
Sejak kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan Luna, Haura lebih memilih menjauhi Luna. Telah berulang kali Haura meminta maaf dan juga meminta penjelasan kepada Luna perihal kesalahannya, akan tetapi Luna masih bertahan dengan kebisuannya. Juga semakin bersikap dingin kepada Haura. Hingga akhirnya keputusan inilah yang Haura pilih. Menjauh dan menarik diri dari kedua sahabat baiknya itu.
Keputusan Haura tentu saja mendapat penolakan tegas dari Adel. Adel sangat menyayangkan jika persahabatan antara dirinya, Haura dan Luna berakhir hanya karena sebuah masalah. Bagi Adel semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Namun sayangnya Luna tidak berpikir demikian.
"Kita bisa memperbaiki semuanya kesalahpahaman ini," ucap Adel pada Haura beberapa jam yang lalu ketika keduanya berjalan bersama hendak menuju ke ruang ekskul mereka masing-masing.
"Apa yang harus di perbaiki?" jawab Haura dengan terus menatap ke depan. Gadis itu sama sekali tidak menoleh kepada Adel yang sejak tadi berbicara padanya. Haura sedang menyembunyikan kesedihannya. Jika menatap langsung kepada Adel pasti Haura akan kembali menangis seperti hari-hari yang lalu. Haura sangat merasa kehilangan karena ketidakpedulian Luna pada dirinya.
Adel mengehentikan langkah kakinya. Menyadari Adel yang tidak lagi berjalan di sebelahnya, Haura pun ikut menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik dan menatap sahabatnya yang berjarak beberapa langkah di belakangnya. Haura dapat menangkap raut kesedihan di wajah Adel.
"Kita bisa bicarakan lagi sama Luna. Jangan saling menjauh kaya sekarang. Kita bisa sama-sama lagi. Kita perbaiki bersama-sama. Aku gak mau kehilangan kalian berdua. Aku kangen kita yang dulu. Kita yang selalu bersama. Kita yang ketawa bareng," ucap Adel lirih.
"Aku mau memperbaiki semuanya. Tapi aku bahkan gak pernah tau salahnya dimana? Aku gak bisa memperbaiki apapun karena aku sendiri gak tau apa yang harus aku perbaiki," jawab Haura dengan suara yang bergetar.
Sampai sekarang Luna masih enggan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ia sembunyikan selama ini dari Haura dan juga Adel. Kecemburuannya pada kedekatan Niko dan Haura telah membuat gadis cantik itu tidak dapat berfikir dengan baik. Rasa marah, sedih, kecewa dan cemburu telah menguasai Luna. Meskipun Luna tahu bahwa Haura tidak sepenuhnya bersalah, namun Luna masih merasa kecewa karena Haura tidak berkata jujur padanya mengenai malam ketika sahabatnya itu bersama Niko di sekolah mereka.
Meski dalam jarak beberapa langkah, Haura dapat melihat air mata lolos begitu saja dari mata indah sahabat baiknya Adel. Gadis cantik itu menangis. Untuk pertama kalinya Haura melihat sahabatnya Adel menangis. Haura tahu bahwa permasalahan yang terjadi di antara dirinya dan Luna bukan hanya membuatnya bersedih tetapi Adel juga merasakan hal yang sama.
"Aku mohon kamu jangan nangis," ucap Haura pada sahabatnya itu. Gadis itu segera menghampiri Adel dan memeluknya erat.
"Kenapa harus kaya gini sih Ra? Hiikkksss..." Akhirnya tangis Adel pecah. Rasa bersalahan semakin menyesakkan dada Haura. Gadis itu terus menyalahkan dirinya atas perubahan sikap Luna padanya, juga sekarang Haura sangat merasa bersalah karena Adel menangisi persahabatan mereka.
