(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Rezeki Di Pagi Hari


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman


Aku balik lagi... InsyaAllah aku akan rajin up.


Mohon dukungannya dan terimakasih karena masih setia dengan tulisan aku ini.


*


*


*


*


*


*


Senin menyapa sebagai permulaan semua kegiatan dan kepenatan serta bahagia dan sedih untuk setiap insan yang menjadi penghuni semesta. Perlahan sang mentari mulai menanjak di cakrawala. Siap menemani siang dengan berbagai cerita yang akan ada di dalamnya. Permulaan hari yang bagi sebagian orang disambut dengan suka cita namun ada juga yang menyambut senin dengan masih menggantungkan harap agar suka dan cita akan setia mengiringi untuk tujuh hari yang akan datang.


Nevan dan Haura telah bersiap untuk berangkat ke sekolah bersama. Sebuah rutinitas yang seperti menjadi kewajiban bagi kedua remaja tersebut sejak beberapa bulan terakhir. Keduanya menyambut Senin dengan perasaan yang berbeda. Bagi Haura Senin kali ini adalah Senin yang sangat mendebarkan karena merupakan hari pertama ujian semester. Ada rasa antusias namun juga ada cemas disana. Begitulah siswa pada umumnya menghadapi hari pertama ujian.


Meski Haura merasa telah belajar maksimal, akan tetapi rasa gugup tetap saja meliputi gadis remaja berlesung pipi itu. Harapan untuk mendapatkan nilai terbaik demi mempertahankan beasiswa yang di dapatkannya menjadi alasan utama Haura merasa cemas dan gugup di saat bersamaan.


Lain halnya dengan Nevan yang terlihat biasa saja bahkan lebih kepada tidak peduli pada ujian yang akan berlangsung kurang dari satu jam kedepan. Meskipun selama beberapa hari yang lalu Nevan ikut belajar bersama Niko dan lainnya bukan berarti hal itu dikarenakan Nevan antusias untuk menyambut ujian. Itu terjadi hanya karena Nevan tidak mempunyai teman untuk diajaknya bersantai atau bermain game karena Niko dan Gian disibukkan dengan persiapan ujian.


Beberapa kali Nevan mencoba membujuk Gian untuk bolos belajar. Namun sayang semua bujuk rayu Nevan di tolak mentah-mentah oleh Niko. Kejadian sebenarnya juga Gian hanya sibuk dengan handphone miliknya. Sayangnya Gian tidak bisa banyak protes karena setelah pulang ke rumah, orangtua Gian akan segera menghubungi Niko untuk menanyakan apakah benar Gian belajar bersama Niko atau tidak. Karena itulah Gian tidak mau mengikuti keinginan Nevan untuk bersantai ria sebagaimana biasanya.


Haura berdiri di sisi kanan motor Nevan dengan menyandarkan tubuhnya pada motor yang terparkir di halaman rumah utama. Wajah gadis remaja itu di tekuk sempurna dan sesekali Haura menendang-nendang rerumputan yang tertata rapi di halaman rumah mewah tersebut.


Indra penglihatan Haura terus mengawasi pintu utama rumah mewah tempat dia dan Ibunya itu tinggal. Helaan demi helaan nafas panjang telah beberapa Haura hembuskan. Bahkan manik hitam Haura juga seakan tidak pernah hentinya mengamati arloji yang tersemat di pergelangan tangan kirinya.


“Kenapa Nevan lama? Bisa-bisa kami telat di hari pertama ujian,” gumam Haura seorang diri karena Nevan tak kunjung keluar. Bahkan jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit.


Sebenarnya masih ada waktu empat puluh menit lagi sebelum ujian di mulai. Namun bagi Haura yang telah terbiasa tiba di sekolah sangat awal, pukul tujuh lebih dua puluh menit sudah sangat terlambat.


Haura tidak habis fikir dengan sahabatnya Nevan, bisa-bisanya Nevan terlambat bangun tidur di hari pertama ujian. Hal itulah yang membuat Haura menenuk wajahnya karena kesal kepada Nevan.


Dua puluh menit yang lalu Haura sebenarnya sudah ingin berangkat ke sekolah lebih dulu karena sudah pukul tujuh Nevan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Setelah berpamitan pada Ibunya Haura pun siap menuju ke sekolah. Belum juga Haura meninggalkan rumah utama, suara lantang Nevan menghentikan langkahnya.


