
Salah satu ruang rawat inap yang tadinya di penuhi oleh beberapa orang remaja yang berkunjung kini kembali sepi. Hanya ada sang pasien dan seorang remaja tampan disana. Hening. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Di antara kedua remaja itu tidak ada yang ada ingin memulai untuk membuka pembicaraan. Mereka bertingkah seolah tidak saling mengenal satu sama lain. Canggung. Begitulah.
Nevan asik dengan handphone di tangannya. Entah ada hal apa yang menarik disana. Entah itu hanya sekedar mengutak atiknya atau memang benar-benar ada sesuatu yang mampu menarik perhatiannya.
Di lain sisi Haura masih duduk di ranjang pasiennya. Matanya menerawang keluar jendela. Menatap langit dimana senja akan segera datang menyapa. Semburat jingga secara perlahan telah mulai menampakkan diri. Itu artinya keindahan sesaat akan hadir dan setelahnya pergi tanpa permisi.
Manik hitam gadis remaja itu sesekali mencuri pandang pada remaja tampan yang ada di satu ruangan yang sama dengannya. Lalu sedetik kemudian terdengar helaan nafas Haura. Hal itu sudah terjadi beberapa kali.
Haura ingin memulai pembicaraan tapi di urungkannya lagi. Sejak kepulangan Farel dan teman-temannya, wajah Nevan terlihat begitu murung. Bahkan Nevan mengabaikannya. Sahabatnya itu persis seperti bunglon. Suka berubah-rubah ekspresi. Terkadang bersikap sangat manis, terkadang begitu galak dan terkadang sangat dingin bagaikan es di kutup utara.
Ting.... sebuah notofikasi pesan masuk kembali terdengar. Dan itu berasal dari handphone Nevan.
Haura mengalihkan tatapan matanya pada Nevan yang sejak tadi mengabaikannya. Dapat di lihatnya dengan jelas bahwa Nevan tersenyum ketika membaca pesan tersebut. Bukan senyuman yang mengembang sempurna. Hanya senyuman tipis tapi dapat tertangkap jelas oleh mata Haura.
Setelahnya Haura kembali menatap langit. Jingga mulai terlihat jelas. Indah dan menenangkan. Meski senja tak pernah menawarkan keabadian tapi cukup hebat dalam menemani siapapun yang sedang dilanda kegundahan.
"Nevan." Akhirnya Haura bersuara mencoba memecahkan kesunyian yang telah terjadi hampir satu jam lamanya. Gadis itu sangat yakin jika menunggu Nevan membuka suara, hal itu sudah pasti tidak akan pernah terjadi.
"Emmmm...." Nevan masih fokus pada handphone yang sejak tadi tidak pernah lepas di tangannya. Tatapannya tidak teralihkan sedikit pun dari benda pipih itu. Bahkan Nevan hanya bergumam untuk menjawab panggilan Haura tanpa menoleh sedikit pun pada si pemanggil namanya.
"Aku sama kak Farel cuma berteman."
Detik itu juga perkataan Haura mampu menarik perhatian Nevan. Remaja tampan itu mengalihkan pandangannya pada Haura. Akan tetapi Nevan masih belum berkata apapun.
Sementara itu tatapan Haura belum beralih dari langit senja. Gadis itu tidak menatap langsung lawan bicaranya. Entah karena apa, tapi Haura hanya ingin mengatakan pada Nevan bahwa Farel memang hanya teman untuknya. Tanpa ada hubungan yang lebih dari itu.
Haura menghirup udara dalam-dalam. Seakan paru-parunya benar-benar mampu menampung oksigen sebanyak apapun itu.
"Aku kenal kak Farel dua tahun yang lalu. Saat itu aku masih SMP." Fikiran Haura menerawang pada dua tahun yang lalu. Saat pertama kali dirinya mengenal Farel secara tidak sengaja.
"Dulu, saat aku masih SMP aku sering mendapat bully-an dari teman-teman aku," ucap Haura sambil tersenyum getir mengingat masa-masa sulitnya saat dirinya masih berada di Sekolah Menengah Pertama.
Kenangan yang tidak ingin di ingatnya lagi kembali terlintas dalam fikiran gadis remaja tersebut.
"Kamu tahu kan Van, di dunia ini ada beberapa orang yang tidak menyukai perbedaan. Bagi mereka jika ada seseorang yang berbeda dari mereka maka orang itu adalah pengganggu yang membuat lingkungan sekitar mereka seolah akan benar-benar berantakan. Dan itu harus di musnahkan dengan menggunakan cara apapun."
Meski tanpa mengucapkan sepatah katapun, Nevan memasang atensi lebih untuk menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Haura.
