
Haura pun berlalu meninggalkan dapur dengan senampan penuh minuman dan cemilan. Gadis remaja itu berjalan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Sebenatnya Bi Nur lah yang ingin membawakan minuman tersebut untuk Nevan dan yang lainnya.
Namun ketika Haura di rumah utama, gadis remaja itu langsung mencegah langkah Bi Nur dan meminta dirinya untuk membawakan nampan berisi minuman dan cemilan tersebut. Tujuan Haura adalah untuk bisa menemui Rhea.
Dari jarak beberapa meter mencapai ruang keluarga, Haura dapat mendengar suara Niko dan yang lainnya sedang membahas tentang Fluida Statis. Haura sangat yakin bahwa mereka sedang mempelajari pelajaran Fisika.
Perlahan namun pasti, Haura tiba di ruang keluarga di rumah mewah tersebut. Langsung saja Haura meletakkan minuman dan cemilan di sebuah meja yang ada disana.
Tidak ada yang menyadari kehadiran Haura disana. Semua fokus pada materi yang sedang mereka bahas, begitu juga Nevan. Tidak pernah sekalipun Haura melihat Nevan serius dengan pelajaran. Tapi kali ini Nevan terlihat begitu fokus pada buku fisika yang berada di tangnnya. Sambil sesekali menginterupsi penjelasan yang disampaikan Niko.
Sebuah kejutan bagi Haura, bahwa Nevan benar-benar cerdas seperti yang biasa remaja tampan itu banggakan. Bisa Haura pastikan bahwa semua penjelasan yang Nevan berikan tidak ada yang keliru. Padahal pada nyatanya Nevan bahkan sangat jarang mengikuti pelajaran di kelas.
Untuk sesaat Haura belum beranjak dari tempat tersebut. Melihat Nevan dan yang lainnya yang begitu menyenangkan belajar bersama mebuat Haura sedikit iri. Ingin rasanya Haura juga ikut belajar bersama kedua sahabatnya. Meskipun sebenarnya Bu Lastri akan mengizinkan dirinya untuk belajar bersama Luna dan Adel, akan tetapi Haura lebih memilih belajar seorang diri di rumah sambil membantu pekerjaan Ibunya.
“Haura...” Sebuah suara memanggil nama Haura membuat si empunya tersentak dari lamunannya. Gian adalah si pemilik suara yang memanggil Haura. Sang playboy tersebut memang sejak tadi tidak begitu peduli dengan belajar. Terbukti dengan smartphone yang tidak pernah berpisah dari genggamannya sambil membalas pesan yang entah dari siapa itu. Namun yang pasti pesan yang Gian balas adalah dari seorang gadis karena sebuah senyuman tidak pernah lekang dari wajah tampan Gian.
Semua yang ada di sana menoleh pada si pemilik nama yang disebutkan oleh Gian sedetik yang lalu. Wajah setiap orang yang ada di ruangan itu manatap Haura dengan ekspresi yang berbeda-beda. Niko yang memang selalu bersikap baik pada Haura tersenyum ramah pada gadis remaja itu. Bella yang notabene-nya tidak begitu sering bersinggungan dengan sosok Haura juga tersenyum tipis pada Haura.
Lain halnya dengan Nevan dan Rhea. Nevan menatap tajam Haura dengan mata elangnya. Menandakan bahwa remaja tampan itu sangat tidak suka dengan kehadiran Haura disana. Sementara Rhea menatap Haura datar. Tidak ada ekspresi sama sekali.
"Kenapa kamu disini?" tanya Nevan masih dengan wajah menahan kesal. "Kan aku udah bilang, kamu jangan..."
"Aku cuma mau ngantar minuman sama cemilan." Belum selesai Nevan berbicara, Haura langsung memotong
ucapan Nevan. Hal tersebut membuat Nevan semakin mengeraskan rahangnya menahan
marah.
"Kenapa kamu gak pernah nurut sama semua perkataan aku?"
"Aku punya alasan," jawab haura singkat. "Dan aku gak perlu bilang ke kamu alasan aku apa," sambung Haura lagi karena melihat Nevan yang seakan ingin menginterupsi pernyataan dirinya.
