
Dengan santainya Farel melangkah masuk ke ruangaan dimana Haura di rawat. Senyuman manis menghiasi bibirnya tanpa peduli pada berpasang-pasang mata yang sedang menatap ke arahnya.
Haura seakan tak percaya bahwa Farel benar-benar datang menjenguknya. Sejak dirinya tidak masuk sekolah, Farel terus saja menghubunginya baik itu lewat pesan maupun telepon untuk menanyakan keberadaan Haura. Akhirnya Haura terpaksa jujur bahwa dia sedang dirawat di rumah sakit karena Farel mengancam akan datang ke rumahnya jika Haura tidak mau berkata yang sebenarnya. Tentu sajahal itu tidak boleh terjadi. Meskipun Farel tahu dengan pasti bagaimana kehidupan Haura.
Luna dan Adel menatap senior mereka itu dengan tatapan tak percaya. Pasalnya mereka tidak menyangka bahwa Farel akan datang menjenguk Haura. Itu artinya hubungan mereka benar-benar dekat. Bukan sebuah kebetulan seperti yang pernah Haura ceritakan kepada mereka.
Di lain sisi Gian dan Niko bersikap biasa saja. Justru yang menjadi pusat perhatian mereka bukanlah Farel dan Haura, akan tetapi Nevan.
Wajah Nevan seketika kembali memancarkan aura mistis sejak kedatangan Farel. Mungkin dalam fikiran Nevan, Farel adalah makhluk halus yang harus segera di singkirkan. Lebih tepatnya makhluk halus yang sangat mengganggunya. Hanya dia. Karena yang lainnya sama sekali tidak merasa terganggu.
“Kita akan lihat bagaimana sang Hyena akan bertindak.” Niko tersenyum penuh makna sambil melipat tangannya di dada.
“Pasti seru dan menarik.” Gian juga berharap akan ada tontonan yang menarik nantinya. "Ini adalah lawan yang seimbang."
Keduanya seakan menanti sang Hyena benar-benar mengeluarkan taringnya.
Sementara itu Farel telah mendudukkan tubuhnya di ranjang dimana Haura berada. Tanpa permisi dan tanpa peduli pada orang-orang yang ada disana sambil memperhatikan dirinya.
“Gimana keadaan kamu?” Farel tersenyum manis pada Haura yang masih saja memberikan tatapan tidak percaya padanya. Tiba-tiba suhu udara di ruangan disana begitu menyesakkan bagi gadis remaja itu. Nevan terus saja mengawasinya.
“Keadaan Haura sudah semakin baik, Kak.” Jawab Haura kikuk.
“Kenapa kamu bisa terluka kayak gini? Apa yang terjadi?”
“Emmmm…. Ceritanya panjang. Nanti kapan-kapan Haura bakal cerita ke kak Farel.”
“Oke, aku tunggu cerita kamu.” Tanpa permisi tangan Farel mengusap gemas puncak kepala Haura.
Gadis itu hanya tersenyum kaku atas perlakukan Farel padanya. Haura ingin menghindar, tapi gerakannya kalah cepat.
Manik hitam miliknya beralih ke arah Nevan yang masih duduk tenang di sofa yang ada di ruangan itu. Meskipun Nevan tidak berkata apapun, tapi Haura cukup paham tatapan mata Nevan memancarkan ketidak senangan atas kedatangan Farel.
Sedetik kemudian Farel mengalihkan pandangannya pada teman-teman Haura yang duduk di sisi kiri dan kanan Haura. “Hai…” sapa Farel pada mereka yang belum beranjak dari ranjang Hauradengan tersenyum lebar.
“Hai...” jawab Luna dan Adel. Mereka mengerjapkan kelopak mata mereka berkali-kali seakan tidak percaya bahwa senior mereka yang bernama Farel menyapa dengan tersenyum lebar kepada mereka berdua. Seperti bukan Farel yang biasa mereka lihat di sekolah. Penyendiri dan pendiam.
“Hai kak.” Jawab Luisa sambil memberikan senyum yang tak kalah manis kepada Farel.
“Kalau aku gak salah, kakak kan cowok yang ngobrol sama kak Haura di malam acara ulang tahun sekolah kalian kan?” Luisa ingat dengan pasti wajah Farel.
“Tepat. Kenalin aku Farel.” Farel pun mengulurkan tangannya kepada Luisa. Tanpa menunggu lama, Luisa langsung menyambut uluran tangan Farel.
Sejak pertama melihat Farel beberapa hari yang lalu, gadis cantik itu sudah mengagumi ketampanan Farel. Meskipun tidak setampan Nevan, Gian dan Niko. Tapi Farel dapat di kategorikan dalam jenis laki-laki yang mampu membuat kaum hawa enggan berpaling.
