
Tiga hari telah berlalu sejak malam yang membuat Nevan bingung akan perasaannya sendiri. Nevan tidak pernah lagi berbicara sepatah kata pun kepada Haura.
Akan tetapi kedua remaja itu masih melakukan rutinitas mereka seperti biasanya yaitu pergi dan pulang sekolah bersama. Meski tanpa berbicara, Haura sangat paham bahwa setiap pagi Nevan menunggunya untuk pergi sekolah bersama. Nevan selalu terlihat telah rapi dengan seragam sekolahnya dan menunggu Haura dengan tenang di depan rumah utama.
Tanpa berkata apa pun juga, Haura langsung saja naik ke motor Nevan, tanpa harus diminta oleh si empunya.
Ketika mereka tiba di sekolah, remaja tampan itu menghilang entah kemana. Haura tidak pernah tahu kemana perginya Nevan. Setelah malam itu, Nevan hanya pergi dan pulang sekolah bersama Haura, tanpa mengikuti pelajaran sama sekali.
Pernah Haura bertanya apa yang membuat Nevan seperti itu, akan tetapi bukan sebuah jawaban yang Haura dapatkan, Nevan justru meninggalkannya begitu saja. Hal itu semakin membuat Haura bingung. Gadis berlesung pipi itu terus menduga-duga bahwa sebab Nevan seperti itu adalah karena dirinya. Tapi apa salah yang telah dirinya lakukan hingga Nevan tidak mau berbicara padanya?
“Haura, Nevan kenapa? Kalian berdua lagi marahan? Aku perhatikan beberapa hari terakhir ini seperti terjadi sesuatu antara kamu dan Nevan,” tanya Luna ketika jam istirahat tiba. Ketiga bersahabat itu memilih untuk tetap berada di dalam kelas.
“Kalian lagi marahan?” Luna kembali bertanya karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Haura
“Aku gak tahu ada apa dengan Nevan.” Gadis itu menghela nafasnya dengan berat. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Nevan, sahabatnya itu telah puasa berbicara padanya selama tiga hari.
“Kamu gak coba tanya ke dia?” tanya Luna lagi.
Haura mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Luna.
“Terus Nevan jawab apa?” Adel yang sedang menulis catatannya yang tidak lengkap ikut bertanya tanpa menoleh sedikit pun kepada Haura dan Luna.
“Nevan gak jawab apa pun. Dia justru pergi ninggalin aku. Aku bingung.”
Haura mengingat kembali telah tiga hari sejak acara ulang tahun sekolah mereka, setiap harinya Haura selalu bertanya kepada Nevan kesalahan apa yang telah Ia lakukan sampai-sampai Nevan mendiaminya. Tanpa berkata apa pun Nevan pergi begitu saja meninggalkan Haura.
Bahkan dua hari yang lalu Haura juga bertanya pada kak Zayn apa yang membuat Nevan marah padanya. Haura fikir mungkin kak Zayn tahu apa yang membuat sahabatnya itu mendiamkannya.
“Kak Zayn gak bisa jawab. Nanti kamu akan paham kenapa Nevan kayak gitu. Yang pasti, sekarang ini bahkan Nevan sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padanya.” Begitulah jawaban kak Zayn pada saat itu. Membingungkan.
“Kira-kira Nevan kenapa, ya?” Haura menjatuhkan kepalanya dengan lesu ke atas meja belajarnya. Tiga hari tidak berbicara pada Nevan membuatnya merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Meskipun setiap harinya Nevan sangat suka mengerjainya, tapi Haura merasa hal itu adalah bagian yang telah menjadi sesuatu yang menyatu delam dirinya.
Di tambah lagi mereka pergi dan pulang sekolah bersama, tapi tanpa berbicara sepatah kata pun. Sangat canggung dan menjengkelkan.
“Aku harus apa?”
__ADS_1
“Mana kami tahu. Nevan kan sahabat kamu dari kecil,” ujar Luna. “Coba deh kamu fikir-fikir lagi, kira-kira apa yang buat Nevan merajuk sampai dan puasa bicara gitu ke kamu."
