(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Ayo Berteman


__ADS_3

Acara ulang tahun Sander International High School berakhir dengan sukses. Semua yang terlibat langsung dalam acara tersebut akhirnya dapat bernafas dengan lega. Beban berat yang mereka pikul di pundak mereka masing-masing seolah telah menguap ke udara dan hilang di terbangkan oleh angin.


Masing-masing dari mereka saling berjabatan tangan untuk mengucapkan selamat dan terimakasih kepada satu dan lainnya. Baik itu dari kalangan guru maupun siswa. Kini saatnya mereka untuk tersenyum bahagia karena mereka telah sukses menjalankan tugas berat. Layaknya para tentara yang telah pulang dari medan perang dan membawa kemenangan mutlak. Begitulan wajah bahagia mereka sekarang ini.


“Nevan….” Sebuah suara laki-laki dewasa memanggil Nevan yang sedang menerima selamat dari teman-temannya karena Nevan berhasil menyulap aula sekolah mereka menjadi ruangan yang luar biasa megah hasil ide kreatif darinya.


“Papa…”


Ya, yang barusan memanggil remaja tampan itu adalah Papanya, Tuan Liam Sander.


“Good job boy. I proud of you,” puji Tuan Liam dengan tulus setelah melihat hasil kerja keras putra bungsunya itu sembari mengulurkan tangannya untuk menyelamati kesuksesan acara tersebut.


Sejak tadi para tamu undangan tidak henti-hentinya memuji desain interior acara tersebut. Karena desain yang sangat luar biasa mewah layaknya acara kelas Internasional.


Mendapat pengakuan dari sang Papa tentu saja Nevan sangat bahagia. Nevan menyambut uluran tangan Papanya dengan penuh bangga.


“Thank you so much, Pa.” Sungguh saat ini Nevan sangat bahagia karena semua kerja kerasnya terasa terbayar lunas.


Jujur saja sejak di dapuk menjadi penangung jawab tempat acara, Nevan sangat merasa terbebani. Karena dirinya tidak ingin mengecewakan siapapun, terutama sang Papa. Mesipun Tuan Liam terlihat seolah tidak peduli, tapi sebenarnya laki-laki paruh baya tersebut mengetahui semua sepak terjang kedua putranya. OLeh karena itu, Nevan berfikir keras agar dirinya dapat mengubah sekolahnya layaknya ballroom mewah dalam acara penghargaan International.


“Kali ini kamu sangat tidak mengecewakan Papa,” ucap Tuan Liam lagi sembari menepuk pundak Nevan.


“Sekali lagi terima kasih, Pa. Nevan sangat senang karena Papa mengakui kerja keras Nevan.”


“Kalian juga hebat,” ucap Tuan Liam kepada teman-teman Nevan lainnya.


Setelahnya Tuan Liam pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Karena memang sedari tadi tamu undangan satu persatu telah meninggalkan lokasi acara.


Tinggallah para remaja tersebut masih saling berbincang membahas kesuksesan acara mereka. Binar-binar bahagia jelas terpancar dari raut wajah mereka.


“Kak Nevan, kak Niko, kak Gian,” panggil suara yang tidak asing bagi ketiga remaja laki-laki tersebut.


Seorang gadis remaja cantik berjalan menuju tempat ketiga laki-laki remaja yang namanya baru saja di panggil oleh gadis yang sedang berjalan tersebut.


“Lui… kenapa belum pulang?” tanya Gian pada adiknya ketika Luisa telah ikut bergabung bersama mereka. Pasalnya sejak tadi orang tua mereka yang ikut hadir disana telah meninggalkan tempat itu.


“Lui pulang bareng kak Zayn. Tuh kak Zayn di sana.” Tunjuk Luisa ke arah kakak sepupu tertuanya yang terlihat masih berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya.


“Kakaknya Lui keren semua malam ini. Dua jempol untuk semuanya.” Gadis yang beranjak remaja tersebut memberikan pujian setulus hati atas kerja keras para kakaknya.


“Kak Rhea sama kak Bella juga gak kalah keren. Cantik-cantik lagi. Pokoknya semuanya top malam ini.”


“Kamu juga cantik,” ucap Rhea dengan mencubit gemas kedua pipi Lui. Adik sahabatnya itu telah menjelma menjadi gadis remaja yang tak kalah cantik.


