(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Kenapa? (Kamu)


__ADS_3

“Kamu pulang bareng aku ya, Ra.”Ajak Farel


“Engg-gak kak, Haura pulang bareng Luna atau Adel aja.” Haura menjawab dengan gugup.


“Bukan bareng Nevan?” Farel hanya iseng bertanya. Sebenarnya dirinya sudah tahu bahwa Haura akan pulang bersama Nevan.


Haura tersenyum kecut mendapat pertanyaan yang terdengar seperti sebuah ejekan karena dirinya telah berbohong kepada Farel.


“Maaf kak Farel, Haura gak bisa nolak.” Gadis itu berkata jujur. Haura memang tidak bisa menolak paksaan dari Nevan.


“Ya udah, kalau emang kamu gak mau, aku gak maksa. Kalau gitu aku duluan.” Sebelum benar-benar pergi, Farrel mencubit gemas pipi Haura.


“Ihh… kak Farrel, apa-apa-an sih main cubit sembarangan, sakit tau,” protes Haura.


“Habisnya, kamu bocah yang gemesin.”


Interaksi antara Haura dan Farel tidak luput dari perhatian Nevan. Remaja laki-laki itu, tidak memalingkan pandangannya barang sedikit pun dari Haura dan Farer.


Haura menyadari bahwa saat ini dirinya sedang di awasi oleh Nevan. Tapi kenapa? Sampai saat ini Haura belum bias memahami jalan fikiran sahabatnya itu. Pasalnya sering kali Nevan marah padanya tanpa sebab. Seperti sekarang ini.


Sepeninggalan Farel, Haura masih belum beranjak dari posisinya sekarang. Dirinya masih menunggu kedua sahabatnya yang sedang bersama orang tua mereka masing-masing. Sebenarnya baik Luna maupun Adel, mengajak dirinya untuk ikut bergabung bersama mereka, akan tetapi Haura menolaknya. Dirinya merasa tidak pantas untuk ikut bergabung di sana. Apalagi ada beberapa orang tua siswa lainnya yang terlihat sedang berbicara bersama orang tua Luna dan Adel.


“Kak Haura,” terdengar Luisa kembali memanggil Haura.


Mendengar namanya kembali di panggil, Netra milik Haura kembali mengarah kepada meja dimana Luisa dan yang lainnya berada.


“Sini kak, gabung bareng kita,” ajak Luisa sambil melambaikan tangannya kearah Haura.


Haura hanya tersenyum medapat ajakan dariLuisa. Mana mungkin Haura ikut bergabung di sana. Jika hanya ada Kak Zayn, Nevan dan Luisa mungkin tanpa berfikir dua kali dirinya akan segera kesana. Tapi sekarang, disana ada Niko, Gian, Bella dan terutama Rhea yang saat ini sedang memandang sinis ke arahnya.


Apalagi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, dimana dirinya dan Rhea sempat terlibat pertengkaran fisik. Sejak saat itu Haura sebisa mungkin berusaha menjauh dari tempat dimana ada Rhea disana.


Tiba-tiba Zayn berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menghampiri Haura.


“Kamu ngapain disini sendiri?” Tanya Zayn ketika telah berada tepat di hadapan Haura.


“Haura lagi nungguin teman, Kak. Tuh di sana,” tunjuk Haura ke arah Luna dan Adel.


“Dari pada kamu disini sendiri, mendingan kamu ikut gabung bareng kak Zayn dan yang lainnya,” Zayn mencoba untuk mengajak Haura agar mau bergabung bersama mereka. Laki-laki dua puluh tiga tahun itu tahu bahwa Haura tidak akan pernah mau untuk bergabung bersama mereka. Akan tetapi membiarkan Haura tetap di sana sendirian juga bukan pilihan yang baik.


“Emmm…. Gak usah, kak. Haura di sini aja. Mungkin sebentar lagi Luna atau Adel bakalan kesini.” Haura mencoba menolak ajakan Zayn dengan menjadikan Luna dan Adel sebagai tameng. Padahal Haura sendiri tidak tahu apakah kedua sahabatnya itu akan datang menghampirinya atau justru langsung pulang bersama orangtua mereka.

__ADS_1


“Kak Zayn gak terima alasan kamu. Ayo…” Tanpa ba-bi-bu Zayn langsung meraih tangan Haura dan menuntun Haura untuk ikut bersamanya.


