
Waktu istirahat tiga puluh menit di manfaatkan oleh siwa untuk membaca-baca kembali buku pelajaran mereka. Sesekali mereka saling berdiskusi tentang kemungkinan soal apa yang akan keluar pada ujian di sesi selanjutnya. Ini adalah hari ketiga siswa di sekolah International tersebut menghadapi ujian semester.
Namun hal itu tidak berlaku untuk Nevan, karena begitu bel istirahat berbunyi Nevan langsung pergi meninggalkan kelasnya. Dengan tergesa Nevan berjalan menyusuri setiap koridor sekolah. Dari rute yang diambilnya dapat di pastikan bahwa Nevan akan menuju rooftop. Tempat dimana dirinya bersama Niko dan Gian selalu berkumpul tanpa Rhea dan Bella. Tempat tersebut memang sebagai tempat privasi mereka bertiga.
Sesampainya di rooftop, Nevan langsung menuju sebuah ruangan yang berukuran enam kali delapan meter. Ternyata disana sudah ada Niko yang sedang duduk di sebuah kursi di sudut ruangan itu dengan sebuah buku di tangnnya.
Untuk sedetik lamanya Niko hanya melirik sekilas ke arah Nevan tanpa bertanya apapun karena memang dirinya ingin tetap fokus pada bacaannya. Begitu juga dengan Nevan, dirinya juga sama sekali tidak menyapa Niko. Nevan langsung membaringkan tubuhnya pada sebuah sofa tunggal berukuran panjang yang terdapat di ruangan itu.
Benar-benar tidak ada percakapan sama sekali. Nevan dan Niko bersikap seolah-olah hanya seorang diri berada di tempat itu.
Lima menit lamanya ruangan itu terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara dari kertas yang saling bergesekan ketika Niko membuka halaman selanjutnya dari buku yang dibacanya.
Orang ketiga pun muncul, siapa lagi kalau bukan si playboy. Gian memasuki ruangan tersebut sambil bersiul ria. Dia fikir tidak ada siapa pun di dalam karena memang tidak ada sedikitpun suara yang terdengar ke luar.
Namun ternyata ketika Gian membuka pintu ruangan itu, ada Niko dan Nevan disana. Kedua sahabatnya itu terlihat berada di posisi yang saling berjauhan. Menandakan bahwa mereka tidak ingin saling mengusik satu sama lain.
Gian hanya menatap sekilas pada Niko tanpa ada niat untuk menyapanya. Sang playboy telah paham betul bahwa Niko tidak ingin diganggu ketika dirinya sedang fokus pada buku bacaannya.
“Lo kenapa?” tanya Gian ketika baru saja memasuki tempat tersebut dan juga mendapati Nevan tidur di sebuah sofa berukuran panjang yang memang mereka sediakan untuk beristirahat. Kedua mata Nevan terpejam dengan salah satu tangan terletak di keningnya, layaknya sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.
Niko yang sejak tadi berada disana sebenarnya juga melihat gelagat tidak biasa yang di tunjukkan oleh Nevan. Sahabtanya itu seperti gelisah dan mempunyai banyak beban fikiran. Namu Niko tidak seperti Gian yang menjunjung tinggi rasa ingin tahunya. Niko tidak akan pernah bertanya apapun kepada Nevan sampai Nevan sendirilah yang bercerita padanya.
Memang biasanya Nevan selalu berbagi cerita padanya. Hanya saja untuk permasalahan yang sedang Nevan hadapi sekarang butuh waktu beberapa hari untuknya sebelum menceritakan perihal tersebut kepada kedua sahabatnya itu.
Mengetahui bahwa Gian telah berada disana, Nevan segera membuka kedua matanya dan menatap kearah Gian tanpa berkata apapun.
Mendapat tatapan aneh dari Nevan membuat Gian bergidik ngeri. Bukan karena takut, akan tetapi Nevan menatapnya aneh.
“Lo ke-kenapa liatin gue kayak gitu?” tanya Gian terbata.
Bukannya memberikan jawaban, Nevan justru menutup kembali kedua matanya sambil menghela nafas panjang.
“Lo sakit?” tanya Niko yang sejak tadi hanya memperhatikan Nevan dari tempat duduknya. Niko bahkan telah menutup buku pelajaran yang sedang dibacanya.