“Iya dong, Lui emang gennya udah cantik. Jadi kak Rhea gak usah heran.” Mode narsis Luisa mulai On.


“Mulai deh ni bocah. Gak usah kepedean,” Gian protes mendengar perkataan sang adik.


“Emang Lui cantik. Sangat cantik jika di bandingkan dengan deretan mantan kak Gian. Weeeekkkk….” Balas Lui sambil menjulurkan lidahnya kepada sang kakak.


“Siapa yang paking cantik?” tanya Zayn yang entah sejak kapan telah berada di tengah-tengah kumpulan remaja tersebut.


“Lui dong kak Zayn. Emang siapa lagi yang paling cantik,” jawab Lui cepat sembari memandang Gian dengan ekor matanya.


“Kalau masalah itu, kak Zayn setuju." Mendapat dukungan dari Zayn membuat Luisa semakin menjulurkan lidahnya kepada Gian. Luisa pun bergelanyut manja di lengan Zayn.


Karena Luisa merupakan satu-satunya putri di keluarga Sander, maka dari itu Luisa selalu mengatakan bahwa dirinyalah Tuan Putri sebenarnya.


******* 

__ADS_1


Di sisi lain terlihat Haura sedang berbicara dengan seorang laki-laki remaja juga. Laki-laki remaja tersebut mempunyai perawakan yang tinggi semampai, tubuh atletis dan juga wajah yang tampan. Dia adalah Farel, kapten tim sepak bola Sander International High School. Siswa kelas dua belas. Senior Haura.


Meski tergolong siswa tampan, Farrel tidak suka berbaur dengan siswa lainnya. Dia tipe siswa penyendiri. Sangat jarang terlihat remaja tersebut bersama seorang teman. Selain di lapangan hijau, dia adalah pemain tunggal.


“Hai bocah….” Sapa Farel


Haura hanya mendengus kesal mendengar Farel selalu memanggilnya bocah.


“Nama aku Haura bukan bocah,” jawab Haura ketus.


“Buat aku, kamu tetap lah seorang bocah,” ucap Farel lagi dengan tersenyum melihat wajah Haura yang mulai mengerucut karena panggilan darinya.


“Terserah kak Farel aja deh. Ada apa kak Farel kesini?”


“Emangnya ada larangan buat aku gak boleh ke sini. Ini kan tempat umum, jadi siapa pun boleh berada dimana pun, termasuk di sini.”


“Tau ah, terserah kakak.” Haura pun kembali menyapukan pandangannya ke arah kedua sahabatnya yang sedang bersama dengan orang tua mereka masing-masing.


Bohong jika sekarang Haura berkata bahwa dirinya tidak cemburu pada siswa lainnya karena orang tua mereka hadir sebagai tamu undangan pada acara tersebut. Sebenarnya semua orang tua siswa di undang untuk menghadiri acara ulang tahun sekolah mereka. Akan tetapi Ibu Haura menolak untuk hadir. Tentu saja alasannya hanya satu yaitu Bu Lastri merasa sangat tidak pantas untuk hadir ke tempat tersebut. Dan Haura dapat memaklumi hal itu.


Farel memperhatikan arah pandangan mata Haura. Laki-laki itu tahu bahwa saat ini Haura merasa sedih karena orangtuanya tidak hadir pada acara tersebut. Farel sangat tahu bagaimana kehidupan Haura. Karena mereka telah saling mengenal untuk waktu yang lama. Bahkan sebelum mereka satu sekolahan.


"Haura, are you oke?" tanya Farel.


Haura terhenyak mendapat pertanyaan dari Farel. Gadis itu menatap Farel dengan sendu. Ada gurat kesedihan yang coba Haura tutupi. Tapi sayangnya Farel menyadari itu.


"Haura gak pa-pa, kak. Emangnya Haura kenapa?" Haura mencoba berkilah bahwa saat ini dirinya baik-baik saja.


“By the way, kenapa kamu gak pernah balas pesan aku?” Laki-laki itu justru memberikan pertanyaan lainnya kepada Haura.


Gadis itu menatap langsung wajah lawan bicaranya yang saat ini sedang duduk tepat di sampingnya.