Dengan terpaksa Haura mengikuti langkah kak Zayn.


Setibanya di tempat tujuan mereka, Haura langsung di sambut oleh tatapan permusuhan dari Rhea. Bukan hanya itu, Nevan juga ikut menatapnya dengan tatapan dingin, tidak seperti biasanya. Hauramencoba menerka-nerka apa yang menjadi penyebab sahabat tampannya itu memasang ekspresi datar seperti itu.


“Kamu duduk disini!” perintah Zayn agar haura duduk di sampingnya. Tepat di kursi yang berada di depan Nevan. Sebenarnya dirinya merasa sangat tidak nyaman untuk duduk satu meja dengan mereka.Tapi dia bisa apa jika kak Zayn yang memaksanya. Diam. Haura memilih diam tanpa berani berkata apa pun.


“Kak Haura, tadi itu siapa?” tanya Luisa penasaran.


“Eeemmm... tadi...” Entah karena sebab apa lidah Haura terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Luisa. Pada kenyataannya kak Farel bukanlah siapa-siapa untuk Haura tapi kenapa Haura merasa dirinya panik dan tidak tahu harus menjawab apa. Di tambah lagi Nevan sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Seperti marah dan entahlah.


“Pacar kak Haura, ya?” goda Luisa lagi.


“Hebat dong kalau Haura bisa pacaran sama kak Farel. Secara kak Farel adalah kapten tim sepak bola. Ibarat kejatuhan durian runtuh.” Rhea ikut bergabung dengan pembicaraan antara Haura dan Luisa. Tapi dapat terdengar dengan jelas bahwa perkataan Rhea setengah mengejek kepada Haura.


“Ooooo... Jadi namanya kak Farel,” ucap Luisa lagi dengan kepala yang manggut-manggut.


“Lui, jangan banyak tanya. Ini bukan area untuk anak kecil,” ucap Gian untuk mencegah agar Luisa tidak mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Apalagi melihat Nevan tidak berkata apa pun semenjak melihat Haura bersama Farel. Gian merasa bahwa sekarang temannya itu sedang tidak baik-baik saja. Entah karena apa, dirinya tidaklah tahu. Tapi boleh kah jika saat ini Gian menyimpulkan bahwa Nevan sedang cemburu? Cemburu, mungkinkah?


“Emmm... Namanya kak Farel. Dia siswa kelas XII dan kapten tim sepak bola. Dia bukan pacar kak Haura. Kami hanya berteman,” ucap Haura membenarkan perkataan Rhea dan sekaligus sebagai sebuah klarifikasi bahwasanya dirinya dan Farel hanya teman biasa. Tidak ada yang istimewa.


“Anak kecil gak usah banyak mau taunya.” Belum sempat Luisa menyelesaikan perkataannya Zayn sudah lebih dulu memotong perkataan adik sepupu cantiknya itu.


Mendapat selaan dari Zayn, Luisa hanya mencebikkan bibirnya dan melihat kedua tangannya di dada sebagai bentuk protes atas larangan dari kakak sepupu tertuanya itu.


“By the way, penampilan kamu tadi keren, Ra. Kak Zayn sampai gak ngenali kamu.” Pikiran dewasa Zayn mencoba mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak perlu membahas lagi perkara seorang siswa yang bernama Farel. Karena Zayn tahu, bahwa diamnya Nevan secara tiba-tiba saat ini adalah karena Haura dan Farel.


“Makasih kak,” jawab Haura singkat.


“Kamu hebat, kak Zayn bangga sama kamu,” Zayn kembali melakukan kebiasaannya yaitu mengusap puncak kepala Haura.


Haura hanya tersenyum kecut mendapat perlakuan seperti itu. Sungguh anak majikannya itu seperti benar-benar tulus menyayanginya.


Setelahnya mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan meraka di selingi dengan candaan. Akan tetapi ada beberapa orang yang masih larut dalam fikirannya masing-masing dan seperti acuh dengan topik pembicaraan yang sedang berlangsung.