Ya. Kini kedua sahabat Haura telah tahu tentang hubungannya dan Nevan. Haura telah menceritakan semuanya tanpa tertinggal sedikit pun. Termasuk tentang dia dan Ibunya yang tinggal di rumah Nevan serta pekerjaan Ibunya sebagai ART di sana.
Sykurnya baik Luna maupun Adel tidak mempermasalahkan tentang status Haura yang sebenarnya. Justru mereka merasa sangat kagum pada Haura yang selalu saja terlihat ceria meskipun sebenarnya hidupnya sangatlah sulit.
“Memangnya apa yang terjadi malam itu, sampai buat Nevan bersikap kayak sekarang?” Kini Adel menghentikan kegiatan menulisnya demi ikut terlibat dalam pembicaraan antara Haura dan Luna.
“Gak terjadi apa-apa.”
“Coba kamu ingat-ingat lagi, Ra. Mungkin kamu salah ngomong atau apalah. Sahabat kamu itu kan emang agak sensitive.” Adel meminta Haura untuk merefresh kembali ingatannya pada malam perayaan ulang tahun sekolah mereka.
“Aku gak ngomong hal yang bisa buat Nevan marah.”Sejenak Haura memejamka matanya. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terlewati pada malam itu.
“Aku bahkan gak ketemu sama Nevan setelah pementasan teater. Aku nungguin kalian sendirian. Terus aku ngobrol sama kak Farel.”
Sebuah nama yang Haura ucapkan mampu menyita perhatian kedua sahabatnya dengan sempurna. Bahkan
Luna yang sedang memakan snack miliknya, meletakkan makanan ringan tersebut ke atas meja dan memasang wajah serius demi sebuah penjelasan apakah kak Farel yang di maksud oleh Haura adalah kak Farel kakak kelas mereka.
“Kak Farel? Kak Farel kapten tim sepak bola?” Tanya Luna antusias.
“Kok kak Farel bisa ngomong sama kamu? Gimana ceritanya?” Luna seakan menuntut penjelasan lebih lanjut perihal Haura yang sempat berbicara dengan senior mereka yang terkenal sebagai penyendiri itu.
“Ceritanya gak gimana-mana. Kita cuma ngobrol biasa.” Satu hal lagi yang belum Haura ceritakan kepada kedua sahabatnya. Yaitu tentang Farel.
“Bukannya kak Farel yang kita tahu gak pernah mau ngobrol sama siapa pun kecuali sesuatu yang penting.” Luna masih tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Haura. Rasa penasaran telah menguasainya.
“Aneh gak sih kalau kak Farel tiba-tiba ngajak ngobrol Haura?” Kini sahabat Haura yang bernama Luna mengarahkan pandangannya kepada Adel. Dia mencari pembenaran akan suatu keadaan yang menurutnya sangat langka. Yaitu senior mereka yang bernama Farel berbicara pada Haura.
Sementara itu, Adel hanya mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Luna. Dia masih menyimak pembicaraan yang terjadi di antara kedua sahabatnya itu.
“Apanya yang aneh?” Haura berpura-pura polos bahwa tidak ada yang patut di jadikan suatu keanehan karena Farel berbicara padanya.
Nyatanya memang interaksi antara Haura dan seniornya bernama Farel pada malam itu sukses menarik perhatian beberapa orang siswa yang masih berada disana. Termasuk Rhea. Tapi kedua sahabat Haura tidak melihat ketika Farel dan Haura berbicara. Oleh karena itu mereka berdua seakan mendapat kejutan karena Haura berkata bahwa dia sempat berbicara dengan senior mereka itu.
__ADS_1
"Gimana gak aneh, kak Farel kan terkenal gak punya teman. Lagian dia itu cuek banget sama cewek-cewek di sekolah ini. Sebelas dua belas lah sama sahabat kamu si Nevan. Makanya jadi tanda tanya besar buat aku kenapa bisa kak Farel menyapa kamu.”