Orang-orang yang berada disana hanya menyimak perdebatan yang terjadi antara Nevan dan Haura. Tidak ada satu orang pun yang berani ikut campur karena memang mereka semua tidak tahu apa yang kedua remaja itu permasalahkan.
"Kalau gak ada yang mau kamu tanya lagi, aku permisi ke belakang." Haura pun segera berbalik untuk meninggalkan tempat tersebut.
Namun lagi-lagi Gian yang selalu tidak paham akan situasi dan kondisi yang sedang terjadi kembali menghentikan langkah kaki Haura. "Kenapa kamu gak gabung aja belajar bareng kita."
Pernyataan Gian membuat Nevan, Niko dan Bella menatap tajam padanya. Benar-benar sang playboy tidak peka pada situasi yang sedang terjadi. Bisa-bisanya Gian meminta Haura bergabung, padahal dirinya tahu bahwa hubungan Haura dan Rhea yang sangat tidak baik.
"Lo lebih baik diam, Gi. Daripada lo bicara tapi gak bermutu," sergah Niko.
"Heran gue sama lo, kenapa bisa lemot gitu otak lo," desis Bella yang ikut merasa kesal pada Gian yang sangat
bodoh menurutnya.
"Salah lagi deh gue," ucap Gian dengan bahu yang merosot. "Lebih baik gue ngobrol samapacar-pacar gue."
Gian pun memilih kembali acuh dan fokus berselancar ria membalas pesan yang entah siapa itu.
Haura mencoba melemparkan senyumannya kepada Rhea yang masih menatapnya dalam diam. Namun sayang, bukannya membalas senyuman Haura, Rhea lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Netra gadis cantik itu tertuju kepada buku di hadapannya. Sekedar peralihan saja.
Haura terlihat kecewa karena Rhea seakan begitu enggan bersitatap dengannya. Bahkan untuk membalas senyumannya saja Rhea tidak sudi. Dapat Haura pastikan bahwa rencananya untuk berbicara pada Rhea tidak akan pernah berhasil.
Dengan langkah lesu Haura pun memilih meninggalkan tempat tersebut tanpa berkata apapun lagi.
Alih-alih kembali ke paviliun belakang, Haura lebih memilih untuk bergabung bersama Ibunya dan Asisten Rumah Tangga lainnya yang sedang merapikan tanaman hias di taman belakang.
__ADS_1
“Haura, kenapa ikut kemari?” sebuah pertanyaan dari Bu Lastri menyambut kedatangan Haura.
“Haura bosan sedirian,” jawab Haura dengan tersenyum nyengir kepada Ibunya.
“Tapi bukannya tadi Nevan bilang kalau kamu sedang belajar?”
“Gak kok, Bu. Belajarnya nanti aja, pusing Haura dari pagi liatin buku terus.”
“Terserah kamu saja, tapi jangan sampai karena kamu bantuin Ibu, kamu gak ada waktu untuk belajar.”
“Ibu jangan khawatir, Haura bisa membagi waktu.”
“Bu Lastri beuntung punya putri seperti Haura. Cantik, baik, rajin, komplit pokoknya,” celetuk Bi Nur.
“Iya... sopan lagi. Jadi ingat anak di kampung,” tambah Bi Siti.
“Terimakasih,” gumam Bu Lastri sambil mengusap lembut pundak Bi Siti yang terlihat sedikit sendu karena teringat pada anaknya di kampung sana.
Setelahnya Bi Nur, Bi Siti, Bu Lastri, Haura dan juga mang Asep melanjutkan kembali pekerjaan mereka. Sesekali terdengar percakapan seputar pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Jika tidak ada maka semuanya larut pada pekerjaan masing-masing. Menata tanaman hias dalam pot-pot cantik dan menatanya agar terlihat indah.
Pada siang menjelang petang di hari itu, matahari masih bersinar dengan gagahnya. Peluh-peluh pertanda lelah mulai membasahi tubuh. Haura melihat Ibunya dan yang lain terlihat sangat kelelahan. Di tambah lagi usia mereka tak lagi muda. Ada rasa perih di dada Haura, melihat Ibunya dan juga Asisten Rumah Tangga lainnya masih harus bekerja di usia mereka yang hampir senja. Usia dimana mereka sudah pantas untuk beristirahat dengan tenag di rumah tanpa harus berpeluh-peluh mencari rezeki. Namun apa boleh di kata, garis hidup mereka yang mengharuskan mereka agar tetap bekerja meskipun tenaga sudah tidak sempurna lagi.