"Maafin aku Del." Hanya itu kata-kata yang bisa Haura katakan. Maaf untuk semua kesalahannya pada kedua sahabat baiknya itu. Haura mengusap punggung Adel untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Aku kangen kita yang dulu," ucap Adel sambil menghapus air mata di wajah cantiknya.
"Kamu jelek tau kalau nangis," ucap Haura sambil ikut menghapus air mata sahabatnya itu.
Mendengar perkataan Haura, Adel pun tertawa di sela-sela sisa tangisnya.
"Janji jangan pernah nangis lagi ya Del."
"Hmmm... kamu juga janji harus cepat baikan sama Luna. Aku akan selalu berusaha untuk membantu kamu memperbaiki semua kesalahpahaman di antara kalian."
"Aku akan memperbaiki semuanya dengan caraku. Aku janji."
Keduanya pun saling menautkan jari kelingking mereka sebagai bentuk sebuah ikatan perjanjian. Setelahnya Haura dan Adel kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju ruang ekskul mereka masing-masing bersama dengan pembicaraan yang masih berlanjut.
"Kalau kita dewasa nanti, bagaimana kamu akan mengingat aku?" tanya Haura sambil terus berjalan bersama Adel. Bahkan kedua remaja itu berjalan sambil menautkan jemari mereka bergandengan tangan.
"Aku akan mengingat kamu sebagai sahabat terbaik aku. Sahabat yang paaaallliiiingggg aku sayang," jawab Adel tulus.
"Terimakasih Adel."
__ADS_1
"Jangan pernah melupakan aku. Karena aku akan selalu mengingat kalian. Kamu dan Luna dan semua orang yang aku sayang, " batin Haura.
Tanpa Adel sadari Haura mengusap air mata yang masih menggantung di ujung mata indahnya. Gadis itu mencoba tersenyum meskipun hatinya sedang menangis.
***
Sejak tadi Haura berjalan menyusuri koridor sekolah dengan tidak melihat ke depan. Gadis itu terus saja melihat ke bawah, menghitung satu persatu langkah kakinya. Bahkan gadis itu menyesuaikan langkahnya pada satu persatu ubin koridor sekolahnya.
Sekolah sudah mulai terlihat sepi. Riuh suara siswa yang memenuhi gedung tersebut perlahan telah tiada. Hampir tidak ada lagi siswa disana. Haura sengaja pulang lebih lama dari siswa lainnya. Beberapa hari belakangan ini Haura lebih senang menyendiri. Menjauhi hiruk pikuk di sekolahnya. Ketika jam istirahat tiba, gadis itu lebih memilih untuk menyendiri di perpustakaan. Bahkan ketika berada di kantin sekolah, Haura lebih memilih untuk duduk sendiri meskipun ada kedua sahabatnya disana. Tidak ada yang menemani. Karena sejak awal hanya Luna dan Adel yang mau berteman dengannya.
Bagaimana dengan Farel? Haura juga sengaja menghindari Farel. Namun beberapa hari terakhir, Haura bahkan tidak pernah melihat Farel di sekolah. Gadis itu ingin mencoba menghubungi Farel, akan tetapi niatnya itu ia urungkan lagi. Haura hanya tidak ingin seakan ia mempermainkan perasaan laki-laki sebaik Farel.
Menjauh dari semuanya. Itu adalah pilihan terbaik yang Haura ambil.
"Awww...." Haura meringis kesakitan karena menabrak seseorang. Gadis itu mengusap-usap jidatnya sendiri tanpa melihat siapa orang yang telah ia tabrak barusan.
Tanpa gadis itu sadari bahwa sejak tadi ada seseorang yang terus memperhatikan setiap gerakannya. Tidak ada satupun tindakan Haura yang luput dari perhatian orang tersebut.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Haura mengenali suara itu. Segera Haura menatap orang yang berdiri tepat di hadapannya itu.
"Kak Farel," pekik Haura.