“Hey bocah… ini apa? Centang dua dan berwarna biru. Kamu fikir aku bodoh?” ucap Farel sambil menunjukkan pesan yang di kirimkan oleh dirinya kepada Haura.


“Kamu nyimpan nomor aku kan, Ra?”


“Iya kak, Haura ada kok nyimpan nomor kak Farel,” jawab Haura berbohong agar percakapan mereka segera berakhir.


“Terus kenapa kamu gak balas?”


“Haura kehabisan kuota, makanya gak bisa balas.” Lagi-lagi Haura berbohong.


Kembali terjadi keheningan. Mereka sama-sama bungkam dengan fikiran masing-masing. Haura berharap agar Farel segera meninggalkannya. Agar tidak ada yang salah faham melihat kedekatannya dengan kakak kelasnya itu.


“Haura….”


“Emmmm…..” gumam Haura tanpa melihat kea rah Farrel. Gadis remaja itu terus berfikir bagaimana caranya agar dirinya bisa meminta Farel untuk segera pergi tanpa menyinggung perasaan seniornya itu


“Huara, boleh kak Farel tanya sesuatu?” tanya Farrel.


“Boleh kak. Kak Farel mau tanya apa?" Kini mereka saling menatap satu sama lain. Jika Haura menatap Farel dengan penuh tanda tanya, maka lain halnya dengan Farel. Remaja laki-laki itu menatap Gadis di sampingnya itu dengan penuh cinta. Ya. Farel mencintai Haura.


“Apa Nevan pacar kamu?”


Haura sudah menduga bahwa pertanyaan itu yang akan Farel tanyakan. Pasalnya sudah beberapa kali Farel mengirim pesan padanya untuk bertanya tentang hubungannya dan Nevan. Tapi tidak satu pun pesan dari seniornya itu di balas oleh Haura. Sebenarnya Haura juga merasa tidak enak hati karena terus mengabaikan pesan dari Farel. Tapi dia terpaksa harus melakukannya. Haura tidak ingin terlibat dalam hubungan apa pun dengan Farel. Meskipun seniornya itu adalah pribadi yang baik, tapi menjaga jarak dari Farel adalah hal terbaik untuk Haura.


“Bukan kak, kami cuma berteman.” Haura memutus tatapan mata mereka. Kini gadis remaja itu memandang ke bawah. Ke arah sepatu miliknya.


“Syukurlah kalau cuma berteman.” Farel tersenyum bahagia mendengar jawaban yang di berikan Haura. “Haura, apa kamu masih belum bisa untuk terima aku buat jadi pacar kamu? Sudah satu tahun. Butuh berapa lama lagi buat aku nunggu kamu?"

__ADS_1


Lagi-lagi pertanyaan itu. Bukan kali ini saja Farel menanyakan pertanyaan itu kepada Haura. Bahkan pertanyaan itu telah di tanyakan oleh Farel dalam kurun waktu satu tahun terakhir.


Haura menghirup oksigen dalam-dalam. “Kak Farrel, Haura minta maaf,” ucap Haura lirih. “Haura cuma bisa menganggap kak Farel sebagai teman. Seorang teman yang sangat baik. Haura tidak bisa mempunyai perasaan lebih dari pada teman kepada kak Farel. Jadi kak Farel gak usah nunggu Haura. Maaf kak.” Gadis berlesung pipi itu merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan Farel.


Mendapat penolakan dari Haura, Farel hanya bisa tersenyum. Dirinya sudah menduga bahwa jawaban Haura masih sama. Lagi-lagi dirinya di tolak oleh Haura.


“Hey bocah…. Apa yang kamu lihat di bawah sana?” tanya Farel dengan senyum di wajahnya melihat Haura yang hanya menunduk melihat ke bawah.


“Maaf kak,” ucap Haura tulus kemudian gadis itu mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Farel. "Haura udah buat kak Farel kecewe lagi. Haura cuma...."


“Kenapa kamu nangis?” tanya Farel memotong perkataan Haura. Farel dapat mendengar nada suara Haura bergetar. Gadis itu sedang mencoba untuk menahan tangisnya. Farel mengusap sudut mata Haura karena di sana terlihat jelas telah menggantung air mata yang hendak keluar.


