
Sepuluh hari yang sangat melelahkan karena ujian semester akhirnya selesai juga. Wajah seluruh siswa yang tadinya begitu tegang selama lebih dari satu bulan lamanya sejak mempersiapkan diri untuk ujian hingga ujian berlangsung akhirnya lenyap sudah.
Wajah ceria penuh tawa hadir kembali pada wajah-wajah seluruh siswa Sander International High School. Yang tadinya mereka bahkan enggan menyapa satu sama lain karena di sibukkan dengan belajar, sekarang kehidupan mereka seolah telah kembali normal sebagaimana bisanya. Canda tawa bersama teman dapat
mereka nikmati kembali.
Sekolah yang tadinya sempat berubah layaknyaTempat Pemakaman Umum dengan suasana mencekam menjelang ujian kini telah kembali normal sebagaimana mestinya. Setiap sudut sekolah di penuhi oleh canda tawa siswa yang asik bercengkerama sesama mereka. Ujian semester selama sepuluh hari benar-benar menjadikan sekolah mereka bagaikan bangunan tua tak berpenghuni.
Begitu juga dengan kantin sekolah. Dimana sejak satu bulan lalu juga ikut beralih fungsi menjadi tempat belajar siswa kini telah kembali pada identitas sebenarnya. Tempat favorit pertama disetiap sekolah itu terlihat di penuhi oleh siswa. Bukan untuk belajar, akan tetapi tempat berkumpul untuk saling berbagi cerita. Tidak ada lagi perkacapan berbisik-bisik seperti beberapa waktu yang lalu. Apalagi siswa yang selalu memegang buku pelajaran, tidak ada sama sekali. Suara riuh yang tak terhingga kembali terdengar di kantin sekolah. Begitulah seharusnya.
Masing-masing dari mereka mempunyai cerita menarik tersendiri untuk diceritakan pada teman mereka masing-masing. Tentu saja cerita menarik tersebut adalah seputaran ujian dan segala macam persiapan yang mereka lakukan untuk mendapatkan nilai terbaik. Sebenarnya yang mereka lakukan adalah saling mencurahkan isi hati mereka tentang tekanan yang mereka rasakan demi nilai yang memuaskan.
Disana juga ada Farel dan teman-temannya yang merupakan satu tim sepakbola dengannya. Siswa kelas XII tersebut memang sangat jarang terlihat bersama teman-temannya. Hanya sesekali saja, itu pun Farel tidak banyak bicara. Karena begitulah kepribadiannya.
Sontak saja kehadiran tim sepakbola dalam formasi lengkap di kantin sekolah membuat semua perhatian siswa tertuju pada mereka. Baik itu dari kalangan junior maupun teman seangkatan mereka. Satu hal lagi yang pasti, sosok yang begitu menarik perhatian mereka adalah Farel. Sang kapten tim sepak bola sekolah.
Dapat dipastikan bahwa kehadiran mereka disana untuk membicarakan tentang kegiatan ekskul yang akan diselenggrakan beberapa hari kemudian. Kegitan yang menjadi rutinitas setiap semesternya setelah ujian selesai.
Bisik-bisik di kalangan siswa perempuan terdengar begitu kentara membicarakan sosok Farel. Dimana hadirnya selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa di sekolah tersebut.
Berselang beberapa menit kemudian, perhatian seisi kanti teralihkan kembali pada sekelompok siswa yang mendapat julukan The most wanted sekolah. Siapa lagi kalau bukan trio tampan Nevan, Gian dan Niko dan duo cantik Rhea dan Bella.
Kali ini bukan hanya perhatian kaum hawa yang teralihkan tapi juga dari kalangan kaum adam yang begitu mengagumi kecantikan Rhea.
Nevan berjalan di tengah di antara Gian dan Niko. Menegaskan bahwa dirinyalah yang paling tampan di antara kedua sepupunya itu. Bahkan di antara seluruh siswa di sekolah tersebut. Sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan bahwa Nevan adalah siswa yang tertampan di sekolah itu.
