(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Cukup Fikirkan Aku Dan Nikmati Waktu Bersamaku


__ADS_3

Dear readers tersayang.... Aku minta maaf karna gak bisa update setiap hari🥹


Semoga semuanya masih setia menunggu kelanjutan cerita Haura, Nevan dan yang lainnya.


Seperti biasa aku mohon tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan juga follow akun aku🙏🏻


Selamat membaca sayang semuanya.... LOVE U ALL


 


 


 


 


Pagi-pagi sekali Farrel telah berada di depan sebuah rumah mewah. Laki-laki itu memarkirkan kendaraannya tidak jauh dari rumah mewah tersebut. Menunggu kedatangan seorang gadis yang telah berjanji akan menemaninya pada hari itu.


Farrel sedang menunggu kedatangan Haura. Gadis remaja tersebut telah berjanji akan menghabiskan waktu bersama Farrel selama tiga hari. Dan ini adalah hari terakhir Haura menghabiskan waktu liburan sekolah bersama Farrel. Setelah dua hari sebelumnya mereka mengunjungi tempat-tempat yang sering mereka kunjungi satu tahun yang lalu. Warung bakso langganan mereka, pasar malam, toko buku, tentunya pergi ke toko buku adalah keinginan Haura saja. Mereka juga berkeliling kota sambil bercerita apa saja. Canda tawa menemani mereka selama dua hari terakhir. Baik Haura maupun Farrel sangat menikmati kebersamaan mereka.


Tentunya Farrel telah meminta izin kepada Bu Lastri, Ibunya Haura untuk mengajar Haura pergi bersamanya. Bu Lastri sudah mengenal Farrel sejak dulu. Ketika Bu Lastri dan Haura belum tinggal di kediaman Tuan Liam, Farrel sering berkunjung ke rumah Haura. Bahkan ketika akhir pekan, Farrel terkadang menghabiskan waktu seharian di rumah Haura. Entah Farrel hanya mengganggu Haura atau berbincang dengan Almarhum ayah Haura.


Bahkan tidak jarang Bu Lastri menanyakan kabar Farrel lewat Haura. Karena memang Bu Lastri tidak pernah lagi melihat Farrel sejak menetap di rumah Tuan Liam. Bagi Bu Lastri, Farrel sudah seperti bagian dari keluarga mereka. Pun begitu juga yang Haura rasakan. Satu hal yang Haura yakini bahwa Farrel kesepian.


Karena itulah haura sudah menganggap Farrel seperti kakak laki-lakinya sendiri. Haura sangat menyayangi Farrel, namun bukanlah rasa sayang seperti sayang seorang perempuan kepada seorang laki-laki.


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, seorang gadis remaja senyum manis menghampiri Farrel. Haura terlihat sangat manis dengan penampilannya yang begitu sederhana. Gadis itu mengenakan baju lengan panjang berwarna merah muda, di padukan dengan celana jeans berwarna biru denim, lengkap dengan sepatu kets berwarna putih. Seperti biasa, Haura menguncir rambut indahnya, lalu menyematkan sebuah jepitan rambut berwarna merah muda. Tidak ada polesan make up yang mencolok. Wajah Haura hanya dilapisi oleh bedak tabur dan juga lip balm. Penampilan yang cukup untuk membuat wajah Haura terlihat segar.

__ADS_1


Farrel menatap gadis yang telah berdiri tepat di hadapannya yang tersenyum dengan kedua lesung pipi tercetak jelas di wajah Haura. Laki-laki itu meneliti setiap jengkal wajah gadis di hadapannya itu. Haura begitu manis fikir Farrel.


"Kak Farrel.... Kenapa malah liatin Haura gitu?"


"Kamu cantik hari ini," sebuah pujian terucap begitu saja dari mulut Farrel. Tentunya Farrel sungguh-sungguh dengan apa yang baru saja di ucapkannya. Bukan sebuah gombalan.


Yang dipuji justru semakin mengembangkan senyumannya. Menampilkan deretan gigi-gigi Haura yang tersusun begitu rapi. "Iya dong Kak... Haura setiap hari memang cantik," ucap Haura. Bukannya merasa salah tingkah pada pujian Farrel, Haura justru semakin memuji dirinya sendiri. Karena memang Haura tidak sedikitpun menaruh rasa pada Farrel. Tentu saja pujian Farrel tidak membuatnya salah tingkah.


"Jangan di liat lama-lama kak... Haura gak akan tanggung jawab kalau kak Farrel jatuh cinta sama Haura." Lalu gadis itu tertawa dan langsung menggandeng tangan Farrel. Begitulah dulunya Haura bersikap pada Farrel, sebelum perlahan-lahan Haura mencoba menjauhi laki-laki itu karena sesuatu hal yang tidak di ketahui oleh Farrel.


Farrel menggaruk tengkuknya karena merasa salah tingkah mendengar ucapan Haura. "Aku udah jatuh cinta sama kamu Haura, tapi kamu gak mau menyadari itu," batin Farrel.


"Motor kak Farrel mana?" tanya Haura karena tidak melihat sepeda motor yang biasanya Farrel gunakan.


"Emmm... hari ini kita naik itu," ucap Farrel sambil menunjuk ke arah sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang ia parkirkan beberapa meter dari pintu gerbang utama rumah mewah keluarga Sander.


