
Haura tidak menduga bahwa Farrel akan mengajaknya berbelanja di sebuah supermarket. Di hari terakhir mereka menghabiskan waktu liburan bersama, Haura fikir bahwa Farrel akan mengajaknya ke suatu tempat yang istimewa bagi laki-laki itu. Namun apa yang di fikirkan Haura sangat jauh berbeda dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Tidak pernah terpikirkan oleh Haura bahwa Farrel meminta dirinya untuk menemaninya berbelanja. Terlebih lagi yang Farrel beli adalah kebutuhan untuk memasak. Juga beberapa minuman kemasan dan juga makanan ringan.
"Untuk apa kak Farrel beli ini semua?" tanya Haura setelah Farrel selesai membayar semua belanjaan mereka. laki-laki itu membawa seluruh belanjaan mereka di kedua tangannya.
"Untuk memasak..." jawab Farrel dengan santainya.
"Siapa yang mau masak?"
Bukannya menjawab pertanyaan Haura, Farrel malah mempercepat langkahnya sehingga membuat Haura sulit mengimbangi langkah kaki Farrel.
Akhirnya kedua remaja itu sampai di salah satu kawasan apartemen. Terlihat gedung-gedung disana menjulang tinggi. Haura menengadahkan pandangannya melihat barisan gedung tersebut. Gadis itu menduga ada ratusan unit apartemen disana.
Namun Haura belum tahu apa tujuan mereka ke tempat tersebut. Sejak tadi Farrel hanya fokus menyetir dan sesekali menjawab pertanyaan Haura. Selebihnya mereka hanya menikmati alunan musik yang menemani sepanjang perjalanan mereka.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Haura tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"Kenapa Kak Farrel ajak Haura ke tempat ini?" Haura tidak pernah berfikir bahwa bisa saja tempat itu adalah tempat tinggal Farrel. Karena selama ini Haura memang belum tahu dimana Farrel tinggal.
"Ikhhh... Kak Farrel kenapa gak jawab?" Haura berdecak kesal karena tidak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," jawab Farrel.
"Sesuatu apa?"
Farrel tidak menjawab lagi pertanyaan Haura. Secara perlahan Farrel telah berhasil memarkirkan kendaraan roda empat miliknya. Laki-laki itu langsung keluar dari sana dan menurunkan semua belanjaan mereka tadi.
"Ayo..." ajak Farrel ketika Haura juga telah berdiri bersisian dengannya.
"Kemana?" tanya Haura masih belum tahu tujuan mereka di tempat tersebut.
Haura hanya mengikuti langkah kaki Farrel memasuki sebuah lift. Gadis itu melihat Farrel menekan tombol untuk menuju ke lantai paling atas dari gedung tersebut. Ke sanalah tujuan mereka sekarang.
"Kita ke tempat tinggal aku," ucap Farrel pada Haura yang sejak tadi terlihat masih bingung perihal tujuan mereka berada di gedung tersebut.
Hanya butuh beberapa menit saja kedua remaja itu telah sampai di sebuah penthouse. Farrel menekan beberapa tombol untuk membuka pintu masuk hunian mewah tersebut.
Sementara itu Haura masih belum percaya bahwa tempat dirinya berada sekarang adalah tempat tinggal Farrel.
"Masuklah..." ajak Farrel sambil membukakan pintu kepada Haura yang sekarang terlihat semakin bingung.
__ADS_1
Haura ragu untuk melangkahkan kakinya masuk ke penthouse tempat tinggal Farrel. Ada rasa takut yang Haura rasakan. Meski belum memasuki tempat tersebut, Haura dapat mengetahui bahwa tempat tinggal Farrel adalah sebuah penthouse yang sangat mewah dan tentunya harga properti tersebut sangatlah mahal.
Tidak pernah terlintas dipikiran Haura bahwa Farrel tinggal di tempat semewah itu. Meskipun Haura menebak bahwa Farrel bukanlah dari keluarga biasa, namun apa yang di lihatnya saat ini sungguh membingungkan baginya.