Niko pun berpindah duduk ke salah satu kursi yang terletak tepat di depan sofa dimana Nevan membaringkan tubuhnya. Mereka hanya terpisah oleh sebuah meja yang berada di antara sofa dan kursi tersebut. Seperti Niko, Gian pun ikut duduk pada kursi kosong di sebelah Niko. Kedua remaja tampan itu menatap penuh selidik kearah Nevan. Sedangkan yang di tatap masih bertahan dengan matanya yang terpejam.
“Lo berdua gak usah liatin gue kayak gitu,” ucap Nevan karena tanpa melihatpun dirinya menyadari bahwa kedua sahabatnya sedang itu sedang menatap penuh selidik kearahnya.
“Gak biasanya lo kayak gini. Lo lagi ada masalah?” tanya Niko lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Nevan.
“Hmmmm…”
Meski hanya gumaman itu sudah cukup bagi Niko dan Gian sebagai jawaban bahwa saat ini Nevan benar-benar sedang mempunyai masalah serius.
“Siapa orang yang udah berani bermasalah sama lo?” tanya Gian dengan wajah yang terlihat begitu penasaran. “Siapa Van?”
“Kalau memang lo butuh temen untuk buat perhitungan sama tuh orang, gue siap ngebantu lo. Kalau bisa pulang sekolah nanti langsung kita samperin tuh orang,” cerocos Gian lagi yang justru mendapat sebuah pukulan yang cukup keras mendarat tepat di kepalanya. Siapa lagi yang memukulnya kalau bukan Niko.
“Kenapa lo malah keplak kepala gue?”
“Apa di otak lo gak ada hal lain selain perempuan dan keributan?"
“Ckkk…” Gian hanya berdecak kesal kepada Niko tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
“Siapa yang bermasalah sama lo dan masalahnya apa?” tanya Niko dengan sikapnya yang selalu tenang.
Nevan pun membuka kedua matanya namun tak serta merta menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Niko dan Gian untuk dirinya. Manik coklat milik Nevan menatap kosong pada langit-langit ruangan tersebut. Untuk sejenak ruangan yang berukuran enam kali delapan meter itu hening tak ada yang membuka suara.
Dari raut wajah Nevan terlihat jelas bahwa ia sedang menimbang-nimbang apakah harus menceritakan perihal permasalahan yang di hadapinya beberapa hari terakhir ini kepada kedua sahabatnya itu atau tidak. Sementara dua sahabat Nevan masih setia menunggu tanpa mengajukan pertanyaan lainnya.
“Gue bingung,” ucap Nevan seraya masih menatap lekat pada langit-langit ruangan tersebut.
“Tentang?” tanya Gian tak sabar dengan kalimat menggantung yang Nevan utarakan.
__ADS_1
“Justru itu yang buat gue bingung, gue gak ngerti tentang diri gue sendiri. Bahkan beberapa hari terakhir ini gue sering resah dan jantung gue sering berdetak gak karuan.”
Niko dan Gian semakin di buat bingung mendengar pernyataan Nevan. Bahkan Niko yang tadinya terlihat tenang kini begitu penasaran dengan permasalahan yang sedang di hadapai Nevan.
“Lo sakit?” tanya Niko. “Sebaiknya lo coba cek kondisi kesehatan lo.”
“Gue sehat, kalian bisa lihat kalau gue gak keliatan kayak orang sakit. Tapi jantung gue yang sering berdetak hebat. Masa iya sih gue kena serangan jantung di usia muda.”
Nevan pun mendudukkan tubuhnya saling berhadapan dengan kedua sepupu sekaligus sahabat tampannya itu. Raut wajah ketiganya terlihat begitu serius membicarakan tentang keadaan Nevan.
“Sejak kapan jantung lo bermasalah?” tanya Gian.
“Mungkin sejak satu bulan yang lalu. Tapi dalam beberapa hari terakhir ini jantung gue semakin parah,” jelas Nevan kepada kedua sahabatnya. “Iya gak sih gue kena serangan jantung?”
“Lebih baik lo periksa dulu ke dokter,” usul Niko. “Gimana kalau lo minta rekom dokter terbaik sama kak Zayn,” tambah Niko lagi memberi usulan.
