
Setibanya di sekolah, suasana sekolah masih sepi. Belum ada satu orang pun siswa yang tampak disana. Hanya ada dua orang petugas security yang sedang bertugas.
Ketika motor Nevan memasuki gerbang sekolah, petugas security menatap heran ke arah Nevan. Pasalnya setelah beberapa hari Nevan bersekolah di sana belum pernah sekalipun remaja laki-laki tersebut datang ke sekolah sepagi ini. Biasanya Nevan baru akan hadir ke sekolah ketika bel masuk berbunyi atau setelah bel masuk berbunyi.
Apalagi hari ini Nevan ke sekolah bersama dengan Haura. Petugas security tersebut menatap mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya .
Haura hanya mampu tersenyum kecut karena di perhatikan dengan sedemikian rupa oleh kedua security di sekolah mereka. Sementara Nevan bersikap acuh seperti biasanya. Dia sangat tidak peduli dengan tatapan penuh tanda tanya yang ditujukan untuk mereka saat ini.
Nevan pun memarkirkan motornya dan membantu Haura untuk turun.
“Itu apaan, Ra?” tanya Nevan ketika melihat paper bag yang di pegang oleh Haura. “Perasaan beberapa hari ini aku selalu liat kamu bawa paper bag. Emang isinya apaan?”
“Ini bekal aku,” Jawab Haura sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelas mereka.
“Emang kamu gak sarapan di rumah?”
“Enggak. Aku gak sempat kalau harus sarapan di rumah. Jadi sarapannya aku bawa ke sekolah. Sebelum bel masuk, aku sarapan dulu,” jelas Haura.
“Kenapa kamu gak sarapan di rumah?” tanya Nevan lagi dan lagi.
“Kan aku udah bilang tadi, kalau aku gak sempat sarapan di rumah. Lagian kamu kenapa nanyanya kayak lagi introgasi aku gitu?”
“Emang kamu ngapain sampai gak sempat sarapan?” Bukannya berhenti bertanya, Nevan justru memberikan pertanyaan lainnya kepada Haura.
Haura pun menghentikan langkah kakinya sejenak, “Nevan, kamu lupa ya kalau setiap pagi aku harus bantuin Ibu di rumah utama?”
“Hmmmm…. Aku tahu.”
Setelahnya tidak ada lagi pertanyaan lanjutan dari Nevan untuk Haura. Mereka pun berjalan beriringan dalam diam menelusuri koridor-koridor sekolah hingga tiba di ruang kelas mereka.
Setelah duduk dengan cantik di kursi miliknya, Haura pun bersiap untuk menikmati sarapan paginya. Di keluarkannya kotak bekal dari dalam paper bag. Ketika Haura membuka kotak bekalnya, aroma lezat dari nasi goreng pun langsung memenuhi indra penciuman. Tanpa basa-basi kepada Nevan, Haura langsung memasukkan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.
Tanpa Haura sadari bahwa sedari tadi Nevan yang duduk di sebelahnya memandang ke arah nasi goreng milik Haura dengan tatapan kelaparan. Hampir saja air liur Nevan jatuh karena dirinya benar-benar ingin mencicipi
sarapan milik Haura.
“Haura, aku mau,” pinta Nevan.
Mendengar perkataan Nevan, Haura hampir saja tersedak. “Mau apa?” tanya Haura dengan menatap tajam ke arah Haura.
“Aku mau itu.”
Sinyal perlindungan diri Haura mulai aktif. Fikirannya telah menerawang ke hal-hal negatif. “Jangan macam-macam ya, Van. Atau aku bakalan pukul kamu,” ucap Haura cepat sambil berdiri dan bersiap memasang kuda-kuda. Kurang lebih Haura memahami hal-hal dasar dari ilmu bela diri karena dirinya pernah diajarkan oleh Adel sahabatnya.
Melihat aksi Haura, Nevan pun menatap aneh pada sahabatnya itu. “Kamu kenapa, Ra?” tanya Nevan keheranan karena sikap Haura.