Seakan tak pernah ada habisnya bagi Luna untuk mengorek informasi sebenarnya tentang Farel dan Haura.
“Mungkin gak sih...?” Perkataan menggantung dari Adel sukses memotong pembicaraan antara Luna dan Haura.
“Mungkin apa?” Haura menautkan alisnya. Bingung mendengar penuturan Adel.
“Mungkin gak sih kalau Nevan cemburu?” tanya Adel akhirnya. Kemungkinan yang sedari tadi ingin di katakannya kepada Haura.
“Ahahaha.... Adel.. Adel... Itu kemungkinan yang paling mustahil.” Haura segera menampik dengan tegas bahwa kemungkinan yang lontarkan oleh Adel adalah sesuatu yang mustahil.
“Cemburu dari mana? Terus cemburu karena apa? Karena aku ngobrol sama kak Farel, gitu maksud kamu? Ya gak mungkin lah."
Tanpa menunggu jawaban dari Adel, Haura terus aja bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang dia berikan. Gadis berlesung pipi itu tidak habis fikir dengan jalan fikiran kedua sahabat baiknya itu. Yang satu terus saja mengintrogasinya perkara kak Farel. Dan yang satu lagi mengatakan sebuah kemungkinan yang tidak mungkin akan terjadi.
“Lagian nih ya. Gimana caranya Nevan bisa cemburu? Aku kan bukan pacarnya dia. Biasanya yang bisa menimbulkan sebuah kecemburuan itu kalau seorang cowok ngeliat pacarnya ngoborol sama cowok lain. Dan aku bukan pacarnya Nevan. Jadi buang jauh-jauh kemungkinan yang sangat konyol itu.” Gadis remaja itu terus saja berbicara dengan panjang lebar.
“Cemburu bukan cuma pada pacar. Seseorang bisa saja merasa cemburu karena orang yang di sukainya dekat dengan orang lain.” Potong Luna. Menurutnya sahabatnya itu sangatlah dangkal dalam mengartikan persoalan cemburu. “Mungkin saja cemburu seperti itu yang sedang Nevan rasakan.”
Haura mencoba mencerna dengan baik perkataan Luna dan Adel. Menimbang-nimbang kemungkinan yang di katakan oleh kedua sahabatnya itu. Sedetik kemudian Haura menggeleng-gelengkan kepalanya seakan sedang menghempaskan semua kemungkinan yang di katakan oleh Luna dan Adel.
“Nggak... nggak... nggak mungkin. Nevan gak akan bersikap sebodoh itu. Cemburu? Hal itu tidak akan ada dalam kamus seorang Nevan. Apa lagi penyebab cemburunya adalah aku.”
Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap intens kedua sahabatnya yang sedari tadi terus saja menyuarakan hal-hal konyol.
“Luna dan Adel yang cantik, jadi tolong jangan pernah berfikiran sebodoh itu bahwa saat ini Nevan sedang cemburu.”
“Haura yang baik hati, kamu juga jangan berfikiran sebodoh ini. Memaksa semuanya harus sesuai dengan fikiran kamu. Kamu harus lebih peka.” Balas Adel sembari mencubit gemas satu pipi Haura.
“Dan kamu juga jangan pura-pura bodoh. Kamu masih harus menjelaskan ke kita tentang kak Farel." Ucap Luna sambil ikut-ikutan mencubit gemas pipi Haura satunya lagi.
Itu lagi. Dasar Luna.
"Tapi tunggu. Sebenarnya sekarang siapa yang paling bodoh?" tanya Haura karena gara-gara perkara Nevan mereka sampai membahas perkara bodoh-bodohan.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan dari Haura, sontak saja membuat Luna dan Adel langsung menunjuk ke arah Haura. Dan Haura menggunakan kedua telunjukkan mengarah kepada kedua sahabatnya.
Fix. Haura yang paling bodoh.