“Jangan...” jawab Nevan cepat. “Gue gak mau kak Zayn tau tentang kondisi gue. Nanti yang ada kak Zayn bakal bilang ke Papa dan nantinya malah papa yang kena serangan jantung karena gue."
Niko dan Gian hanya manggut-manggut menuruti perkataan Nevan.
“Jadi selanjutnya lo mau gimana?” tanya Niko lagi.
"Untuk sementara waktu gue harus menjauh dari Haura."
Jawaban Nevan tersebut sontak saja membuat kedua remaja tampan yang saat ini sedang duduk dihadapannya mengerutkan dahi mereka dengan sempurna.
Haura? kenapa dengan Haura? dapat dipastikan bahwa pertanyaan itulah yang sekarang muncul di fikiran Niko dan Gian.
"Kenapa dengan Haura?" tanya Gian heran karena sungguh membingungkan rasanya jika karena penyakit jantung yang Nevan alami membuat dirinya harus menjauh dari Haura.
"Iya.. kenapa lo harus menjauh dari Haura?" tambah Niko yang juga merasa ada kejanggalan dengan perkataan Nevan.
"Karena gue rasa penyebab utama penyakit jantung yang gue alami sekarang adalah karena Haura. Gue gak tau kenapa setiap gue dekat sama Haura jantung gue berdebar gak karuan. Bahkan saat Haura meluk gue rasanya tekanan darah gue naik. Padahal dulu waktu gue dekat sama Haura rasanya biasa aja. Tapi sejak satu bulan terakhir gue mendadak penyakitan kalau Haura ada di dekat gue," jelas Nevan panjang lebar yang justru membuat kedua sahabatnya menatap tak pecaya pada dirinya sembari menganga lebar.
"Hahahahah...... " Tawa Niko dan Gian pun pecah tak terbendung. Bahkan Niko yang notabenenya sangat jarang tertawa lepas, saat itu tidak dapat membendung tawanya karena perkataan Nevan. Untuk waktu yang cukup lama kedua remaja laki-laki tampan itu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut mereka. Keduanya bahkan tak menghiraukan wajah Nevan yang terlihat begitu kesal karena ditertawakan oleh mereka. Gian bahkan tertawa sambil beberapa kali memukul-mukul meja di hadapannya.
Untuk beberapa menit lamanya akhirnya tawa Niko dan Gian pun sedikit mereda. Karena memang nyatanya mereka masih terlihat sesekali menyunggingkan senyuman penuh makna kepada Nevan yang sedang memasang tatapan membunuh kepada keduanya. Bahkan kedua sahabat Nevan itu mengusap sudut mata mereka yang mengeluarkan air mata akibat tertawa terbahak-bahak.
"Udah puas ngetawain gue?" tanya Nevan sinis. Pernyataan tersebut justru membuat Gian kembali terkekeh geli.
"Tunggu, Van. Jadi yang buat jantung lo berdetak gak karuan karna lo dekat sama Haura?" tanya Gian untuk kembali memastikan bahwa apa yang di dengarnya beberapa menit lalu tidaklah salah.
"Hmmmm..."
Gumaman Nevan kembali membuat Niko dan Gian tertawa. Kesal, tentu saja Nevan sangat kesal karena lagi-lagi mereka menertawakannya.
"Kalau kalian mau ngetawain gue lebih baik...."
Belum selesai Nevan berbicara, tangan Niko melambai sebagai interupsi agar Nevan jangan berbicara dulu.
"Sejak kapan lo jadi bodoh gini?" tanya Niko setelah selesai tertawa untuk sesi kedua.
"Maksud lo apa?" ucap Nevan dengan nada bicara sangat tidak bersahabat.
"Lo tau kan Nik, terkadang ada beberapa hal dalam hidup ini yang membuat orang yang pintar bisa bersikap bodoh," celetuk Gian dengan pernyataan layaknya sang pujangga.
"Hahahaha...." Perkataan Gian kembali mengundang tawa keduanya.
Nevan benar-benar menyesal karena telah menceritakan tentang keadaan yang dialaminya kepada kedua sepupu sekaligus sahabatnya itu. Namun apa boleh buat, semua sudah terlanjur. Meskipun terus di tertawakan oleh Niko dan Gian, Nevan tidak bisa berbuat apapun selain menahan kesal yang sedari tadi sudah menguasainya. Andai saja yang menertawakannya bukanlah Niko dan Gian, sudah dapat dipastikan bahwa remaja tampan itu akan menghadiahkan pukulan seribu bayangan kepada orang tersebut.