“Kamu bilang kamu mau itu. Kalau kamu berani, aku gak bakalan segan-segan untuk menghajar kamu.”
__ADS_1
“Hah…. Maksud kamu?” tanya Nevan dengan menyatukan alisnya.
“Oh My Gosh… HAURA,” pekik Nevan ketika menyadari apa maksud dari perkataan Haura. “Kamu fikir aku cowok apaan. Buang fikiran negatif kamu jauh-jauh.”
“Jadi maksud kamu apa?” kini Haura kembali bertanya dengan posisi kuda-kuda yang masih terpasang dengan baik.
“Kamu duduk dulu.”
“Gak, aku gak bakalan duduk sebelum kamu bilang kamu maunya apa.”
“Kalau kamu gak duduk dalam hitungan tiga, aku bakalan kasih kamu hukuman yang gak pernah kamu bayangkan sama sekali.”
Haura masih belum mau untuk duduk sesuai dengan perintah Nevan.
“Oke… Kamu bakalan lihat hukuman apa yang akan aku kasih ke kamu. Satu…. Dua…. Tiii….”
Belum selesai dengan hitungannya, Haura telah kembali duduk di kursinya yang berada tepat di sebelah Nevan. Karena Haura sangat yakin bahwa jika dirinya tidak menuruti apa yang Nevan katakan maka Nevan benar-benar akan menghukumnya.
“Lagian ya, nih otak jangan di pakek buat mikir yang aneh-aneh,” ucap Nevan sambil menjitak kecil kepala Haura. “Kan aku udah bilang, kalau aku gak suka sama kurcaci kecil kayak kamu. Jadi, stop berfikir bahwa aku akan macam-macam sama kamu.”
“Salah kamu, kenapa ngomongnya setengah-setengan. Buat aku mikir yang aneh-aneh,” ucap Haura sambil mengusap kepalanya karena dijitak oleh Nevan.
“Emang di sininya aja yang banyak fikiran aneh.” Nevan kembali menunjuk ke arah jidatnya Haura.
“Tau ah… Lagian kamu mau apa?” tanya Haura dengan mengerucutkan bibirnya.
“Aku mau itu…” Nevan kembali menjeda ucapannya.
“Nasi goreng kamu.”
Haura seakan kehilangan kata-kata mendengar apa yang Nevan inginkan. Jadi Nevan menginginkan nasi goreng. Aduh Haura, kok bisa kamu berfikir terlalu jauh, batin Haura yang menyesali apa yang telah difikirkannya beberapa saat yang lalu.
“Eheemmmm….” Haura berdehem demi mengurai rasa malu yang sedang menguasai dirinya.
“Bekal aku gak banyak. Jadi gak bakalan cukup kalau harus berbagi sama kamu.” Memang benar apa yang di katakana Haura bahwa bekalnya pagi ini tidak lah banyak. Jadi kalau harus berbagi sudah bisa di pastikan bahwa baik dirinya maupun Nevan tentu saja tidak akan kenyang.
Tanpa berkata apapun lagi Haura kembali melanjutkan kegiatan sarapannya. Melihat Haura yang seakan tidak peduli dengan kemauannya, Nevan pun meraih tangan Haura ketika hendak memasukkan kembali makanan ke mulutnya. Hingga kini arah tangan Haura seakan-akan sedang menyuapi Nevan.
“Nevan… kamu…”
“Kan aku udah bilang, kalau aku mau. Itu artinya kamu harus dengan senang hati berbagi sama aku.” Ucap Nevan sambil mengunyah nasi goreng dalam mulutnya. “Lagian nih ya, aku juga belum sempat sarapan.”
"Kenapa bisa?"
"Tentu saja bisa. Dan yang membuat aku belum sempat sarapan adalah kamu."
“Kenapa bisa gara-gara aku?” tanya Haura heran.