“Aku Luisa. Kak Farel bisa panggil aku Lui.” Tanpa perlu menunggu lama, Luisa menyambut uluran tangan Farel dengan suka cita.
“Dan kalian Luna dan Adel. Benar kan?” tanya Farel sambil menunjuk dengan tepat siapa yang bernama Luna dan siapa pemilik nama Adel.
“Iya kak.” Jawab keduanya bersamaan. Mereka merasa heran bagaimana bisa Farel mengetahui nama mereka.
Haura. Ya, pasti Haura. Luna dan Adel sangat yakin bahwa Haura sering menceritakan banyak hal pada kakak kelas mereka itu. Satu hal lagi yang menjadi tanda tanya baru untuk kedua sahabat Haura, yaitu hubungan antara Haura dan Farel. Teman? Atau lebih dari pada teman?
“Kak Farel siapanya kak Haura? Bukan pacar kan?” tanya Luisa polos.
“Sekarang bukan. Tapi kak Farel lagi berusaha untuk jadi pacar kak Haura.” Ucapan Farel seperti menginginkan agar orang-orang yang ada di ruangan tersebut mengetahui bahwa dirinya memang menyukai Haura.
__ADS_1
“Yahhhh... jadi kak Farel suka sama kak Haura? Gagal deh rencana Lui buat jadiin kak Farel pacar.”
“What?” Gian yang sedari tadi hanya menyimak keadaan yang ada tiba-tiba terlonjak kaget mendengar celotehan Luisa.
Luisa juga ikut kaget mendengar kakaknya yang bersuara begitu nyaring. “Apaan sih kak Gian. Norak banget.”
“Kamu jangan ngomong pacar-pacar-an. Masih juga 15 tahun. Gak usah macam-macam.”
“Ya elah kak. Lui kan bentar lagi mau SMA, jadi wajar lah kalau dari sekarang Lui melakukan seleksi untuk mencari pacar. Hitung-hitung untuk menemukan cowok yang tepat.”
“Terus kalau udah SMA boleh pacaran gitu?” Kini di ruangan tersebut menjadi tempat perdebatan antara kakak beradik. “Lagian gak ada yang namanya cowok yang tepat.”
“Tau ah... Males Lui ngomong sama playboy cap kaleng kerupuk kayak kak Gian.”
Luisa kembali memalingkan wajahnya pada sosok Farel. Laki-laki pertama yang membuatnya terpesona. Sang playboy di abaikan.
“Lui rasa kalau emang kak Farel suka sama kak Haura bakalan sulit deh.” Gadis cantik itu kembali menyambung pembicaraan mereka yang sempat terputus karena Gian.
“Kenapa?”
“Ya sulit lah. Emang kak Farel gak tau kalau pengawal Haura siap pasang badan untuk jagain Haura. Kak Farel pasti gak tau juga siapa yang ujan-ujanan nyari Haura waktu Haura terkunci di ruanga teater beberapa hari yang lalu.” Luna ikut menimpali dengan satu tarikan nafas.
Setelah sadar dengan apa yang di ucapkannya, Luna menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, dan ujung matanya melirik pada Nevan.
Sementara Adel hanya memutar bola matanya karena sikap Luna. Sahabatnya itu mulai kumat lagi. Tidak bisa diam.
“Aduh, ngomong apa sih aku.” Gadis cantik itu kembali bertingkah konyol dengan menepuk-nepuk mulutnya sendiri. Menyesali semua kata-kata yang baru saja di keluarkannya.
Mendengar ucapan Luna, Farel terdiam sejenak. Fikirannya dapat menangkap bahwa kejadian yang menimpa Haura hingga harus di rawat di rumah sakit karena terkunci di ruangan teater. Dan menjadi tokoh utama sebagai penyelamat adalah....
Farel pun menaikkan sedikit sudut bibirnya. “Itu bukan masalah besar.....” Farel menjeda ucapannya, “Aku juga bisa jagain Haura. Dan aku harap Haura mau menyambut uluran tangan aku ketika aku ingin menjaganya.” Laki-laki itu menatapa sendu pada Haura yang sejak tadi tidak berkata sepatah kata pun.
“Aku mau istirahat,” ucap Haura yang sejak tadi memilih diam. Secara tidak langsung perkataan Haura meminta siapapun yang ada di sana untuk segera meninggalkannya. Itu adalah cara Haura untuk mengakhiri percakapan yang terjadi antara Farel dan teman-temannya.
“Ckkkk.... gue rasa udah waktunya lo pergi.” Nevan beranjak dari duduknya berjalan menuju ranjang pasien. “Lo gak denger kalau Haura mau istirahat.”
Farel ikut berdecak mendengar perkataan Nevan. Dirinya pun ikut berdiri berhadap-hadapan dengan Nevan yang telah berada di dekatnya.