Selesai dengan tertawa sesi ketiganya, Niko pun kembali memasang wajah serius. Lebih tepatnya pura-pura serius. Karena sebenarnya Niko masih merasa lucu dengan kepolosan mendadak yang dialami oleh Nevan.
"Saran gue Van, lo gak butuh dokter dalam masalah ini," Niko yang bijak kembali bersuara, ada jeda sejenak sebelum Niko melanjutkan ucapannya. "Lo cuma butuh Gian," sambungnya lagi.
__ADS_1
Kini Nevan yang justru dibuat bingung karena pernyataan Niko. Bagaimana bisa Gian membantu mengobati penyakit jantung yang sedang dialaminya sejak satu bulan terakhir ini.
Sementara di lain sisi, Gian juga telah memasang mode serius ala playboy dengan duduk tenang sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Niko benar, Van. Lo cuma butuh gue, karena cuma gue yang bisa menyembuhkan penyakit yang lo derita," ucapnya sombong.
"Kenapa jadi lo?" tanya Nevan pada Gian yang berlagak layaknya mengetahui dengan pasti solusi terbaik untuk Nevan.
"Karena gue adalah ahli terbaik dari penyakit jantung yang lo alami sekarang ini. Dan untuk penyakit lo cuma ada satu diagnosa yang pasti yaitu...." Gian sengaja menjeda ucapannya untuk membuat Nevan semakin penasaran.
Ternyata hal itu berhasil, Nevan bahkan memajukan sedikit tubuhnya guna menyimak kalimat selanjutnya yang akan Gian ucapkan. "LO SEDANG JATUH CINTA SAMA HAURA." Satu diagnosa yang tepat akhirnya meluncur indah dari mulut sang playboy tampan pakar cinta Sander International High School.
Perkataan terakhir Gian membuat Nevan berdiri dari duduknya. Remaja tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak perkataan Gian yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Nggak... nggakkk... ini gila. Gak mungkin gue cinta sama Haura," tolak Nevan tak mau terima dengan diagnosa sang pakar cinta tersebut. "Lo gila..." ucap Nevan dengan menunjuk langsung ke arah Gian.
Sementara Gian hanya mengedikkan bahunya, bersikap acuh pada penolakan Nevan.
Tatapan Nevan pun beralih kepada Niko, mencoba mencari pembelaan dari sahabatnya yang selalu bersikap realistis itu. Namun sayangnya Niko pun hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban sehingga membuat Nevan semakin gusar.
"Enggak... gue cinta sama Haura? gak mungkin," ulang Nevan lagi.
Gian pun berdiri dari dududuknya untuk menghampiri Nevan, "Sebaiknya lo fikirkan lagi tentang apa yang gue bilang," ucap Gian sambil menepuk pundak Nevan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Untuk kali ini gue setuju dengan Gian," tambah Niko lagi dengan sebuah senyuman tersungging di sudut bibirnya. Niko pun berlalu menyusul Gian meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Nevan masih mematung di tempatnya. Si tampan yang selalu bersikap arrogant tersebut benar-benar terlihat bodoh. Nevan masih tak percaya bahkan Niko pun membenarkan perkataan Gian.
Bel tanda berakhirnya jam istirahat pun berbunyi, membunyarkan lamunan Nevan yang masih memikirkan tentang perkataan Gian. Hati dan fikiran Nevan pun terpecah tak saling mendukung. Fikiran Nevan menolak kemungkinan bahwa dirinya jatuh cinta pada Haura. Namun sayangnya hati Nevan membenarkan bahwa bisa saja dirinya telah jatuh cinta kepada Haura tanpa disadarinya.
Nevan pun memilih untuk meninggalkan tempat tersebut bersama dengan kebimbangan akan perasaannya sendiri. Namun satu hal yang Nevan yakini bahwa Haura mempunyai tempat istimewa dalam hatinya bahkan dalam hidupnya. Tak dapat di cegahnya, sebuah senyuman terbit di wajah tampan Nevan setiap kali dirinya mengingat tentang Haura.
"Haura..." gumam Nevan.
__ADS_1