Sejurus kemudian tatapan Nevan bertemu dengan Farel yang duduk di meja ketiga dari pintu masuk kantin. Tatapan penuh permusuhan terpancar pada mata kedua remaja itu. Meski mereka tidak pernah baku hantam, akan tetapi setiap bertemu, keduanya selalu saja memancarkan aroma permusuhan. Hal itu tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh satu orang, yaitu Haura Annisa.
Nevan dan teman-temannya memilih untuk duduk di meja sebelah kanan berada tepat di sudut kantin. Meja tersebut selalu menjadi tempat favorit mereka. Oleh karena itu, tidak ada satu orang siswa pun yang berani duduk disana.
Seperti siswa lainnya, Nevan cs juga terlihat begitu penat karena persoalan ujian semester. Bahkan Rhea terlihat merebahkan kepalanya diatas meja kantin, gadis remaja cantik itu begitu frustasi selama pelaksanaan ujian berlangsung. Bisa dikatakan bahwa seluruh orangtua siswa yang anaknya bersekolah di sekolah elit tersebut menganggap bahwa nilai terbaik anak-anak mereka merupakan salah satu perwujudan harga diri yang harus selalu dijaga. Para orangtua tidak menyadari bahwa hal tersebut dapat merusak psikologi sang anak karena terpaksa harus selalu memuaskan ekspektasi yang mungkin tidak mampu mereka penuhi.
“Hufffttt... Akhirnya selesai juga penderitaan kita,” gumam Rhea. “Ujian adalah penyiksaan lahir dan batin,” sambungnya lagi. “Entah kapan ini akan berakhir?”
__ADS_1
“Lo bener. Lebih baik kita melakukan kegiatan fisik daripada harus belajar seperti orang kesurupan hanya untuk memenuhi ekspektasi yang bahkan bukan kita yang ciptakan,” sambung Bella. Seperti Rhea, Bella juga ikut merebahkan kepalanya ke atas meja. Dua bersahabat itu saling berhadapan bersamaan dengan keluh kesah yang tak hentinya keluar dari penuturan mereka.
“Sangat tidak adil. Kita di paksa untuk harus menikmati apa yang tidak kita sukai.” Setelah mengatakan itu Rhea memejamkan kedua matanya. Seakan meresapi jalan hidup mereka yang selalu harus berjalan sempurna seperti apa yang orangtua mereka inginkan.
“Jika di antara kita harus ada yang mengeluh, harusnya orang pertama yang melakukan itu adalah Niko,” ucap Gian. Membuat semua yang ada di sana menatap kearah orang yang di maksud oleh Gian.
Bahkan dua gadis remaja cantik yang tadinya terlihat begitu frustasi dengan keadaan mereka kembali duduk tegak. Kata-kata Gian bagai sebuah teguran bagi mereka. Karena mereka sepenuhnya sadar, bahwa di antara para orangtua mereka, orangtua Niko lah yang paling menuntut agar putra mereka selalu melakukan yang sempurna dalam bidang apapun.
"Apa ada di antara kita yang mempunyai beban lebih berat daripada Niko?" tutur Gian lagi.
Hal tersebut bukan tanpa sebab, Niko adalah putra tunggal dari kedua orangtuanya. Sudah pasti Niko akan menjadi pewaris tunggal di keluarga Adhitama. Meskipun pada dasarnya Mama Niko tidak pernah menuntut agar putranya selalu melakukan semua hal dengan sempurna. Namun beda halnya dengan Papa Niko yang memang mengharuskan Niko untuk mampu melakukan yang terbaik dalam segala hal. Oleh karena itulah terbentuk kepridadian Niko yang dingin. Hanya kepada Nevan dan Gian saja Niko bersikap layaknya remaja pada umumnya.
Jangan tanyakan jika tentang persoalan cinta. Niko bahkan belum pernah berpacaran. Masa putih abu-abu yang terasa lebih indah karena di bumbui dengan kisah cinta remaja tidak pernah sama sekali dirasakan oleh Niko. Remaja tampan yang selalu terlihat dingin itu menjadi sosok yang sulit untuk di jangkau. Bukan karena Niko memiliki ketampanan melebihi Nevan, akan tetapi Niko seperti memasang benteng untuk menepis siapa saja yang ingin mendekatinya.