Farrel menggenggam tangan Haura dan menuntun gadis itu menuju mobil berwarna hitam miliknya. "Hari ini kita naik ini," ucap Farrel lagi. Lalu Farrel membukakan pintu kendaraan miliknya dan memaksa Haura untuk masuk ke dalamnya. Tidak lupa Farrel juga memasangkan sabuk pengaman pada gadis tersebut.


Farrel tersenyum manis pada Haura yang masih terlihat tidak percaya. Lalu laki-laki itu langsung menuju ke sisi lainnya. Menempatkan dirinya di balik kemudi.


"Kak Farrel jangan bercanda... Ini mobil siapa? Jangan bilang ini mobil hasil curian," Haura merasa ngeri dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Apalagi melihat Farrel yang selalu terlihat berantakan. Meskipun Haura menduga bahwa Farrel bukanlah berasal dari keluarga biasa, namun Haura tidak ingin percaya begitu saja pada laki-laki yang bersamanya saat ini.


Seketika Haura melepas kembali sabuk pengaman miliknya dan ingin keluar dari mobil tersebut. Namun usahanya berhasil di gagalkan oleh Farrel.


Dengan sigap Farrel mencengkeram lengan Haura. Bukan cengkeraman yang menyakitkan, hanya untuk menahan gadis itu agar tidak pergi, "Kamu mau kemana?"


"Haura gak mau ikut kak Farrel kalau pake mobil hasil curian," tuduh Haura lagi. "Darimana kak Farrel dapat mobil  ini? Ini mobil mahal, gak mungkin ini milik kak Farrel," gadis itu terlihat begitu panik.

__ADS_1


"Haura gak mau terlibat sama tindakan kriminal yang kak Farrel lakukan. Haura takut kalau di tuduh bersekongkol dalam aksi pencurian," lanjut Haura menyuarakan semua tuduhannya kepada Farrel.


Yang tertuduh justru hanya tersenyum mendengar ucapan Haura. Tidak mau ambil pusing, Farrel pun langsung menyalakan mesin kendaraan tersebut tanpa mau menanggapi ucapan Haura.


Farrel memasangkan kembali sabuk pengaman Haura. "Kita berangkat... Hmmm.... Percaya padaku," ucap Farrel bersamaan dengan usapan penuh sayang pada puncak kepala Haura.


Lagi-lagi untuk sejenak Farrel menatap dalam pada Haura. Jarak yang hanya terpaut beberapa senti saja membuat Farrel dapat memindai dengan jelas wajah gadis yang telah mencuri hatinya itu. Rasa itu semakin besar untuk Haura, namun Farrel tidak ingin memaksakan perasaannya pada seseorang yang tidak mencintainya.


"Tapi kak.... Haura...."


"Stttt...." Farrel meletakkan jari telunjuknya di bibir Haura. Meminta gadis itu untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Kamu percaya sama aku?" tanya Farrel menatap Haura lekat-lekat. Sementara Haura hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Terima kasih karena kamu percaya aku dan kamu harus ingat kalau aku gak mungkin menyakiti kamu dalam bentuk apapun.... Hmmmm" ucap Farrel tulus. "Sekarang kita berangkat dan jangan berfikir hal buruk apapun.”


Farrel kembali menjauhkan dirinya dari Haura agar gemuruh di dalam dadanya tidak membuatnya hilang kendali. Laki-laki itu kembali menatap lurus pada jalan dihadapannya. Komplek perumahan tersebut di penuhi dengan rumah-rumah megah.


Untuk sejenak Farrel menarik nafas dalam-dalam. Seakan mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Laki-laki itu kembali menatap Haura yang masih memaku tak mengucapkan sepatah kata pun. "Cukup fikirkan aku dan nikmati waktu bersamaku," ucap Farrel lagi.


“Aku hanya ingin menghabiskan tiga hari ini bersama kamu. Aku hanya ingin bahagia selama tiga hari ini,” ucap Farrel. “Aku sangat merindukan kita yang dulu.”


“Hmmm… iya kak…” gadis itu tersenyum kembali pada Farrel. Haura juga merindukan kedekatannya bersama Farrel, sebelum seseorang memaksanya untuk menjauhi laki-laki yang telah menolongnya itu.


Bagi Farrel mencintai Haura bukan berarti harus memiliki Haura seutuhnya. Meskipun rasa ingin memiliki gadis yang di cintainya itu begitu menggebu di hati Farrel, namun sebisa mungkin Farrel mencoba menepis perasaan itu. Cukup seperti sekarang, berada dekat dengan gadis yang di cintainya itu. Bisa melihat Haura tersenyum dan merangkul tangannya tanpa ragu dan menangis padanya ketika Haura merasa hari-harinya begitu sulit.


Perasaan cinta Farrel begitu dalam dan tulus untuk Haura. Cinta tanpa memaksa akan rasanya terbalas adalah sebenar-benarnya cinta. Cinta tanpa pamrih. Cinta tanpa menuntut. Cinta yang hanya ingin memberi tanpa mengharap mendapatkan kembali.

__ADS_1


Seringnya cinta seperti itu adalah seni menyakiti diri sendiri. Namun bagi mereka yang mencintai, lebih memilih menikmati rasa sakit daripada menyakiti orang yang mereka kasihi.


__ADS_2