
Jangan lupa tinggalkan jejak yah readersš„°
Untuk yang belum follow, plisss follow akun aku yah...
Love you allā¤ļø
...****************...
"Pulanglah lebih dulu, gue akan nyusul kalian," pinta Nevan pada Niko. Nevan merasa harus menyelesaikan semua permasalahannya dengan Alesha. Mengakhiri hubungan mereka selamanya agar tidak ada yang merasa tersakiti.
"Gue harap lo bisa mengambil keputusan yang terbaik," ucap Niko. Niko dan yang lainnya pun segera pergi. Mereka harus bergegas agar tidak ketinggalan penerbangan. Ketiga mobil yang mengantarkan mereka pun perlahan tidak terlihat lagi. Tinggallah disana Nevan dan Alesha.
Badai salju telah tiada, namun cuaca dingin sangat menusuk hingga ke tulang. Alesha mengajak Nevan untuk ke rumahnya sebelum mereka membeku berada di luar.
Keduanya pun memasuki rumah Alesha. Hanya ada mereka berdua disana. Nevan meneliti sekeliling tempat tersebut, semuanya masih sama seperti satu tahun yang lalu. Juga ada beberapa foto dirinya dan juga Alesha disana, masih terpajang pada tempatnya dulu.
Ada sebuah piano yang dulu sering dimainkan oleh Alesha untuk dirinya. Jemari laki-laki itu menyentuh piano tersebut. Banyak kenangan antara dirinya dan Alesha di rumah itu. Semuanya kembali terputar bagai sebuah rekaman vidio.
"Duduklah," ujar Alesha. Di kedua tangan gadis itu sudah ada dua cangkir teh. Entah kapan gadis itu membuat teh untuk mereka. Karena sejak tadi Nevan sibuk meneliti isi rumah dimana dulu ia sering menghabiskan waktunya bersama Alesha. Menurut gadis itu segelas teh mungkin akan cukup membantu untuk menghangatkan tubuh mereka berdua.
Nevan memilih untuk duduk di sebuah sofa di ruang keluarga rumah itu. Masih juga dengan sofa yang sama dimana dirinya sering menghabiskan waktu untuk bercerita bersama gadis yang bersamanya saat ini. Alesha juga memilih untuk duduk disana meskipun ada tempat lainnya yang bisa gadis itu tempati. Ia memilih duduk di sebelah Nevan.
"Terima kasih karena telah memberikan kesempatan untuk aku menjelaskan semuanya," ucap Alesha tulus. Gadis cantik itu menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai penjelasannya.
"Tapi boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Alesha ragu akan pertanyaan yang akan ditanyakan nya.
"Tentang apa?" Nevan memilih untuk membuat jarak antara dirinya dan Alesha. Laki-laki itu seakan menegaskan bahwa dirinya ingin benar-benar mengakhiri hubungan mereka berdua.
"Apakah itu Haura yang dulu sering kamu ceritakan padaku?" tanya Alesha. Gadis itu ingin memastikan lagi bahwa Haura yang Nevan maksud adalah Haura yang sama.
"Iya... Itu Haura yang sama. Haura yang selalu menjadi cerita yang paling sering aku ceritakan dulu." Nevan mencoba menghadirkan Haura di dalam ingatannya. Juga mengingat ketika dulu dirinya sering menceritakan hal yang sama tentang Haura kepada Alesha.
Tatapan Alesha terlihat sayu. Ada rasa sedih juga cemburu yang datang bersamaan ke dalam relung hatinya. Namun tekad gadis itu untuk mempertahankan hubungannya dengan Nevan begitu kuat.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu jelaskan?" tanya Nevan karena Alesha tidak kunjung menjelaskan apapun padanya.
Jika boleh jujur, sebenarnya laki-laki itu sudah tidak mau tahu apa yang akan di sampaikan oleh Alesha. Karena bagi Nevan hubungan mereka telah selesai. Namun demikian, Nevan tidak tega melihat Alesha memohon padanya. Dan juga laki-laki itu ingin semuanya berakhir sebagai mana mestinya.
"Kamu tahu kan Van, sejak keluarga kami jatuh bangkrut, hidup kami menjadi kacau." Gadis itu memulai penjelasannya secara perlahan.
Ya... Nevan sangat tahu apa yang terjadi pada keluarga Alesha. Semua berawal ketika Daddy Alesha tertipu oleh rekan bisnisnya sendiri. Keluarga Alesha menjadi kacau dan bahkan sering terjadi keributan antara Mommy dan Daddy gadis itu.
Kala itu Nevan kerap membantu Alesha untuk bersembunyi dari amukan Daddy nya.
Gadis itu pun melanjutkan ceritanya, "Daddy menjadi seorang pecandu alkohol. Daddy berubah menjadi seseorang yang tidak kami kenal. Dia sering berlaku kasar dan sering juga memukul Mommy. Tanpa kami ketahui, ternyata Daddy juga sering berjudi untuk mencoba peruntungan di meja judi." Alesha tersenyum getir. Ceritanya bagaikan membuka sebuah luka yang perlahan mulai sembuh.
"Aku dan Mommy tidak tahu harus bagaimana saat itu."
