(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Kamu boleh jatuh cinta, Haura


__ADS_3

Matahari perlahan mulai beranjak di cakrawala. Pagi telah datang menggantikan kesunyian malam yang berbalut ketenangan. Bias cahaya matahari memasuki ventilasi kamar milik Haura. Gadis itu masih terlelap pada kursi meja belajarnya. Semalaman Haura tertidur disana. Masih dengan diary yang tetap terbuka sebagai bantal tidur gadis remaja itu.


Siluet cahaya matahari pagi melewati jendela kamar Haura, namun tak juga kunjung membuat Haura terbangun dari tidurnya. Meskipun tempatnya terlelap bukanlah sebuah tempat tidur yang empuk, namun gadis itu terlihat sangat nyaman dalam tidurnya. Seakan Haura masih belum siap untuk berpisah dari mimpi indahnya. Mungkin juga di dalam mimpinya Haura sedang bertemu dengan orang yang di rindukannya.


"Haura.... Haura... Bangun nak," Bu Lastri memanggil Haura sambil mengetuk pintu kamar gadis itu. Sudah beberapa kali Bu Lastri mencoba membangunkan putrinya itu.


Beberapa saat yang lalu Bu Lastri yang sedang membuat sarapan untuk Tuan Liam dan Zayn sangat tidak tenang karena putrinya Haura tidak kunjung datang ke rumah utaman. Padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi.


Tidak pernah sebelumnya Haura terlambat bangun pagi. Terlebih lagi Haura sangat menghindari terlambat datang ke sekolah. Bu Lastri merasa sangat khawatir karena biasanya sebelum pukul tujuh Haura sudah muncul di rumah utama untuk mengambil bekal yang selalu gadis itu bawa ke sekolah.


Akhirnya Bu Lastri menitipkan pekerjaannya pada pembantu lainnya dan bergegas kembali ke paviliun belakang untuk memastikan keadaan Haura baik-baik saja di sana. Wanita paruh baya itu takut jika ternyata putri semata wayangnya itu jatuh sakit tanpa sepengetahuannya.


"Haura... Buka pintunya nak... jangan buat Ibu khawatir... Haura.." Bu Lastri masih memanggil nama Haura sambil mengetuk pintu kamar putrinya itu dengan cukup kuat.


Merasa ada yang memanggil namanya, Haura pun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang masih tertutup. Gadis itu belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


Haura memasang indra pendengarannya untuk menangkap lebih jelas siapa gerangan yang memanggil namanya dengan setengah berteriak. Ibu. Ya Haura kini tahu bahwa itu suara Ibunya.


"Haura... Buka pintunya... kamu gak kenapa-napa kan di dalam. Jangan buat Ibu khawatir." Suara Bu Lastri terdengar bergetar. Pertanda bahwa wanita tersebut mulai menahan tangisannya karena merasa sangat khawatir pada Haura yang belum juga memberikan jawaban dari dalam kamarnya.


"Iya Bu," jawab Haura dengan suara yang tidak kalah kencang di bandingkan Ibunya.


Segera Haura membuka pintu kamarnya karena mendengar panggilan Ibunya yang terdengar begitu cemas di luar sana.


"Iya Ibu, Haura gak kenapa-napa," ucap Haura lagi setelah membuka pintu kamarnya.


"Ya ampun Haura, kenapa kamu lama buka pintunya? Ibu takut kamu kenapa-napa di dalam kamar. Kamu baik-baik aja kan nak?"


"Haura baik-baik aja Bu. Maaf udah buat Ibu khawatir." Haura pun langsung memeluk Ibunya untuk menenangkan ke khawatiran yang di rasakan oleh Ibunya.


"Kenapa kamu lama bangunnya? Ini udah hampir jam tujuh. Apa kamu gak sekolah hari ini?"


Sontak Haura melepaskan pelukannya pada Ibunya. "Apa Bu, jam tujuh?" tanya Haura panik.


'Iya jam tujuh," ucap Bu Lastri lagi.


"Ya ampun Ibu, Haura bisa telat ke sekolah. Haura harus siap-siap sekarang."


"Iya nak, ayo cepat siap-siap. Ibu akan siapkan bekal kamu."