“Haura... tunggu...” Bak adegan di film-film Hindia Nevan memanggil nama Haura dengan begitu dramatis. Meminta gadis remaja itu untuk menunggu dirinya.

__ADS_1


Suara Nevan bahkan menggema seisi rumah mewah tersebut hingga menyita perhatian Tuan Liam, Nyonya Ana dan juga Zayn yang telah duduk manis di meja makan menikmati sarapan pagi mereka.


Haura yang mendengar teriakan Nevan memanggil namanya pun segera menghentikan laju kakinya. Berbalik arah pada sumber suara yang berasal dari arah belakangnya. Betapa terkejutnya Haura melihat Nevan yang masih bermuka bantal dan rambut yang acak-acakan. Belum lagi Nevan hanya memakai boxer tanpa atasan hingga tubuh atletis Nevan terpampang jelas di hadapan Haura.


Untuk beberapa detik haura begitu terpaku melihat tubuh bagian atas Nevan untuk pertama kalinya. Pahatan roti sobek terpampang jelas disana. Namun hanya beberapa detik saja hingga kesadaran Haura kembali menguasai fikiran gadis remaja itu. Segera Haura memalingkan wajahnya sebelum Nevan menangkap basah dirinya yang terpesona pada tubuh sahabatnya itu.


“Haura.. kamu gak boleh pergi sendiri. Tunggu aku karena aku gak akan lama,” titah Nevan.


“Aku pergi sendiri aja, Van. Lagian ini udah jam tujuh, aku gak mau telat,” tolak Haura tanpa memalingkan wajahnya.


“Gak boleh, kamu harus tunggu aku. Jangan coba-coba pergi tanpa aku.”


“Gimana aku mau tunggu kamu, jam segini kamu baru bangun tidur, belum lagi mandi. Udah keburu bel masuk kalau aku tungguin kamu.”


“Ya bukan salah aku. Tuhh salahin jamnya kenapa muternya cepat. Perasaan baru juga aku tidur, taunya udah pagi aja.” Seperti biasanya ada saja alasan Nevan agar dirinya tidak di salahkan.


“Ckkk... Dasar kamu, selalu merasa benar. Pokoknya hari ini aku pergi duluan.” Tanpa menunggu jawaban Nevan, Haura pun segera melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedikitpun.


Tak mau tinggal diam, Nevan segera melangkah lebar demi mencekal pergelangan tangan Haura untuk menghentikan Haura tidak segera pergi.


“Tunggu aku!” sebuah kalimat perintah terlontar dari Nevan. Pertanda bahwa dirinya tidak ingin mendapat penolakan lagi dari sahabatnya itu.


“Mau berapa lama lagi kamu disana?” Sebuah suara bariton menginterupsi percakapan antara Nevan dan Haura. Sontak saja kedua remaja yang sedang bersitegang itu menoleh pada si pemilik suara yang tidak lain adalah Zayn.


“Mau sampai kapan kamu mencekal tangan Haura?” tanya Zayn dengan nada mengejek.


Secara bersamaan Nevan dan Haura menoleh pada pergelangan tangan Haura. Segera Nevan melepas tangannya dari pergelangan tangan Haura. Sementara Haura kembali memalingkan wajahnya karena lagi-lagi


penglihatannya menatap tubuh bagian atas milik Nevan yang begitu memanjakan mata.


“Lihat apa yang kamu pakai Van!” ucap Zayn pada adiknya karena mengerti pada kecanggungan yang terbaca dengan jelas pada raut wajah Haura.


Nevan mengalihkan matanya pada apa yang di lihat oleh kakaknya itu. Detik itu juga Nevan membulatkan kedua manik coklat miliknya. Dalam hati Nevan merutuki kebodohannya karena lupa memakai baju terlebih dahulu sebelum keluar dari kamarnya.


Namun Nevan tetaplah Nevan. Meskipun merasa malu, remaja tampan itu tetap berusaha terlihat biasa saja dengan menunjukkan sisi kerennya yang seakan masa bodoh dengan penampilannya saat itu.



