanpa Adel katakan pun, Haura dapat merasakan ketulusan dari Adel dan Luna. Kedua sahabatnya itu bukan hanya cantik, tetapi mereka juga sangat baik hati. Haura sangat yakin meskipun mereka tahu bahwa dirinya hanyalah anak dari seorang pembantu, kedua sahabatnya itu tidak akan pernah meninggalkannya.
Hal yang Haura takutkan apabila kedua sahabatnya itu tahu tentang latar belakang dirinya, maka mereka akan merasa iba dan kasihan padanya. Hal itulah yang tidak di inginkan oleh Haura. Gadis itu tidak mau merasa di kasihani oleh siapapun. Karena bagi Haura, dirinya tidak pernah mengeluhkan keadaan hidupnya.
"Aku tahu kamu dan Luna sangat tulus. Aku juga tahu kalau kalian berdua tidak akan pernah meninggalkan aku meski apapun yang terjadi," ucap Haura. Kedua gadis itu berdiri saling berhadapan.
Haura memegang kedua pundak Adel dan tersenyum pada sahabatnya yang terlihat mulai kesal padanya, "Belum waktunya kalian main ke rumah aku. Nanti akan ada waktu yang tepat. Percaya sama aku... Heemmm."
"Haura... kapan itu terjadi?" rengek Adel.
"Kamu selalu bilang nanti... nanti... nanti.... Tapi kapan pastinya," ucap Adel lagi masih dengan rengekannya kepada Haura.
Melihat tingkah Adel, Haura sangat tahu bahwa sahabatnya itu sangat ingin tahu tentang dirinya. Namun Haura tidak ingin membahas hal tersebut lebih panjang lagi. Lagi pula Haura masih ingin mencari diary nya di sekitar sekolahnya.
Perkara diary tersebut masih membuat Haura gelisah sepanjang hari. Sejak pagi tadi, Haura sudah bersiap-siap dengan kemungkinan salah satu siswa di sekolah tersebut menemukan diary nya itu. Haura juga sudah siap apabila diary itu akan membuat dirinya kembali di bully oleh seluruh siswa di sekolah elit tersebut. Apalagi isi dari diary miliknya itu adalah semuanya tentang Nevan.
"Akan ada waktu yang tepat. Aku janji akan berkata jujur sama kamu dan Luna."
"Aku tunggu janji kamu Ra." jawab Adel dengan wajah cemberut.
"Iya... bawel banget kamu. Udah kaya Luna aja," ujar Haura
"Ohhh iya... Luna mana ya Ra?" tanya Adel. Karena tidak pernah Luna pergi terlebih dahulu meninggalkan dirinya dan Haura.
__ADS_1
"Tadi kayanya Luna bilang mau ke ruang broadcast deh."
"Heemmmm gitu... Yaudah deh Ra, aku pulang duluan ya. Aku juga gak ikutan ekskul hari ini," pamit Adel kepada Haura.
"Iyah... kamu hati-hati Adel."
Adel pun segera pergi dan tidak lupa melambaikan tangan kepada sahabatnya Haura.
Setelah kepergian Adel, Haura pun kembali duduk di kursinya. Gadis itu berfikir kembali dimana kemungkinan dirinya menjatuhkan diary miliknya. Juga Haura mengingat kembali bahwa hari itu tidak ada satu orang siswa pun yang mem-bully nya perkara diary miliknya itu. Berarti kemungkinan besar diary miliknya belum di temukan oleh siapapun.
"Hari itu aku di kelas, ruang loker, terus....." Haura mengingat-ingat kembali rute keberadaannya di hari ia kehilangan diary nya.
"Dan terakhir..." Haura membulatkan kedua matanya mengingat tempat terakhir kemungkinan ia meninggalkan diary miliknya.
"Ruang teater.... Iya betul ruang teater. Mungkin aja diary aku jatuh di sana." Haura pun segera memasukkan seluruh buku pelajarannya ke dalam tas sekolahnya. gadis itu ingin segera menuju ke ruang teater.
"Kenapa aku lupa nyari ke ruang teater. Dasar Haura bodoh," gerutu Haura pada dirinya sendiri.
Ketika Haura hendak beranjak untuk pergi, tiba-tiba gadis itu di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang telah duduk pada sebuah kursi siswa yang berada tepat di depan tempat duduk Haura. Bahkan Haura tidak mendengar langkah kaki orang tersebut.
"Aaaaa.... Niko," pekik Haura.
"Lo bisa gak sih gak pake teriak gitu panggil nama gue?" protes Niko.
