(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Akan Aku Temani Sampai Terlelap


__ADS_3

Sejak tadi Haura masih asik dengan handphone miliknya. Memberikan beberapa tanda suka pada sebuah akun media sosial. Beberapa foto terbaru disana. Wajah-wajah tampan dan cantik terlihat jelas dalam foto tersebut. Mereka mengenakan pakaian hangat. Sebagian foto berlatar salju. Saat ini bulan Desember. Puncak dari musim di sebagian besar di negara yang berada di benua lain.


Itu adalah akun media sosial milik Nevan. Foto dirinya dan juga teman-teman yang lain setiap harinya muncul di beranda media sosial milik Haura. Nevan sangat tampan. Haura tidak memungkiri itu. Sejak tadi Haura terus melihat satu persatu foto yang ada di media sosial milik Nevan. Ada foto dirinya juga disana.


Begitulah cara Haura melepas rindu sejak kepergian Nevan beberapa hari yang lalu. Nevan berangkat pagi-pagi sekali, bahkan Nevan tidak berpamitan pada Haura. Bukan tanpa sebab Nevan melakukan hal tersebut. Remaja laki-laki itu tidak mungkin sanggup untuk pergi jika berpamitan dengan Haura. Tidak tega meninggalkan Haura. Akan tetapi Nevan juga sudah sangat merindukan Nyonya Anna.


Dalam perjalanan Nevan menghubungi Haura untuk berpamitan melalui sambungan telepon. Itu adalah cara terbaik berpamitan kepada Haura. Begitulah fikir Nevan.


Sesekali Haura tersenyum mengagumi ketampanan Nevan. Wajah Nevan terpahat sempurna. Sebuah anugerah yang Tuhan berikan untuk laki-laki itu. Sekalinya lagi Haura juga terlihat kesal ketika menemukan fotonya dengan wajah tidak karuan di feed media sosial milik Nevan. Di tambah lagi dengan caption yang sangat menyebalkan.


Sebenarnya Haura tidak mengetahui kapan Nevan mengambil fotonya. Haura belum menyadari bahwa selama ini Nevan selalu memotret dirinya secara diam-diam.


"Aku kangen kamu Van," gumam Haura seorang diri.


Padahal setiap harinya kedua remaja itu selalu saling memberikan kabar. Entah itu melalui pesan singkat, panggilan telfon atau bahkan panggilan video. Namun rasanya berbeda jika tidak bertatap langsung.


Di rumah mewah itu Haura merasa kesepian. Padahal sebelum kedatangan Nevan kesana, Haura biasa saja dengan suasana seperti sekarang ini. Namun entah kenapa sekarang rasanya berbeda. Ada yang kurang. Tentunya kehadiran Nevan.


Setelah dirasa cukup dengan handphone miliknya, Haura pun meletakkan benda pipih itu di samping bantal tidurnya.


Bunyi setiap detik jarum jam terdengar begitu nyaring di telinga. Jam dinding menunjukkan waktu telah lewat tengah malam. Haura masih juga belum bisa memejamkan matanya. Rasa kantuk belum juga datang.


Sebenarnya sejak tadi Haura menantikan kabar dari Nevan. Sejak pagi Nevan tidak mengabarinya. Bahkan sebuah pesan singkat pun tidak ada. Haura masih terus menunggu. Harapnya Nevan akan mengirim pesan untuknya meskipun hanya ucapan selamat tidur.


Suasana malam begitu tenang. Gadis itu yakin bahwa Ibunya telah terlelap di alam mimi. Mungkin juga sedang bermimpi bertemu ayahnya. Semoga saja. Itu harapan Haura.


"Kamu kemana Van?" Haura terus bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa seharian ini kamu menghilang. Kamu baik-baik aja kan disana?"


Haura mencoba memejamkan kedua matanya. Beberapa saat memaksa dirinya untuk tidur. Menangkan fikiran dan hatinya yang terus saja menerawang pada sosok Nevan. Rindu teramat sangat. Gadis itu benar-benar di buat insomnia karena rindunya pada Nevan.


"Ayo dong mata, tolong kerjasamanya," ucap Haura lagi.


"Hati dan fikiran juga tolong tenang. Jangan terus menerus memikirkan Nevan. Belum tentu juga disana Nevan memikirkan aku. Lupakan Nevan... lupakan Nevan... lupakan Nevan. Harus tidur Haura."


Haura pun menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Memeluk gulingnya dengan sangat erat. Bunyi jarum jam Haura anggap sebagai alunan melodi pengantar tidur.