"Iya Bu. Terimakasih Ibuku sayang." Gadis itu pun mengecup pipi Ibunya, lalu detik itu juga langsung menyambar handuknya dan bergegas menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


"Hati-hati nak," ucap Bu Lastri dengar tersenyum melihat tingkah putrinya itu.


Tidak butuh waktu lama, lima belas menit kemudian Haura pun telah selesai mengenakan seragam sekolahnya. Ketika hendak mengambil tas sekolahnya, gadis itu baru menyadari bahwa dirinya belum memasukkan buku pelajaran pada hari itu ke dalam tas miliknya.


"Ya ampun... buku," seru Haura sambil menepuk jidatnya sendiri.


Semalam gadis itu benar-benar tertidur lelap di meja belajarnya. Perasannya yang sedang kacau membuat Haura melupakan rutinitas yang selalu di lakukannya sebelum tidur.


Secepat kilat Haura mengambil satu persatu buku pelajarannya dan langsung memasukkan ke dalam tasnya sekaligus. Tanpa gadis itu sadari, diary miliknya juga ikut ia masukkan ke dalam tas sekolahnya.


Haura menyambar ponsel miliknya dan langsung berlari ke rumah utama untuk mengambil bekalnya.


Ketika hendak memesan ojek online ternyata ponsel milik Haura tidak dapat menyala karena kehabisan daya. Hari itu adalah hari yang buruk untuk gadis remaja itu. Jika tidak ada ponselnya bagaimana bisa Haura memesan ojek online untuk mengantarnya ke sekolah.


:Lewat gerbang utama Haura menoleh melihat mobil Zayn yang mungkin masih terparkir di halaman. Gadis itu berharap Zayn belum berangkat ke kantor dan dirinya bisa menumpang ke sekolah bersama anak majikannya itu. Meskipun biasanya Haura sering menolak tawaran Zayn untuk mengantarnya ke sekolah karena merasa sungkan, akan tetapi hari ini Haura sangat berharap anak sulung dari majikannya itu bersedia untuk mengantarnya ke sekolah.


Sayangnya mobil Zayn sudah tidak terlihat di halaman rumah mewah itu. Dimana artinya Zayn telah berangkat ke kantornya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Haura pun segera pergi dengan berlari menuju ke halte bus terdekat dari komplek perumahan elit tersebut.


Sambil berlari, Haura melirik jam tangannya. Jam menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Haura semakin mempercepat larinya. Gadis itu sangat yakin bahwa dirinya sudah pasti akan melewati jam pelajaran pertama. Dimana juga ada pekerjaan sekolah yang harus di kumpulkan.


Lima belas menit kemudian akhirnya Haura sampai di halte bus dengan nafas yang masih ngos-ngosan, juga keringat yang telah membasahi wajah dan tubuhnya. Haura mencium lagi bau badannya sendiri. Bau keringat di pagi hari. Akan tetapi Haura tidak menghiraukannya, yang terpenting dirinya bisa segera sampai ke sekolah.


"Ayo dong bus buruan datang," Haura begitu gelisah melihat ke arah datangnya bus.


Telah sepuluh menit lamanya bus yang di nantikan Haura belum juga terlihat. Di sekeliling tempat tersebut juga tidak ada ojek yang lewat. Hanya ada angkot disana. Namun Haura menimbang-nimbang kembali, jika memilih naik angkot pasti dirinya akan semakin terlambat.


Akhirnya Haura memilih untuk menunggu lima menit lagi, jika bus tidak juga datang, maka Haura memilik untuk naik angkot saja.


Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di halte dimana Haura berada saat itu. Sesaat Haura melihat ke arah mobil tersebut, lalu kembali melihat ke arah datangnya angkutan umum yang sedang dinantikannya.


Tiittt.... Tiiittt... Bunyi klakson dari mobil mewah tersebut,


Haura kembali menoleh pada mobil itu. Kaca kaca mobil tersebut telah terbuka dan memperlihatkan penumpang di dalamnya.


"Yuk bareng gue," ajak seorang gadis cantik yang sedang duduk di kursi penumpang mobil mewah itu.