Haura pun beranjak meninggalkan taman belakang tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Ibunya. Tujuan gadis remaja itu adalah dapur. Dia ingin membuatkan minuman dingin untuk Ibunya dan yang lainnya. Setidaknya dengan segelas minuman dingin dapat mengurangi lelah karena pekerjaan mereka. Begitulah fikir Haura.
Setelah membersihkan tangannya, Haura pun langsung menuju lemari pendingin untuk membuatkan minuman. Pilihan gadis remaja itu adalah membuat es jeruk. Pasti sangat segar di tengah cuaca terik seperti sekarang.
Butuh waktu beberapa menit untuk Haura membuat minuman tersebut. Gadis remaja itu terlalu larut dalam pekerjaannya sehingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memasuki area dapur. Barulah Haura sadar sampai orang tersebut meletakkan gelasnya di hadapannya.
“Gue mau minuman yang lo buat,” ucap orang tersebut.
Untuk beberapa Haura seakan tidak percaya bahwa orang tersebut sekarang sedang berdiri di hadapannya dan berbicara padanya.
“Emmm...” Rhea hanya bergumam mengiyakan perkataan Haura.
Canggung. Begitulah yng terjadi di dapur rumah mewah tersebut. Baik Haura maupun Rhea tidak ada lagi yang buka suara.
Rhea terlihat sibuk mengutak atik smartphonenya. Sedangkan Haura masih dengan memeras jeruk sambil sesekali menatap Rhea yang mengabaikannya.
“Rhe...” panggil Haura.
“Emmm...” lagi-lagi Rhea hanya bergumam. Netra gadis remaja cantik itupun bahkan tidak menoleh sedikitpun kepada Haura.
Namun Haura tidak mau ambil pusing, selama Rhea mau menjawabnya walaupun hanya sebatas gumaman, itu artinya Rhea mendengar apa yang dirinya ucapkan.
“Rhe... Aku minta maaf atas semuanya yang terjadi belakangan ini,” ucap Haura tulus tanpa menghentikan pekerjaan yang sedang gadis itu lakukan.
“Semua permasalahan yang terjadi antara kita,” Haura menjeda ucapannya dan menatap Rhea yang masih memasang atensi pada smartphone di tangannya.
“Juga tentang yang terjadi antara kamu dan Nevan.” Ucapan tekahir Haura berhasil menyita perhatian Rhea.
Kini Rhea manatap Haura. Menyimak setiap kata yang keluar dari lisan gadis yang notabenenya adalah teman satu sekolahan dengannya.
“Maaf, karena aku hubungan kamu dan Nevan jadi tidak baik. Aku sama sekali gak bermaksud...”
“Lo kasian sama gue?” sergah Rhea. Gadis remaja cantik itu menatap dingin kepada Haura.
Sementara yang di tatap hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ebagai penyangkalan atas pernyataan Rhea.
__ADS_1
“Kalau lo kasian sama gue, makasih. Tapi gue gak butuh kasian dari lo."
Haura dapat menagkap raut wajah kesal dan sedih yang tergambar di wajah Rhea.
"Apa yang terjadi antara gue dan Nevan sama sekali bukan karena lo." Rhea menghela nafas panjang, menunduk sejenak seakan sedang menetralkan gemuruh di hatinya.
"Semua yang terjadi antara gue dan Nevan sudah terjadi jauh sebelum kehadiran lo di antara kami. Semua sudah dimulai dalam waktu yang lama."
Menyimak, itulah yang sedang Haura lalukan. Tidak sedikitpun Haura menyela.
Rhea tersenyum getir, "Guenya aja yang bodoh karena terlalu cinta sama Nevan. Cinta yang entah sejak kapan. Cinta yang gak pernah terbalas."
"Karena cinta gue yang bodoh, membuat gue melakukan hal-hal bodoh juga." Netra Rhea menatap Haura. "Gak... yang benar bukan cinta yang bodoh, tapi gue yang bodoh bertahan pada cinta yang bahkan gak pernah menatap gue."