“Papa lo masih nuntut lo untuk semua ekspektasi gila yang dia ciptakan?” tanya Nevan. Sahabat sekaligus sepupu Niko itu memang selalu bersikap sarkas kepada sikap Papa Niko yang seakan menyiksa sepupunya itu.
Hening. Seperti biasanya tidak ada jawaban sama sekali dari Niko. Bukan tidak ingin menjawab, akan tetapi menurut Niko tidak perlu rasanya Nevan atau yang lainnya menanyakan perihal tersebut, karena mereka sudah mengetahui dengan pasti jawaban dari pertanyaan tersebut.
Gian, Rhea dan Bella membisu. Mereka bertiga tidak ada yang berani membuka suara. Jika perihal tidak menyukai sikap Papa dari Niko maka mereka semua tidak menyukainya. Namun hanya Nevan yang berani menyuarakan ketidaksukaannya secara lantang.
“Apa harus gue yang bilang sama Om Dika? Gue tau lo juga punya keinginan untuk hidup dengan cara yang lo mau. Tapi kalau lo cuma diam aja tanpa menyuarakan apa yang lo mau, apa lo fikir Papa lo akan sadar akan keinginan lo itu?” sambung Nevan lagi.
Tujuan mereka yang tadinya ingin melepas rasa frustasi karena persoalan ujian semester, kini berubah menjadi tegang karena persoalan Niko. Nevan da Gian benar-benar tidak habis fikir mengapa selama ini Niko mau menuruti semua keinginan Papanya tanpa pernah protes sama sekali.
“Apa lo fikir gue gak pernah menyuarakan keinginan gue?” jawab Niko dengan nada dingin bersamaan dengan senyuman mengejek tersungging di sudut bibirnya.
“Dan apa lo fikir gue punya pilihan?” tambahnya lagi.
Seketika Nevan terdiam. Netra Nevan dan Niko saling menatap. Nevan sadar betul bahwa orangtua Niko sangat berbeda dengan orangtuanya. Jika Papa dari Niko selalu menuntut Niko untuk memenuhi semua ekspektasinya, maka lain halnya dengan Tuan Liam yang membebaskan kedua putranya untuk memilih apa yang mereka mau, namun selalu dalam pengawasannya. Begitu juga dengan Gian.
“Papa gue bukan Om Liam. Dan gue bukan lo ataupun Gian.”
Perkataan Niko bagai sebuah tamparan untuk Nevan dan Gian. Keduanya menyadari bahwa Niko sebenarnya juga begitu tertekan dan frustasi. Sayangnya Niko tidak bisa bertindak sebagaimana maunya. Selain mempertimbangkan nama baik keluarganya, Niko juga tidak ingin membuat Mamanya bersedih karena perlawanan yang dia lakukan pada kemauan Papanya.
__ADS_1
"Tapi lo harus bersikap lebih tegas pada apa yang lo suka dan gak lo suka. Kita bukan anak kecil yang harus selalu menuruti semua keinginan orangtua kita," sambung Nevan lagi.
"Lo harus tahu Van, ada beberapa hal di dunia ini yang memang harus kita terima tanpa banyak protes. Lo tau kenapa?" Niko menjeda perkataannya sejenak.
"Karena terkadang untuk mengubah sesuatu kita justru harus kehilangan sesuatu lainnya yang begitu berharga dalam hidup kita."
Tak ingin berlama-lama lagi disana, Niko pun memilih untuk meningglkan kantin seorang diri. Dirinya tak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan Nevan. Karena seperti biasanya, hal itu tidak akan pernah ada habisnya.
Jika membahas tentang orangtuanya, maka selalu saja berakhir dengn perdebatan antara dirinya dan Nevan. Namun Niko paham, bahwa itu semua adalah bentuk rasa peduli Nevan pada dirinya. Begitu juga dengan Gian. Kedua sepupu sekaligus sahabatnya itubenar-benar tulus padanya.
__ADS_1