Ternyata mengetahui identitas Farrel yang sebenarnya justru membuat perasaan Haura tidak tenang. Bagi Haura lebih nyaman bersama Farrel yang di anggapnya sebagai anak jalanan daripada Farrel yang sekarang bersamanya. Satu orang yang sama namun dengan sekejap terasa berbeda bagi Haura.
Melihat Haura yang tak kunjung melangkahkan kakinya memaksa Farrel untuk menuntun gadis itu masuk. Menggenggam erat tangan Haura untuk meyakinkannya. "Ayo..." ajak Farrel tersenyum hangat pada gadis remaja yang masih mematung di depan pintu masuk tempat tinggalnya.
"Jangan takut... aku masih Farrel yang sama," bujuk laki-laki itu lagi.
Namun ucapan Farrel tidak membuat Haura bergegas melangkahkan kakinya. Gadis itu menatap lawan bicaranya itu untuk sesaat. Haura sebenarnya sangat mempercayai Farrel. Namun sikap Haura sekarang bukan karena rasa percaya itu berkurang. Haura hanya merasa ada yang berbeda dari diri Farrel.
Kini Haura menyadari bahwa tidak mengetahui sebuah kebenaran terkadang adalah pilihan yang terbaik agar semua hal dapat berjalan seperti biasanya. Sebagaimana yang ia rasakan sekarang. Mengetahui kebenaran sebenarnya tentang Farrel justru membuat perasaan Haura gelisah.
"Apa yang membuat kamu khawatir?" tanya Farrel pada Haura yang masih belum beranjak dari tempatnya. Indra penglihatan Farrel dapat menangkap dengan jelas ada rasa ragu pada diri Haura. Pun sebenarnya Farrel juga merasakan hal yang sama seperti yang Haura rasakan. Laki-laki itu takut bahwa kejujurannya akan membuat Haura semakin menjauhinya.
"Kak Farrel.... Haura hanya..." ucap Haura terbata-bata. "Apa benar Kak Farrel tinggal disini?" tanya gadis itu lagi. Meskipun dirinya sudah mengetahui dengan pasti bahwa tempat dirinya berada sekarang adalah tempat tinggal Farrel.
"Hmmm..." Jawab Farrel. "Sekarang masuklah... Bukankah kamu mau tau semua tentang aku?"
Perlahan namun pasti Haura melangkahkan kakinya memasuki penthouse mewah tersebut. Baru beberapa langkah memasuki tempat itu, Haura dapat melihat kemewahan dari tempat tinggal Farrel. Laki-laki itu masih belum melepaskan genggaman tangan Haura. Farrel menatap Haura yang masih terlihat tidak percaya bahwa dirinya adalah pemilik tempat tersebut.
"Kak Farrel, benar kak Farrel tinggal disini?" tanya Haura menatap langsung Farrel yang ada di sampingnya.
"Kenapa kak Farrel menutupinya dari Haura?"
"Karena aku rasa ini bukanlah sesuatu yang penting untuk aku ceritakan."
"Tapi bagi Haura..."
"Apa latar belakangku menjadi sangat berpengaruh pada hubungan persahabatan kita?" potong Farrel sebelum Haura menyelesaikan ucapannya. Ada rasa tidak suka di hati Farrel ketika mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas sahabat.
"Tidak," jawab Haura.
"Lalu apa yang membuat kamu gelisah? Aku tetap Farrel yang sama dan kamu selamanya akan menjadi seseorang yang aku sayangi dan aku lindungi. Aku tidak pernah peduli pada semua perbedaan yang ada di antara kita. Percaya padaku."
"Iya kak..." Haura tahu bahwa semua yang Farrel ucapkan adalah sebuah ketulusan dan kejujuran.