Haura terpaku pada pernyataan Rhea. Sungguh di luar dugaan, Haura tidak pernah menyangka bahwa Rhea begitu kukuh pada cintanya.
"Dan bahkan gue nyakitin lo hanya karena cemburu yang membuat gue nyaris gila." Rhea terus saja berbicara. Mengungkapkan isi hatinya kepada seseorang yang bahkan pernah di bencinya.
"Gue mau berdamai sama hati gue. Rasanya udah cukup waktu yang gue buang untuk mencintai Nevan."
"Huffff...." Rhea kembali menghela nafasnya panjang.
"Udah siap minumannya?" Pertanyaan Rhea membuyarkan perhatian Haura yang sejak tadi berpusat pada cerita Rhea.
"Aku lupa. Tunggu sebenta." Haura pun bergegas melanjutkan pekerjaannya membuat Es Jeruk. Bahkan Haura juga lupa bahwa tujuannya membuat minuman adalah untuk Ibunya dan ART lain yang sedang bekerjadi taman belakang.
Beberapa menit kemudian Haura telah menyelesaikan pekerjaannya. Seteko Es Jeruk siap untuk di nikmati. Tidak lupa Haura menuangkan ke dalam gelas kosong milik Rhea. Lalu menggeser posisi gelas tersebut tepat ke hadapan Rhea.
"Makasih," ucap Rhea.
"Sama-sama," jawab Haura dengan tersenyum lebar hingga menampakkan kedua lesung pipinya.
Rhea bersiap meninggalkan dapur dengan segelas Es Jeruk di tangannya.
"Rhe..." suara Haura mengurungkan kembali niat Rhea untuk segera kembali ke ruang keluarga.
"Gak ada yang namanya cinta yang bodoh. Semua cinta itu indah, tapi waktunya saja yang terkadang tidak berpihak pada kita," ucap Haura tiba-tiba.
"Kamu tidak bodoh hanya karena cinta kamu untuk Nevan. Justru kamu hebat karena mampu menjaga cinta kamu untuk satu orang dalam waktu yang cukup lama. Tidak ada yang salah dengan cinta yang kamu miliki. Karena sejatinya, kamu tidak pernah meminta pada siapa cinta kamu akan jatuh."
Rhea tersenyum mendengar perkataan Haura. Senyuman pertamanya untuk gadis yang di anggap sebagai rivalnya dalam mendapatkan cinta Nevan.
"Gak ada cinta yang bodoh kan? Tapi kenapa terkadang kita bersikap bodoh hanya karena cinta?" tanya Rhea yang lebih tepatnya seperti sebuah pernyataan.
Haura hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Keduanya pun tertawa renyah seakan kedua gadis remaja tersebut adalah dua orang teman dekat.
"Lo cinta sama Nevan?" tanya Rhea yang membuat Haura langsung menghentikan tawanya.
"Enggak.." jawab Haura segera.
Mendengar jawaban Haura, Rhea hanya tersenyum padanya. "Gue rasa perjuangan lo gak akan sesulit gue." Sebuah pernyataan ambigu dari seorang Rhea.
"Maksudnya?"
Rhea hanya mengedikkan bahunya. "Maaf untuk semua sikap jahat gue sama lo," ucap Rhea tulus. Pernyataan maaf yang tidak terduga-duga membuat Haura membulatkan matanya sempurna. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa Rhea akan mengucapkan kata maaf.
Belum sempat Haura menjawab, Rhea telah terlebih dahulu pergi meninggalkannya bersama dengan rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
__ADS_1
Haura juga segera meninggalkan dapur menuju taman belakang dengan senyum bahagia terukir di wajah manisnya. Lega rasanya bagi Haura karena telah berbicara empat mata bersama Rhea. Benar-benar sebuah kesempatan yang tak terduga.
Satu hal yang Haura yakini, bahwa Rhea adalah seorang gadis cantik berhati baik. Hanya saja mungkin selama ini Rhea menutupi sedih di hatinya dengan bersikap dingin kepada siapapun. Sebuah bentuk pertahanan diri agar tidak terlihat lemah.