"Kenapa kamu gak cerita ke aku?" Nevan memotong cerita Alesha. Ada gurat kekecewaan yang terlihat jelas di wajah Nevan. Laki-laki itu kecewa karena Alesha tidak terbuka padanya tentang masalah yang di hadapinya waktu itu.
"Kamu sudah sangat sering menolongku," gadis itu saling menautkan jemarinya. Mencoba mengurai kesedihan di hatinya.
Nevan mengerutkan keningnya karena tidak paham kenapa dirinya bisa terluka.
Alesha menatap Nevan dalam-dalam. "Sampai akhirnya Daddy menjadikanku jaminan di meja judi. Daddy mencoba menjual aku." Tangis Alesha pecah di dalam pelukan Nevan. Gadis itu memeluk tubuh Nevan begitu erat, seakan mencoba mencari perlindungan disana. Suara pilu dari tangisan Alesha mendominasi seluruh ruangan tersebut.
Nevan sangat marah mendengar cerita Alesha. Laki-laki itu mengencangkan rahangnya menahan emosi yang memenuhi dadanya.
"Brengsek," sebuah umpatan lolos dari mulut Nevan.
"Kenapa kamu gak cerita sama aku? Kenapa kamu sembunyikan semuanya dari aku? Kenapa kamu memilih pergi meninggalkan aku tanpa aku pernah tahu kebenaran sebenarnya?" Nevan sangat merasa iba pada Alesha. Dulu tangisan Alesha adalah hal yang paling di bencinya. Perlahan Nevan membelai lembut puncak kepala gadis itu.
Alesha hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu belum mampu untuk melanjutkan ceritanya.
Untuk beberapa saat lamanya kedua remaja itu tidak berbicara apapun. Alesha masih berada dalam pelukan Nevan. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh dari laki-laki yang sangat di cintainya itu. Tangisan Alesha hanya tinggal isakan saja.
"Kenapa kalian tidak mencoba untuk lapor polisi?"
__ADS_1
"Sudah... Tapi setelahnya Daddy kembali meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada kami dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Hingga akhirnya ada orang-orang yang selalu mengintai aku dan Mommy. Hingga mereka mencoba menculik aku."
Nevan semakin geram mendengar cerita Alesha, ingin rasanya dirinya menghajar Daddy Alesha.
"Karena itu Van aku gak mau kamu terlibat. Kami gak mau menyeret kamu dan juga keluarga kamu dalam masalah kami. Aku dan Mommy memilih pergi secara diam-diam agar Daddy tidak tahu keberadaan kami saat itu. Kami bersembunyi dan menutup semua akses komunikasi agar Daddy tidak bisa menemukan kami."
Alesha melepaskan pelukannya pada Nevan. Menatap wajah laki-laki yang sangat di rindukannya itu. Masih ada jejak air mata yang terlihat di wajah Alesha.
"Dulu... waktu bersamamu adalah waktu yang paling bahagia dalam hidup aku. Kamu adalah bagian terbaik yang Tuhan berikan untukku. Semuanya adalah hal indah jika bersama kamu Van. Aku cinta kamu dan masih mencintai kamu," Alesha jujur pada perasaannya.
"Bukan keinginan aku untuk pergi meninggalkan kamu. Tapi keadaan yang memaksa aku untuk pergi.... Maafkan aku Van."
Nevan menghela nafas panjang. Dirinya benar-benar tidak pernah menyangka bahwa Alesha mengalami hal buruk seperti itu. Laki-laki itu merasa ikut bersalah karena tidak bisa melindungi gadis yang di cintainya dulu.
"Sekarang Daddy telah di penjara dan berpisah dari Mommy. Bukan hanya itu, mommy juga akan menjual rumah ini." Alesha meneliti sekeliling rumahnya itu. Banyak kenangan antara dirinya bersama kedua orangtuanya dan juga Nevan.
"Mommy ingin memulai semuanya dari awal. Mencoba melupakan semua kenangan buruk di rumah ini. Karna itu aku kembali kesini untuk mengemasi barang-barang milikku. Tuhan sangat baik padaku karena mempertemukan aku dan kamu lagi," Alesha kembali tersenyum menatap Nevan.
"Aku dan Mommy akan kembali ke Indonesia," sambung gadis itu lagi.
"Bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi, Van?"
Nevan seakan kehilangan kata-katanya. Laki-laki itu benar-benar di buat serba salah dengan keadaan yang terjadi. Di satu sisi ada Haura yang sedang menantinya disana, juga gadis itu adalah pemenang hatinya saat ini. Namun di lain sisi Nevan tidak ingin membuat Alesha kembali bersedih.
Semuanya semakin rumit karena setiap keputusan yang akan Nevan ambil tentu akan menyakiti seseorang nantinya.
Semesta seolah sedang mengajak mereka bercanda dengan perasaan. Ada luka yang telah sembuh lewat cinta yang datang perlahan dan telah sepenuhnya menguasai hati.
Tetapi ada juga yang mencari penyembuh lewat kata cinta yang pernah redup namun perlahan harap untuk kembali bersama seakan menjanjikan bahagia yang belum pasti.
Di tempat lainnya ada seseorang yang menantikan sebuah janji untuk kata temu. Berharap dapat menenangkan rindu yang semakin menggebu.
"Maafkan aku Ale.... Tapi aku mencintai dia," ucap Nevan.
__ADS_1