__ADS_1
"Perbedaan status sosial. Itulah yang menjadi alasan utama kenapa aku di bully. Padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengganggu siapun. Aku bahkan tidak ingin berteman dengan siapapun demi menghindar agar tidak menarik perhatian siswa lain di sekolah aku dulu. Tapi ternyata aku salah, ketika orang-orang sejak awal sudah tidak menyukai kita bahkan diamnya kita adalah sebuah masalah bagi mereka."
Haura tersenyum getir lalu mengadahkan wajahnya demi untuk menahan agar air matanya tidak jatuh karena mengingat kembali waktu kelamnya dulu.
"Setiap harinya pasti selalu ada yang mengerjaiku. Baik itu melalui serangan fisik maupun verbal."
Kembali Haura menatap ke arah luar melalui jendela yang ada di ruangan itu. Helaan nafasnya begitu berat.
"Awalnya aku hanya mengabaikan mereka, sebisa mungkin aku mencoba menghindar. Bukannya berhenti menggangguku, mereka justru semakin menjadi-jadi. Puncaknya ketika aku duduk di bangku kelas tiga SMP. Mereka selalu melakukan serangan fisik terhadapku. Bahkan mereka pernah mencoba untuk memotong rambutku. Mereka pernah memukulku dan banyak lagi. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Di situlah aku mulai melawan atas semua tindakan mereka. Jika hanya kata-kata makian aku tidak akan pernah peduli, tapi mereka terus menerus menyakitiku." Haura terus bercerita meskipun lawan bicaranya tidak bersuara sama sekali. Haura yakin bahwa Nevan sedang mendengarnya. Suaranya Haura terdengar parau. Menandakan bahwa gadis itu sedang menahan diri untuk tidak menangis.
"Aku tidak pernah menceritakan apa yang aku alami pada Ibu dan Ayah. Aku tidak mau membebani fikiran Ibu dan Ayah. Apalagi saat itu kesehatan Ayah mulai memburuk karena penyakit yang Ayah derita. Aku memilih untuk mengatasi semuanya sendiri. Saat itu aku benar-benar tidak punya teman."
Tes.... Akhirnya cairan bening itu luruh dari manik hitam milik Haura. Gadis itu segera menghapus air matanya agar Nevan tidak melihat itu.
Tapi sayangnya, sejak pertama Haura mulai bersuara, tatapan mata Nevan tidak pernah berpaling dari gadis itu. Tentu saja sudah dapat di pastikan bahwa Nevan melihat Haura menangis. Remaja tampan itu mengepalkan tangannya dengan sangat erat untuk meredam emosi yang begitu membuncah di dadanya karena mendengar cerita Haura. Nevan tidak pernah menyangka bahwa di balik keceriaan Haura, ternyata sahabatnya itu pernah melalui hari-hari yang begitu sulit. Dan saat itu terjadi dirinya tidak ada bersama Haura.
"Pertama kali aku mengenal kak Farel, saat itu aku sedang di bully oleh teman-temanku." Haura kembali tersenyum getir. Segera gadis itu meralat perkataannya, "Aku salah, bukan teman. Karena saat itu aku memang tidak punya teman."
"Huufffff....." Haura menghela nafanya lagi. Kemudian kembali melanjutkan ceritanya.
"Saat itu aku di bawa ke sebuah gang sempit. Entah dimana lokasi pastinya aku sudah lupa. Aku di bawa oleh beberapa siswa perempuan. Ternyata di sana juga sudah ada beberapa orang laki-laki yang menunggu kedatangan kami. Mereka bukanlah siswa seumuran ku. Karena mereka memakai seragam SMA. Saat itu aku mulai panik karena aku tidak mengenal wajah mereka. Setelahnya mereka memaksaku untuk merokok. Tentu saja aku menolaknya. Ternyata penolakanku membuat mereka sangat marah. Tidak tangung-tanggung mereka menjambak dan menamparku. Aku berusaha untuk meminta pertolongan, akan tetapi percuma. Disana sangatlah sepi. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa agar seseorang datang untuk menolongku."
"Bagai sebuah keajaiban, ketika mereka tidak pernah berhenti untuk memukulku, tiba-tiba seorang laki-laki datang menolongku. Terjadi perkelahian antara penolongku dan anak-anak yang membully ku. Sebuah perkelahian yang tidak seimbang. Karena mereka berkelahi satu lawan lima. Aku fikir saat itu orang yang menolongku akan kalah. Tapi ternyata tidak. Tuhan benar-benar mendatangkan seorang penyelamat yang hebat untukku."
"Setelah semuanya pergi, tinggallah aku dan laki-laki itu. Laki-laki yang awalnya aku anggap sebagai anak jalanan karena penampilannya yang sangat berantakan. Dia adalah kak Farel." Sebuah senyuman terlihat sangat jelas di wajah Haura mengingat ketika dirinya menganggap Farel adalah seorang anak jalanan.