"Kamu bisa gak sih gak kaya hantu yang suka muncul tiba-tiba?" Haura juga protes pada kedatangan Niko yang tiba-tiba.
"Ehemmmm..." Niko hanya berdehem panjang. Laki-laki itu tidak mau menanggapi protes dari Haura. Siapapun akan terkejut bila berada di posisi Haura sekarang. Niko tahu itu.
"Tadi malam apa yang lo cari?" tanya Niko tiba-tiba. Hal tersebut bukan hanya karena keingintahuan Nevan tentang apa yang membuat Haura berada di sekolah di malam hari. Tetapi Niko juga merasa penasaran dengan apa yang Haura lakukan tadi malam di sekolah mereka.
Haura mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Niko. Kenapa Niko ingin tahu dengan apa yang di lakukannya? Itulah yang Haura pikirkan.
Apalagi sejak semalam rasa penasaran Haura belum juga usai perihal Niko yang tiba-tiba muncul di sekolah dan juga menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
Haura sudah menanyakan hal tersebut berulang kali kepada Niko. Akan tetapi laki-laki itu hanya bergeming dan tidak memberikan jawaban apapun.
"Aku nyari sesuatu," jawab Haura singkat.
__ADS_1
"Apa?" tanya Niko lagi. "Sesuatu itu apa?"
Keingintahuan Niko membuat Haura semakin merasa aneh dengan sikap laki-laki itu. Apa pedulinya dengan apa yang ia cari, batin Haura.
"Maaf, aku gak bisa bilang apa yang aku cari," jawab Haura. Gadis itu pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Niko seorang diri disana.
Baru beberapa langkah Haura berjalan, gadis itu kembali menoleh pada Niko yang ternyata juga sedang melihat ke arahnya.
"Terimakasih karna tadi malam kamu udah mau nganterin aku pulang," ucap Haura tulus.
"Hmmm...."
Tanpa keduanya ketahui di balik pintu kelas tersebut Luna mendengar semua percakapan antara Haura dan Niko. Gadis itu sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya. Luna menduga bahwa ada sesuatu di antara Haura dan Niko. Sesuatu yang Haura sembunyikan darinya.
Luna tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, bahwa tadi malam Niko bersama Haura di sekolah mereka. Bahkan Haura tidak menceritakan apapun tentang hal tersebut padanya maupun pada Adel. Gadis itu merasa kecewa pada sahabatnya Haura. Juga merasa cemburu karena Niko bisa begitu dekat dengan Haura. Sedangkan selama ini Niko selalu menjauhi dirinya.
Rasa cemburu semakin merasuki hati Luna ketika mendengar tadi malam Niko bahkan bersedia mengantarkan Haura pulang. Yang Luna ketahui selama ini laki-laki itu bersikap sangat dingin pada semua perempuan.
"Kenapa harus Haura?" gumam Luna. Gadis itu terlihat bersedih dengan apa yang baru saja diketahuinya.
Mendengar langkah kaki seseorang ingin keluar dari ruang kelas tersebut, Luna pun segera berlari menjauh agar kedua orang tersebut tidak mengetahui bahwa dirinya telah mencuri dengar percakapan mereka.
***
Haura pun segera pergi dari tempat tersebut. Gadis itu tidak mau jika orang lain melihat dirinya berdua bersama Niko, maka akan muncul berita miring lainnya tentang dirinya.
Tanpa Haura sadari seseorang yang tidak pernah Haura duga telah menaruh cemburu padanya dan Niko.
"Apakah sesuatu yang kamu cari adalah sebuah rahasia yang gak boleh di ketahui oleh orang lain?" tanya Niko tiba-tiba dan menghentikan tangan Haura yang hendak membuka pintu ruang kelasnya.
"Apakah sesuatu itu tentang Nevan?" tanya Niko lagi. Laki-laki itu duduk bersandar di kursinya dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Haura pun kembali berpaling menatap laki-laki yang sedang berbicara padanya itu. "Bukan.... Bukan tentang Nevan atau siapapun itu," jawab Haura tegas.
Gadis itu sudah tidak mau lagi membahas perihal Nevan. Laki-laki yang di cintainya itu telah pergi dari hidupnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Haura merasa Nevan sudah melupakannya lagi. Semua janji yang Nevan ucapkan selama ini adalah sebuah kebohongan.
"Bukan tentang Nevan. Sama sekali bukan tentang dia," ujar Haura lagi sambil menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
__ADS_1
Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Haura pun segera pergi meninggalkan Niko disana.
Kesalahpahaman mulai tumbuh di antara mereka. Kesalahpahaman antara Nevan dan Haura. Juga kesalahpahaman Luna kepada Haura.