“Gue tau kapan waktunya gue harus pergi. Jadi lo gak usah repot-repot buat ngusir gue.”
“Dan waktu lo untuk pergi adalah sekarang. Karna disini ada gue yang akan jagain Haura.”
Dua remaja tampan itu saling melemparkan tatapan permusuhan. Tekanan udara di ruangan itu mulai memanas.
“Bukan cuma lo yang bisa jagain Haura. Gue juga bisa. Bahkan lebih bisa daripada lo.”
Perkataan Farel seakan memang ingin menantang Nevan.
Senyum mengejek terbit di wajah tampan Nevan, “Mungkin lo harus tau satu hal....” Nevan melangkah satu langkah demi untuk semakin mendekat kepada Farel. Remaja laki-laki itu membisikkan sesuatu tepat di telinga Farel. “Gue gak akan suka berbagi apapun. Apalagi Haura.” Kata-kata yang sangat ambigu. Tidak satu orang pun yang mendengarnya. Hanya antara Nevan dan Farel. Setelahnya Nevan kembali ke posisinya semula.
“Dan gue juga gak akan mau berbagi.” Seperti Nevan, Farel juga menegaskan apa yang di inginkannya.
“Lo gak akan bisa berbagi apapun. Karena lo belum memilikinya.”
“Gue rasa itu juga berlaku untuk lo.” Kali ini perkataan Farel seakan tak bisa di bantah oleh Nevan.
__ADS_1
“Lo juga belum memiliki apapun."
Deg.... Nevan tersadar bahwa dia memang belum memilikinya. Haura, hanya sahabat baik. Tapi bukankah sahabat juga bukan sebuah status yang sepele.
Nevan dengan semua fikirannya yang serba benar tidak terima begitu saja dengan perkataan Farel.
"Gue gak perlu berusaha untuk memilikinya. Karena sejak awal memang udah jadi milik gue. Lo paham kan?"
Pembicaraan tentang kepemilikan belum juga berakhir antara Nevan dan Farel. Para gadis remaja hanya menjadi pendengar budiman karena mereka memang tidak tahu maksud pembicaraan yang terjadi antara Nevan dan Farel. Termasuk Haura, dia belum sadar bahwa yang menjadi topik utama dari pembicaraan tersebut adalah dirinya.
Lain halnya dengan Niko dan Gian. Kedua sahabat baik Nevan seakan sangat menikmati situasi yang terjadi sekarang. Nevan seperti kembali kepada masa satu tahun yang lalu saat dia bersikap begitu posesif pada Ale.
"Gue rasa lebih baik kalau kita melakukannya dengan cara yang benar. Dengan cara kita masing-masing supaya adil," ucap Farel lagi. Remaja laki-laki itu memang selalu bisa bersikap dewasa.
"Oke... Lo akan liat bahwa sejak awal lo memang akan kalah," ucap Nevan penuh percaya diri.
Farel hanya menaikkan bahunya sedikit sebagai tanggapan atas ucapan Nevan.
"Aku pulang ya, Ra. Kamu istirahat. Besok aku akan datang lagi."
Farel pun memilih untuk pergi dari sana. Tidak lupa dia kembali mengusap puncak kepala Haura. Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak pertama kali mengenal Haura yang di anggapnya sebagai bocah.
Sikap Farel jelas saja membuat Nevan dan Haura sama-sama membelalakkan kedua mata mereka. Tapi Farel memang tidak pernah peduli dengan reaksi Haura apalagi Nevan.
Sama seperti bagaimana Farel memasuki ruangan tersebut, kini dia meninggalkan ruangan itu seperti tidak terjadi hal apapun. Tetap tenang dan santai.
"Kak Farel...." sebuah panggilan menghentikan langkah kaki Farel yang nyaris meninggalkan ruang rawat inap tersebut.
Luisa. Itu adalah suara Luisa.
Farel kembali membalikkan badannya mendengar panggilan Luisa.
"Kak Farel, kalau nanti kak Farel di tolak sama kak Haura, jangan lupa hubungi Lui, ya. Lui siap kok jadi pacar kak Farel." Gadis itu berkata tanpa beban sama sekali.
Sementara Farel hanya tersenyum manis pada gadis yang masih dalam kategori bocah untuknya. Tanpa berkomentar apapun Farel segera melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.
Luisa menatap Nevan dan mengedipkan sebelah matanya kepada sepupu tampannya itu. Persekongkolan yang hakiki.
"Nice." Nevan mencubit gemas hidung Luisa.
"Gak gratis, kak."
"I know."
Dasar persepupuan somplak.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Ada pendatang baru lagi... Sadar gak sih siapa?
Tetap stay di cerita aku.