“Kak Farel laki-laki yang baik. Haura yakin kakak akan mendapatkan orang yang lebih baik dari Haura,” ucap Haura dengan menahan tangisnya. Gadis tersebut merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan


Farel yang tulus kepadanya. Tapi mau bagaimana lagi, cinta bukanlah suatu uji coba. Jika Haura menerima cinta Farel, tapi sebenarnya dirinya sama sekali tidak mencintai Farel, Haura merasa seperti seorang penipu. Menipu Farel dan juga dirinya sendiri.


Tidak ada kurang apapun pada diri seniornya itu. Farel termasuk laki-laki yang tampan. Hati tetaplah hati. Tidak bisa di paksa jika memang tidak ada cinta disana.


“Udah gak usah sedih. Aku gak bisa maksa kamu buat cinta sama aku. Karena itu hak kamu. Tapi boleh kan, kalau aku terus berusaha untuk menaklukkan hati kamu?” ucap Farel dengan penuh ketulusan.


“Tapi kak….”


“Kalau begitu, ayo kita berteman. Let’s be friend. Ini adalah cara aku untuk membuat kamu cinta sama aku. Dimulai dari sebuah pertemanan. Boleh?” ucap Farrel dengan mengulurkan tangannya kepada gadis di hadapannya saat ini dan memasang senyuman terbaiknya untuk Haura.


Haura mengusap sudut matanya dan membalas senyuman Farrel dengan tidak kalah manisnya hingga memamerkan lesung pipi miliknya, “Iya kak, ayo kita berteman.” Kemudian Haura menyambut tangan Farrel dengan penuh suka cita.


“Tapi jika pada akhirnya, Haura tetap gak bisa cinta sama kak Farel, bagaimana?” wajah Haura kembali sendu. Dirinya sungguh tidak ingin memberikan harapan palsu kepada laki-laki sebaik Farel.


“Jika sampai akhir kamu masih tidak bisa mencintai aku. Maka aku tahu bagaimana caranya untuk mundur,” jawab Farel.


Haura begitu lega mendengar jawaban dari seniornya itu. Farel benar-benar mempunyai pemikiran yang sangat dewasa.


“Baiklah kak, Ayo kita berteman.” KIni Haura justru memberikan tangannya kepada Farel.


“Oke, Haura Annisa,” ucap Farel bersamaan dengan dirinya yang membalas uluran tangan Haura.


*******


Di sisi lain, dimana Nevan dan yang lainnya berada, mereka masih terlihat larut dalam pembicaraan mereka sambil terdengar sesekali mereka tertawa bersama.


“Itu kak Haura bukan sih?” tanya Luisa menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang berbicara bersama dengan seorang remaja laki-laki sambil berjabatan tangan.


Mendengar pertanyaan Luisa, semua yang berada di sana menatap ke arah jari telunjuk Luisa.


Ya, benar. Gadis yang di tunjuk Luisa adalah benar Haura. “Iya, itu Haura,” ucap Zayn membenarkan perkataan Luisa.


“Wahh… kak Haura sama siapa tuh? Mana keren lagi,” tambah Luisa dengan mata yang berbinar menatap remaja laki-laki yang sedang berbicara dengan Haura. Remaja laki-laki itu tidak lain adalah Farel.


Tanpa Luisa sadari, bahwa perkataannya membuat Nevan mengetatkan rahangnya sambil menatap ke arah Haura.


“Kak Haura…” Luisa setengah berteriak untuk memanggil Haura yang saat ini duduk nyaris hampir membelakangi mereka.


Mendengar ada yang memanggil namanya, Haura pun melihat ke kiri dan kanan untuk mencari siapa gerangan yang telah memanggilnya.


“Kak Haura, disini. Di arah belakang kakak.” Lagi-lagi Luisa memanggil Haura di tambah dengan sebuah instruksi agar Haura berpaling dan melihat ke arahnya.


Seketika Haura memalingkan wajahnya. Di sana ada Nevan bersama teman-temannya dan jug kak Zayn serta Luisa. Haura pun tersenyum kepada kak Zayn dan Luisa.


Ketika Haura hendak tersenyum kepada Nevan, gadis itu mengurungkan niatnya karena saat ini raut wajah Nevan sangat tidak bersahabat.

__ADS_1


Kenapa lagi? Batin Haura yang menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang mengusik Nevan saat ini hingga membuat sahabatnya itu terlihat sangat marah. Tapi apa?


__ADS_2