Haura tidak menduga bahwa itu adalah Rhea. Terlebih lagi Rhea mengajaknya untuk ke sekolah bersama. Haura masih mematung dan tidak kunjung merespon ajakan Rhea.


"Ayo buruan..." seru Rhea lagi.


"I...i.. iya Rhe," jawab Haura merasa canggung. Gadis itu pun segera masuk ke dalam mobil milik Rhea. Meskipun merasa canggung karena hubungannya dan Rhea tidak cukup baik, tetapi Haura mengesampingkan hal tersebut agar bisa segera tiba di sekola.

__ADS_1


"Jalan pak," titah Rhea pada supirnya.


"Tumben lo telat?" tanya Rhea mencoba mengurai kecanggungan antara dirinya dan Haura.


"Emmm... Aku terlambat bangun..." jawab Haura singkat.


Rhea hanya mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut. Alunan musik menemani perjalanan kedua gadis remaja itu. Mereka berdua memilih untuk saling diam.


"Rhe... aku..." Haura ragu untuk menyampaikan sesuatu kepada Rhea.


"Iya kenapa?"


"Emmm.... apa aku bau keringat?" tanya Haura akhirnya. "Tadi aku berlari dari rumah ke halte, jadi aku cukup berkeringat. Aku hanya takut membuat kamu gak nyaman," jujur Haura karena tidak ingin Rhea merasa tidak nyaman dengan dirinya.


Tidak terduga, Rhea malah mengendus-ngendus ke arah Haura. Membuat Haura membulatkan matanya sempurna karena tidak menduga dengan tindakan yang dilakukan oleh Rhea.


"Lumayan bau keringat sih," ucap Rhea. Gadis cantik itu pun langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah parfum. Segera Rhea menyemprotkan parfum tersebut ke tubuh Haura.


"Sekarang lo udah wangi," ucap Rhea sambil merapikan rambut Haura yang terlihat sedikit berantakan. "Dan cantik," tambah Rhea lagi sambil tersenyum hangat kepada Haura.


Haura benar-benar salah tingkah dengan sikap baik Rhea kepadanya. "Terima kasih Rhe," ucap Haura juga dengan tersenyum hangat kepada gadis cantik dan baik hati di depannya itu.


"Aku lupa sesuatu," ujar Haura. Lalu gadis itu merogoh-rogoh isi tasnya. Mencari sesuatu yang ia lupakan.


"Apa yang lo cari?"


"Charger... tapi kayanya aku lupa." Haura kembali lesu karena tidak bisa mengisi daya ponselnya.


Tanpa terasa mobil milik Rhea telah memasuki area sekolah mereka. Suasanya sekeloh terlihat sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berada di luar kelas. Itu artinya jam pelajaran pertama telah di mulai.


"Sekali lagi terima kasih Rhe," ucap Haura tulus.


"Iya..."


Segera Haura berlari menuju ruang kelasnya dan berharap dirinya tidak akan mendapatkan sanksi dari guru yang mengajar di jam pelajaran pertama.


Rhea melihat lagi pantulan wajahnya di sebuah cermin berukuran kecil miliknya. gadis cantik itu juga segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kendaraan yang mengantarnya ke sekolah.


Namun ketika hendak keluar, Rhea melihat sebuah buku tertinggal di bangku penumpang di sebelahnya. Rhea sangat yakin bahwa itu adalah buku milik Haura. Sebuah buku bersampul putih dengan gambar setangkai mawar merah. Itu adalah diary Haura.


Rhea hendak memanggil Haura untuk mengembalikan buku miliknya, akan tetapi Rhea mengurungkan niatnya. Gadis cantik itu pun membuka buku itu karena merasa penasaran dengan isinya. Apalagi sampul buku milik Haura terlihat sangat menarik.

__ADS_1


Baru halaman pertama, Rhea sudah tertegun dengan isi buku itu. Ada sebuah lukisan wajah Nevan. Juga sebuah kalimat tanya tentang perasaan yang berbalut keraguan.


"Kamu boleh jatuh cinta, Haura," ujar Rhea lirih metanap punggung Haura yang kian menjauh dari pandangannya.


__ADS_2