
"Aku rasa perjanjian kita telah selesai hari ini," ucap Nevan. Kata-kata yang di ucapkan Nevan mungkin terdengar sangat kejam bagi Alesha, mengingat gadis itu baru saja sembuh dari sakit yang di deritanya. Namun Nevan ingin segera mengakhiri semua hal bersama Alesha. Laki-laki itu sudah sangat siap memulai hubungan yang baru bersama Haura. Gadis manis yang sedang menunggunya.
Saat ini Nevan masih berada di salah satu kamar pasien di sebuah ruah sakit di Sydney. Di tempat tidur pasien sudah tidak ada lagi pasien yang berbaring disana. Alesha telah terlihat rapi, bersiap untuk meninggalkan kamar rawat inap tersebut setelah menghabiskan waktu lebih dari dua minggu berbaring disana.
"Aku udah menepati semua janji aku. Sekarang kita akhiri semuanya," sambung Nevan lagi.
Alesha yang masih duduk di atas ranjang kamar rawat inap itu hanya menatap lekat pada wajah tampan Nevan. Gadis cantik itu belum mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi perkataan Nevan.
"Aku bahagia karna kamu udah sembuh. Aku harap sampai kedepannya kamu akan baik-baik aja."
Nevan pun membalas tatapan Alesha. Gadis cantik yang pernah menjadi pemenang hatinya itu masih terlihat cukup pucat. Nevan mengusap penuh sayang puncak kepala Alesha. Gadis itu memejamkan kedua matanya. Merasakan sentuhan Nevan di puncak kepalanya.
"Apa ini akan jadi yang terakhir?" tanya Alesha lirih.
"Apa setelah ini kita selamanya akan menjadi asing?" ucap gadis cantik itu lagi. Dengan mata yang masih terpejam setetes cairan bening lolos begitu saja di salah satu pipinya.
Kembali Alesha membuka kedua matanya. Gadis itu ingin menatap Nevan sebanyak yang ia bisa.
"Ini akan jadi yang terakhir kan Van?"
"Maafkan aku Ale." Hanya kata maaf yang bisa Nevan ucapkan untuk menenangkan gadis di hadapannya itu. Bagi Nevan lebih baik berkata jujur tentang perasaannya kepada Alesha saat ini. Melanjutkan hubungannya dengan Alesha sama saja dengan menyakiti dirinya, Alesha dan juga Haura.
"Jaga diri kamu baik-baik." Nevan pun ingin segera beranjak pergi meninggalkan Alesha seorang diri di sana.
"Tinggallah beberapa hari lagi bersamaku. Please..." Alesha mencegah Nevan untuk pergi meninggalkannya. Gadis itu menggenggam erat pergelangan tangan Nevan. Ia tidak ingin laki-laki itu pergi darinya.
"Setelah ini kamu akan bersama Haura. Aku hanya minta beberapa hari. Bolehkah? Hmmm."
Terdengar helaan nafas panjang dari Nevan. Laki-laki itu tahu tidak akan mudah mengakhiri semuanya. Nevan berlutut di hadapan Alesha. Menatap lekat wajah gadis cantik yang telah di penuhi dengan air mata.
"Aku sudah menepati janjiku. Aku tidak bisa lagi tinggal disini lebih lama. Aku mohon mengertilah Ale."
gadis itu pun semakin menangis mendengar perkataan Nevan. Itu artinya tidak ada lagi harapan untuk melanjutkan hubungannya dengan Nevan.
"Hubungan kita tidak bisa lagi kita teruskan."
"Tetaplah menjadi Alesha yang selalu ceria. Jangan nangis kaya gini." Nevan mengusap perlahan air mata di kedua pipi Alesha.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Nevan lagi.
Gadis cantik itupun berhamburan memeluk Nevan erat. Menumpahkan semua kesedihannya dalam dekapan laki-laki yang sangat di cintainya. Laki-laki yang tidak pernah bisa di milikinya.
"Setelah kamu balik ke Indonesia, kita masih bisa berteman," janji Nevan.
"Kamu serius Van? Kita masih bisa jadi teman?" tanya Alesha yang masih memeluk Nevan.
"Hmmm.... pasti."
"Aku harus pulang. Dia menungguku," ucap Nevan sambil melepaskan pelukan Alesha dari tubuhnya.
"Mengertilah Ale."
Batin Alesha sepenuhnya mengakui kekalahannya. Haura adalah pemenang. Gadis yang bahkan belum pernah Alesha temui adalah pemenang dari hati Nevan.
***
Di tempat lainnya telah terjadi kesalahpahaman antara Luna dan Haura. Kesalahpahaman karena rasa cemburu yang telah menguasai hati Luna.
"Luna kamu kenapa?" tanya Haura pada Luna yang selama satu minggu terakhir terus menjauhinya.