"Habisnya kak Farel suka muncul tiba-tiba gitu. Kak Farel kemana aja?" Meski Haura selalu mencoba menghindari Farel, namun gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya pada Farel
"Apa yang lagi kamu pikirkan?" Farel malah balik bertanya kepada gadis di hadapannya itu. Laki-laki tampan itu seakan tahu bahwa banyak hal yang sedang di pikirkan oleh gadis di hadapannya itu.
"Emmm.... Haura lagi gak mikirin apa-apa kak," jawab Haura berbohong.
"Dasar bocah... Kamu itu gak pintar bohong, Haura."
"Beneran kak Farel, Haura lagi gak mikirin apapun."
"Cerita sama aku kalau kamu butuh tempat untuk cerita."
Haura tersenyum hangat pada Farel. Laki-laki itu benar-benar tulus padanya.
"Tentang malam itu," Farel diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. :Laki-laki itu melihat raut wajah Haura berubah cemas ketika dirinya mengatakan "malam itu." Tentu Haura paham malam yang di maksud oleh Farel. Malam dimana dirinya menyatakan cintanya kepada Haura.
Sejak pengakuannya di malam itu, Farel menyadari bahwa Haura terus menjauhi dirinya. Gadis itu merasa bersalah karena telah menolak cintanya. Namun bukan itu yang Farel inginkan. Farel tidak ingin Haura pergi dari hidupnya. Tidak mengapa cintanya tidak terbalas, asalkan laki-laki itu bisa selalu menjaga Haura. Dari awal Farel sudah tahu bahwa cinta Haura hanya untuk Nevan.
"Jangan menjauhiku karena pengakuan aku di malam itu. Kamu mengerti kan bocah. Hmmmm....." ucap Farel sambil tersenyum pada Haura.
__ADS_1
"Haura minta maaf kak."
Farel tidak menjawab apapun lagi. Laki-laki itu menggenggam jemari Haura dan meminta gadis itu untuk mengikuti langkahnya.
"Kita mau kemana kak?" tanya Haura sambil terus berjalan mengikuti Farel.
"Pulang. Apa kamu mau disini sampai besok?" Farel menoleh sejenak menatap gadis yang berjalan di belakangnya.
Haura mencoba mengimbangi langkah kaki Farel. Perlahan gadis itu mencoba melepaskan genggaman tangan Farel. Laki-laki itu paham akan maksud Haura dan segera melepaskan genggaman tangannya.
"Kak Farel."
"Hmmm."
Hening. Haura terlihat memikirkan sesuatu. Farel menoleh menatap Haura yang berjalan di sampingnya. Gadis itu tidak mengatakan apapun lagi setelah memanggil namanya.
"Ada apa?" tanya Farel.
"Gimana kalau..." Haura ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa?"
Haura berpaling menatap Farel. Keduanya masih terus melanjutkan langkah mereka.
"Kak Farel tau gimana cara menghilang? Haura pengen menghilang sebentar."
"Untuk?" tanya Farel penuh selidik.
"Entahlah."
"Apa yang kamu pikirkan belum tentu benar. Percayalah semua akan kembali membaik," ucap Farel seakan sangat memahami ada sesuatu yang sangat membebani pikiran Haura.
"Apa kak Farel akan mengingat Haura kalau suatu hari nanti Haura pergi?"
"Dasar bocah.... Aku gak akan melupakan kamu selamanya dan kamu gak akan bisa pergi kemana-mana," tegas Farel.
Setelahnya tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar menyusuri koridor sekolah menuju lokasi parkir.
Menghilang. Entah menghilang selamanya atau menghilang dari masalah yang menyesakkan dada. Haura hanya berfikir ingin menghilang. Mengistirahatkan hati dan pikirannya. Mencari tenang yang entah dimana. Haura kehilangan sahabat baiknya juga kehilangan cintanya.
"Nevan.... Apa kamu mengingatku?"
Haura tersenyum miris untuk dirinya sendiri.
__ADS_1