"Sekarang duduklah dimanapun kamu mau," ucap Farrel lalu meninggalkan gadis tersebut untuk sejenak. Seperti biasanya Farrel selalu suka mengacak-acak rambut Haura sebelum meninggalkan Haura beberapa menit lamanya. Haura pun tersenyum manis menatap punggung Farrel.
__ADS_1
Haura memilih melihat-lihat sekeliling tempat tersebut. Penglihatan Haura memindai setiap sudut hunian mewah itu. Setiap barang yang ada di tempat tersebut tentunya bernilai mahal. Di dinding terdapat beberapa lukisan bertema abstrak yang Haura yakini hasil karya pelukis hebat. Pun Haura juga yakin bahwa lukisan tersebut bernilai fantastis.
Satu hal yang paling menyita perhatian Haura yaitu sebuah pigura berukuran cukup besar yang terpajang di dinding. Menampilkan foto seorang wanita dan juga anak kecil laki-laki. Gadis itu kini berdiri tepat di hadapan pigura tersebut. Menatap foto itu dan mengagumi kecantikan wanita yang ada di foto tersebut.
"Itu aku dan Mama," ucap Farrel tiba-tiba. Laki-laki itu datang dengan membawa dua kaleng minuman soda di tangannya. Juga beberapa snack yang tadi mereka beli di supermarket. Farrel meletakkan apa yang ada di tangannya pada sebuah meja disana. Lalu ikut berdiri bersama Haura menatap pigura yang menampilkan dirinya dan juga Ibunya.
"Ini foto ketika aku masih sekolah dasar. Umurku delapan tahun saat itu," ucap Farrel lagi.
"Mama kak Farrel cantik."
"Pasti... Mama adalah wanita yang paling cantik di dunia. Mama terbaik dan terhebat untukku."
"Dimana Mama kak Farrel sekarang?" tanya Haura ingin tahu. Karena memang tidak ada tanda-tanda orang lain yang tinggal di penthouse tersebut kecuali Farrel.
"Ada..." jawab Farrel singkat. Laki-laki itu masih memandang lekat pada foto tersebut. "Ada di suatu tempat."
Tatapan Farrel beralih pada Haura yang juga sedang menatapnya.
"Dimana? Bolehkah kalau Haura kenal sama Mama kak Farrel?" tanya gadis itu lagi.
Farrel tersenyum getir. Lalu laki-laki itu menengadahkan pandangannya. Menatap balkon ruangan tersebut. Tepatnya mencoba menahan agar tidak ada air mata yang lolos dari kedua matanya.
Sesaat kemudian Farrel menarik nafas panjang. Menahan kesedihan yang secara perlahan menyusup ke relung hatinya. Ada luka yang sedang coba Farrel sembuhkan. Luka yang tidak di ketahui oleh siapapun.
"Suatu hari nanti aku akan mengenalkan kamu pada Mama," janji Farrel. Haura pun tersenyum bahagia.
Langit Desember kembali menghantarkan hujan dengan tiba-tiba. Tetesan demi tetesan turun bersamaan menyapa seluruh penduduk bumi. Mengabarkan betapa merindunya langit pada bumi yang jauh dari jangkauannya.
Layaknya hujan yang mengabarkan kerinduan langit pada bumi, begitu juga dengan seseorang yang sedang menahan rindu untuk segera bertemu dengan seorang gadis yang telah mencuri ketenangan di setiap malamnya. Ya, itu adalah Nevan yang sangat merindukan Haura. Begitu juga dengan Haura yang tiada hentinya berharap agar Nevan segera kembali ke sisinya.
Ketiga remaja tersebut sedang di permainkan oleh perasaan mereka masing-masing. Cinta Haura kepada Nevan adalah cinta yang tidak pernah ingin bersuara. Ada cinta yang tidak ingin di akui oleh Nevan untuk Haura. Dan juga ada cinta yang tak akan terbalas dari Farrel untuk Haura.
__ADS_1
Semoga suka dengan cerita aku
Plissss.... folllow akun aku yah!!!