(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Kehilangan


__ADS_3

Hari Minggu telah kembali. Hari pertama Haura menikmati libur semester. Gadis remaja itu telah terlihat sangat cantik dalam balutan gamis berwarna putih. Ditambah lagi kerudung berwarna biru yang menutupi rambut indahnya. Gadis itu terlihat begitu bersahaja. Begitu anggun dalam kesederhanaan. Di lihatnya lagi pantulan dirinya di sebuah cermin di dalam kamar gadis itu.


Hari ini Haura akan mengunjungi makam ayahnya, Pak Hamzah. Sudah satu tahun lebih ayahnya berpulang ke hadapan Sang Pencipta. Rasa rindu teramat sangat Haura rasakan untuk ayahnya itu. Hanya doa yang dapat Haura panjatkan untuk orang terkasihnya. Semoga Allah menempatkan ayahnya di tempat terbaik.


Setelah dirasanya selesai, Haura pun meninggalkan kamar. Siap berangkat menuju pemakaman ayahnya. Bu Lastri telah menunggu Haura di ruang tamu tempat tinggal mereka. Bu lastri mengenakan gamis berwarna hitam, lengkap dengan kerudung berwarna yang sama.


Haura dan Bu Lastri sangat bahagia mengunjungi makan Pak Hamzah. Terlebih lagi Bu Lastri yang menyimpan rindu tak terhingga pada Almarhum suaminya itu.


"Ayo Nak," ajak Bu Lastri ketika melihat Haura sudah selesai berkemas.


"Ayo, Bu."


Kedua Ibu dan anak itu pun segera berangkat. Jam menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Bu Lastri sengaja pergi pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan. Di depan gerbang sudah menunggu sebuah mobil yang telah Haura pesan melalui aplikasi online. Siap mengantarkan mereka ke tujuan.


Tidak butuh waktu lama, tiga puluh menit kemudian Bu Lastri dan Haura telah tiba di salah satu pemakan umum. Keduanya langsung bergegas menyusuri beberapa nisan yang bertuliskan nama-nama orang yang beristirahat disana. Semoga mereka mendapatkan ketenangan, batin Haura.


Sampailah Ibu dan anak itu di sebuah makam dengan batu nisan berwarna hitam. Disana terukir dengan indah Basmallah dan juga nama Muhammad Hamzah lengkap dengan nama dari orangtua Pak Hamzah. Itulah makan suami Bu Lastri, ayah Haura.


Bu Lastri dan Haura membersihkan beberapa rumput liar disana. Menaburkan bunga yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Dengan penuh khitmad Haura dan Ibunya menghadiahkan Al-Fatihah dan beberapa surah Al-Quran lainnya untuk orang yang mereka sayangi itu.


Bu Lastri memandang nisan itu dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Rasa rindu dan kehilangan masih terasa begitu menyiksa. Begitu pun dengan Haura. Gadis itu begitu merindungan sosok seorang ayah. Belum puas rasanya bermanja-manja pada ayahnya. Namun Tuhan mengambil kembali ayahnya. Begitulah takdir berkehendak itulah fikir Haura.


"Ayah... Haura kangen," ucap gadis itu. Air mata mulai membasahi kedua pipinya.


"Ayah tau gak, Haura udah dapat raport untuk semester ini. Dan Haura berhasil bertahan di posisi sepuluh besar. Haura hebat kan ayah," Gadis remaja itu mulai bercerita. Tangannya sejak tadi mengusap batu nisan bertuliskan nama ayahnya.


"Haura harus mempertahankan nilai yang bagus, supaya Haura tetap mendapatkan beasiswa. Sekarang di sekolah sangat menyenangkan. Haura punya sahabat-sahabat yang sangat baik. Awalanya Haura takut bersekolah disana, karena Haura merasa berbeda dengan yang lainnya. Ayah mengerti kan maksud Haura."


Bu Lastri mendengar setiap curahan hati putrinya itu. Ada kesedihan disana. Ternyata begitulah kekhawatiran yang Haura rasakan selama ini.

__ADS_1


"Tapi ternyata bersekolah disana tidak begitu menakutkan seperti yang Haura bayangkan. Disana Haura mendapatkan sahabat-sahabat yang sangat baik," ucap gadis itu tersenyum di sela-sela tangisnya. Bu Lastri mengusap lembut puncak kepala putrinya itu.


Banyak hal yang Haura dan Bu Lastri ceritakan disana. Seakan orang yang sedang mereka ajak bercerita benar nyata di hadapan mereka. Begitulah caranya mereka melepas rindu.


Setelah mereka rasa sudah cukup lama disana, akhirnya Bu Lastri dan Haura siap untuk beranjak pulang. "Pak, kami pulang dulu yah," ucap Bu Lastri. "Nanti InsyaAllah Ibu dan Haura akan berkunjung lagi."


Bu Lastri tak kuat membendung air matanya. "Semoga Bapak di tempatkan di tempat terbaik di sisi Allah. Dan kita dapat berkumpul kembali nantinya."


Isak tangis Bu Lastri sangat menyayat hati. Begitu pun dengan Haura. Kehilangan adalah hal tersulit untuk diterima dalam hidup. Terlebih lagi kehilangan orang terkasih. Ikhlas hanyalah sebuah kata yang tak semua orang mampu untuk memaknainya.


Di tempat lainnya.


Setelah kembali dari bandara mengantarkan Nyonya Anna dan yang lainnya. Nevan pun langsung bergegas menuju salah satu pemakaman umum. Remaja itu ingin mengunjungi Ibunya.