“Eheemmm.....” Nevan berdehem mencoba mengurai rasa malunya di hadapan Haura. “Memangnya kenapa dengan pakaian Nevan?”


“Kenapa?” Zayn menekan pertanyaannya sambil melirik kearah Haura yang sejak tadi menundukkan pandangannya agar tidak bersitatap dengan Nevan yang masih berdiri menjulang di hadapannya.

__ADS_1


“Lagian badan Nevan keren gini. Memangnya kenapa kalau sekali-kali Nevan pertontonkan. Iya kan, Ra?" ucap Nevan dengan tersenyum licik.


Nevan bukan tidak menyadari bahwa Haura merasa tidak nyaman dengan dirinya saat ini. Namun sayang rasanya jika Nevan melewatkan momen tersebut untuk mengganggu sahabanya itu.


Perkataan Nevan membuat Haura secara spontan menatap kearah Nevan yang ternyata sedang tersenyum licik menatapnya. Haura paham bahwa saat itu Nevan ingin menggodanya. Sayangnya pesona Nevan mampu membungkan mulut Haura yang hendak protes pada perkataan Nevan.


Tidak dapat Haura pungkiri meskipun baru bangun tidur pesona Nevan tidak terbantahkan. Bagi Haura Nevan adalah definisi ketampanan yang hakiki. Dalam keadaan seperti apapuun Nevan tetap akan bersinar dengan pesona mematikannya.


Tanpa Haura sadari, Nevan telah menekuk tulutnya demi mensejajarkan tinggi tubuhnya agara sama seperti Haura. "Jangan terpesona gitu, Haura." Ucapan Nevan di iringi dengan senyuman manis kepada Haura yang sangat terkejut dengan aksinya.


"A-aku...." Haura tidak mampu berkata-kata karena ulah Nevan.


"Anggap saja pagi ini aku adalah rezeki tak terduka dari Tuhan untuk kamu."


"Plakkk...." sebuah pukulan yang cukup keras mendarat di kepala Nevan. Pelakunya tidak lain adalah Zayn.


"Awwww....." pekik Nevan. "Sakit, kak."


"Mau sampai kapan kamu gangguin Haura?" Zayn mencoba menghentikan aksi adiknya itu yang sangat suka menggoda Haura. Bukan Zayn tidak tahu bahwa selama ini Haura selalu salah tingkah setiap kali Nevan menggodanya. "Kamu mau berangkat ke sekolah jam berapa?"


Haura segera memeriksa kembali arlojinya. Jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Itu menunjukkan bahwa sudah lima belas menit lamanya mereka mebuang waktu percuma.


"Kalau kamu masih lama, biar Haura pergi ke sekolah bareng kakak," ucap Zayn yang justru mendapat anggukan dari Haura.


"Jangan coba-coba," cegah Nevan. "Jangan coba-coba pergi sama kak Zayn."


Wajah Haura yang tadinya terlihat bahagia kembali murung karena ucapan Nevan.


"Aku gak akan lama. Tunggu aku." Nevan pun segera beranjak meninggalkan Zayn dan Haura disana.


Ketika langkah Nevan siap menapaki anak tangga, Zayn kembali memanggil namanya. "Nevan..." panggil Zayn.


Nevan pun segera berpaling karena namanya di panggil oleh kakaknya. tanpa berucap apapun, Zayn hanya menunjuk ke araha pipinya.


Dengan wajah bingung, Nevan tidak memahami maksud kakaknya itu. "Why?" tanya Nevan dengan wajah bodohnya.


"Kamu ileran," ucap Zayn di iringi oleh tawa renyah yang justru di sambut juga oleh tawa Haura.


"Sial!" Nevan pun mengumpat sambil segera menuju kamarnya. Hal tersebut membuat Nevan benar-benar malu. Selama menapaki satu persatu anak tangga dengan terburu-buru Nevan masih dapat mendengar dengan jelas gelak tawa Zayn dan Haura.


Setelah memastikan Nevan menghilang dari pandangan, Zayn pun mengedipkan sebelah matanya kepada Haura. Keduanya pun ber-tos ria karena berhasil mengerjai Nevan hingga membuat si tampan Nevan merasa malu. Tentu saja perkara ileran adalah sebuah kebohongan besar.

__ADS_1


__ADS_2