__ADS_1
“Ya iya lah gara-gara kamu. Kalau aja kamu gak menghindar dari aku dengan cara berangkat ke sekolah lebih cepat, kan aku gak perlu bangun pagi-pagi untuk nungguin kamu di depan gerbang. Jadi, apa yang terjadi sekarang ini murni karena salah kamu, Haura Annisa.” Ujar Nevan dengan memberikan senyuman termanisnya kepada Haura.
Haura hanya terdiam mendengar penuturan Nevan. Fikirannya masih berusaha mencerna dengan baik semua penjelasan dari sahabat tampannya ini.
Selalu saja Nevan mempunyai seribu alasan untuk membenarkan semua tindakannya.
“Aaaaa…” Nevan kembali membuka mulutnya.
“Nih, kamu bisa kan makan sendiri.” Haura pun menggeser kotak bekalnya ke hadapan Nevan. Bagaimana mungkin dirinya berbagi bersama Nevan.
“Kenapa kamu kasih ke aku?”
“Kan kamu bilang tadi kalau kamu belum sarapan.”
“Terus kamu?”
“Aku udah kenyang.”
Nevan kembali memberikan tatapan tajam kepada Haura. Sedetik kemudian Nevan pun menggeser kotak bekal tersebut ke hadapan pemilik aslinya.
“Kita makan bareng. Dan aku gak mau ada perdebatan lagi,” ucap Nevan dengan nada dinginnya.
“Tapi, Van….” Haura pun menghirup oksigen dalam-dalam. Gadis remaja tersebut memilih untuk tidak melanjutkan lagi kata-katanya. Karena menurutnya sudah banyak “tapi” yang dia ucapkan akan tetapi pada akhirnya kemauan Nevan lah yang harus terlaksana. Jadi percuma saja jika dia kembali mengeluarkan kata-kata protes lanjutan.
Dengan wajah cemberut Haura kembali memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Aaaaaa…..” Nevan kembali meminta di suapi oleh Haura.
“Kamu bisa makan sendiri kan, Van?” tanya Haura yang merasa sangat tidak nyaman kalau harus menyuapi Nevan.
“Gak bisa,” jawab Nevan cepat. “Tangan aku masih pegal karena baru saja mengendarai motor. Jadi tangan aku butuh istirahat. Oleh karena itu kamu harus bersedia dengan penuh suka cita untuk menyuapi aku.”
“Kamu… sungguh luuuuuaaaaaar biasa…” kata Haura sambil merapatkan giginya.
Sementara Nevan hanya tersenyum manis mendengar perkataan Haura. “Luar biasa tampan kan, Ra?”
“Terserah,” ucap Haura agar pembicaraan mereka tidak berlanjut lagi.
Mereka pun melanjutkan sarapan pagi seperti adegan romantis dalam drama korea. Hanya Nevan yang tersenyum bahagia karena berhasil mengerjai Haura. Sedangkan Haura terus saja memasang wajah cemberut karena kelakuan Nevan.
“Besok kamu bawa sarapannya yang banyak ya, Ra. Karena aku bakalan sarapan di sekolah juga.”
“Kenapa kamu harus sarapan di sekolah?”
“Kamu lupa, mulai hari ini dan pagi-pagi selanjutnya aku harus ke sekolah lebih cepat untuk nganterin kamu.”
“Hah….” Ingin rasanya Haura membenamkan Nevan di Samudra Atlantik saat ini juga.
__ADS_1
“Oya… aku mau bekalnya satu. Jadi setiap paginya kamu harus suapi aku. Sebagai bentuk ucapan terimakasih kamu atas kebaikan aku yang dengan suka rela bersedia nganterin kamu ke sekolah setiap harinya.”
Mendengar kata-kata Nevan, Haura hanya bisa menjatuhkan kepalanya dengan lemas ke atas meja belajarnya. Tatapannya kosong seakan ruhnya telah terbang menembus langit ke tujuh.