Nevan, Zayn dan Tuan Liam sedang duduk bersisian di sebuah makam bertuliskan nama Putri Amira. Ya, sama halnya dengan Haura, Nevan dan keluarga pun sedang berziarah ke makam orang yang paling mereka sayangi. Sudah lebih dari sepuluh tahun Nyonya Amira meninggalkan dunia ini.


Kala itu Nevan hanya seorang anak kecil berusia enam tahun. Kini ia telah menjadi remaja tampan. Nevan tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu. Menjadikannya begitu rindu akan sosok wanita yang telah bersemayam dengan tenang disana.


Zayn menatap adik kecilnya itu yang kini telah tumbuh dewasa. Kesedihan terlukis jelas di wajah tampan Nevan. Meskipun Nevan tidak pernah mengatakan bahwa dia belum siap kehilangan, namun Zayn dapat mengetahui bahasa tubuh adiknya itu. Nevan haus akan kasih sayang seorang Ibu. Hanya enam tahun lamanya Nevan merasakan pelukan hangat seorang Ibu.


"Kehilangan bukanlah akhir dari rasa sayang," ucap Tuan Liam tiba-tiba. Sejak tadi Tuan Liam memperhatikan kedua putranya, terutama Nevan.


"Kehilangan bukanlah batas akhir dari mencintai. Karena Mama kalian akan selalu hidup dalam hati kita masing-masing. Meskipun raganya tidak bisa lagi kita lihat, namun Papa yakin rasa cinta dan sayang kita kepada Mama tidak akan pernah berkurang," ucap Tuan Liam. Memandang penuh cinta pada nisan yang bertuliskan nama istrinya itu.


Nevan dan Zayn begitu tertegun mendengar ucapan papa mereka. Mereka yakin bahwa papa mereka juga sangat merindukan kehadiran istrinya itu. Bahkan rasa rindu yang lebih besar dari apa yang Nevan dan Zayn rasakan.


Sebuah doa mereka hadiahkan untuk Nyonya Amira. Berharap Tuhan memberikan tempat terbaik untuk orang yang mereka sayangi itu.


"Ayo kita pulang," ajak Zayn kepada adiknya.

__ADS_1


Begitu pun Tuan Liam telah bersiap untuk pulang.


"Papa dan Kak Zayn duluan aja. Nevan masih mau disini," ucap Nevan. Remaja itu masih mau melepas rindu pada mamanya.


"Baiklah," ucap Zayn.


Zayn dan Tuan Liam pergi meninggalkan tempat tersebut. Menyisakan Nevan seorang diri disana.


Tapapan Nevan masih terpaku pada batu nisan yang bertuliskan nama mamanya.


"Nevan kangen, Ma," ucap remaja itu.


"Kenapa mama pergi begitu cepat? Apa Tuhan begitu sayang sama mama, sampai mama meninggalkan Nevan secepat ini?"


"Nevan masih ingat saat mama peluk Nevan untuk terakhir kalinya di rumah sakit. Rasanya Nevan gak pernah mau melepaskan pelukan itu. Andai Nevan tahu itu pelukan tekahir mama, Nevan akan bersama mama terus disana." Nevan masih berbicara pada nisan yang bertuliskan nama Putri Amira.


"Ma... Nevan udah gede, tapi kenapa Nevan selalu nangis kalau ingat Mama. Nevan lemah, Ma. Nevan gak sekuat yang terlihat." Remaja itu mengakui kerapuhannya.


"Sekarang Nevan ketemu lagi sama Haura. Mama tahu kan Haura. Dulu Haura dan Ibunya yang selalu main sama Nevan kalau mama di rawat di rumah sakit. Nevan bahagia ketemu sama Haura lagi." Nevan menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


"Dulu Haura selalu bersama Nevan saat Nevan kecil. Menenangkan Nevan saat Nevan nangis karena mau ikut mama di rumah sakit. Sekarang Nevan mau melindungi Haura. Selalu ada buat dia. Sama seperti yang Haura lakukan saat Nevan kecil. Nevan sayang Haura, Ma. Bolehkan, Ma?"


Nevan menatap sendu pada nisan tersebut. Membelai lembut ukiran nama mamanya itu. "Andai mama masih ada, pasti mama juga akan sayang Haura. Meskipun terkadang dia menyebalkan. Dia juga pendek, Ma. Kayak kurcaci... Hehe. Tapi Haura sangat baik."


Banyak hal yang Nevan ceritakan disana. Berharap mamanya bisa mendengar semua curahan hatinya.


"Nevan pulang ya Ma. Lain kali Nevan akan datang lagi bersama Haura," ucap Nevan.


"Semoga suatu saat nanti Nevan bisa bertemu Mama. Bisa peluk Mama." Nevan mengusap cairan bening di sudut matanya. Manik biru miliknya terlihat redup. Kesedihan tersirat disana. Hanya ini yang bisa Nevan lakukan untuk melepas rindu pada Mamanya. Bercerita apa saja pada nisan yang tak akan pernah bisa bersuara.

__ADS_1


Kehilangan menjadi bagian perjalanan hidup yang paling menyakitkan. Mengajarkan kata ikhlas yang terkadang hanya mampu terucap kata namun tak mampu memahami makna. Merindukan namun tidak bisa lagi bertemu, mencintai namun tidak ada lagi raga untuk berlabuh. Hanya menyimpan dengan rapi setiap memori orang terkasih sebagai teman untuk melanjutkan perjalanan hidup. Berharap suatu hari nanti Tuhan akan mempertemukan dalam naungan keabadian.


__ADS_2