"Kak Farel tidak terlihat seperti seorang anak sekolahan. Dia sangat berbeda dengan apa yang aku lihat sekarang." Setelah bercerita panjang lebar, Akhirnya Haura mengalihkan tatapannya pada Nevan.
Saat itu Haura baru tersadar bahwa Nevan sedang menatapnya dengan intens. Tatapan yang sulit untuk di pahami oleh gadis itu.
"Sejak pertemuan pertama aku dan kak Farel, aku mulai dekat dengannya. Aku menganggap kak Farel teman yang sangat baik. Dia adalah penyelamatku. Hampir setiap hari kak Farel datang ke sekolah untuk mejemputku, tapi tidak sekali pun kak Farel datang dengan menggunkan seragam sekolah. Itulah yang membuat aku semakin yakin bahwa kak Farel benar-benar anak jalanan yang baik hati. Pernah aku bertanya tentang kak Farel, tapi dia hanya menjawab bahwa dia adalah anak jalanan. Sesuai dengan apa yang aku fikrkan. Dan sejak saat kak Farel menolongku, tidak ada satu orang siswa pun yang membully ku lagi."
"Waktu berlalu dengan sangat cepat. Ketika memasuki SMA, aku baru tahu bahwa kak Farel adalah siswa di Sander International High School. Itu artinya kak Farel bukanlah orang sembarangan. Karena memang yang bersekolah di sekolah kita adalah anak-anak dari orang hebat."
Tanpa keduanya sadari senja telah berlalu meninggalkan kedua sejak tadi. Langit gelap mulai menghiasi cakrawala. Cerita Haura masih belum berakhir.
"Sesuatu yang tidak aku sangka-sangka kembali terjadi. Orang tua kak Farel tahu bahwa aku berteman baik dengan putra mereka. Lagi, status sosial menjadi sebuah masalah. Bahkan dalam hal memilih teman."
__ADS_1
"Mama kak Farel datang menemuiku dan meminta agar aku menjauhi putra mereka. Alasannya hanya satu, mereka ingin anak mereka bergaul dengan orang-orang yang tepat. Dan aku bukanlah kategori orang yang tepat itu."
Gadis remaja itu menaikkan sudut bibirnya. Menertawakan dirinya sendiri, " Dunia ini sangat kejam, kan? bahkan untuk berteman saja harus sesuai dengan aturan yang mereka ciptakan sendiri. Harus sesuai dengan lingkaran kehidupan mereka. Apakah semua orang seperti itu?"
Nevan hanya menyimak setiap perkataan Haura. Tidak ada niat sama sekali untuk menjawab pertanyaan gadis yang sedang bercerita padanya.
"Sejak itu pula aku menjaga jarak dari kak Farel demi semuanya kembali seperti semula. Meskipun awalnya terasa berat untuk mengabaikan kak Farel. Tapi sekarang, semuanya seakan sudah baik-baik saja. Semuanya telah berjalan sebagaimana seharusnya berjalan."
Hati Nevan sangat tidak terima ketika Haura mengatakan bahwa sulit untuk mengabaikan Farel. Dia tidak suka jika Haura memuji laki-laki itu.
Nevan beranjak dari duduknya untuk menghampiri Haura. Remaja laki-laki itu berdiri tepat di hadapan Haura, membuat Haura harus mengadahkan wajahnya untuk bisa menatap langsung bola mata Nevan.
"Sekarang waktunya kamu istirahat." Nevan langsung membaringkan tubuh Haura tanpa permisi terlebih dahulu.
"Tutup mata kamu dan langsung tidur."
"Tapi aku kan belum...."
"Jangan bicara apapun lagi. Tidurlah. Kamu sudah terlalu banyak bicara." Nevan menyelimuti tubuh Haura sebatas dada.
Rasa sesak menguasai dada Nevan. Setelah melihat Haura memejamkan matanya, Nevan masih belum beranjak dari sana. Bahkan kini remaja laki-laki itu mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang Haura. Manik coklat miliknya menatap gelapnya langit malam.
"Maaf, aku tidak ada saat kamu butuh teman." ucap Nevan lirih.
Pendengaran Haura dapat menangkapnya dengan jelas apa yang Nevan ucapkan karena memang dirinya belum terlelap. Gadis itu kembali membuka matanya. Menatap dalam diam wajah Nevan, sementara Nevan masih menatap kosong ke luar jendela.
Masing-masing dari mereka tidak ada yang bersuara setelahnya. Bahkan suara jarum jam dinding dapat terdengar dengan jelas karena kedua remaja itu kembali larut dalam keheningan.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Maaf typonya masih dimana-mana. Abaikan jika memang sedikit gak nyambung. Hehehe......
Tidak pernah bosan rasanya untuk aku berterimakasih atas dukungan readers ku semuanya.