"Apa aku ada salah sama kamu? Tolong jelaskan salah aku dan aku minta maaf untuk semua kesalahan aku sama kamu. Aku mohon jangan kaya gini," ucap Haura panjang lebar. Gadis itu tidak tahu sebab apa yang membuat Luna menjauhinya akhir-akhir ini.
Sementara itu Luna hanya menatap Haura dengan tatapan yang tidak dapat Haura pahami. Tatapannya sangat dingin kepada Haura. Tidak seperti Luna yang selama ini Haura kenal.
"Tolong Luna, katakan apa salah aku?"
"Kamu gak salah apa-apa kok Ra." Luna masih bertahan dengan jawaban yang sama.
Selama satu minggu lamanya Haura bertanya apa salahnya pada Luna. Akan tetapi sahabatnya itu selalu memberikan jawaban yang sama.
"Aku gak kenapa-napa."
"Kamu gak salah apapun."
"Aku cuma mau sendiri."
__ADS_1
Itulah jawaban yang selalu Luna berikan. Bahkan selama satu minggu terakhir Luna juga tidak pernah pergi ke kantin bersama Haura. Luna selalu menghindar dari Haura. Namun tidak dengan Adel.
Luna bersikap seperti biasa kepada Adel. Gadis cantik itu tetap terlihat ceria jika bersama Adel. Karena itulah Haura tahu bahwa dirinya pasti melakukan kesalahan hingga membuat sahabat cantiknya itu menjauh darinya.
Disisi lain Adel selalu berusaha untuk menjadi penengah di antara Luna dan Haura. Adel juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Luna hingga berakhir menjaga jarak dari Haura. Sayangnya Luna juga tidak mau berkata jujur pada Adel. Hingga selama satu minggu terakhir hubungan tiga bersahabat itu menjadi renggang.
"Aku duluan mau ke kantin," ucap Luna sambil menatap Adel. Padahal disana juga ada Haura. Namun Luna bahkan tidak menatap ke arah Haura. Gadis cantik itu mengacuhkan Haura begitu saja.
Raut penuh kesedihan terlihat jelas di wajah Haura. Gadis itu hanya bisa menatap punggung sahabat baiknya yang meninggalkan kelas mereka tanpa berkata apapun padanya.
"Semua akan baik-baik aja Ra," ucap Adel mencoba menenangkan Haura.
"Kita akan perbaiki sama-sama," sambung Adel lagi dengan tersenyum hangat pada sahabatnya itu.
"Semua salah aku Del," ucap Haura lirih. Gadis itu masih belum berpaling menatap pintu kelas mereka. Seakan masih ada Luna disana.
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita belum tahu apa yang membuat Luna berubah."
"Tapi pasti masalahnya karna aku." Haura mengalihkan tatapannya ke arah Adel. "Sebaiknya kamu bareng Luna. Aku gak mau dia kesepian."
Adel pun menghela nafas panjang. Gadis cantik itu juga tidak tahu harus bersikap seperti apa. Haura dan Luna sama pentingnya di dalam hidupnya. Adel tidak mau persahabatan antara mereka berantakan seperti sekarang.
"Kamu gak ikut Ra?"
"Aku disini aja Del. Lebih baik kamu susul Luna," ucap Haura dengan memaksa tersenyum kepada Adel.
"Hmmm... yaudah deh Ra." Adel pun pergi meninggalkan Haura seorang diri disana.
Tidak ada siapapun disana. Hanya ada Haura bersama pikirannya yang sangat kacau. Segalanya terasa rumit bagi gadis remaja itu.
Haura menatap keluar lewat jendela kelasnya. Tatapannya kosong, namun isi kepalanya begitu riuh tanpa ada seorangpun yang tahu. Akhir-akhir ini banyak hal yang mematahkan hati gadis itu sedikit demi sedikit. Berbagai hal rumit datang silih berganti menghancurkan perasaan gadis remaja itu.
Kepergian Nevan telah mematahkan hatinya dan meredupkan cinta pertamanya. Ditambah lagi kehadiran Alesha yang semakin meyakinkan Haura bahwa Nevan tidak akan pernah kembali lagi.
Haura juga merasa sangat bersalah pada Farel karena telah menolak cinta laki-laki baik yang selalu ada untuknya. Haura terus menyalahkan dirinya karena telah membuat Farel sangat kecewa dan patah hati. Sejak penolakan itu, gadis itu bahkan tidak sanggup untuk bertatap muka langsung dengan Farel. Bahkan di sekolah sebisa mungkin Haura terus menghindari Farel.
Dan sekarang Luna. Sahabat baiknya itu menjauhinya tanpa ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Haura benar-benar merasa terluka karena hal tersebut.
__ADS_1
"Haruskah aku menghilang selamanya?" gumam Haura lirih.