Rhea terus berfikir berbagai kemungkinan tentang bagaimana bisa Haura begitu dekat dengan keluarga Sander. Apalagi melihat kak Zayn dan Luisa seakan telah mengenal Haura cukup lama. Terbukti ketika Luisa langsung mengenali Haura dalam sekali lihat. Itu artinya, sebelum ini Luisa sudah pernah bertemu dengan Haura. Dan kaka Zayn, laki-lai itu memperlakukan Haura dengan begitu manja layaknya adiknya sendiri. Rhea merasa tidak terima melihat hal tersebut.


Sebisa mungkin Rhea menahan dirinya agar tidak memperlihatkan bahwa saat ini dirinya sedang marah dan cemburu karena Luisa dan Zayn memperlakukan Haura dengan sangat baik.

__ADS_1


Sementara itu, Nevan terus saja diam seribu bahasa. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut remaja laki-laki itu. Meskipun yang lainnya tertawa bersama, Nevan seolah acuh. Bahkan sedikit pun sudut bibirnya tidak bergerak.


Bagaimana dengan Haura? Tentunya gadis itu merasa seperti obat nyamuk di antara mereka. Dia juga diam seribu bahasa karena tidak tahu harus bersikap seperti apa. Canggung. Ya, kata itulah yang di rasakan oleh Haura saat ini.


“Aku mau pulang.” Perkataan Nevan menghentikan pembicaraan lainnya. Semua yang ada di sana memfokuskan pandangan mereka kepada Nevan.


“Kenapa?” tanya Niko.


Tidak ada jawaban. Nevan langsung mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat tersebut.


Melihat sikap Nevan, Zayn hanya bisa menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


“Nevan kenapa, kak?” tanya Rhea kepada Zayn. Sementara yang ditanya hanya mengedikkan bahu sebagai sebuah jawaban atas ketidaktahuannya.


Rhea mengalihkan pandangannya ke arah Gian dan Niko. Masih sama. Kedua sahabatnya itu juga ikut-ikutan hanya mengedikkan bahu mereka.


Akhirnya Rhea memilih mengunci rapat mulutnya dengan wajah yang menahan kesal.


“Kalau gitu kak Zayn juga pulang. Ayo Lui.. Haura.” Zayn ikut meninggalkan tempat tersebut dan tidak lupa mengajak dua orang gadis remaja kesayangannya.


“Kenapa Haura pulang bareng kak Zayn?” tanya Bella heran.


Lagi dan lagi Zayn tidak menjawab. Tersenyum. Itulah yang dia lakukan sebagai jawaban.


Hal itu sontak saja membuat Bella sangat penasaran. Hanya penasaran. Beda halnya dengan Rhea yang terlihat semakin menatap Haura dengan penuh kebencian.


Belum sempat Haura menggerakkan langkahnya, tiba-tiba tangannya di tarik paksa oleh seseorang.


“Nevan!” Gadis itu sangat terkejut. Bukankah Nevan sudah pulang? Kenapa dia kembali lagi?


“Ikut!” Hanya satu kata yang Nevan ucapkan tapi mampu membuat semua orang yang ada di sana tidak berani bertanya apa pun lagi.


Tak ingin banyak bertanya, Haura hanya mengikuti langkah Nevan. Nevan mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat erat. Terdengar Haura meringis dan matanya menatap nanar pada pergelangan tangannya.


Nevan terus berjalan tanpa menghiraukan Haura yang sedang meringis kesakitan. Dia mendengarnya, tapi entah kenapa tidak ada niat sama sekali darinya untuk melepaskan cengkeraman tangannya pada Haura.


“Nevan...” Merasa namanya di panggil oleh sang kakak, Nevan pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun. “Hati-hati.” Zayn sangat takut jika Nevan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi dan dapat membahayakan keselamat mereka. Mengingat saat ini Nevan sedang bad mood.


Nevan tidak menjawab perkataan kakaknya. Dia kembali menggerakkan langkahnya dan Haura kembali harus mengikuti langkah kaki Nevan.


Gadis itu menatap punggung Nevan dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya. Apa yang terjadi? Apakah aku berbuat salah?

__ADS_1


“Kenapa?” Akhirnya Haura berani mengeluarkan sebuah pertanyaan atas sikap Nevan sekarang. Hanya satu kata. Tidak lebih.


“Kamu.” Hanya satu kata pula yang Nevan ucapkan untuk jawaban atas pertanyaan Haura.


__ADS_2