Beberapa menit gadis itu tenang di balik selimutnya. Sebelum akhirnya Haura kembali mendudukkan dirinya lagi. Kemudian meraih benda pipih yang tadi ia letakkan di samping bantal tidurnya.


"Awas aja kalau kamu telfon aku. Gak akan aku angkat telfon kamu. Kamu tunggu aja Nevan, gak akan aku angkat telfon kamu," gerutu Haura pada handphone yang berada di tangannya.


Belum juga berselang menit, terdengar bunyi nada dering dari handphone Haura. Tidak seperti yang gadis itu katakan beberapa detik yang lalu. Nyatanya Haura langsung mengangkat panggilan telfon dari Nevan. Begitulah perempuan, selalu kalah jika menyangkut masalah hati.


"Hai Van..." jawab Haura.


"Kamu belum tidur Ra? Ini udah tengah malam kan disana?" tanya Nevan memastikan lagi. Karena suara Haura sama sekali tidak terdengar seperti orang yang baru saja terjaga dari tidurnya.


"Nggak... tadi aku udah tidur. Terus tiba-tiba kamu nelfon. Ganggu banget sih kan Van," gerutu Haura berpura-pura.


Nevan justru tertawa mendengar ucapan Haura. Nevan tahu bahwa Haura sedang berbohong. "Seharian ini kamu kangen aku ya Ra?" tanya Nevan menggoda gadis yang beberapa hari ini sedang berjauhan darinya.


*"Ngaku aja kalau kamu kangen aku.... Hmmm..." Siapa saja yang mendengar Nevan dan Haura berbicara saat ini, pasti akan berfikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang sedang di pisahkan oleh jarak.


"Nggak sama sekali," jawab Haura bohong. Padahal sejak tadi dirinya terus uring-uringan menunggu kabara dari Nevan.

__ADS_1


"Tapi aku kangen kamu Ra. Sangat kangen kamu. Aku fikir setelah seharian aku gak ngasih kamu kabar, kamu bakalan nangis dan bilang kangen sama aku. Ternyata nggak ya?" Ucap Nevan Seakan menuntut kejujuran dari Haura. Namun semua yang dikatakan oleh Nevan adalah sebuah kebenaran tentang apa yang ia rasakan.


"Jadi seharian ini kamu sama sekali gak kangen aku, Haura?" Di seberang sana suara Nevan seakan kecewa karena Haura sama sekali tidak memikirkannya.


"Eheeemmmm...." Haura berdehem. Salah tingkah, itulah yang dirasakan gadis remaja itu. Untung saja Nevan tidak melihatnya saat ini.


"Apa harus aku perjelas, Van?" Sebuah pernyataan yang menggambarkan perasaan Haura.


"Iya... karena aku mau mendengarnya."


"Aku mau mendengar kejujuran dari kamu, Haura," sambung Nevan lagi.


"Aku sangat kangen.... Sampai aku ingin melintasi samudra untuk bertemu kamu.... Hahaha...." Haura mencoba mencairkan suasana agar tidak terlihat canggung mengungkapkan kerinduannya kepada Nevan.


Namun pengakuan Nevan selanjutnya justru membuat Haura semakin salah tingkah *"Aku juga..." *


"Tunggu aku pulang ya, Haura. Hanya beberapa hari lagi. Jangan khawatirkan aku, karena aku baik-baik saja disini. Hanya satu hal yang membuat aku khawatir, yaitu jauh dari kamu, Haura."


Haura mengangguk tanda mengerti. Padahal hal itu sama sekali tidak dapat di lihat oleh Nevan. Bagai sebuah mantra yang menghipnotis, perkataan Nevan bak alunan melodi yang begitu indah di telinga Haura.


"Sekarang kamu tidur ya, Haura. Akan aku temani kamu sampai terlelap."


Malam itu bukanlah malam kelabu tetapi malam merindu. Itulah yang dirasakan oleh Haura dan Nevan. Kedua remaja itu saling mengakui kerinduan yang dipisahkan oleh jarak. Bagi Haura Nevan adalah cintanya. Cinta yang tak akan pernah terucap. Dan untuk Nevan Haura adalah hidupnya. Tidak mengakui cinta tapi menjadi bagian terbaik yang selalu ingin di lindunginya.


Haura terlelap dalam mimpi indahnya. Nevan menepati janjinya, menemani gadis itu hingga terlelap. Suara nafas teratur Haura terdengar jelas di telinga Nevan. Laki-laki itu tersenyum.


"Aku sayang kamu Haura. Selamanya aku akan menjaga kamu."

__ADS_1


__ADS_2